Ambisi Dan Sihir
Renita merasa gelisah, semalam perempuan itu tidak dapat tidur. Kata-kata yang diberikan oleh Prof. Dahlan
Rektor Universitas Perjuangan, tidak dapat hilang dan pergi dari telinganya. Laki-laki itu sudah mendatanginya secara khusus, dan memintanya untuk menjadi pejabat Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan PSDM untuk periode empat tahun ke depan. Yang menjadi ganjalan bagi perempuan itu, jabatan ini tidak dimulai bertepatan dengan awal pelantikan, namun menggantikan pejabat Wakil Rektor yang katanya sudah mengajukan pengunduran diri,
“Mohon maaf pak, saya tidak bisa menggantikan pak Leo untuk jabatan itu. Saya tidak berani pak, apalagi alasannya saya menggantikan pak Leo, karena beliau sedang menyelesaikan studinya.” Teringat penolakan yang dilakukan Renita tadi siang.
“Dengarkan saya mbak Renita, bukan tanpa alasan kenapa saya memilih mbak Renita untuk mendampingi saya.
Bertahun-tahun, kita sudah bekerja Bersama dalam sebuah tim, dan saya tahu bagaimana dedikasi mbak Renita untuk perguruan tinggi ini. Jangan tolak permintaan saya, ini perintah saya selaku Rektor.” Rektor tetap bersikeras
mendesak Renita untuk menanda tangani surat pernyataan kesanggupan itu.
“Ijinkan saya untuk berbicara dengan pak Leo dulu pak. Begitu kami bertemu, saya pastikan jika pak Leo akan
Kembali bersedia untuk menduduki jabatan tersebut,” Kembali Renita meminta waktu untuk menyetujui penawaran itu.
Renita sudah sejak tahun 1997 bergabung menjadi dosen di Universitas Perjuangan, dan sangat memahami bagaimana karakter orang-orang di perguruan tinggi tersebut. Masalah main klenik sudah menjadi kebiasaan banyak dosen maupun karyawan tua disitu. Bahkan tidak jarang, baru saja masuk ke lokasi kampus, taburan bunga, beras berwarna kuning, sering banyak dijumpai di selasar lantai di kampus itu.
“Sudah.., tidak perlu untuk berbicara dengan pak Leo. Jika pak Leo belum mengirimkan surat pengunduran ke
pihak Yayasan, aku mungkin masih bisa untuk mempertimbangkannya, Tetapi, tanpa berbicara dengan saya, pak Leo sudah melewati Batasan, mengirimkan surat pengunduran diri kepada Yayasan. Hanya mbak Renita, yang kurasa cocok dan pantas untuk meneruskan memegang jabatan tersebut,” Rektor terus berusaha untuk menekan Renita. Mereka berdua berada di ruang Rektor, tidak ada yang lain yang berada disitu.
“Cepat tanda tangani pernyataan ini!” Kembali Rektor menyerahkan selembar kertas ukuran HVS A4 pada perempuan itu.
“Ijin saya berpikir dulu pak Rektor, karena saya perlu untuk meminta ijin pada suami saya..” dengan cara halus, Renita terus berusaha mengulur waktu.
“Atau saya yang akan memintakan ijin kepada suami mbak Renita..?” mendengar alasan Renita, Prof. Dahlan malah semakin terus mendesak perempuan itu.
“Mohon maaf pak, saya sendiri yang akan menyampaikan pada suami saya. Ijin untuk meninggalkan ruangan dulu
pak, dan minta waktu untuk berpikir terlebih dahulu.” Renita segera minta ijin untuk meninggalkan ruangan Rektor. Seketika kebingungan melanda perempuan itu.
“Baiklah.., tolong pertimbangkan permintaan saya.” Sebelum Renita keluar dari ruangan itu, Prof. Dahlan Kembali
berpesan pada perempuan itu.
“Inshaa Allah pak, permisi, Assalamu alaikum..” Renita mengucapkan salam kemudian berjalan menuju ke arah
pintu keluar dari ruangan Rektor.
“Wa alaikum salam..” jawab Rektor.
Renita masih mengingat kembali dengan jelas, apa yang dialaminya di kantor tadi siang. Perempuan itu juga
tidak habis pikir, kenapa Prof. Dahlan terus mendesaknya untuk menduduki jabatan tersebut. Padahal di Universitas Perjuangan, banyak dosen yang memiliki kemampuan dan kapabilitas yang tinggi. Akhirnya tidak lama kemudian, perempuan itu tertidur dengan gundahan pikiran.
***********
Keesokan Harinya
Seperti biasa, setiap pukul 07.30, Renita selalu berusaha untuk sampai tepat waktu di ruang kerjanya. Sebagai
seorang atasan Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan atau disingkat BAAK, perempuan ini memang ingin selalu memberi contoh yang baik pada anak buahnya. Jam kerja di Universitas Perjuangan dimulai pada pukul 08.00 pagi, dan akan berakhir pukul 14.00 siang.
