Setelah kepergian Rain beberapa hari yang lalu, malas rasanya bagi Binar setiap kali harus pulang ke rumah. Jika bukan karena kedua adiknya, gadis itu pasti sudah dari dulu meninggalkan kediaman beserta ibu tirinya yang tak berakhlak. Namun, lagi-lagi Binar harus kembali menguatkan hati dan diri, meskipun kini tak ada lagi sosok yang akan membantu dan menemani dirinya.
Setelah tiba di teras, Binar merasa heran karena suasana rumah yang terasa sepi. Namun, gadis itu tetap melangkah masuk. Tampaklah Widya yang tengah menata bantal kecil di atas kursi. Binar pun berlalu begitu saja ke dalam kamarnya. Dia sedang tak ingin berbasa-basi dengan wanita paruh baya itu. Binar merasa begitu marah atas sikap Widya terhadap Rain.
Setelah berganti pakaian, gadis berusia dua puluh tahun tersebut kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Beberapa saat dia berada di sana, sebelum kembali ke kamar. Namun, saat Binar melintas di ruang tamu, dia tak lagi melihat sosok Widya. Wanita itu sepertinya tengah berada di dalam kamar. Entah apa yang dia lakukan di sana, yang pasti Binar tak ingin ambil pusing. Dia memilih untuk menuju kamarnya.
Akan tetapi, Binar harus mengurungkan niat ketika didengarnya pintu depan yang diketuk dari luar. Binar pikir bahwa itu adalah kedua adiknya yang baru kembali dari bermain. Namun, dugaan gadis itu ternyata salah. Di balik pintu rumah, telah berdiri sosok pria yang tak ingin dia lihat seumur hidupnya.
"Hai, Nar. Sedang sibuk?" sapa pria yang tiada lain adalah Surya. Dia tersenyum culas kepada Binar.
"Sebentar, akan kupanggilkan ibu," ucap Binar tanpa menanggapi pertanyaan Surya. Dia bermaksud untuk ke kamar Widya. Namun, lagi-lagi Binar harus mengurungkan niatnya ketika Surya tiba-tiba menyerobot masuk dan menutup pintu. Binar pun memandangnya dengan sorot aneh.
"Aku sengaja kemari bukan hendak menemui ibu kamu. Kalau hanya untuk ngobrol sama ibu-ibu, ya sudah aku ngobrol sama ibuku saja," celoteh Surya seraya duduk di kursi, meskipun belum dipersilakan.
"Terserah kamu," jawab Binar tak acuh. Dia melanjutkan langkah menuju kamarnya. Namun, belum sempat gadis itu menutup pintu kamar dengan rapat, tangan Surya telah lebih dulu menahan pintu tersebut. "Apa-apaan kamu!" sergah Binar yang merasa terusik karena sikap tak sopan pria itu.
Surya menyeringai sambil memaksa masuk ke dalam kamar. Dengan segera, Binar bermaksud untuk keluar. Akan tetapi, gerakan pria itu jauh lebih gesit. Dia meraih tubuh ramping Binar dan menahannya. Surya menghalangi, kemudian mendorong tubuh Binar agar menjauh dari pintu. Dia juga memasang selot dalam posisi terkunci.
"Surya, apa-apaan kamu? Jangan macam-macam!" sergah Binar. Dia kembali ke dekat pintu dan bermaksud untuk keluar.
Akan tetapi, posisi Surya yang masih berada di tempatnya tadi benar-benar tak menguntungkan gadis itu. Dia mendekap tubuh Binar dengan erat, kemudian menggiringnya hingga ke dekat tempat tidur.
"Lepaskan, Brengsek!" Sekuat tenaga Binar melawan. Dia terus berusaha melepaskan diri dari kungkungan pria yang kini telah berhasil merebahkan dan menindih tubuhnya. "Surya, jangan gila kamu!" Binar terus memberontak. Tangannya menahan wajah pria itu yang terus berusaha untuk mendekat dan menciumnya. "Ibu!" pekik Binar kemudian. Dia berharap agar Widya bisa mendengar teriakannya. "Ibu, tolong aku!" teriak Binar lagi, sebelum Surya berhasil menahan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh yang mulai kehabisan tenaga.
"Wisnu! Praya!" teriak Binar. Dia terus menggerakkan kedua kakinya, berusaha untuk menyingkirkan tubuh Surya yang sudah dikuasai nafsu setan.
"Berteriak saja sepuasmu, Cantik. Kedua adikmu tidak ada di rumah. Ibumu juga akan lebih memilih untuk menutup telinganya," seringai Surya. Dia kembali mendekatkan wajahnya dan menciumi wajah cantik Binar.
"Kau benar-benar brengsek, Surya! Menyingkir dari atas tubuhku!" Binar tak patah arang. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya, gadis itu terus meronta mencoba melepaskan diri. "Ibu!" pekiknya lagi. Namun, tak ada respon sama sekali dari Widya yang memang berada di kamar sebelah. Wanita itu hanya duduk terdiam di atas tempat tidurnya dengan tatapan menerawang pada tembok pembatas. Dia memang tak berniat membantu putri sambungnya sama sekali.
