Sepulang dari toko suvenir, Rain berjalan dengan tenang menuju rumah. Kali ini dia mencoba melewati rute yang berbeda. Rain memilih melewati jalan setapak di tepian pematang sawah. Dia berhenti sejenak di sana, sambil menikmati pemandangan alam yang terbentang. Tumbuhan hijau serta hamparan sawah begitu indah, segar, dan menenangkan jiwa.
Sesaat kemudian, Rain mengusap perban yang masih melilit di kepalanya. “Arsenio,” gumam pria bermata cokelat terang tersebut. Entah kenapa nama itu terus menggaung di dalam benaknya.
Rain meringis ketika kepalanya kembali berdenyut nyeri. Dia pun memutuskan untuk langsung pulang dan mengistirahatkan diri.
Berharap segera tiba di rumah, Rain pun berjalan cepat menyusuri gang. Akan tetapi, langkah kaki pria itu harus terhenti, ketika tiba-tiba ada beberapa orang tak dikenal menghadangnya. “Ada apa ini? Permisi, aku mau lewat.” Nada bicara Rain terdengar amat tenang.
Salah seorang dari mereka menanggapi ucapan Rain dalam bahasa Bali yang sama sekali tak Rain mengerti. “Kalian ada masalah apa?” tanya pria itu lagi sembari berusaha melewati orang-orang tadi. Akan tetapi, baru saja Rain mengayunkan satu langkah, tubuhnya sudah terhuyung ke depan ketika salah seorang dari mereka mendorongnya cukup kencang.
“Siapa bilang kau boleh lewat sini?” gertak seseorang yang dari tampangnya terlihat tak jauh lebih tua dari Rain.
“Memangnya tidak boleh? Ini jalan umum, bukan?” Rain balik bertanya. Rain mencoba berdiri tegak seraya menoleh kepada pria itu.
“Kurang ajar!” salah seorang dari pemuda tadi mengayunkan tinjunya ke wajah Rain. Namun, pria rupawan itu lebih dulu menghindar ke samping dan balas memukul rahang si pemuda dengan tangan kirinya. Pemuda tak dikenal itu pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh setelah sebelumnya menabrak teman di sampingnya. Sedangkan Rain hanya berdiri memperhatikannya.
Tak terima rekan mereka dihantam, beberapa pemuda lainnya bergerak serentak menyerbu Rain. Sama sekali tak terlihat panik, Rain mundur beberapa langkah sambil menahan serangan dengan tangan, hingga tubuhnya terus bergerak dan menempel pada tembok gang. Mereka berpikir bahwa Rain terdesak, sehingga salah satu dari pria-pria itu dengan percaya dirinya melayangkan satu pukulan ke arah wajah rupawan Rain.
Namun, sebelum pukulan tadi mendarat, Rain terlebih dulu membungkukkan badan dan menerjang satu orang di depannya. Kedua tangannya terulur lurus ke depan, mendorong satu orang itu sekuat tenaga hingga terpental. Rain lalu beralih pada dua orang di samping kanannya yang masih ternganga, tak menyangka jika orang yang tadinya akan mereka keroyok ternyata mampu melakukan perlawanan. Dua orang itu harus merasakan tendangan kaki Rain. Tendangan itu sedemikian kencang, sampai-sampai mereka juga terpental dan menabrak gerobak kosong yang berada di sisi gang.
“Brengsek!” Dua orang lagi masih tersisa. Keduanya sempat mundur ketika Rain menoleh dan menatap tajam pada mereka. Tak ingin terlihat kalah, mereka nekat maju. Tangan kedua pria itu terkepal dan bergerak cepat menyasar ulu hati Rain. Lagi-lagi, Rain mampu menghindar. Dia bahkan berhasil mencengkeram kepalan tangan dari dua orang yang berbeda dengan kedua tangannya. Tak hanya itu, Rain juga memelintir sampai dua orang di depannya merintih kesakitan.
Dia tak berhenti meskipun orang-orang asing itu mengaduh. Rain malah menggerakkan kaki, menendang pangkal paha keduanya dengan sekuat tenaga, lalu melepaskan cengkeramannya. Dua orang itu jatuh terjerembab. Sebelum mereka sempat bangun, Rain lebih dulu menghantam ulu hati mereka menggunakan tangan kanan, sampai mereka terbatuk-batuk. Sementara ketiga orang lain yang lebih dulu tumbang akibat serangan, mulai bangkit dan hendak membalasnya. Akan tetapi, Rain lebih dulu memukuli mereka bertubi-tubi sampai kembali terkapar.
Melihat para penyerangnya sudah tak berdaya, Rain membersihkan telapak tangan dan juga bajunya. Dia berniat untuk melanjutkan langkah. Sedangkan beberapa meter di depannya, tampak Surya berdiri terpaku dengan wajah yang ternganga tak percaya. “Apa mereka teman-temanmu?” tanya Rain dengan nada datar.
“Kalau iya, memangnya kenapa?” jawab Surya seraya mengambil sikap waspada.
