Seperti biasanya setiap kali akan memasuki rumah, maka Binar selalu menarik napas panjang terlebih dulu. Dia harus selalu menguatkan fisik dan mental jika hendak berhadapan dengan Widya. Beberapa menit lamanya termangu di teras rumah, Binar akhirnya membuka pintu depan dan melihat ibu tirinya itu tengah sibuk menjahit daster. Saat itu, dilihatnya jam dinding dengan jarum jam yang sudah menunjuk tepat pukul delapan malam. “Belum tidur, Bu?” sapa Binar berbasa-basi.
“Bayi kamu, tuh! Apa tidak kelaparan? Nggak kamu kasih makan seharian,” celetuk Widya. Dia sama sekali tak menanggapi sapaan anak tirinya.
Seketika, Binar teringat pada pria tampan yang dia tinggal bekerja begitu saja sejak tadi pagi. Gadis cantik itu lalu bergegas menuju kamar dan mendapati Rain tidur meringkuk di atas dipannya yang sempit. “Rain?” panggil Binar seraya menggoyang-goyangkan tubuh pria itu pelan.
Rain melenguh sambil meringis seakan menahan sakit dengan mata yang masih terpejam. Pria tampan itu tampak sangat menyedihkan. Bajunya masih baju yang sama seperti yang dia pakai saat pertama kali bertemu dengan Binar, kemeja putih penuh bercak darah yang sobek di sana sini. Begitu pula dengan celana bahannya yang berwarna coklat gelap.
“Rain?” panggil Binar lagi sampai pria itu membuka mata. Sekilas, gadis itu melirik pada tumpukan obat yang terlihat masih utuh di atas laci meja.
“Hai,” Rain memaksakan senyum, kemudian berusaha duduk dengan susah payah. “Sudah pulang?” tanyanya pada Binar.
“Kenapa obatnya tidak diminum?” protes Binar.
“Aku tidak yakin untuk meminum obat dalam keadaan perut kosong,” jawab Rain ragu.
“Astaga,” Binar menepuk dahinya sendiri. “Aku sudah menyiapkan nasi goreng di belakang. Kamu tinggal ambil saja," ucapnya dengan wajah cemas.
"Aku lihat meja makannya kosong." Rain tampak kebingungan.
“Iya, kah? Padahal aku sudah menyiapkan satu piring untukmu," balas Binar lagi.
"Baiklah, tunggu sebentar." Binar berbalik ke luar kamar dan melangkah cepat menuju dapur. Dia membuka tudung saji di atas meja. Akan tetapi, tak ada apapun di sana. Mata bulatnya beralih pada bak cuci piring. Nasi goreng yang dia maksudkan, ternyata habis tak tersisa. Di sana hanya ada piring kosongnya saja.
Binar lalu membuka rice cooker. Beruntung karena masih tersisa sedikit nasi di dalamnya. Dia hanya perlu memasak telur mata sapi sebagai lauk. Gadis itu cekatan membuka kulkas dan mengambil sebutir telur untuk dimasak. Tak sampai lima menit, telur itu pun matang dan siap dihidangkan.
Dia lalu meraih nampan plastik yang telah diisi dengan sepiring nasi dan lauk, serta segelas air putih.
Gadis itu lalu berjalan melewati sang ibu tiri di ruang tamu, sebelum memasuki kamarnya lagi. Binar sama sekali tak menghiraukan tatapan Widya yang tajam dan begitu menghujam ke arahnya. Dia membuka pintu yang sebagian terbuka dengan menggunakan tubuhnya, kemudian duduk di tepi ranjang. “Makanlah dulu,” suruhnya. “Apa mau aku suapi?” tawar gadis itu dengan raut polos.
“Ti-tidak usah,” tolak Rain seraya meraih sepiring nasi di atas nampan yang diletakkan oleh Binar di ranjang. Dia mulai menyuap nasinya dengan lahap. Rain memang merasa benar-benar lapar saat itu. Dia sama sekali tak ingat kapan terakhir kali dirinya makan.
“Maaf, aku cuma punya lauk itu,” telunjuk ramping Binar mengarah pada telur mata sapi yang sudah tersisa separuh.
“Tidak apa-apa. Ini enak,” sahut Rain sambil tersenyum dengan mulut penuh makanan.