"Asal kamu tahu, Binar. Men Widya sudah menyerahkanmu padaku sebagai pengganti dari kebebasannya," ucap Surya kembali menyeringai. Dia tak memberikan celah sedikit pun kepada gadis itu untuk dapat melepaskan diri.
"Apa maksudmu?" tanya Binar tak mengerti.
"Men Widya ketahuan mencuri uang di laundry milik ibuku. Sebagai gantinya agar dia dibebaskan, maka ibumu mengizinkanku untuk menidurimu sesuka hatiku," seringai Surya setelah menjelaskan kepada Binar. Dia kembali mencoba untuk mencium bibir gadis itu, tetapi Binar segera menghindar.
"Kalian berdua memang keterlaluan!" hardik Binar. Dia hampir kehabisan tenaga, apalagi karena saat itu Surya berhasil menciumi lehernya dengan penuh nafsu.
Binar terdiam sejenak. Air mata mulai meleleh dan terjatuh ke dekat telinganya. Jika dia terus bergerak, maka tenaganya hanya akan habis percuma. Binar pun mengela napas berkali-kali, membiarkan Surya terus menciumi wajah serta lehernya.
"Simpan tangismu untuk merasakan sakit sesaat lagi." Surya kembali menyeringai. Melihat Binar tak lagi berontak, dia pun melepaskan cengkeraman tangannya. "Kamu tidak bisa menghindar lagi, Binar. Semakin kamu melawan, maka tenagamu hanya akan semakin cepat habis. Sebentar lagi, rasa penasaranku akan segera terjawab." Pria itu tertawa pelan seraya menggerayangi tubuh Binar.
Surya kemudian turun dari tubuh gadis yang terlihat sudah kehabisan tenaga. Saat itu, Binar memang tampak terkulai. Merasa tak sabar ingin segera mencicipi keperawanan gadis yang selama ini membuat dirinya tergila-gila, Surya pun segera memegangi celana tidur gadis tersebut. Dia bermaksud untuk menurunkannya. Namun, baru saja dia hendak melakukan hal itu, Binar segera membuka mata kemudian mengangkat lututnya. Dia menghantamkan lutut dengan keras ke arah dagu pria cabul tersebut. Saat Surya mengangkat tubuh karena merasa kesakitan, Binar menendangnya dengan jauh lebih keras.
Gadis itu segera bangkit. Merasa tak puas dengan apa yang telah dia lakukan, Binar mengambil buku kamus tebal lalu memukulkannya pada kepala Surya hingga pria itu terjungkal. Tak hanya sekali, Binar memukulnya hingga berkali-kali sampai Surya tergeletak di lantai dalam keadaan setengah sadar.
Tak ingin membuang waktu, Binar pun segera keluar dari kamarnya. Kemarahan telah menguasai diri gadis itu. Dia pergi ke dapur dan mengambil sebilah pisau. Setelah itu, Binar menggedor pintu kamar Widya dan menyuruhnya untuk keluar.
"Widya! Kamu benar-benar wanita berhati iblis! Keluar kamu! Bunuh saja aku sekalian!" teriak Binar sambil terus menggedor pintu. Akan tetapi, Widya memilih untuk tetap berada di dalam kamarnya. "Widya! Keluar kamu!" tantang Binar lagi.
Akan tetapi, yang muncul bukanlah wanita itu, melainkan Surya. Sebelum pria tadi mendekat padanya, Binar segera mengarahkan ujung pisau yang dia genggam. "Jangan mendekat atau aku akan berbuat nekat. Jika bukan aku yang mati, maka pastinya mayatmu yang akan keluar dari rumah ini!" ancam Binar dengan wajah serius.
"Tidak, Binar. Tidak. Singkirkan pisaunya." Dengan hati-hati, Surya mencoba menenangkan gadis itu.
"Kalau begitu, pergi dari sini sekarang juga!" bentak Binar. "Pergi!" usirnya lagi dengan tegas.
Tanpa banyak bicara, Surya segera berlari keluar rumah bersamaan dengan pintu yang dibuka dari luar. Pria itu sempat terjungkal sebentar, sebelum akhirnya kembali bangkit dan berlari terbirit-birit. Sementara Wisnu dan Praya hanya berdiri sambil saling pandang. Sesaat kemudian, kedua anak itu mengalihkan pandangan kepada Binar yang tengah memegangi pisau di tangannya.
"Ada apa, Mbok? Apa Surya berbuat macam-macam?" Wisnu yang sudah lebih dewasa dari Praya, dapat menangkap sesuatu yang tidak beres.
Dengan segera, Binar menjatuhkan pisau yang dia genggam, lalu menyambut pelukan dari kedua adiknya sambil menangis. Perasaannya belum pernah merasa begitu terhina seperti itu. Sakit dan kecewa tak bisa lagi membuatnya ingin mengalah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Mystera11
gemezz aq sm si nek lampir widya... hufffft 😠😠😠 dasar ibu tiri tega2nya mngorbankn Binar krn ksalahanmu...
2022-12-16
2
Dwisya12Aurizra
jelek banget nasibmu Binar, mempunyai ibu tiri berhati iblis, sebaiknya kamu keluar dari rumah itu, cari kost an, takutnya aa kejadian yg lebih berbahaya daripada tadi.
tega thor bikin hati daligdug
2022-10-29
1