“Siapa tahu kamu butuh uang untuk pergi dari sini!” tuding Widya dengan seenaknya.
“Bu, Anda benar-benar sudah keterlaluan!” geram Rain. Jika saja yang ada di hadapannya itu bukanlah seorang wanita, maka tentu kepalan tangan pria itu sudah mendarat di wajah perempuan paruh baya tersebut sejak tadi. Meskipun entah di mata Widya masih tergolong dalam jenis manusia atau bukan.
“Siapa lagi kalau bukan kamu atau Binar yang pantas untuk dijadikan sebagai tersangka. Di rumah ini, yang bisa leluasa keluar masuk cuma kalian berdua!” tuding wanita itu dengan telunjuk lurus terarah ke wajah tampan Rain.
“Bukankah wajar jika Binar keluar masuk rumah ini? Binar juga merupakan salah satu anggota keluarga di sini. Dia putri Anda, bukan?” Kata-kata Rain terdengar penuh penekanan.
“Dengar, ya! Aku menampungmu di sini, bukan berarti kamu boleh ikut campur urusan keluargaku! Apa kamu mengerti!” Teriakan Widya begitu menggema dan mengisi setiap sudut kamar, sampai-sampai Praya yang masih bersembunyi di belakang tubuh Rain, terlonjak kaget dan berlari ke luar kamar.
“Aku sama sekali tidak berniat turut campur urusan keluarga Ibu. Akan tetapi, aku tidak rela jika Binar diperlakukan semena-mena. Dia sudah banyak berkorban ….”
“Tahu apa kamu tentang pengorbanan, hah?” Widya memotong perkataan Rain begitu saja. “Aku menikah dengan bapaknya Binar di saat keluarga besarku tak setuju! Namun, aku memaksa dan memilih untuk kawin lari dengannya. Aku tak peduli meskipun aku dibuang oleh orang tuaku, asalkan bisa hidup bersamanya. Nyatanya, kami hidup pas-pasan dan dia meninggal di saat aku benar-benar membutuhkan kehadirannya!” Napas Widya terengah-engah, sementara tangisnya tak lama lagi akan pecah dengan air mata yang sudah mulai menggenang di pelupuk.
“Dia meninggalkan aku bersama Binar dan dua orang anak yang masih kecil-kecil! Aku bekerja keras menghidupi mereka dan Binar tentunya! Sudah sewajarnya jika dia berutang hudi padaku! Jelas, ‘kan? Tidak ada pengorbanan apapun dari anak itu karena apa yang dilakukannya saat ini memang sesuatu yang sudah seharusnya dia lakukan! Itu kewajiban Binar!” Widya berkata dengan histeris. Lolos sudah air mata yang sejak tadi ditahannya.
“Sekarang, lebih baik kamu keluar dari rumah ini!” tangan wanita itu mengarah lurus ke arah pintu. “Sejak ada kamu, aku jadi makin sering marah-marah pada Binar. Kalau kamu tidak ingin aku berbuat lebih kasar lagi pada anak itu, lebih baik kamu keluar dari sini sekarang juga!" usir Widya dengan seenaknya.
Harga diri Rain serasa tercabik-cabik, ketika menerima perlakuan Widya yang mengusirnya bagaikan binatang. Bertahan di tempat itu adalah sesuatu yang tidak mungkin lagi, walaupun dirinya sangat berat meninggalkan Binar. “Baiklah. Jika memang itu yang Anda inginkan, maka aku akan pergi sekarang. Aku hanya meminta satu hal, jangan sakiti Binar lagi dengan kata-kata ataupun perbuatan kasar Ibu. Semoga rumah ini menjadi jauh lebih damai tanpa adanya diriku,” ucap Rain dengan tenang, meskipun dadanya bergerumuh hebat. Dia berlalu pergi dari hadapan Widya begitu saja.
Rain pergi dari sana tanpa membawa apapun selain sandal jepit sederhana yang sempat dibelikan oleh Binar untuknya. Dia berjalan cepat melewati teras rumah ketika Praya berseru memanggilnya. “Mister, jangan pergi Mister. Nanti mbok Binar bagaimana?” cegah bocah itu.
Rain terpaksa menghentikan langkahnya sejenak. Dia sedikit membungkuk sambil menghadap kepada Praya. “Titip Binar, ya. Sampaikan pada kakakmu, nanti aku akan kembali lagi ke sini untuk menjemput dia,” pesan Rain. Dia sempat mengelus puncak kepala Praya sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
“Mister! Tunggu!” cegah Praya lagi. “Nanti kalau mbok sedih bagaimana? Soalnya … jujur … sejak ada Mister tinggal di rumah, mbok jadi jauh lebih ceria dan penuh semangat,” ucap bocah itu dengan sorot mata sendu.
Rain berbalik sambil tersenyum samar. “Binar adalah gadis yang kuat, Ya. Jangan khawatir. Suruh dia bersabar sampai aku datang lagi,” ujarnya seraya menepuk pundak Praya pelan. Terbayang senyuman manis Binar yang beberapa hari terakhir telah menghiasi angan dan hatinya. Akan tetapi, Rain sudah membulatkan tekad untuk pergi. Saat itu fokusnya adalah menemukan jati diri dia yang sebenarnya. Satu-satunya petunjuk yang telah dia dapatkan, yaitu nama Arsenio.
