Konsekuensi

Seperti biasanya setiap kali akan memasuki rumah, maka Binar selalu menarik napas panjang terlebih dulu. Dia harus selalu menguatkan fisik dan mental jika hendak berhadapan dengan Widya. Beberapa menit lamanya termangu di teras rumah, Binar akhirnya membuka pintu depan dan melihat ibu tirinya itu tengah sibuk menjahit daster. Saat itu, dilihatnya jam dinding dengan jarum jam yang sudah menunjuk tepat pukul delapan malam. “Belum tidur, Bu?” sapa Binar berbasa-basi.

“Bayi kamu, tuh! Apa tidak kelaparan? Nggak kamu kasih makan seharian,” celetuk Widya. Dia sama sekali tak menanggapi sapaan anak tirinya.

Seketika, Binar teringat pada pria tampan yang dia tinggal bekerja begitu saja sejak tadi pagi. Gadis cantik itu lalu bergegas menuju kamar dan mendapati Rain tidur meringkuk di atas dipannya yang sempit. “Rain?” panggil Binar seraya menggoyang-goyangkan tubuh pria itu pelan.

Rain melenguh sambil meringis seakan menahan sakit dengan mata yang masih terpejam. Pria tampan itu tampak sangat menyedihkan. Bajunya masih baju yang sama seperti yang dia pakai saat pertama kali bertemu dengan Binar, kemeja putih penuh bercak darah yang sobek di sana sini. Begitu pula dengan celana bahannya yang berwarna coklat gelap.

“Rain?” panggil Binar lagi sampai pria itu membuka mata. Sekilas, gadis itu melirik pada tumpukan obat yang terlihat masih utuh di atas laci meja.

“Hai,” Rain memaksakan senyum, kemudian berusaha duduk dengan susah payah. “Sudah pulang?” tanyanya pada Binar.

“Kenapa obatnya tidak diminum?” protes Binar.

“Aku tidak yakin untuk meminum obat dalam keadaan perut kosong,” jawab Rain ragu.

“Astaga,” Binar menepuk dahinya sendiri. “Aku sudah menyiapkan nasi goreng di belakang. Kamu tinggal ambil saja," ucapnya dengan wajah cemas.

"Aku lihat meja makannya kosong." Rain tampak kebingungan.

“Iya, kah? Padahal aku sudah menyiapkan satu piring untukmu," balas Binar lagi.

"Baiklah, tunggu sebentar." Binar berbalik ke luar kamar dan melangkah cepat menuju dapur. Dia membuka tudung saji di atas meja. Akan tetapi, tak ada apapun di sana. Mata bulatnya beralih pada bak cuci piring. Nasi goreng yang dia maksudkan, ternyata habis tak tersisa. Di sana hanya ada piring kosongnya saja.

Binar lalu membuka rice cooker. Beruntung karena masih tersisa sedikit nasi di dalamnya. Dia hanya perlu memasak telur mata sapi sebagai lauk. Gadis itu cekatan membuka kulkas dan mengambil sebutir telur untuk dimasak. Tak sampai lima menit, telur itu pun matang dan siap dihidangkan.

Dia lalu meraih nampan plastik yang telah diisi dengan sepiring nasi dan lauk, serta segelas air putih.

Gadis itu lalu berjalan melewati sang ibu tiri di ruang tamu, sebelum memasuki kamarnya lagi. Binar sama sekali tak menghiraukan tatapan Widya yang tajam dan begitu menghujam ke arahnya. Dia membuka pintu yang sebagian terbuka dengan menggunakan tubuhnya, kemudian duduk di tepi ranjang. “Makanlah dulu,” suruhnya. “Apa mau aku suapi?” tawar gadis itu dengan raut polos.

“Ti-tidak usah,” tolak Rain seraya meraih sepiring nasi di atas nampan yang diletakkan oleh Binar di ranjang. Dia mulai menyuap nasinya dengan lahap. Rain memang merasa benar-benar lapar saat itu. Dia sama sekali tak ingat kapan terakhir kali dirinya makan.

