Beberapa saat Renita mencoba bercerita, tetapi tidak ada suara yang keluar dari dalam mulutnya. Renita berpikir, jika kedua laki-laki itu akan menyebutnya sedang mengalami halusinasi, dan merasa malu jika ada orang yang membencinya sampai berani mengirimkan santet kepadanya. Bagi Renita, itu merupakan aib baginya.
“Atau jika Mommy tidak nyaman, mungkin merasa malu karena ada saya, mungkin saya tak keluar dulu dari dalam ruangan ini..” berkali-kali melihat Renita gagal menyampaikan ceritanya, Wawan merasa tidak enak.
“Jangan Tadz.. disini saja menemani saya. Baiklah aku akan menyampaikannya. Begini mas.. tapi maaf ya, dan jangan menyebut saya halusinasi.” Kembali renita bertanya dengan sedikit malu pada dua laki-laki di depannya.
“Tidak bu.. ceritakan saja.” Dengan suara pelan, Cahyono memotivasi Renita untuk bercerita.
“Begini mas.. jujur akhir-akhir ini saya merasa mengalami kejadian aneh mas, dan bagiku itu seperti ghaib atau mistis. Setiap tidur, saya sering banget merasa dikejar-kejar binatang, terkadang ular, kadang harimau. Bahkan aku juga sering mengalami tindihan.” Renita mengawali ceritanya.
“Ditambah lagi mas, akhir-akhir ini badanku sering sakit nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum, Kemudian juga di lututku sakit banget mas, apalagi kalau dipakai sholat. Sampai jika aku sujud, aku tidak bisa melipat kaki, jadi kakiku tak luruskan ke belakang untuk mengurangi rasa sakitnya.” Renita sudah semakin lancar menyampaikan ceritanya.
Kedua laki-laki itu terus mendengarkan dan memperhatikan Renita. Terlihat Cahyono menatap tajam pada perempuan itu, seakan ingin menembus Renita. Beberapa saat kemudian, akhirnya Renita selesai menyampaikan ceritanya.
“Ada air mineral tidak ya..?” tiba-tiba Cahyono bertanya.
“Tak ambilkan saja pak Yai..” Wawan bertindak cepat, laki-laki itu segera keluar dari ruang sidang, kemudian tidak
lama kemudian sudah kembali dengan membawa air mineral.
“Begini Bu.. sebenarnya sudah lama saya melihat ada yang tidak beres pada diri Ibu. Saya ingin memberitahukan,
tetapi malah merasa tidak enak nanti saya dikita memfitnah. Sebelum ini ibu pernah sakit bukan..” tiba-tiba Cahyono malah bertanya pada Renita.
“Iya mas pernah, sakit mata sampai sudah akan disuntik retina di RSUP DR. Sardjito. Tetapi alhamdulillah, dengan
ditetes pakai air zam zam, dan pasrah pada ketentuan Allah, ternyata menjadi obat bagi penyakitku mas.. Selain itu sudah hampir lima bulan, aku menderita pendarahan mas. Terkadang keluarnya darah seperti tidak normal, kayak banjir. Tetapi anehnya, sedikitpun aku tidak merasa pusing ataupun sakit perut.” Renita menceritakan keluhannya, yang selama ini jarang diceritakan pada teman lainnya.
“Sebelumnya mohon maaf ya Bu.. jika apa yang saya katakan adalah salah, merupakan kesalahan saya sendiri. Namun jika ada benarnya, kebenaran itu berasal dan milik Allah. Sepertinya penyakit yang ibu alami, terkait dengan kiriman bu.. sejenis santet. Tapi saya tidak bisa mengatakannya dari siapa, tetapi saya yakin, suatu saat Ibu akan bisa mengetahuinya sendiri.” Cahyo berbicara pelan.
Wawan terkejut, dan menatap wajah Renita. Demikian pula dengan Renita, tanpa sadar air mata sudah menggenang di pelupuk mata perempuan itu.
“Momm.. sabar ya, yang kuat dan tabah. Ini ujian untuk mommy, berarti mommy orang baik..” Wawan berbisik membesarkan hati Renita.
“Iya tadz makasih doanya. Mas Cahyo.. terus saya harus bagaimana mas.. Apakah saya bisa sembuh.” Dengan putus asa, terlihat Renita menatap wajah Cahyono.
“Inshaa Allah bisa bu, nanti saya akan bantu untuk menariknya.” Cahyono menenangkan perasaan Renita.