Makin lama, langkah kaki Rain semakin jauh meninggalkan kampung tempat tinggal Binar. Dirinya juga sempat melewati tempat kerja gadis itu. Niat hati untuk menunggu Binar sampai selesai kerja, terpaksa dia urungkan mengingat dirinya hanya akan membuang waktu percuma sampai sore hari. Rain tak ingin berkelana di tempat asing pada malam hari, karena hal itu cukup berbahaya. Apalagi kesehatannya belum sepenuhnya pulih.
Rain berjalan tak tentu arah, menyusuri jalan besar yang membawanya ke daerah yang jauh lebih sepi. Kiri kanannya adalah pepohonan lebat. Namun, Rain tak berniat untuk berhenti. Dia terus melangkah sampai dirinya tiba di sebuah persimpangan yang cukup besar. Rain sempat berpikir beberapa saat untuk menentukan arah. Pada akhirnya dia memilih untuk berbelok ke arah kiri.
Saat melewati lampu lalu lintas, mata Rain terpaku pada selebaran yang tertempel di tiang berwarna hitam. Rain mendekatkan wajahnya pada potret seseorang yang tergambar di sana, juga tulisan yang menyertai gambar tersebut.
DICARI. Arsenio Wilhelm Rainier. Apabila bertemu, hubungi nomor ini. 081 - XXX - XXX
Mata indah coklat terang itu terbelalak lebar seketika. Tanpa pikir panjang, segera dirobeknya selebaran itu. Setengah berlari menyusuri trotoar, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat beberapa orang pria tengah duduk-duduk santai di sebuah warung pinggir jalan. Dia pun segera mendekati orang-orang itu.
“Permisi, bolehkah aku meminta tolong?” tanyanya seraya menyodorkan selebaran bergambar wajahnya pada orang-orang itu. “Bisakah kalian menelpon nomor yang tertera di sini?” pintanya penuh harap.
Bapak-bapak itu saling pandang, kemudian mengamati foto dalam selebaran dan membandingkannya dengan wajah Rain. “Apakah Anda ini orang yang dimaksud di sini?” tanya salah satu dari pria itu, dengan telunjuknya mengarah pada selebaran.
“Iya, Pak. Seminggu yang lalu aku mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan. Aku benar-benar tidak tahu nama dan identitas lainnya, tapi di sini disebutkan kalau …. ”
“Arsenio,” sela pria tadi seraya memencet simbol angka di ponselnya. Dia kemudian memencet tombol loudspeaker.
Beberapa saat Rain menunggu hingga sambungan telepon itu bisa tersambung. Tak berselang lama, terdengar suara seorang pria yang menjawab panggilan tersebut. "Siapa ini?" tanyanya.
"Apa kau sedang mencariku?" tanya Rain ragu.
"Arsen? Di mana kamu?" Pria di seberang sana tampaknya sangat mengenal suara Rain alias Arsenio dengan baik. "Tetap di tempatmu, Arsen. Kami akan segera datang ke sana untuk menjemputmu. Ingat jangan ke mana-mana," pesan pria itu dengan nada bicaranya yang tegas dan penuh penekanan.
Setelah menyebutkan alamat tempat dirinya berada, Rain alias Arsenio pun menunggu untuk beberapa saat bersama para pria tadi.
Senja mulai turun menaungi pulau dewata, ketika sebuah mobil SUV mewah berhenti di depan Arsenio. Seorang pria berperawakan tinggi besar dan diikuti wanita dengan tampilan rapi, keluar dari sana. "Arsen! Putraku!" Anggaraini segera memeluk putra tercinta, yang dalam bebebapa hari ini dia cemaskan keadaannya. Begitu juga dengan Lievin, sang ayah. Kebahagiaan terpancar jelas dalam sorot matanya.
Tak berselang lama, Chand juga ikut memeluk sahabat karib yang telah dicarinya ke mana-mana. "Syukurlah. Aku tahu kamu pasti baik-baik saja, Arsen. Kamu tidak akan mati dengan semudah itu," ucapnya sambil berkali-kali memeluk dan menepuk-nepuk punggung Rain alias Arsenio yang masih terlihat kebingungan. Dia tak mengingat satu pun dari orang-orang yang datang menjemputnya saat itu.
Namun, pandangan Arsenio seketika tertuju pada seraut paras cantik yang berdiri tak jauh dari mobil terparkir. Gadis dengan tubuh sintal yang tak kuasa menahan tangisnya akibat terlalu bahagia. Arsenio sempat mengingat wajah itu. "Winona?" gumamnya pelan dan dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Dwisya12Aurizra
alhamdulilah akhirnya...
tp kasihan binar
2022-10-28
1
Dwisya12Aurizra
sumpal aja tuh mulutnya pk cobekan
2022-10-28
0
ƙꪮꪑꪖꪶꪖకꪖꪹỉ
Saya mewakili ibu-ibu majlis ta'lim ingin bertanya, berhubung Arsenio sudah ditemukan, apakah akan ada acara tasyakuran? Kami akan bersiap-siap dengan seragam baru.
2022-10-28
2