“Maaf, aku cuma punya lauk itu,” telunjuk ramping Binar mengarah pada telur mata sapi yang sudah tersisa separuh.

“Tidak apa-apa. Ini enak,” sahut Rain sambil tersenyum dengan mulut penuh makanan.

Untuk beberapa saat lamanya, Binar terdiam dan hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Rain tanpa kata. Beribu pertanyaan menggelayut di benaknya tentang sosok pria rupawan yang kini telah menghabiskan makanannya, kemudian terburu-buru meneguk air. “Ka-kamu benar-benar tidak ingat apa-apa sama sekali?” tanya Binar begitu saja. Sementara tangannya cekatan menyiapkan beberapa butir obat untuk Rain

Rain tak segera menjawab. Dia menerima obat yang telah disodorkan oleh Binar dan meminumnya sekaligus. Setelah menghabiskan seluruh air dalam gelas, barulah Rain memandang Binar penuh arti sambil tersenyum.

Baru kali ini Binar dapat memperhatikan secara jelas, mata Rain yang terlihat begitu indah tetapi juga tampak tegas dan tajam. Iris mata pria itu berwarna amber, yaitu warna coklat yang sangat terang, mendekati warna kuning tembaga. Rain juga sepertinya terpesona pada mata bulat Binar, bulu mata yang lentik alami serta alis yang hitam dan rapi.

“Jadi kamu lupa semuanya?” Binar mengulangi pertanyaannya.

“Aku cuma ingat saat aku terbangun di antara semak-semak dan pepohonan. Waktu aku mendongak, ternyata aku berada di dasar jurang. Susah payah aku naik ke atas, dan ternyata di atas tebing itu ada jalan raya. Aku mulai mengikuti arah jalan sampai akhirnya bertemu denganmu,” tutur Rain.

“Jurang?” Binar menautkan alisnya dan mulai berpikir. Di dekat tempat kerjanya, memang banyak terdapat area hutan yang cukup lebat. Ada beberapa air terjun yang terkenal pula di sana. “Apa kamu dirampok?” gadis itu mulai penasaran. “Mungkin kamu dirampok dan tubuhmu dibuang begitu saja,” Binar bergidik ngeri membayangkan.

“Mungkin saja,” Rain mengangkat bahu. “Semoga memoriku cepat kembali,” ujarnya.

“Oh, iya,” Binar mengangkat telunjuknya, teringat akan sesuatu. Gadis itu bangkit dan meraih tas tangan yang dia letakkan begitu saja di kursi. Binar mengeluarkan bungkusan hitam, lalu memberikannya kepada Rain.

“Apa ini?” Rain membolak-balikkan bungkusan itu.

“Baju ganti buat kamu,” Binar mengulum senyum sembari membantu menyobek plastik hitam yang ternyata berisi kaus katun berukuran besar serta celana pendek.

“Terima kasih,” Rain tertawa kecil. Dia tampak senang dengan pemberian Binar.

“Apa mau kubantu mengganti baju?” tawar Binar.

Rain ragu antara menjawab iya atau tidak. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk mencoba berganti pakaian sendiri. “Aku tidak ingin merepotkanmu,” ujarnya.

“Baiklah, ganti dulu. Aku tunggu di luar, ya,” Binar tersenyum manis, kemudian berpindah ke ruang tamu. Dilihatnya Widya masih duduk di tempatnya sambil memencet-mencet remote televisi.

“Bikin susah saja,” celetuk wanita itu tanpa mengalihkan pandangan dari televisi. “Kalau sampai ada apa-apa, aku tidak akan ikut campur!” tegasnya.

“Iya, Bu. Tenang saja,” sahut Binar santai.

Widya segera menoleh kepada anak tirinya itu dengan mata melotot. Dia sudah hendak membuka mulutnya dan bersiap melemparkan kata-kata makian pada Binar, ketika terdengar bunyi seperti benda jatuh dari arah kamar.

“Rain!” pikiran Binar sudah mengarah pada pria malang yang dirawatnya, dan ternyata benar. Pria itu terduduk di lantai dengan kepala berdarah. Sedangkan pecahan piring dan gelas berserakan di sekitarnya. “Kamu kenapa?” buru-buru Binar mengangkat pria itu dan mendudukkannya kembali ke ranjang.