“DItarik.. pakai apa mas, dan ditaruh dimana.. Saya bingung mas.. itu sebenarnya apa sih mas..” Renita terlihat
semakin bingung. Karena baru kali ini Renita berurusan dengan hal-hal ghaib seperti ini.
“Saya yang akan menariknya bu, nanti sementara saya taruh di dalam tubuh saya. Baru nanti malam, akan saya buang bu. Tidak perlu khawatir bu, saya Inshaa Allah sudah terbiasa.” Ucapan Cahyono menenangkan hati Renita.
Renita terdiam, merasa khawatir jika rasa sakitnya akan berpindah ke tubuh laki-laki di depannya itu. Tetapi Wawan
yang lebih dekat dengan perempuan itu, menepuk pelan Pundak Renita, dan menganggukkan kepala memberi kekuatan pada perempuan itu.
“Ijin pinjam tangannya Bu..” Cahyono meminta Renita untuk memberikan tangannya.
Perempuan itu mengikuti permintaan laki-laki itu, tangan Renita diluruskan ke depan. Cahyono tampak menundukkan kepalanya ke bawah membaca beberapa ayat dan doa sambil memegang telapak tangan Renita. Tidak beberapa lama, Renita merasakan rasa sakitnya seperti terasa hilang tertarik keluar.
“Sudah Ibu,.. untuk sementar Ibu Inshaa Allah aman. Tetapi mungkin sampai nanti malam, Ibu masih merasakan rasa nyeri. Itu bekasnya ibu, atau jika diibaratkan orang jatuh, sisa-sisa memarnya masih akan terasa. Hanya saja tidak sesakit tadi, dan Inshaa Allan nanti malam saya bersihkan dan tuntaskan semuanya.” Mendengar kata-kata Cahyono, Renita malah menangis sampai terisak.
“Kenapa ada orang sejahat itu ya mas.. bisa-bisanya tidak bersaing secara nyata, malah menggunakan perantaraan seperti itu.” Sambil menangis, Renita tanpa sadar mengeluarkan uneg-uneg kekesalannya.
“Yang sabar saja Bu.. ikhlas.. Inshaa Allah ibu kuat. Sebenarnya Ibu ini dikirim sudah sangat lama Bu.. tapi Bu Renita masih bisa bertahan bukan. Dan bahkan tidak menyadarinya. Ingat pada waktu ibu mau disuntik retina, dengan kekuasaan-Nya, Allah telah menggagalkan rencana manusia bukan..” Cahyono berusaha menenangkan hati Renita.
“Iya Momm.., ini ujian. Inshaa Allah, kita akan berada di belakang Mommy. Berarti Mommy memiliki semuanya, sampai orang tidak berani beradu argument dengan Mommy, sampai menggunakan cara licik seperti ini.” Wawan menguatkan pernyataan Cahyono.
Renita kembali terdiam, dan memutar pikirannya untuk melihat kejadian-kejadian aneh yang sering dialaminya selama ini. Tiba-tiba saja, bagian tubuhnya merasa sakit, tetapi kemudian hilang dengan sendirinya padahal belum dilakukan pengobatan apapun. Selama ini, memang Renita tidak mempercayai adanya santet di kampus ini. Meskipun sudah banyak rekan kerja yang menceritakan kejadian aneh itu.
“Ibu.. saya Kembali ke kampus unit dua dulu ya, khawatir jika pak Eko mencari saya. Nanti jika terjadi apa-apa, ibu
bisa memberi tahu saya, kirim wa saja, kapanpun itu. Inshaa Allah nanti akan saya bantu bu.. semampu saya.” Merasa sudah selesai urusannya, Cahyono ijin untuk Kembali ke kampus dua.
“Iya mas, makasih banget ya mas..” Renita Kembali mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.
“Santai saja bu.. Assalamu alaikum.” Setelah mengucapkan salam, Cahyono dan Wawan keluar meninggalkan ruangan, dan meninggalkan air mineral yang telah diberi doa-doa oleh laki-laki itu.
Beberapa saat kemudian, Renita keluar dari dalam ruang siding. Perempuan itu tidak bisa menahan air mata yang
mengalir keluar dari kelopak matanya. Betul-betul tidak habis pikir, dan terlintaspun tidak. Masih ada orang yang mencoba menyelesaikan permasalahan dengan cara-cara licik seperti itu.
Andi dan Niken saling berpandangan melihat Renita yang menangis begitu keluar dari dalam ruang siding. Tetapi
mereka hanya menganggukkan kepala untuk tidak menanyai perempuan itu terlebih dahulu.
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments