Di dalam kendaraan, Rain tak banyak bicara. Dia masih tampak kebingungan dan juga merasa asing. Rain pun terus memperhatikan tangannya yang digenggam erat oleh Winona. Sesekali, pria itu melirik kepada wanita berparas cantik yang tengah duduk dan bergelayut manja pada lengan kirinya. Sementara, di samping kanannya adalah seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik dan juga anggun. Rain memperkirakan usia wanita itu pasti sebaya dengan Widya. Bedanya, wajah Widya terlihat lebih berkerut akibat terlalu sering marah.
“Panggil aku mama, Nak,” ucap Anggraini yang merasa terus diperhatikan oleh Rain sambil tersenyum.
“Maaf. Aku benar-benar lupa dengan semuanya. Aku hanya tahu dengan Winona saja yang terlihat samar-samar, dan juga ….” Rain mengatupkan mulutnya. Mungkin lebih baik baginya, agar dia tak menceritakan sosok gadis lain yang juga hadir dalam kilasan bayang-bayang yang pernah muncul. Dia pun masih merasa penasaran, dengan gadis berambut panjang dan bermata sayu yang kerap memanggil dirinya dengan nama Arsenio.
“Winona adalah kekasihmu, Nak. Rencananya, minggu depan kalian akan melangsungkan pesta pertunangan." Lievin yang saat itu duduk di kursi depan ikut bersuara. Dia juga sempat menoleh kepada Chand yang serius mengemudi.
“Kekasih?” Rain kembali menoleh pada Winona yang menatapnya penuh damba. Gadis di sisinya itu memang terlihat menawan. Polesan make up sederhana ditambah aroma parfum mahal, jelas menunjukkan bahwa status sosialnya jauh di atas Binar. “Binar,” gumamnya pelan. Namun, semua orang di dalam kendaraan itu dapat mendengar suaranya.
“Siapa Binar?” tanya Anggraini dan Winona secara bersamaan.
“Dia … dia yang menemukanku saat terluka. Dia juga yang membawaku ke rumah sakit, kemudian merawatku sepenuh hati,” jawabnya ragu. “Binar memberiku nama Rain,” imbuhnya lirih seraya tersenyum samar.
“Namamu Arsenio, Nak. Kami selalu memanggilmu dengan nama Arsen. Itu namamu,” ujar Lievin pelan, menanggapi penuturan putranya.
“Arsenio?” ulang Rain yang segera disambut dengan anggukan kepala oleh Anggraini.
“Sepertinya, Mama harus bertemu dan mengucapkan terima kasih kepada Binar,” cetus wanita itu.
“Itu ide yang bagus. Mungkin kita bisa pergi ke sana besok? Karena aku sudah berjanji untuk membawanya serta jika telah menemukan keluargaku, dan juga jika ingatanku sudah kembali,” sahut pria bernama Arsenio itu penuh semangat.
“Jangan bilang kalau Binar itu perempuan,” Winona menggeleng pelan sebagai bentuk protes.
“Dia yang sudah menyelamatkanku. Lagi pula, aku sudah berjanji padanya,” sahut Arsenio dengan raut tak suka.
“Ya ampun.” Winona mengeluh pelan, lalu memalingkan wajah ke arah jendela.
“Kenapa?” Arsenio mengernyitkan kening saat melihat sikap kekasih yang masih samar-samar dia ingat.
“Tak apa-apa, Nak. Mungkin kita cukup memberinya uang sebagai bentuk ucapan terima kasih dan anggap saja sebagai ganti rugi atas tenaga dan waktu yang telah dia korbankan selama merawatmu,” saran Anggraini menengahi.
“Astaga,” Arsenio melepaskan genggaman tangan Winona dan meraup wajahnya kasar. Entah kenapa, dirinya merasa sakit hati ketika orang-orang di sekitarnya terasa seperti meremehkan Binar. “Tidak semuanya bisa dihargai dengan uang,” ucapnya kemudian.
Bayangan Arsenio berkelana kembali pada waktu ketika Binar mengajaknya ke dekat air terjun. Dia sempat mencium gadis itu di sana. Bahkan Arsenio masih dapat membayangkan dengan jelas seperti apa rasanya.
