Chapter 18 Ditarik

Beberapa saat Renita mencoba bercerita, tetapi tidak ada suara yang keluar dari dalam mulutnya. Renita berpikir, jika kedua laki-laki itu akan menyebutnya sedang mengalami halusinasi, dan merasa malu jika ada orang yang membencinya sampai berani mengirimkan santet kepadanya. Bagi Renita, itu merupakan aib baginya.

“Atau jika Mommy tidak nyaman, mungkin merasa malu karena ada saya, mungkin saya tak keluar dulu dari dalam ruangan ini..” berkali-kali melihat Renita gagal menyampaikan ceritanya, Wawan merasa tidak enak.

“Jangan Tadz.. disini saja menemani saya. Baiklah aku akan menyampaikannya. Begini mas.. tapi maaf ya, dan jangan menyebut saya halusinasi.” Kembali renita bertanya dengan sedikit malu pada dua laki-laki di depannya.

“Tidak bu.. ceritakan saja.” Dengan suara pelan, Cahyono memotivasi Renita untuk bercerita.

“Begini mas.. jujur akhir-akhir ini saya merasa mengalami kejadian aneh mas, dan bagiku itu seperti ghaib atau mistis. Setiap tidur, saya sering banget merasa dikejar-kejar binatang, terkadang ular, kadang harimau. Bahkan aku juga sering mengalami tindihan.” Renita mengawali ceritanya.

“Ditambah lagi mas, akhir-akhir ini badanku sering sakit nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum, Kemudian juga di lututku sakit banget mas, apalagi kalau dipakai sholat. Sampai jika aku sujud, aku tidak bisa melipat kaki, jadi kakiku tak luruskan ke belakang untuk mengurangi rasa sakitnya.” Renita sudah semakin lancar menyampaikan ceritanya.

Kedua laki-laki itu terus mendengarkan dan memperhatikan Renita. Terlihat Cahyono menatap tajam pada perempuan itu, seakan ingin menembus Renita. Beberapa saat kemudian, akhirnya Renita selesai menyampaikan ceritanya.

“Ada air mineral tidak ya..?” tiba-tiba Cahyono bertanya.

“Tak ambilkan saja pak Yai..” Wawan bertindak cepat, laki-laki itu segera keluar dari ruang sidang, kemudian tidak

lama kemudian sudah kembali dengan membawa air mineral.

“Begini Bu.. sebenarnya sudah lama saya melihat ada yang tidak beres pada diri Ibu. Saya ingin memberitahukan,

tetapi malah merasa tidak enak nanti saya dikita memfitnah. Sebelum ini ibu pernah sakit bukan..” tiba-tiba Cahyono malah bertanya pada Renita.

“Iya mas pernah, sakit mata sampai sudah akan disuntik retina di RSUP DR. Sardjito. Tetapi alhamdulillah, dengan

ditetes pakai air zam zam, dan pasrah pada ketentuan Allah, ternyata menjadi obat bagi penyakitku mas.. Selain itu sudah hampir lima bulan, aku menderita pendarahan mas. Terkadang keluarnya darah seperti tidak normal, kayak banjir. Tetapi anehnya, sedikitpun aku tidak merasa pusing ataupun sakit perut.” Renita menceritakan keluhannya, yang selama ini jarang diceritakan pada teman lainnya.

“Sebelumnya mohon maaf ya Bu.. jika apa yang saya katakan adalah salah, merupakan kesalahan saya sendiri. Namun jika ada benarnya, kebenaran itu berasal dan milik Allah. Sepertinya penyakit yang ibu alami, terkait dengan kiriman bu.. sejenis santet. Tapi saya tidak bisa mengatakannya dari siapa, tetapi saya yakin, suatu saat Ibu akan bisa mengetahuinya sendiri.” Cahyo berbicara pelan.

Wawan terkejut, dan menatap wajah Renita. Demikian pula dengan Renita, tanpa sadar air mata sudah menggenang di pelupuk mata perempuan itu.

“Momm.. sabar ya, yang kuat dan tabah. Ini ujian untuk mommy, berarti mommy orang baik..” Wawan berbisik membesarkan hati Renita.

“Iya tadz makasih doanya. Mas Cahyo.. terus saya harus bagaimana mas.. Apakah saya bisa sembuh.” Dengan putus asa, terlihat Renita menatap wajah Cahyono.

“Inshaa Allah bisa bu, nanti saya akan bantu untuk menariknya.” Cahyono menenangkan perasaan Renita.