“Aku tadi sedang berganti kaus dan celana, tapi waktu aku membungkuk memasang celana, tiba-tiba saja kepalaku terasa berputar,” papar Rain. Sepertinya kepalaku terantuk meja,” sambungnya sembari menyentuh perban yang melilit dahi. Perban putih itu berubah warna menjadi merah terang.

“Ya, ampun. Astaga,” Binar menggeleng pelan dengan sorot mata iba. Perlahan, dia membuka perban itu dan mencoba menggantinya dengan yang baru. Saat itulah dia juga baru tersadar ketika salah satu jahitan di kepala Rain telah terlepas. “Aduh, bagaimana ini? Jahitannya lepas!” serunya panik.

“Rasakan itu, Binar! Susah sendiri ‘kan, akhirnya!” tegur Widya yang ternyata sudah berada di dalam kamarnya entah sejak kapan. “Aku tidak mau tahu! Urus saja urusanmu sendiri,” ujarnya ketus seraya berlalu dari dalam kamar.

Binar hanya dapat mengela napas, lalu kembali fokus pada luka Rain. Dia menutupi darah yang menetes itu dengan kapas yang kemudian dililit menggunakan perban.

“Maaf, ya. Niatku tak ingin merepotkanmu, tapi malah semakin menyusahkan,” ucap Rain lirih.

“Tidak apa-apa. Aku akan membantumu sebisaku, Rain. Tenang saja,” hibur Binar, walaupun dalam hati dia merasa gamang. Tak mungkin dia meninggalkan Rain dalam kondisi seperti ini. Cukup lama gadis itu berpikir, sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk mengambil cuti esok hari.

................

Bulir-bulir keringat menetes di kening Binar. Cuaca yang cukup terik, padahal hari masih pagi tetapi membuatnya kepanasan. Kaos putih berbahan katun yang dia pakai sekarang telah basah oleh keringat. Akan tetapi, hal itu tak menyurutkan niatnya untuk berjalan kaki menuju toko suvenir tempatnya bekerja.

Rencananya, dia akan mengajukan cuti selama seminggu demi merawat Rain, pria yang masih belum dia ketahui asal-usulnya itu. Binar hanya bisa berharap, semoga manajer toko bersedia memberinya izin. Dilangkahkannya kaki menuju bagian gudang toko. Di sana, beberapa rekan kerjanya tampak sibuk menata barang.

Binar terus berjalan melewati rekan-rekannya sambil menyapa hangat. Dia lalu berhenti di depan ruangan manajer. Gadis itu menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Sesaat kemudian, Binar mengetuk pelan pintu yang setengah terbuka. “Selamat pagi, Pak Muchtar,” sapanya.

“Selamat pagi,” terdengar balasan dari dalam ruangan. Ragu, Binar melangkah masuk kemudian mengangguk sopan, ketika matanya beradu pandang dengan seorang pria berpakaian rapi dan berambut klimis.

“Ada apa, Nar?” tanyanya ramah.

Binar tersenyum sesaat. Ditatapnya pria yang berusia kira-kira beberapa tahun lebih tua darinya itu. Sang manajer toko yang bernama Muchtar itu adalah pria asli Lombok, berkulit sawo matang dan berkaca mata. Sifatnya yang ramah membuat Muchtar banyak disukai bawahannya.

“Saya ingin meminta izin, Pak,” ujar Binar tanpa basa-basi.

“Mau ke mana?” Muchtar mengernyitkan kening.

“Saya mau mengajukan cuti, Pak. Ada kerabat yang sakit. Kebetulan hanya saya yang bisa merawatnya,” dalih Binar. Setengah was-was dia menunggu jawaban dari manajernya itu.

“Waduh. Bagaimana ya, Nar. Masalahnya minggu-minggu terakhir ini sudah memasuki peak season. Pasti pengunjung toko suvenir kita akan membludak,” ujarnya. “Toko sebesar ini, pasti akan kewalahan,” imbuh Muchtar.