“Tidak, bukan itu maksud Mama. Itu hanya sebagai bentuk ucapan terima kasih saja, Sayang," kilah Anggraini demi menenangkan hati putranya.
“Menurut saya, hal itu bisa dibicarakan nanti saja, Oom dan Tante. Alangkah lebih baik kalau Arsen beristirahat dulu. Kita tahu kondisi tubuhnya masih kurang sehat,” saran Chand yang sedari tadi terdiam. Sahabat dekat Arsenio tersebut akhirnya membuka suara sambil menunjuk ke arah kepala Arsen yang terlilit perban.
“Ya, kamu benar, Nak. Kita beristirahat saja dulu saja di villa,” sambung Lievin setuju. Bersamaan dengan itu, kendaraan yang mereka tumpangi telah memasuki halaman berumput sebuah villa yang tampak begitu asri. Mobil SUV hitam itu pun berhenti tepat di depan sebuah teras yang tampak begitu luas.
“Rumah siapa ini?” tanya Arsen kebingungan.
“Ini villa milikmu, Arsen. Sebelum kejadian menghilangnya dirimu beberapa hari lalu, kamu berniat untuk mendatangi villa ini dan menghadiri rapat kesokan harinya. Namun, sayang sekali karena kamu harus mengalami perampokan lebih dulu,” jelas Chand sembari melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil.
“Jadi, aku dirampok?” tanya pria tampan itu lagi masih terlihat kebingungan.
“Iya, Sayang. Untungnya Indah berhasil mengabari kami secepatnya,” jawab Winona.
Nama ‘Indah’ kembali menggema di dalam kepalanya dan terus berada di sana saat dirinya turun dari kendaraan. Arsenio pun mengikuti langkah pria yang memperkenalkan diri sebagai ayahnya. Mereka berjalan lurus melintasi teras dan memasuki ruang tamu yang terlihat mewah sekaligus artistik, dengan segala pernak-pernik yang sangat khas bernuansa Pulau Bali.
Tepat saat keluarga Arsenio mengantarkan pria itu ke kamarnya, ketika itulah sosok gadis yang selama ini berada dalam kilasan bayangan Arsenio, keluar dari salah satu ruangan yang bersebelahan dengan kamar itu. “Ya ampun, Arsen!” seru gadis berambut lurus dan panjang itu tak percaya. Dia setengah berlari menghampirinya.
“Dia adalah ….”
“Indah?” ucap Arsenio memotong perkataan Winona begitu saja, membuat suasana di sekitarnya menjadi canggung.
“Arsen memang playboy, ya. Dia tidak ingat sama sekali dengan kita ataupun om dan tante. Giliran sama cewek-cewek cantik itu, langsung deh, terpatri di memori dia,” seloroh Chand yang segera disambut dengan tawa renyah oleh Lievin dan Anggraini.
“Indah sahabatku, Sen. Jadi, bisa dibilang bahwa dia sahabat kamu juga,” terang Winona.
“Oh,” sahut Arsenio singkat sambil mengangguk pelan dan melangkah santai memasuki kamar. Dia mengedarkan pandangannya ke tiap sudut ruang untuk beberapa saat. Arsenio lalu duduk di tepi ranjang. Dirabanya permukaan ranjang yang terasa begitu halus dan lembut. Jauh berbeda dengan dipan milik Binar yang tipis dan keras. Namun, entah kenapa kehadiran Binar di kamar sederhana itu, seakan mampu menghilangkan segala perasaan tidak nyaman bagi dirinya.
“Apa kamu mau Mama ambilkan sesuatu? Teh hangat? Kopi? Kamu suka sekali dengan kopi,” tawar Anggraini.
Arsenio tak segera menjawab. Dia mengamati setiap wajah yang berdiri mengelilinginya. Sorot lembut dan sendu milik Winona, tatap mata penuh semangat dari Indah, juga pandangan penuh haru dari kedua orang tuanya. “Jadi, kapan kita akan menjemput Binar?” pada akhirnya dia tak menjawab pertanyaan ibunya. Arsenio malah kembali membahas Binar.