“Selamat pagi bu Renita..” baru saja membuka pintu, ternyata pak Hans karyawan laki-laki yang memiliki keterbatasan berbicara menyapa perempuan itu.
“Pagi pak Hans.. apakah teman-teman yang lain belum pada datang?” Renita membalas sapaan laki-laki itu,
sambil berjalan menuju ke meja kerjanya.
“Belum..” jawab pak Hans singkat.
Renita segera meletakkan tasnya di atas meja, kemudian perempuan itu mulai menyalakan laptop di atas meja.
Selain sebagai seorang dosen di program studi Manajemen, Renita memang sejak periode ini diminta kesediaan untuk menduduki jabatan sebagai Kepala BAAK, dengan lima orang anak buah yang berada di bawahnya. Meskipun memiliki keterbatasan di bidang program computer, tetapi Renita memiliki kepemimpinan yang bagus, perempuan ini tidak hanya menempatkan dirinya sebagai seorang atasan, tetapi juga menempatkan dirinya sebagai seorang ibu bagi para anak buahnya.
Tidak lama perempuan itu duduk di kursinya, satu persatu ke empat anak buahnya mulai berdatangan. Mereka menyapa dan menuju ke tempat Renita untuk berjabat tangan. Setelah mereka menyelesaikan ritual jabat tangan, mereka Kembali untuk duduk di kursi di belakang meja kerjanya masing-masing.
“Mas Hasto, nanti ketemu dengan saya sebentar ya, Ada yang akan aku bicarakan.” Di dalam ruang BAAK, Renita
memang paling dekat dengan Hasto. Tidak hanya Renita, bahkan suami dan kedua anaknya juga memiliki kedekatan dengan laki-laki mud aitu. Ketika Hasto menikah, Renita dan keluarganya menjadi satu-satunya keluarga yang menjadi pengiring laki-laki itu menikah.
“Baik bu.., nanti setelah saya mengirimkan laporan PDPT ke forlap Dikti ya bu.” Hasto menyanggupi permintaan
Renita.
******
Sore hari
Ketika semua karyawan sudah pulang, Renita dan Hasto duduk berhadapan di ruang kerjanya. Renita bermaksud
untuk menceritakan permintaan dari Prof. Dahlan, yang memintanya untuk menduduki jabatan sebagai Wakil Rektor menggantikan pak Leo.
“Kenapa bu.., sepertinya bu Nita sedang ada masalah? Terlihat dari penampilan bu Nita yang terlihat kusut hari
ini..?” Hasto membuka pertanyaan pada perempuan itu.
“Iya Hast.., aku bingung dan galau. Tiba-tiba kemarin Prof Rektor memanggilku ke ruangan, dan beliau…” renita
menghentikan bicaranya.
“Pak rector kenapa bu..?” karena Renita berhenti, Hasto mengejar perkataan Renita dengan tidak sabar.
“Pak rector memintaku untuk menduduki jabatan sebagai Wakil Rektor menggantikan pak Leo.” Ucap Renita lemah.
Sekelumit senyuman muncul di mulut Hasto…, laki-laki muda itu memang mengakui kepintaran, dan kepemimpinan
yang ditunjukkan oleh perempuan itu.
“Kenapa kamu tersenyum Hast..?” Renita bertanya dengan sedikit suara keras pada Hasto.
“Satu tahap terlampaui Bu. Masih ingatkan Bu renita, Ketika mewakili sebagai pihak keluarga dan juga pihak
kantor, tatkala saya menikah di Blora, Sesepuh di desa itu, menyebut bu Renita dengan panggilan Rektor. Tidak ada satu tahun bu.., ternyata Allah mengabulkan perkataan sesepuh itu.” Sambil mengulum senyum, hasto menceritakan kembali kejadian, Ketika dia dan istrinya melangsungkan pernikahan. Kedatangan Bu Renita saat itu, memang meninggalkan kenangan dan rasa hormat yang mendalam di hati Hasto dan keluarga istrinya.
Menjadi seorang yatim piatu, dan satu orang kakak dengan tiga orang adik, tidak memberinya pilihan untuk
mendatangkan mereka ke Blora kala itu. Kakaknya yang semula mengatakan jika akan mewakili dari pihak keluarga, ternyata sampai akan dilangsungkan acara, ternyata tidak dapat datang. Untunglah, kedatangan Bu Renita Bersama dengan suami dan kedua anak laki-lakinya, dapat mewakili dari pihak keluarganya.
***********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Feri Febrianto
jadi pengen ketemu sesepuh itu, bisa gak aku jadi lurah
2024-08-12
0