“Oh, baiklah. Kalau begitu, silakan tunggu di luar. Kami akan segera memeriksa pasien dan melihat apakah harus ada tindakan serius atau tidak. Selagi menunggu silakan Anda melakukan pendaftaran terlebih dahulu di meja depan,” ucap petugas tadi sambil mengarahkan tangannya pada meja pendaftaran dengan seorang petugas yang terlihat sedang menerima telepon. Setelah berkata demikian, dia lalu masuk ke ruang tindakan.
Kini, Binar menjadi semakin bingung. Dia tidak tahu siapa pria tadi. Lalu, bagaimana dirinya akan mendaftar? Berkali-kali gadis itu mengempaskan napas dalam-dalam. Sambil melangkah ke dekat meja pendaftaran, Binar terus berpikir. Gadis itu hanya terpaku, bahkan ketika sudah berdiri di depan petugas.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.
Binar segera tersadar, kemudian langsung menyunggingkan sebuah senyuman sebagai balasan untuk keramahan petugas tadi. “Saya ... saya ingin mendaftarkan pasien ...." gadis itu kembali terdiam.
“Oh, baiklah. Atas nama siapa?” tanya sang petugas.
“Atas nama ... atas nama ... Rain ....” Binar kembali tertegun. “Maaf, maksud saya Jonathan Rain,” ralat gadis itu menegaskan.
“Oh, baiklah,” petugas itu mulai mencatat data-data yang Binar sebutkan kepadanya. Walaupun dalam hati merasa takut dan was-was dengan sandiwara yang tengah dia jalankan, tetapi Binar harus tetap terlihat meyakinkan. Setelah menyelesaikan urusan di meja pendaftaran, Binar kembali ke depan ruang tindakan dan duduk di sana seorang diri.
Sementara malam kian merayap. Waktu telah menunjukan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Seharusnya dia sudah berada di rumah saat itu, bukannya menunggui pria asing yang baru dia temui di rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang tindakan. Dengan segera, Binar berdiri menyambut kehadiran pria paruh baya tersebut. “Anda istri dari pasien?” tanyanya penuh wibawa.
“Iya, Dok. Saya istrinya,” jawab Binar mencoba untuk tetap terlihat tenang.
“Jadi begini, Nyonya. Suami Anda mengalami pembengkakan di bagian kepala. Ada luka memar yang disebabkan oleh hentakan dari benda tumpul di beberapa bagian tubuh. Salah satunya adalah leher belakang,” jelas dokter itu.
"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Binar. Rasa khawatir dan penasaran bercampur menjadi satu dalam hatinya.
“Untuk saat ini kami sudah memberikan pertolongan pertama dengan maksimal. Kita akan lihat perkembangannya dalam 1 x 24 jam. Jika ada sesuatu yang aneh, kami akan segera melakukan pemeriksaan lanjutan,” jelas sang dokter lagi. “Silakan, mungkin Nyonya ingin melihat kondisi suami Anda di dalam. Namun, dia belum sadarkan diri karena masih dalam pengaruh obat bius,” ujarnya lagi. Setelah itu, dokter tersebut kemudian berpamitan dari hadapan Binar yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Binar bisa saja pergi dan membiarkan pria tadi. Akan tetapi, entah mengapa dia merasa tak kuasa untuk melakukannya. Gadis itu sadar akan risiko yang harus dia tanggung. Namun, berbuat kebaikan yang besar tak selalu dia lakukan setiap hari dalam hidupnya, meskipun selama ini dengan menjadi tulang punggung keluarga saja sudah merupakan bakti yang tak ternilai.
Dilangkahkannya kaki ke dalam ruangan di mana pria tadi terbaring. Saat itu, Binar dapat melihat wajahnya dengan sangat jelas. Bercak darah di tubuh pria asing tersebut pun telah dibersihkan. Binar kemudian berdiri di sisi ranjang untuk sejenak, sebelum akhirnya dia mengambil sebuah kursi dan duduk. Namun, dia masih tampak kebingungan.
Tatapan dari sepasang mata belo gadis itu, terus tertuju pada seraut paras tampan yang masih tak sadarkan diri. Dia duduk termenung di sana, hingga tanpa terasa kantuk pun datang. Binar hampir saja tertidur sambil duduk. Namun, suara rintihan pelan pria tadi kembali membuatnya terjaga.
“Air ....” ucapnya dengan berat.
“Anda haus?” tanya Binar seraya mendekat kepada pria itu.
“Iya. Aku ingin minum,” jawab pria asing tersebut. Rupanya dia cukup fasih berbahasa Indonesia.
Binar kebingungan mencari air minum di dalam ruangan itu. Namun, tiba-tiba dia teringat bahwa dirinya selalu membawa bekal sendiri dari rumah. Dirogohnya ke dalam tas. Binar mengambil botol air minum yang isinya tinggal tersisa sedikit. Tanpa pikir panjang, gadis cantik tersebut membantu si pria untuk minum dari botol tadi.
“Terima kasih,” ucap pria itu sambil sesekali meringis kecil.
“Sama-sama," jawab Binar, "kenapa Anda bisa terluka?” tanya gadis itu penasaran. Akan tetapi, pria asing tersebut tidak menjawab. Dia hanya memicingkan mata saat menatap gadis di hadapannya. “Aku sudah mendaftar tadi, tapi aku tidak tahu siapa nama Anda. Jadi, kupakai saja nama sembarang. Mudah-mudahan tidak akan jadi masalah,” tutur Binar lagi tampak menyembunyikan keresahannya.
“Kalau begitu, biar kuhubungi keluarga Anda. Berapa nomor ponselnya?” dia tak henti bertanya. Namun, lagi-lagi si pria hanya terdiam. “Kenapa?” tanya Binar lagi dengan heran.
“Aku tidak tahu semuanya,” jawab pria tersebut.
Binar tertegun untuk beberapa saat. "M-maksudnya?"
"Aku tidak ingat," jawab pria itu seraya meringis. Jarinya lemah bergerak menyentuh pelipis. "Apa yang terjadi?"
"A-anda pingsan di depanku. Tubuh Anda juga penuh luka dan darah. Aku pikir Anda korban tabrak lari," tutur Binar ragu.
"Entahlah," pria itu tampak menelan ludah, lalu memejamkan mata.
"Bagaimana dengan nama? Apa Anda bisa mengingatnya?" satu pertanyaan terakhir yang Binar harap dapat dijawab pria asing itu.
"Aku tidak tahu," jawab pria tersebut singkat dengan mata yang tetap terpejam.
"Aduh, gawat!" Binar menepuk dahinya pelan.
Di tengah kekalutan, seorang perawat memasuki ruangan dan menghampirinya.
"Nyonya Rain?" panggil perawat itu. Seketika si pria asing membuka matanya, bersamaan dengan Binar yang ikut menoleh ke arah sang perawat.
"I-iya?" salah tingkah, Binar mengangguk sambil sesekali melirik pada pria rupawan yang tengah memandangnya keheranan.
"Apakah tuan Rain punya asuransi kesehatan?" tanya perawat itu.
Binar sempat menoleh pada pria asing itu. Namun, dia segera sadar bahwa si pria tidak mungkin bisa membantu menjawab pertanyaan perawat tadi. "Ti-tidak punya, Sus," jawab Binar pada akhirnya.
"Kalau begitu, Anda harus menebus obat melalui jalur umum. Silakan, ini resepnya," perawat itu menyodorkan beberapa lembar kertas kepadanya. "Ambil di apotik, ya," pesannya kemudian berlalu begitu saja dari sana.
"Um," Binar kembali menoleh pada si pria asing. "Maaf, aku harus mengaku sebagai istri Anda. Jika tidak begitu, mereka mengatakan tidak bersedia mengambil tindakan,” tuturnya hati-hati.
“Tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuannya,” jawab pria itu lirih.
“Kalau begitu, aku permisi dulu untuk menebus obat di apotik,” Binar menunjukkan kertas-kertas itu lalu berdiri. Langkahnya gamang menuju loket apotik. Tubuh dan pikirannya lelah. Apalagi saat itu, waktu telah menunjukkan hampir pukul sebelas. “Biyung pasti sudah marah-marah menungguku,” gumamnya pelan.
Sesampainya di loket, Binar menyerahkan lembaran resep dan menunggu agak lama sampai namanya dipanggil. “Bayarnya bagaimana?” tanya Binar pada petugas apotik.