“Astaga,” ucap Lievin dan Chand secara bersamaan. Sedangkan Anggraini hanya tertawa pelan seraya mendekati putranya. Tampak raut tak suka terpancar dari wajah cantik Winona sambil sesekali mengibaskan rambut bergelombangnya yang indah.
“Pelan-pelan, Nak. Pulihkan dulu kondisimu, setelah itu kita datangi rumah Binar bersama-sama,” jawab Anggraini lembut.
“Saya juga sudah menghubungi dokter keluarga, Tante. Beliau sudah bersiap-siap kapanpun kita memanggilnya,” sela Indah.
“Bagus. Kalau begitu panggilkan saja sekarang. Biar dia bisa memeriksa keadaan Arsen secepatnya,” cetus Lievin.
“Baik, Oom.” Indah segera meraih ponselnya dan berjalan keluar kamar. Sayup-sayup terdengar suaranya yang tengah menghubungi seseorang. Anggraini juga bergegas ke dapur untuk membuatkan putra kesayangannya secangkir kopi.
Sementara Lievin tak hendak pergi. Dia masih ingin mengobrol banyak dengan putranya. Namun, Chand berkali-kali menyenggol lengan pria paruh baya yang berwajah mirip Arsenio itu. Lievin menoleh pada Chand sembari menautkan alis.
Chand menanggapinya dengan mengarahkan dagu ke arah Winona yang terpaku dan berkaca-kaca menatap Arsenio. Lievin pun akhirnya mengangguk. Dia mengerti isyarat dari anak angkatnya tersebut. “Baiklah. Papa keluar dulu. Langsung panggil Papa jika kamu butuh sesuatu ya, Nak,” pesannya seraya menepuk pelan punggung Arsenio sebelum berlalu bersama Chand dari sana.
Kini, di sana hanya ada Winona dan Arsenio berdua saja. Wanita cantik itu berdiri menunduk di dekatnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan sempat menguasai kamar luas itu. “Jadi, apa aku sering kemari?” tanya Arsenio memecah kebisuan di antara mereka berdua.
“Iya, kamu sering mengadakan meeting di sini. Banyak kolega-kolega kita dari luar negeri yang lebih memilih rapat di Bali daripada di Jakarta. Kamu tahu sendiri, di sini suasananya jauh lebih bersahabat,” jelas Winona dengan nada datar. Namun, tak lama kemudian seutas senyuman muncul di sudut bibirnya. "Sebentar, aku harus menghubungi orang tuaku dulu. Beristirahatlah." Winona mendekat, kemudian mengecup pipi Arsenio dengan mesra.
Arsenio tersenyum canggung menerima perlakuan itu. Namun, semua rasa canggung itu sirna ketika gadis bernama Indah kembali masuk. "Aku sudah menghubungi dokter Hendrawan. Dia akan segera kemari," ucapnya.
"Terima kasih, In. Aku permisi dulu sebentar," pamit Winona meninggalkan Arsenio dan Indah berdua saja di dalam kamar.
Indah gadis yang cantik dengan penampilan yang terbilang seksi. Dia berdiri di hadapan Arsenio dengan senyuman yang terlihat aneh dan cukup menggoda. "Bagaimana kabarmu, Arsen?" tanyanya setelah mereka berpandangan untuk beberapa saat.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Arsenio. Tiba-tiba, hadir dalam bayangan pria tampan itu ketika dirinya berdiri saling berhadapan dengan Indah. Mereka berdua tak hanya berbincang, tapi juga melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Ya, Arsenio melihat dirinya berciuman mesra dengan gadis tersebut. Ciuman yang bahkan jauh lebih panas dari yang dia lakukan bersama Binar. "Astaga!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Dwisya12Aurizra
yes kamu benar Rain, ....
uang memang segalanya tp tak semua bisa terselesaikan dgn uang
minimal kasih pekerjaan yg lebih layak, ingat tanpa pertolongan Binar, bukan tak mungkin lg kamu masih hidup atau nggak
2022-10-29
2