“Saya minta tolong, Pak,” wajah cantik Binar memelas, “kasihan saudara saya,” kilahnya.

“Ya, sudah, tapi ….” Muchtar tampak ragu melanjutkan kalimatnya.

“Kenapa, Pak?”

“Tidak apa-apa, ya, kalau gajimu dipotong,” jawab pria itu.

Terpopuler

Comments

Yuen

Yuen

Punya ibu dan adik tiri cuma nyusahin, knpa gak merantau sendiri? Lagian gak dihargai jg, ngapain nyiksa diri?

2022-12-16

3

Yeni Eka

Yeni Eka

udh gaji kecil , dipotong lagi

2022-10-31

1

Dwisya12Aurizra

Dwisya12Aurizra

susah ya kalo jadi orang miskin, mau berbuat baik juga ada saja ujiannya.
sabar ya binar

2022-10-21

1

lihat semua
Episodes
1 Perjalanan Pertama
2 Mengambil Risiko
3 Pertengkaran Malam
4 Elegi Pagi
5 Konsekuensi
6 Wajah Lusuh
7 Di Bawah Air Terjun
8 Tentang Hujan
9 Optimisme
10 Sore Yang Hangat
11 Seandainya ...
12 Pakaian Mahal
13 Bayangan Hitam
14 Want To take You Away
15 Nama Yang Hilang
16 Gelang Emas
17 Ujung Langkah
18 Bayangan Indah
19 Terikat Kontrak
20 Di Penghujung Kesabaran
21 Keputusan Besar
22 Sepuluh Malam di Jogja
23 Penampakan Yang Lain
24 Mencari Binar
25 Kenyataan dan Harapan
26 Another Woman
27 Patah
28 Di Taman Renata
29 Tragedi Kamar Kecil
30 Makan Sore
31 Hiburan Untuk Chand
32 Dua Kotak Gurame
33 Masa Lalu Kelam
34 Sebingkai Foto Buram
35 Something to Remember
36 Ghea si Penggoda
37 Sekilas Pandang
38 Tanpa Restu
39 Hembusan Angin Malam
40 Sang Penghibur
41 Kenyataan Menyakitkan
42 Ingatan Yang Kembali
43 Tato Naga
44 Bangkitnya Arsenio
45 Sang Detektif
46 Senyuman Binar
47 Si Duda Bening
48 Nasihat Chand
49 Bab Visual
50 Petunjuk Baru
51 Kekasih Baru Sang Duda
52 Pelayanan Istimewa
53 Berharap Pada Keajaiban
54 Pertemuan Kembali
55 Cinta Dua Cabang
56 Perjuangan Dimulai
57 Diskusi Malam
58 Beratnya Rindu
59 Getaran Yang Sama
60 Gadis Penyelamat
61 Selangkah Lebih Dekat
62 Teman Merangkai Bunga
63 Ciuman Kedua
64 Sarapan Bersama
65 Cinta Sebiru Langit
66 Berebut Perhatian
67 Orang Ketiga
68 Penyesalan
69 Nirmala Dan Binar
70 Titik Terang
71 Ungkapan Masa Lalu
72 Janji Manis Arsenio
73 Si Kepiting Merah
74 Mister Trap
75 Pengakuan Chand
76 Dua Pesaing Tampan
77 Aroma Yang Tertinggal
78 Si Pemikat Hati
79 One Stop Cassanova
80 Praduga
81 Terluka
82 Cemburu
83 Tak Mampu Berpaling
84 Tenggelam Semakin Dalam
85 Metamorfosis
86 Berjuang Bersama
87 Amarah Winona
88 Let's Get Married
89 Adegan Manis
90 Yang Teristimewa
91 Menjawab Tantangan
92 Satu Rahasia
93 Di Bawah Bintang
94 Detik Mendebarkan
95 Keberanian Yang Datang
96 Harga Sebuah Cinta
97 Kenangan Terakhir
98 Gelang Pengikat
99 Pengganti Segala Hal
100 Binar Indah di Pagi Hari
101 Semua Karena Binar
102 Perjalanan Panjang
103 Di Antara Kebun Kopi
104 Melepas Rindu
105 Sisi Bijak Arsenio
106 Dua Cinderamata
107 Gereja Putih
108 Balada Cincin Lumba-lumba
109 Price To Pay
110 Sepenggal Kepedihan
