Sudah dua hari Binar mengambil cuti. Selama itu pula dia menghabiskan waktu hanya untuk sekadar mengobrol dengan Rain. Pria itu pun tak terlihat keberatan sama sekali, saat Binar menceritakan banyak hal padanya. Malahan, semua cerita dari Binar justru telah berhasil membuat Rain merasa jauh lebih baik. Apalagi Binar selalu telaten merawat dan tak pernah lupa untuk mengingatkannya dalam meminum obat.
Seperti pagi itu, Binar mengantarkan semangkuk bubur beras dengan taburan ayam suwir di atasnya. Dia membawakan makanan tadi ke dalam kamar yang ditempati Rain. "Makan dulu, setelah itu minum obatnya," ucap Binar seraya menyiapkan beberapa butir obat di sebelah mangkuk dan segelas air putih.
"Sudah mau berangkat, Nar?" tanya Rain.
"Belum. Aku mau mandi dulu sebentar," jawab Binar sambil berjalan ke arah pintu kamar. Dia pun keluqr dari sana.
"Tunggu aku selesai sarapan sebentar, ya!" seru Rain. "Selesai makan, aku akan mengantarkanmu!" serunya lagi dengan suara yang sedikit nyaring. Dia lalu menghabiskan makanan itu lebih cepat dari biasanya. Selesai makan, Rain pun segera meminum obat yang telah disiapkan oleh Binar. Bersamaan dengan itu, Binar masuk kembali ke dalam kamar dalam keadaan sudah bersih dan rapi.
"Aku ikut," Rain berdiri dan mendekat pada gadis yang tengah menyiapkan dirinya.
"Ikut ke mana?" Binar mengernyitkan kening, lalu tertawa geli.
"Aku ingin mengantarkanmu sampai ke tempat kerja," jawab Rain dengan entengnya.
"Memangnya kamu sudah kuat berjalan jauh?" Binar tampak ragu. Dipandanginya tubuh jangkung itu dari atas hingga ke bawah.
"Jangan meremehkan Rain." Pria rupawan itu menepuk dadanya lalu terkekeh pelan, membuat Binar ikut tertawa. Jarang sekali dia bisa tertawa seperti itu, setelah kepergian sang ayah.
"Ya, sudah, ayo," tanpa sungkan, Binar meraih tangan Rain dan mengajaknya berjalan keluar kamar.
Sementara itu di ruang tamu, Widya memperhatikan sepasang muda-mudi itu dengan tatapan sinis. "Pacaran terus! Lupa caranya cari uang nanti!" sindirnya pedas.
"Ini Binar mau berangkat kerja, Bu. Mau mencari tambahan untuk membayar SPP Wisnu," balas gadis cantik itu dengan suara selembut mungkin.
"Baguslah, kalau masih ingat adik-adikmu!" ujar Widya lagi sembari melengos pergi. Hati wanita paruh baya tersebut selalu kesal, tiap kali berhadapan dengan putri dari mendiang suaminya.
Rain mengela napas panjang, kemudian mengangguk pada Binar. Dia seolah memberi isyarat pada gadis itu untuk segera berlalu dari sana. Pria yang belum mendapatkan ingatan masa lalunya itu, sudah mengetahui dan mulai terbiasa dengan tabiat Widya.
Binar pun mengerti. Dia balas mengangguk dan melangkah cepat keluar dari rumah. "Setiap hari kamu jalan kaki, ya?" tanya Rain setelah berjalan cukup jauh. Keduanya melangkah berdampingan, menyusuri jalanan kota Gianyar yang mulai ramai.
"Iya, hitung-hitung berolahraga," sahut Binar polos.
"Kamu tidak ingin punya motor? Kulihat di rumahmu tidak ada motor," tanya Rain lagi.
"Aku tidak bisa mengendarai motor," sahut Binar tersipu.
"Ah, masa?" Rain terbelalak tak percaya.
"Bapak keburu meninggal, sih. Beliau belum sempat mengajariku naik motor," Binar tertawa renyah, tetapi sorot matanya menunjukkan kegetiran yang dalam.
"Sepertinya aku bisa naik motor, entahlah ...." Ucapan Rain terdengar ragu, "Aku merasa pernah mengendarainya. Kapan-kapan aku akan mengajarimu," ujar pria itu dengan nada bicara yang tiba-tiba terdengar bersemangat.
"Kapan?" tanya Binar.
"Kapan-kapan," ulang Rain lagi dengan mimik lucu, membuat Binar terbahak. Tawanya terlihat demikian lepas. Kehadiran Rain membuat gadis itu kembali menemukan gairah dalam hidupnya yang terasa hampa setelah kepergian sang ayah. Binar juga seperti mulai menemukan kebahagiaan dalam menjalani hari-harinya kini. Mereka pun terus berbincang santai, hingga tanpa sadar bahwa keduanya telah tiba di depan tempat kerja Binar.
"Ini tokonya?" Rain mengedarkan pandangan pada bangunan besar tiga tingkat di depannya. Sebuah toko suvenir yang mirip dengan swalayan. Bangunan tersebut memiliki desain yang terlihat sangat artistik. Temboknya penuh dengan ukiran semacam relief. Sementara gerbang masuknya dibentuk mirip gapura yang tersusun dari batu bata, ditambah dengan hiasan patung di sisi kanan dan kiri gerbang. Di sana pula terdapat beberapa gazebo yang berdiri di halaman depan yang amat luas. Tepat di samping halaman, disediakan lapangan parkir yang tak kalah luas. "Nyaman sekali tempat kerjamu, Nar," puji Rain sembari berdecak kagum.