Untuk beberapa saat lamanya, Binar terdiam dan hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Rain tanpa kata. Beribu pertanyaan menggelayut di benaknya tentang sosok pria rupawan yang kini telah menghabiskan makanannya, kemudian terburu-buru meneguk air. “Ka-kamu benar-benar tidak ingat apa-apa sama sekali?” tanya Binar begitu saja. Sementara tangannya cekatan menyiapkan beberapa butir obat untuk Rain
Rain tak segera menjawab. Dia menerima obat yang telah disodorkan oleh Binar dan meminumnya sekaligus. Setelah menghabiskan seluruh air dalam gelas, barulah Rain memandang Binar penuh arti sambil tersenyum.
Baru kali ini Binar dapat memperhatikan secara jelas, mata Rain yang terlihat begitu indah tetapi juga tampak tegas dan tajam. Iris mata pria itu berwarna amber, yaitu warna coklat yang sangat terang, mendekati warna kuning tembaga. Rain juga sepertinya terpesona pada mata bulat Binar, bulu mata yang lentik alami serta alis yang hitam dan rapi.
“Jadi kamu lupa semuanya?” Binar mengulangi pertanyaannya.
“Aku cuma ingat saat aku terbangun di antara semak-semak dan pepohonan. Waktu aku mendongak, ternyata aku berada di dasar jurang. Susah payah aku naik ke atas, dan ternyata di atas tebing itu ada jalan raya. Aku mulai mengikuti arah jalan sampai akhirnya bertemu denganmu,” tutur Rain.
“Jurang?” Binar menautkan alisnya dan mulai berpikir. Di dekat tempat kerjanya, memang banyak terdapat area hutan yang cukup lebat. Ada beberapa air terjun yang terkenal pula di sana. “Apa kamu dirampok?” gadis itu mulai penasaran. “Mungkin kamu dirampok dan tubuhmu dibuang begitu saja,” Binar bergidik ngeri membayangkan.
“Mungkin saja,” Rain mengangkat bahu. “Semoga memoriku cepat kembali,” ujarnya.
“Oh, iya,” Binar mengangkat telunjuknya, teringat akan sesuatu. Gadis itu bangkit dan meraih tas tangan yang dia letakkan begitu saja di kursi. Binar mengeluarkan bungkusan hitam, lalu memberikannya kepada Rain.
“Apa ini?” Rain membolak-balikkan bungkusan itu.
“Baju ganti buat kamu,” Binar mengulum senyum sembari membantu menyobek plastik hitam yang ternyata berisi kaus katun berukuran besar serta celana pendek.
“Terima kasih,” Rain tertawa kecil. Dia tampak senang dengan pemberian Binar.
“Apa mau kubantu mengganti baju?” tawar Binar.
Rain ragu antara menjawab iya atau tidak. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk mencoba berganti pakaian sendiri. “Aku tidak ingin merepotkanmu,” ujarnya.
“Baiklah, ganti dulu. Aku tunggu di luar, ya,” Binar tersenyum manis, kemudian berpindah ke ruang tamu. Dilihatnya Widya masih duduk di tempatnya sambil memencet-mencet remote televisi.
“Bikin susah saja,” celetuk wanita itu tanpa mengalihkan pandangan dari televisi. “Kalau sampai ada apa-apa, aku tidak akan ikut campur!” tegasnya.
“Iya, Bu. Tenang saja,” sahut Binar santai.
Widya segera menoleh kepada anak tirinya itu dengan mata melotot. Dia sudah hendak membuka mulutnya dan bersiap melemparkan kata-kata makian pada Binar, ketika terdengar bunyi seperti benda jatuh dari arah kamar.
“Rain!” pikiran Binar sudah mengarah pada pria malang yang dirawatnya, dan ternyata benar. Pria itu terduduk di lantai dengan kepala berdarah. Sedangkan pecahan piring dan gelas berserakan di sekitarnya. “Kamu kenapa?” buru-buru Binar mengangkat pria itu dan mendudukkannya kembali ke ranjang.
“Aku tadi sedang berganti kaus dan celana, tapi waktu aku membungkuk memasang celana, tiba-tiba saja kepalaku terasa berputar,” papar Rain. Sepertinya kepalaku terantuk meja,” sambungnya sembari menyentuh perban yang melilit dahi. Perban putih itu berubah warna menjadi merah terang.