111 Malam Pertama Sang Pengantin
112 Secarik Kertas
113 Surat Dari Ayah
114 Pamit
115 Akhir Untuk Sebuah Awal
116 Tawaran Manis
117 Hati Yang Rapuh
118 Ungkapan Perih
119 Alleen Binar
120 Obrolan Petang
121 Pertengkaran Pertama
122 Bad Girl
123 Setitik Kebaikan
124 Mencari Yang Telah Pergi
125 Melepaskan Diri
126 Pesan Tak Berbalas
127 Menembus Awan
128 Sang Perayu
129 Berlin, Aku Kembali
130 Flower Bloom in Berlin
131 Restu Dalam Genggaman
132 Cafe Pilihan
133 A New Life
134 Chef de Cuisine
135 Ex Girlfriend
136 Pertengkaran Mesra
137 Cooking With Love
138 Penawaran Menarik
139 Sweet Night
140 Cinta Tulus
141 Di Bawah Kilatan Cahaya
142 Binar Yang Nakal
143 Hamil Muda
144 Redupnya Harapan
145 Setitik Dusta
146 Kegalauan Di Sore Hari
147 Bulan Madu Palsu
148 Jealous Not Jealous
149 Wanita Istimewa
150 Ujian Cinta
151 Cinta Dan Kecewa
152 Ich Liebe Dich, Rain!
153 Funny Fight
154 Bernyanyi Dalam Suka
155 Tempat Singgah
156 Kunci Baru
157 Mimpi Arsenio
158 Gundah
159 Father And Son
160 Pesan Di Ujung Malam
161 Jalan Yang Terang
162 Semalam Di Istana Rainier
163 Maaf Untuk Papa
164 Secercah Cahaya
165 Misi Rahasia
166 Pengintaian Pertama
167 Antrian Cinta
168 Rahasia Biantara
169 Menjemput Kenangan Lama
170 Antara Cinta Dan Dendam
171 Menunggu Kejutan
172 Serangan Tengah Hari
173 Tawa Kepalsuan
174 Senyuman Winona
175 Selembar Kertas Putih
176 Sopir Tampan Sang Nona
177 Antara Risau Dan Bahagia
178 Drama Dua Sejoli
179 Sisi Lain
180 Dimulainya Sebuah Permainan
181 Teman Bicara
182 Tentang Luka
183 Senyum Di Atas Skateboard
184 Dinner Out
185 Gencatan Senjata
186 Potongan Apel Terakhir
187 Bad Dream
188 Aksi Ajisaka
189 Antara Dua Sepupu
190 Kenyataan Pahit
191 Hancurnya Sebuah Hati
192 Seruan Damai
193 Di Ujung Perselisihan
194 Setetes Air Mata
195 Dua Wanita
196 Perkumpulan Tiga Pria
197 Rapat Kuliner
198 Karaoke Ria
199 Ancaman Baru
200 Peliknya Hidup
201 Salah Tingkah
202 Antara Croissant Dan Steak Wagyu
203 Sang Perayu
204 Atas Nama Ngidam
205 Firasat Binar
206 Reuni Keluarga
207 Nama Untuk Sang Cucu
208 Yang Teristimewa
209 Nasihat Ibu
210 Keinginan Terpendam
211 Pagi Kelabu
212 Mimpi Buruk Di Siang Hari
213 Berita Buruk
214 Jiwa Yang Hancur
215 Perpisahan Terakhir
216 Mata-mata Tampan
217 Dimulainya Pelacakan
218 Shower Box
219 Sarapan Syahdu
220 Foto Kejutan
221 Rekaman Terkutuk
222 Sejuta Maaf
223 Identitas Palsu
224 Kepedihan Yang Tersisa
225 Dua Hati Yang Tak Menyatu
226 Sosok Tak Bernyawa
227 Cinta Mati
228 Lirikan Dalam Diam
229 Setelan Cinta
230 One Step Closer
231 Spa Day
232 Sebutir Peluru
233 Satu Cup Es Krim
234 Berdamai Dengan Masa Lalu
235 Akhir Dari Segalanya
236 Tiga Serangkai
237 Setangkai Mawar
238 Tiba Saatnya
239 Kejutan Membahagiakan
240 Takdir Yang Berbicara
241 Pengumuman
242 Promosi Judul Baru
Episodes