"Iya. Aku betah kerja di sini. Kesibukanku di toko bisa menjadi hiburan di kala sedang merasa suntuk di rumah. Aku malah lebih betah berada di toko," tutur Binar dengan seutas senyuman di wajahnya.
"Di sekitar sini pula kita pertama kali bertemu ya," Rain membalikkan badan ke arah gerbang masuk. Matanya menerawang jauh ke arah jalan raya di depannya.
"Iya, waktu itu aku takut kamu pura-pura terluka untuk merampokku," angan Binar kembali melayang, membayangkan saat pertama kali dia bertemu Rain.
Sementara Rain hanya tersenyum samar. "Aku hanya ingat saat terbangun di tengah hutan yang gelap. Lalu, aku berusaha bangkit dan mencari cara untuk keluar dari sana," Rain terdiam. Sekilas, bayangan-bayangan aneh masuk ke kepalanya. Siluet seorang gadis kembali merasuki pikirannya. Semakin lama, siluet itu terlihat semakin jelas. "Indah?" gumamnya tiba-tiba.
"Indah siapa?" Binar mengernyitkan kening, lalu mendekatkan wajahnya pada Rain.
"Eh, siapa? Tidak, bukan siapa-siapa," Rain meringis sambil menggaruk kepalanya. "A-aku pulang dulu, ya. Selamat bekerja, Binar. Nanti kamu lembur atau tidak? Aku jemput lagi, ya?" tawar Rain dengan gugup.
"Sepertinya tidak," jawab Binar.
"Baiklah," ucap Rain. Dia mengecup pipi gadis itu sekilas, sebelum melambaikan tangan kemudian beranjak pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan pulang, Rain berkali-kali memegang kepalanya. Makin lama, semakin banyak kilasan kejadian yang berputar di dalam benaknya. Akan tetapi, dia tak dapat mengingat satu pun dengan jelas. Hal itu hanya membuat kepalanya terasa sakit.
Sesampainya di rumah Binar, Rain tak mendapati siapa pun di sana. Kemungkinan besar Widya sudah berangkat bekerja. Begitu pula dengan Wisnu dan Praya yang jelas sudah berangkat sekolah.
Tak ingin membuang waktu, Rain segera mengambil alat-alat kebersihan dan mulai merapikan rumah yang tak seberapa besar itu. Mulai dari menyapu dan mengepel seluruh lantai, sampai membersihkan dapur dan menyikat kamar mandi, Rain melakukan itu semua tanpa rasa jijik sama sekali. Dia hanya ingin keberadaannya di sana tak terlalu dianggap sebagai benalu oleh Widya. Sebuah pekerjaan kecil seperti yang dia lakukan tadi, pastinya dapat sedikit meringankan beban pekerjaan Binar.
Ketika sore hari tiba, Rain buru-buru membersihkan diri di kamar mandi sebelum Widya pulang. Menjelang pukul lima, dia sudah bersiap menjemput Binar. "Mau ke mana, Mister?" tanya Praya yang sedang duduk bersantai bersama kakaknya di teras rumah.
"Menjemput Binar," Rain tersenyum lebar sambil menepuk punggung Praya pelan. Sedangkan bocah itu hanya memandang Rain dengan heran, lalu beralih pada kakaknya yang ternyata juga tengah memandangi dirinya. Namun, kedua adik tiri Binar itu tak banyak bicara lagi.
Langkah Rain begitu tegap dan penuh semangat menuju ke toko suvenir. Dia lalu duduk di salah satu gazebo sampai terlihat sosok Binar keluar dari dalam gedung. Rain buru-buru berdiri dan memanggil nama gadis itu. Dia menyambut kehadiran Binar yang sudah ditunggunya.
"Rain? Astaga! Kamu jalan kaki lagi kemari?" Binar setengah berlari menghampirinya.
"Kamu saja kuat jalan kaki pulang pergi. Masa aku nggak?" Rain tertawa lepas, menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Ya, ampun. Ayo, kutraktir kamu makan di warung depan," Binar menarik lengan pria itu. Dia setengah memaksanya berjalan ke warung kecil yang terletak di samping halaman parkir.
"Eh, jangan. Nanti uangmu habis," tolak Rain. Dia teringat pada dua adik Binar di teras rumah tadi.
"Tenang saja, Rain. Ada bule yang memberiku tips lumayan. Tidak akan berkurang banyak kalau hanya membelikan kita berdua sepiring nasi campur dan es jeruk," tutur Binar.
"Um, baiklah," ragu-ragu Rain mengikuti Binar memasuki warung yang terlihat sederhana itu.
"Makanlah," Binar menyodorkan sepiring nasi penuh lauk pauk pada Rain. Pria itu segera menyambutnya dan mulai makan ketika pesanan Binar telah datang. Dua anak manusia itu menikmati hidangan sore penuh canda dan suka cita.
Sementara itu, tak jauh dari tempat makan Rain dan Binar, seorang pria bersama seorang wanita cantik tengah sibuk membagikan selebaran pada setiap orang yang lewat di sepanjang trotoar. "Kalau bapak atau ibu menemukan pria yang ada di gambar ini, segera hubungi nomor di bawahnya, ya," pesan wanita yang tak lain adalah Winona.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Yeni Eka
padahal Deket ya, tapi gak ketemu. Biarin aja mending ga usah ketemu , biar Arsen SM Binar aja
2022-11-22
1
Dwisya12Aurizra
hatimu perlu di cuci pake air tujuh sumur bu, biar bersih dari sipat dengki.
2022-10-25
0
StrawCakes🍰
dapet hadiah gak ini?
2022-10-23
1