“Kau ingin berkelahi denganku?” tantang Rain tanpa rasa takut sedikit pun.
Surya tak segera menjawab. Pandangan pria itu nanar melihat teman-temannya yang tergeletak tak berdaya. Mereka berlima kalah hanya oleh Rain seorang. Sepertinya dia harus berpikir ulang jika ingin menghadapi Rain sendirian. Pada akhirnya, Surya membalikkan badan dan berlari tunggang langgang. Sedangkan Rain hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Surya. Dia lalu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
Sesampainya di rumah Widya, Rain meraba satu pot gantung di sudut teras dan meraih kunci rumah yang disembunyikan di sana. Sejak awal tinggal di rumah sederhana itu Binar sudah memberitahukan di mana letak kunci biasa disembunyikan.
Pelan-pelan, Rain memutar kunci dan membuka pintunya. Sesampainya di dalam, Rain menutup pintunya rapat-rapat lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Diambilnya lagi kertas cek yang tadi sempat dia sembunyikan di bawah bantal. Dia membaca bagian nama berulang kali, kemudian merenung untuk beberapa saat sambil menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
Tanpa sadar, Rain tertidur dalam posisi yang tidak berubah. Dia terbangun ketika dirinya merasakan sesuatu menggelitik hidung. Mata ambernya terbuka lebar ketika dilihatnya Praya sudah duduk di tepian ranjang, menghadap lurus pada dirinya sambil tertawa geli. “Praya? Kenapa sudah pulang? Jam berapa ini?” tanya Rain kebingungan.
“Jam dua belas siang, Mister,” jawab Praya.
“Hidung Mister mancung banget. Aku suka,” ujar Praya dengan polosnya.
“Jam dua belas?” ulang Rain tanpa menghiraukan pujian Praya. “Aku masuk rumah tadi masih pagi,” gumamnya lirih.
“Berarti Mister ketiduran. Ketidurannya kelamaan pula,” Praya terbahak, lalu berdiri.
“Eh, mau ke mana?” cegah Rain. Satu tangannya menahan pergelangan adik kedua Binar tersebut.
“Mau mandi, Mister. Tadi pagi kan aku belum sempat mandi,” jawab Praya seraya mencoba melepaskan genggaman Rain yang dirasa sedikit kuat.
“Kamu punya hp?” tanya pria rupawan itu lagi.
“Di rumah ini yang punya hp cuma mbok Binar sama Biyung,” jelas Praya. “Memangnya Mister cari hp untuk apa?” tanya anak itu lagi.
“Aku ingin mencari nama di mesin pencarian,” ucap Rain ragu.
“Oh, aku bisa meminjam hp temanku kalau Mister mau,” tawar Praya, “tapi, tunggu aku mandi dulu ya. Sebentar saja.” Bocah SD itu berlalu begitu saja dari kamar yang ditempati Rain. Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi gayung yang beradu dengan permukaan air di bak mandi.
Tak berselang lama, Praya masuk ke dalam kamar sudah dalam keadaan berganti pakaian dengan rambut basah. “Apa Mister jadi pinjam hp?” tanyanya memastikan.
“Iya, sebentar saja,” sahut Rain.
“Oke, Mister. Tunggu,” ucap bocah itu seraya bergegas keluar. Dia lalu kembali sepuluh menit kemudian bersama seorang anak laki-laki sebayanya.
“Oh, ini orangnya, Ya?” Teman Praya tadi mengamati lekat-lekat wajah Rain dari jarak yang sedemikian dekat, hingga Rain harus memundurkan kepalanya. “Seperti muka orang yang masuk berita kemarin,” celotehnya.
“Siapa yang masuk berita?” Praya menoleh pada temannya sembari menautkan alis.
“Mister ini,” tunjuk bocah itu. “Kata pembawa beritanya, mister ini hilang setelah berlibur ke Bali,” terangnya lagi.
“Pembawa beritanya menyebutkan sebuah nama atau tidak?” tanya Rain. Was-was dia menunggu jawaban dari bocah laki-laki itu.
“Iya, tapi aku lupa namanya, Mister. Soalnya bapak buru-buru mengganti channelnya. Lagi pula namanya panjang," kilah si bocah dengan polosnya.
“Apakah namanya Arsenio?” tebak Rain, membuat kedua bocah yang berdiri di depannya itu menggaruk-garuk kepala kebingungan kemudian saling pandang.
“Mister, katanya mau meminjam hp,” sela Praya. Dia menyodorkan ponsel temannya tepat ke hadapan Rain. “Mister cari tahu sendiri saja di situ,” telunjuk Praya mengarah ke ponsel.
“Ya, kamu benar,” Rain meraih benda pipih itu dan mulai mengetikkan nama Arsenio Wilhelm Rainier di mesin pencarian. Seketika, pada layar ponsel muncul paras tampannya dalam penampilan rapi khas seorang pengusaha muda, yang bersanding dengan seorang gadis cantik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Dwisya12Aurizra
kalo sudah h kembali ke keluarga mu jgn sampai melupakan binar
2022-10-26
5