Updated 242 Episodes

1
Perjalanan Pertama
2
Mengambil Risiko
3
Pertengkaran Malam
4
Elegi Pagi
5
Konsekuensi
6
Wajah Lusuh
7
Di Bawah Air Terjun
8
Tentang Hujan
9
Optimisme
10
Sore Yang Hangat
11
Seandainya ...
12
Pakaian Mahal
13
Bayangan Hitam
14
Want To take You Away
15
Nama Yang Hilang
16
Gelang Emas
17
Ujung Langkah
18
Bayangan Indah
19
Terikat Kontrak
20
Di Penghujung Kesabaran
21
Keputusan Besar
22
Sepuluh Malam di Jogja
23
Penampakan Yang Lain
24
Mencari Binar
25
Kenyataan dan Harapan
26
Another Woman
27
Patah
28
Di Taman Renata
29
Tragedi Kamar Kecil
30
Makan Sore
31
Hiburan Untuk Chand
32
Dua Kotak Gurame
33
Masa Lalu Kelam
34
Sebingkai Foto Buram
35
Something to Remember
36
Ghea si Penggoda
37
Sekilas Pandang
38
Tanpa Restu
39
Hembusan Angin Malam
40
Sang Penghibur
41
Kenyataan Menyakitkan
42
Ingatan Yang Kembali
43
Tato Naga
44
Bangkitnya Arsenio
45
Sang Detektif
46
Senyuman Binar
47
Si Duda Bening
48
Nasihat Chand
49
Bab Visual
50
Petunjuk Baru
51
Kekasih Baru Sang Duda
52
Pelayanan Istimewa
53
Berharap Pada Keajaiban
54
Pertemuan Kembali
55
Cinta Dua Cabang
56
Perjuangan Dimulai
57
Diskusi Malam
58
Beratnya Rindu
59
Getaran Yang Sama
60
Gadis Penyelamat
61
Selangkah Lebih Dekat
62
Teman Merangkai Bunga
63
Ciuman Kedua
64
Sarapan Bersama
65
Cinta Sebiru Langit
66
Berebut Perhatian
67
Orang Ketiga
68
Penyesalan
69
Nirmala Dan Binar
70
Titik Terang
71
Ungkapan Masa Lalu
72
Janji Manis Arsenio
73
Si Kepiting Merah
74
Mister Trap
75
Pengakuan Chand
76
Dua Pesaing Tampan
77
Aroma Yang Tertinggal
78
Si Pemikat Hati
79
One Stop Cassanova
80
Praduga
81
Terluka
82
Cemburu
83
Tak Mampu Berpaling
84
Tenggelam Semakin Dalam
85
Metamorfosis
86
Berjuang Bersama
87
Amarah Winona
88
Let's Get Married
89
Adegan Manis
90
Yang Teristimewa
91
Menjawab Tantangan
92
Satu Rahasia
93
Di Bawah Bintang
94
Detik Mendebarkan
95
Keberanian Yang Datang
96
Harga Sebuah Cinta
97
Kenangan Terakhir
98
Gelang Pengikat
99
Pengganti Segala Hal
100
Binar Indah di Pagi Hari
101
Semua Karena Binar
102
Perjalanan Panjang
103
Di Antara Kebun Kopi
104
Melepas Rindu
105
Sisi Bijak Arsenio
106
Dua Cinderamata
107
Gereja Putih
108
Balada Cincin Lumba-lumba
109
Price To Pay
110
Sepenggal Kepedihan
111
Malam Pertama Sang Pengantin
112
Secarik Kertas
113
Surat Dari Ayah
114
Pamit
115
Akhir Untuk Sebuah Awal
116
Tawaran Manis
117
Hati Yang Rapuh
118
Ungkapan Perih
119
Alleen Binar
120
Obrolan Petang
121
Pertengkaran Pertama
122
Bad Girl
123
Setitik Kebaikan
124
Mencari Yang Telah Pergi
125
Melepaskan Diri