“DItarik.. pakai apa mas, dan ditaruh dimana.. Saya bingung mas.. itu sebenarnya apa sih mas..” Renita terlihat

semakin bingung. Karena baru kali ini Renita berurusan dengan hal-hal ghaib seperti ini.

“Saya yang akan menariknya bu, nanti sementara saya taruh di dalam tubuh saya. Baru nanti malam, akan saya buang bu. Tidak perlu khawatir bu, saya Inshaa Allah sudah terbiasa.” Ucapan Cahyono menenangkan hati Renita.

Renita terdiam, merasa khawatir jika rasa sakitnya akan berpindah ke tubuh laki-laki di depannya itu. Tetapi Wawan

yang lebih dekat dengan perempuan itu, menepuk pelan Pundak Renita, dan menganggukkan kepala memberi kekuatan pada perempuan itu.

“Ijin pinjam tangannya Bu..” Cahyono meminta Renita untuk memberikan tangannya.

Perempuan itu mengikuti permintaan laki-laki itu, tangan Renita diluruskan ke depan. Cahyono tampak menundukkan kepalanya ke bawah membaca beberapa ayat dan doa sambil memegang telapak tangan Renita. Tidak beberapa lama, Renita merasakan rasa sakitnya seperti terasa hilang tertarik keluar.

“Sudah Ibu,.. untuk sementar Ibu Inshaa Allah aman. Tetapi mungkin sampai nanti malam, Ibu masih merasakan rasa nyeri. Itu bekasnya ibu, atau jika diibaratkan orang jatuh, sisa-sisa memarnya masih akan terasa. Hanya saja tidak sesakit tadi, dan Inshaa Allan nanti malam saya bersihkan dan tuntaskan semuanya.” Mendengar kata-kata Cahyono, Renita malah menangis sampai terisak.

“Kenapa ada orang sejahat itu ya mas.. bisa-bisanya tidak bersaing secara nyata, malah menggunakan perantaraan seperti itu.” Sambil menangis, Renita tanpa sadar mengeluarkan uneg-uneg kekesalannya.

“Yang sabar saja Bu.. ikhlas.. Inshaa Allah ibu kuat. Sebenarnya Ibu ini dikirim sudah sangat lama Bu.. tapi Bu Renita masih bisa bertahan bukan. Dan bahkan tidak menyadarinya. Ingat pada waktu ibu mau disuntik retina, dengan kekuasaan-Nya, Allah telah menggagalkan rencana manusia bukan..” Cahyono berusaha menenangkan hati Renita.

“Iya Momm.., ini ujian. Inshaa Allah, kita akan berada di belakang Mommy. Berarti Mommy memiliki semuanya, sampai orang tidak berani beradu argument dengan Mommy, sampai menggunakan cara licik seperti ini.” Wawan menguatkan pernyataan Cahyono.

Renita kembali terdiam, dan memutar pikirannya untuk melihat kejadian-kejadian aneh yang sering dialaminya selama ini. Tiba-tiba saja, bagian tubuhnya merasa sakit, tetapi kemudian hilang dengan sendirinya padahal belum dilakukan pengobatan apapun. Selama ini, memang Renita tidak mempercayai adanya santet di kampus ini. Meskipun sudah banyak rekan kerja yang menceritakan kejadian aneh itu.

“Ibu.. saya Kembali ke kampus unit dua dulu ya, khawatir jika pak Eko mencari saya. Nanti jika terjadi apa-apa, ibu

bisa memberi tahu saya, kirim wa saja, kapanpun itu. Inshaa Allah nanti akan saya bantu bu.. semampu saya.” Merasa sudah selesai urusannya, Cahyono ijin untuk Kembali ke kampus dua.

“Iya mas, makasih banget ya mas..” Renita Kembali mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.

“Santai saja bu.. Assalamu alaikum.” Setelah mengucapkan salam, Cahyono dan Wawan keluar meninggalkan ruangan, dan meninggalkan air mineral yang telah diberi doa-doa oleh laki-laki itu.

Beberapa saat kemudian, Renita keluar dari dalam ruang siding. Perempuan itu tidak bisa menahan air mata yang

mengalir keluar dari kelopak matanya. Betul-betul tidak habis pikir, dan terlintaspun tidak. Masih ada orang yang mencoba menyelesaikan permasalahan dengan cara-cara licik seperti itu.

Andi dan Niken saling berpandangan melihat Renita yang menangis begitu keluar dari dalam ruang siding. Tetapi

mereka hanya menganggukkan kepala untuk tidak menanyai perempuan itu terlebih dahulu.

*******

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!