“Nanti kalau sudah diperbolehkan pulang, ya. Bayar langsung di loket administrasi,” jelas petugas itu ramah sambil memberikan beberapa macam obat.
Binar mengangguk seraya mengucapkan terima kasih. Dia kembali ke ruangan tempat pria asing itu dirawat. Sedikit terkejut, Binar melihat seorang dokter bersama beberapa orang perawat mengerubungi ranjang si pria. “Ada apa ini?” Binar berjalan pelan mendekati ranjang.
“Ah, Nyonya Rain. Kebetulan suami Anda sudah siuman. Kami juga telah memeriksa tanda-tanda vital. Semuanya menunjukkan hasil yang bagus,” jelas sang dokter.
“Syukurlah, Dokter,” balas Binar seraya menoleh pada pria yang ternyata juga tengah memandang ke arahnya.
“Anda bisa memilih menunggu sampai dua puluh empat jam untuk melihat perkembangan tuan Rain atau rawat jalan,” tutur dokter itu lagi.
“Um,” Binar kebingungan menjawab. Jelas dia akan membayar jauh lebih banyak jika harus menjalani rawat inap di rumah sakit.
“Kalau pulang saja bagaimana, Dok?” tawarnya.
“Boleh-boleh saja. Asalkan Anda sudah menebus resep untuk dibawa pulang,” tegas dokter itu dengan nada yang ramah.
“Kalau begitu, kami memilih pulang saja, Dok,” putus Binar.
“Silakan. Untuk prosesnya, biar perawat yang menjelaskan,” dokter itu undur diri, digantikan oleh seorang perawat muda yang menjelaskan segala sesuatunya kepada Binar. Perawat itu juga meminta tanda tangan Binar di atas tumpukan kertas yang dia bawa. Setelah itu, perawat mengarahkannya ke loket administrasi.
Namun, betapa terkejutnya dia ketika mengetahui harus membayar lebih dari separuh uang gajinya. Tangan Binar gemetar saat menyerahkan lembaran uang ratusan ribu kepada petugas. Akan tetapi, dirinya sudah sejauh ini dan tak mungkin mundur. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk menjemput si pria asing ke ruangannya sambil membawa sebuah kursi roda.
Si pria pun tampak pasrah saat Binar membantunya turun dari atas ranjang rumah sakit, lalu mendorongnya menggunakan kursi roda.
“Maaf, Tuan. Aku tidak memiliki cukup uang jika Anda lebih lama di sini,” ucap Binar penuh sesal. Saat itu mereka sudah tiba di halaman depan rumah sakit. Binar lalu merogoh ponselnya dan memesan taksi online.
“Anda tidak apa-apa, kan? Anda bisa tinggal di rumahku untuk sementara, sampai ingatan dan kesehatan Anda pulih,” ujar Binar hati-hati.
“Tidak apa-apa. Terima kasih,” lemah jawaban pria itu, bersamaan dengan datangnya taksi yang sudah Binar pesan.
Dengan dibantu oleh sopir taksi, Binar mendudukkan pria asing itu di kursi penumpang. Dia lalu ikut duduk di sampingnya. Tak sampai setengah jam, taksi tadi sudah berhenti di depan rumah Binar.
Di teras rumah, tampak Widya berkacak pinggang dengan raut marah. “Dari mana saja kau!” sentaknya tanpa sungkan. Padahal saat itu sudah menjelang tengah malam.
Wajah Widya makin merah padam, ketika Binar tak menjawab. Anak tirinya itu malah menurunkan seorang pria asing dan memapahnya hingga masuk ke dalam rumah. Binar mendudukkan pria itu di salah satu kursi ruang tamu.
“Apa-apaan ini, Binar! Siapa dia?” tanya Widya penuh emosi.
“Maaf, Bu. Aku mengajak dia tinggal sementara di sini hingga kondisinya pulih,” jawab Binar dengan enteng, membuat Widya semakin naik pitam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
StrawCakes🍰
Arsen coba ingat-ingat wajahku kali kamu ingat sesuatu tentang kita?
2022-10-20
2
Dwisya12Aurizra
amnesia
2022-10-20
0