126
Pesan Tak Berbalas
127
Menembus Awan
128
Sang Perayu
129
Berlin, Aku Kembali
130
Flower Bloom in Berlin
131
Restu Dalam Genggaman
132
Cafe Pilihan
133
A New Life
134
Chef de Cuisine
135
Ex Girlfriend
136
Pertengkaran Mesra
137
Cooking With Love
138
Penawaran Menarik
139
Sweet Night
140
Cinta Tulus
141
Di Bawah Kilatan Cahaya
142
Binar Yang Nakal
143
Hamil Muda
144
Redupnya Harapan
145
Setitik Dusta
146
Kegalauan Di Sore Hari
147
Bulan Madu Palsu
148
Jealous Not Jealous
149
Wanita Istimewa
150
Ujian Cinta
151
Cinta Dan Kecewa
152
Ich Liebe Dich, Rain!
153
Funny Fight
154
Bernyanyi Dalam Suka
155
Tempat Singgah
156
Kunci Baru
157
Mimpi Arsenio
158
Gundah
159
Father And Son
160
Pesan Di Ujung Malam
161
Jalan Yang Terang
162
Semalam Di Istana Rainier
163
Maaf Untuk Papa
164
Secercah Cahaya
165
Misi Rahasia
166
Pengintaian Pertama
167
Antrian Cinta
168
Rahasia Biantara
169
Menjemput Kenangan Lama
170
Antara Cinta Dan Dendam
171
Menunggu Kejutan
172
Serangan Tengah Hari
173
Tawa Kepalsuan
174
Senyuman Winona
175
Selembar Kertas Putih
176
Sopir Tampan Sang Nona
177
Antara Risau Dan Bahagia
178
Drama Dua Sejoli
179
Sisi Lain
180
Dimulainya Sebuah Permainan
181
Teman Bicara
182
Tentang Luka
183
Senyum Di Atas Skateboard
184
Dinner Out
185
Gencatan Senjata
186
Potongan Apel Terakhir
187
Bad Dream
188
Aksi Ajisaka
189
Antara Dua Sepupu
190
Kenyataan Pahit
191
Hancurnya Sebuah Hati
192
Seruan Damai
193
Di Ujung Perselisihan
194
Setetes Air Mata
195
Dua Wanita
196
Perkumpulan Tiga Pria
197
Rapat Kuliner
198
Karaoke Ria
199
Ancaman Baru
200
Peliknya Hidup
201
Salah Tingkah
202
Antara Croissant Dan Steak Wagyu
203
Sang Perayu
204
Atas Nama Ngidam
205
Firasat Binar
206
Reuni Keluarga
207
Nama Untuk Sang Cucu
208
Yang Teristimewa
209
Nasihat Ibu
210
Keinginan Terpendam
211
Pagi Kelabu
212
Mimpi Buruk Di Siang Hari
213
Berita Buruk
214
Jiwa Yang Hancur
215
Perpisahan Terakhir
216
Mata-mata Tampan
217
Dimulainya Pelacakan
218
Shower Box
219
Sarapan Syahdu
220
Foto Kejutan
221
Rekaman Terkutuk
222
Sejuta Maaf
223
Identitas Palsu
224
Kepedihan Yang Tersisa
225
Dua Hati Yang Tak Menyatu
226
Sosok Tak Bernyawa
227
Cinta Mati
228
Lirikan Dalam Diam
229
Setelan Cinta
230
One Step Closer
231
Spa Day
232
Sebutir Peluru
233
Satu Cup Es Krim
234
Berdamai Dengan Masa Lalu
235
Akhir Dari Segalanya
236
Tiga Serangkai
237
Setangkai Mawar
238
Tiba Saatnya
239
Kejutan Membahagiakan
240
Takdir Yang Berbicara
241
Pengumuman
242
Promosi Judul Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!