Chapter 7 Suara di Atas Plafon

Malam hari Renita tersungkur dalam sujud, hanya memasrahkan diri pada Yang Maha Pencipta mengurangi derita

yang dirasakan oleh perempuan itu. Tadi siang di kantor, Renita diberikan air zam zam dalam botol air mineral kecil oleh Bu Tissa rekan di prodi Manajemen. Kebetulan putri kedua Bu Tissa baru pulang dari ibadah umroh, dan menitipkan air Zamzam untuk Renita.

Saat ini Renita sudah menyelesaikan sholat Tahajud 8 rakaat, dan tiga rakaat sholat Witir. Dengan memegang botol air Zamzam, perempuan ini berdoa dan tampak pasrah menghadap ke arah Kiblat.

“Ya Allah.. jika sakit mata ini adalah hukuman dan sebagai penggugur atas dosa-dosa hamba, Inshaa Allah hamba

ridho ya Allah. Tetapi jika hamba masih diperbolehkan untuk meminta, hamba mohon berilah kesembuhan ya Allah.” Dengan air mata yang tidak henti menetes, Renita meminum air Zamzam seteguk, kemudian meneteskan beberapa tetes ke matanya.

Setelah melakukan ritual itu, ketenangan muncul di hati Renita. Perempuan yang biasa selalu riang dan terlihat

bahagia itu, akhir-akhir ini sering terpuruk dalam kesedihan. Meskipun untuk membaca sudah dibantu kaca mata, tetapi terkadang ada Sebagian huruf yang hilang dari penglihatannya. Namun demikian, tekad untuk berubah muncul di dada Renita. Meskipun tidak bisa melihat dengan jelas, perempuan itu selalu memaksakan diri untuk membaca Al-Qur’an. Jika ada satu penggal ayat yang tidak bisa dibacanya dengan jelas, Renita akan memanggil putranya yang pertama untuk membantu melihatkan huruf Hijaiyah itu dan apa bunyinya.

“Sudah selesai sholat Mam..” Andri yang sudah terbangun lebih dulu bertanya pada istrinya.

“Sudah yah barusan, ayah sendiri sudah sholat?” sambil melipat mukena, Renita balik bertanya. Perempuan itu

kemudian menggulung sajadah, dan meletakkan lipatan mukena di dalamnya, kemudian menyimpannya Kembali.

“Kebetulan sudah sejak tadi. Mama mau puasa Senin tidak, kalau mau.. ayah sudah membuat lauk di atas meja makan. Kita bisa makan sahur Bersama-sama..” dengan halus, Andri mengajak Renita makan sahur.

“Ya yah.. ayukk.. Renita juga berencana ingin puasa Senin Kamis.” Pasangan suami istri itu kemudian berjalan

menuju ke meja makan.

Tampak dua gelas teh manis panas, ikan asin telang, dan telur ceplok sudah tersaji di atas meja. Cabai rawit dan

bawang merah yang diiris tipis, sudah tersaji dengan lelehan kecap di atasnya. Renita mengambil piring dan mengisinya dengan nasi yang diambil dari Magic Com yang ada di sudut dapur. Setelah terisi, perempuan itu kemudian membawanya ke depan suaminya duduk.

“Makasih mah..” sahut Andri.

Keduanya kemudian mulai menikmati makan sahur dengan menu sederhana itu. Tetapi tiba-tiba..

“Pletak.. duarr..” terdengar seperti ada batu kerikil yang terjatuh di atas plafon, dan itu terjadi beberapa kali.

“Apa itu yah..?” Renita menghentikan gerakan tangannya, dan bertanya sambil memandang ke wajah suaminya. Terlihat Andri juga terkejut, tetapi dengan cepat laki-laki itu menenangkan pikirannya.

“Halah paling semen kering jatuh ke plafon mah.. Sudah lanjutkan saja makannya, khawatirnya sebentar lagi

Imsak..” Andri mencoba menenangkan istrinya,

“Masak sih.., bangunan kita kan sudah lama. Masak masih ada semen yang terjatuh, sering lagi.” Renita seakan

meragukan jawaban suaminya.

Renita terdiam, tetapi dalam hati perempuan itu meragukan jawaban suaminya. Tetapi melihat suaminya yang tetap

tenang melanjutkan makan sahurnya, akhirnya Renita segera menyelesaikan makannya. Beberapa saat kemudian, akhirnya pasangan suami istri itu mengakhiri makan sahur. Sambil menunggu waktu Shubuh, Renita segera membersihkan tempat makan dan mencuci piring serta gelas yang kotor.