“Ya, ampun. Astaga,” Binar menggeleng pelan dengan sorot mata iba. Perlahan, dia membuka perban itu dan mencoba menggantinya dengan yang baru. Saat itulah dia juga baru tersadar ketika salah satu jahitan di kepala Rain telah terlepas. “Aduh, bagaimana ini? Jahitannya lepas!” serunya panik.
“Rasakan itu, Binar! Susah sendiri ‘kan, akhirnya!” tegur Widya yang ternyata sudah berada di dalam kamarnya entah sejak kapan. “Aku tidak mau tahu! Urus saja urusanmu sendiri,” ujarnya ketus seraya berlalu dari dalam kamar.
Binar hanya dapat mengela napas, lalu kembali fokus pada luka Rain. Dia menutupi darah yang menetes itu dengan kapas yang kemudian dililit menggunakan perban.
“Maaf, ya. Niatku tak ingin merepotkanmu, tapi malah semakin menyusahkan,” ucap Rain lirih.
“Tidak apa-apa. Aku akan membantumu sebisaku, Rain. Tenang saja,” hibur Binar, walaupun dalam hati dia merasa gamang. Tak mungkin dia meninggalkan Rain dalam kondisi seperti ini. Cukup lama gadis itu berpikir, sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk mengambil cuti esok hari.
................
Bulir-bulir keringat menetes di kening Binar. Cuaca yang cukup terik, padahal hari masih pagi tetapi membuatnya kepanasan. Kaos putih berbahan katun yang dia pakai sekarang telah basah oleh keringat. Akan tetapi, hal itu tak menyurutkan niatnya untuk berjalan kaki menuju toko suvenir tempatnya bekerja.
Rencananya, dia akan mengajukan cuti selama seminggu demi merawat Rain, pria yang masih belum dia ketahui asal-usulnya itu. Binar hanya bisa berharap, semoga manajer toko bersedia memberinya izin. Dilangkahkannya kaki menuju bagian gudang toko. Di sana, beberapa rekan kerjanya tampak sibuk menata barang.
Binar terus berjalan melewati rekan-rekannya sambil menyapa hangat. Dia lalu berhenti di depan ruangan manajer. Gadis itu menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Sesaat kemudian, Binar mengetuk pelan pintu yang setengah terbuka. “Selamat pagi, Pak Muchtar,” sapanya.
“Selamat pagi,” terdengar balasan dari dalam ruangan. Ragu, Binar melangkah masuk kemudian mengangguk sopan, ketika matanya beradu pandang dengan seorang pria berpakaian rapi dan berambut klimis.
“Ada apa, Nar?” tanyanya ramah.
Binar tersenyum sesaat. Ditatapnya pria yang berusia kira-kira beberapa tahun lebih tua darinya itu. Sang manajer toko yang bernama Muchtar itu adalah pria asli Lombok, berkulit sawo matang dan berkaca mata. Sifatnya yang ramah membuat Muchtar banyak disukai bawahannya.
“Saya ingin meminta izin, Pak,” ujar Binar tanpa basa-basi.
“Mau ke mana?” Muchtar mengernyitkan kening.
“Saya mau mengajukan cuti, Pak. Ada kerabat yang sakit. Kebetulan hanya saya yang bisa merawatnya,” dalih Binar. Setengah was-was dia menunggu jawaban dari manajernya itu.
“Waduh. Bagaimana ya, Nar. Masalahnya minggu-minggu terakhir ini sudah memasuki peak season. Pasti pengunjung toko suvenir kita akan membludak,” ujarnya. “Toko sebesar ini, pasti akan kewalahan,” imbuh Muchtar.
“Saya minta tolong, Pak,” wajah cantik Binar memelas, “kasihan saudara saya,” kilahnya.
“Ya, sudah, tapi ….” Muchtar tampak ragu melanjutkan kalimatnya.
“Kenapa, Pak?”
“Tidak apa-apa, ya, kalau gajimu dipotong,” jawab pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Yuen
Punya ibu dan adik tiri cuma nyusahin, knpa gak merantau sendiri? Lagian gak dihargai jg, ngapain nyiksa diri?
2022-12-16
3
Yeni Eka
udh gaji kecil , dipotong lagi
2022-10-31
1
Dwisya12Aurizra
susah ya kalo jadi orang miskin, mau berbuat baik juga ada saja ujiannya.
sabar ya binar
2022-10-21
1