*******

 Di Kantor

Melihat Renita sudah Kembali ke kantor dan beraktivitas seperti biasa, Prof. Dahlan memanggil perempuan itu untuk datang ke ruang kerjanya. Niken, staf administrasi Rektorat menyampaikan pesan kepadanya.

“Bu Renita.. diminta ke ruangan pak Rektor sekarang.” Ucap Niken.

“Okay.. makasih ya mbak..” Renita segera menyimpan file yang sedang dibukanya. Setelah memastikan file tersimpan, perempuan itu kemudian berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya.

Melewati meja Sekretaris dan staf admin, Renita tersenyum dan menganggukkan kepala pada dua anak muda itu.

Kemudian tidak lama kemudian, Renita mengetuk pintu ruang kerja Rektor sebanyak tiga kali.

“Tok.. tok.. tok..”

“Masuk.” Renita mendorong pintu ruang kerja Rektor, kemudian berjalan menuju meja kerja pimpinannya.

“Selamat pagi pak, Bapak memanggil saya..” dengan berbasa basi, Renita menyampaikan pertanyaan pada Rektor.

“Iya duduklah.” Mendengar perintah dari pimpinan nomor satu di UP itu, Renita segera duduk di depan meja kerjanya.

Renita menunggu beberapa saat, karena pak Dahlan masih terlihat memeriksa beberapa berkas, kemudian memberikan disposisi surat-surat sesuai penugasan masing-masing bidang kerja. Akhirnya... Prof. Dahlan menyingkirkan beberapa berkas dan menumpuk di samping meja kerjanya, dan laki-laki itu memandang Renita,

“Bagaimana keadaanmu mbak, Dokter menyatakan apa tentang penyakit yang dialami mbak Renita?” ternyata Prof. Dahlan dengan penuh perhatian menanyakan tentang pengobatan yang dilakukannya.

“Hasil Analisa dokter mengatakan saya mengalami stroke mata pak, ada darah dan lemak yang keluar dari pembuluh yang ada di retina sehingga menutup Sebagian kecil pandangan mata. Tapi belum diketahui apa yang menjadi penyebabnya..” tanpa disadari, Ketika Renita menceritakan penyakitnya, air mata menggenang di kelopak matanya.

“Tindakan dokter jika begitu, apakah diberi obat atau bagaimana?” Rektor melanjutkan pertanyaannya.

“Sementara belum ada Tindakan pak, menurut ilmu kedokteran katanya diobservasi dulu minimal tiga bulan sampai

dengan enam bulan. Baru nanti akan dilakukan Tindakan..” tidak ada yang ditutupi, Renita menceritakan pengobatannya.

Prof. Dahlan terdiam, laki-laki paruh baya itu memiliki banyak pengalaman hidup, dan juga memahami bagaimana

kehidupan di tempat Lembaga yang dipimpinnya saat ini. Tetapi untuk menyelamatkan dirinya, Prof. Dahlan cenderung diam tidak melakukan apapun.

“Diikuti saja bagaimana anjuran Dokter mbak, kita hanya bisa berdoa dan saling mendoakan. Semoga tidak terjadi

apa-apa untuk selanjutnya.” Prof. Dahlan mencoba menenangkan Renita.

“Iya pak.. rencana nanti malam juga mau cari second opinion pak. Kita mau ke dokter mata senior di Jalan Parangtritis, yang saat ini dilanjutkan oleh putranya.” Renita mengemukakan gagasannya.

“Bagus itu, jadi kita tidak hanya percaya pada hasil analisis satu orang dokter saja. Jika tidak salah, dulu klinik di Jalan Parangtritis itu milik Dokter Serodja, tetapi saat ini diteruskan oleh putranya, karena pak Sarodja sudah meninggal,” Prof. Dahlan mendukung Renita untuk mencari second opinion.

Setelah berbicara tentang sakit yang diderita oleh anak buahnya itu, Prof. Dahlan segera menyampaikan ringkasan hasil rapat koordinasi pimpinan unit kerja Bersama dengan Yayasan.

“Baik pak.. secepatnya saya akan undang Tim Pelaksana dan penyusun Anggaran, untuk melakukan penghitungan

anggaran.” Renita dengan cepat menyanggupi untuk Kembali menyelesaikan tanggung jawabnya.

“Ya segeralah dilakukan, jika ada apa-apa mbak Renita bisa memberi tahu saya. Kiranya cukup mbak, mbak Renita

bisa Kembali ke ruangan untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain.” Akhirnya Prof. Dahlan mengakhiri koordinasinya dengan WR II.

“Baik pak, saya pamit. Terima kasih.” Renita segera meninggalkan ruang kerja rector dan Kembali menuju ruangannya.

********

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!