Malam hari Renita tersungkur dalam sujud, hanya memasrahkan diri pada Yang Maha Pencipta mengurangi derita
yang dirasakan oleh perempuan itu. Tadi siang di kantor, Renita diberikan air zam zam dalam botol air mineral kecil oleh Bu Tissa rekan di prodi Manajemen. Kebetulan putri kedua Bu Tissa baru pulang dari ibadah umroh, dan menitipkan air Zamzam untuk Renita.
Saat ini Renita sudah menyelesaikan sholat Tahajud 8 rakaat, dan tiga rakaat sholat Witir. Dengan memegang botol air Zamzam, perempuan ini berdoa dan tampak pasrah menghadap ke arah Kiblat.
“Ya Allah.. jika sakit mata ini adalah hukuman dan sebagai penggugur atas dosa-dosa hamba, Inshaa Allah hamba
ridho ya Allah. Tetapi jika hamba masih diperbolehkan untuk meminta, hamba mohon berilah kesembuhan ya Allah.” Dengan air mata yang tidak henti menetes, Renita meminum air Zamzam seteguk, kemudian meneteskan beberapa tetes ke matanya.
Setelah melakukan ritual itu, ketenangan muncul di hati Renita. Perempuan yang biasa selalu riang dan terlihat
bahagia itu, akhir-akhir ini sering terpuruk dalam kesedihan. Meskipun untuk membaca sudah dibantu kaca mata, tetapi terkadang ada Sebagian huruf yang hilang dari penglihatannya. Namun demikian, tekad untuk berubah muncul di dada Renita. Meskipun tidak bisa melihat dengan jelas, perempuan itu selalu memaksakan diri untuk membaca Al-Qur’an. Jika ada satu penggal ayat yang tidak bisa dibacanya dengan jelas, Renita akan memanggil putranya yang pertama untuk membantu melihatkan huruf Hijaiyah itu dan apa bunyinya.
“Sudah selesai sholat Mam..” Andri yang sudah terbangun lebih dulu bertanya pada istrinya.
“Sudah yah barusan, ayah sendiri sudah sholat?” sambil melipat mukena, Renita balik bertanya. Perempuan itu
kemudian menggulung sajadah, dan meletakkan lipatan mukena di dalamnya, kemudian menyimpannya Kembali.
“Kebetulan sudah sejak tadi. Mama mau puasa Senin tidak, kalau mau.. ayah sudah membuat lauk di atas meja makan. Kita bisa makan sahur Bersama-sama..” dengan halus, Andri mengajak Renita makan sahur.
“Ya yah.. ayukk.. Renita juga berencana ingin puasa Senin Kamis.” Pasangan suami istri itu kemudian berjalan
menuju ke meja makan.
Tampak dua gelas teh manis panas, ikan asin telang, dan telur ceplok sudah tersaji di atas meja. Cabai rawit dan
bawang merah yang diiris tipis, sudah tersaji dengan lelehan kecap di atasnya. Renita mengambil piring dan mengisinya dengan nasi yang diambil dari Magic Com yang ada di sudut dapur. Setelah terisi, perempuan itu kemudian membawanya ke depan suaminya duduk.
“Makasih mah..” sahut Andri.
Keduanya kemudian mulai menikmati makan sahur dengan menu sederhana itu. Tetapi tiba-tiba..
“Pletak.. duarr..” terdengar seperti ada batu kerikil yang terjatuh di atas plafon, dan itu terjadi beberapa kali.
“Apa itu yah..?” Renita menghentikan gerakan tangannya, dan bertanya sambil memandang ke wajah suaminya. Terlihat Andri juga terkejut, tetapi dengan cepat laki-laki itu menenangkan pikirannya.
“Halah paling semen kering jatuh ke plafon mah.. Sudah lanjutkan saja makannya, khawatirnya sebentar lagi
Imsak..” Andri mencoba menenangkan istrinya,
“Masak sih.., bangunan kita kan sudah lama. Masak masih ada semen yang terjatuh, sering lagi.” Renita seakan
meragukan jawaban suaminya.
Renita terdiam, tetapi dalam hati perempuan itu meragukan jawaban suaminya. Tetapi melihat suaminya yang tetap
tenang melanjutkan makan sahurnya, akhirnya Renita segera menyelesaikan makannya. Beberapa saat kemudian, akhirnya pasangan suami istri itu mengakhiri makan sahur. Sambil menunggu waktu Shubuh, Renita segera membersihkan tempat makan dan mencuci piring serta gelas yang kotor.
*******
Di Kantor
Melihat Renita sudah Kembali ke kantor dan beraktivitas seperti biasa, Prof. Dahlan memanggil perempuan itu untuk datang ke ruang kerjanya. Niken, staf administrasi Rektorat menyampaikan pesan kepadanya.
“Bu Renita.. diminta ke ruangan pak Rektor sekarang.” Ucap Niken.
“Okay.. makasih ya mbak..” Renita segera menyimpan file yang sedang dibukanya. Setelah memastikan file tersimpan, perempuan itu kemudian berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya.
Melewati meja Sekretaris dan staf admin, Renita tersenyum dan menganggukkan kepala pada dua anak muda itu.
Kemudian tidak lama kemudian, Renita mengetuk pintu ruang kerja Rektor sebanyak tiga kali.
“Tok.. tok.. tok..”
“Masuk.” Renita mendorong pintu ruang kerja Rektor, kemudian berjalan menuju meja kerja pimpinannya.
“Selamat pagi pak, Bapak memanggil saya..” dengan berbasa basi, Renita menyampaikan pertanyaan pada Rektor.
“Iya duduklah.” Mendengar perintah dari pimpinan nomor satu di UP itu, Renita segera duduk di depan meja kerjanya.
Renita menunggu beberapa saat, karena pak Dahlan masih terlihat memeriksa beberapa berkas, kemudian memberikan disposisi surat-surat sesuai penugasan masing-masing bidang kerja. Akhirnya... Prof. Dahlan menyingkirkan beberapa berkas dan menumpuk di samping meja kerjanya, dan laki-laki itu memandang Renita,
“Bagaimana keadaanmu mbak, Dokter menyatakan apa tentang penyakit yang dialami mbak Renita?” ternyata Prof. Dahlan dengan penuh perhatian menanyakan tentang pengobatan yang dilakukannya.
“Hasil Analisa dokter mengatakan saya mengalami stroke mata pak, ada darah dan lemak yang keluar dari pembuluh yang ada di retina sehingga menutup Sebagian kecil pandangan mata. Tapi belum diketahui apa yang menjadi penyebabnya..” tanpa disadari, Ketika Renita menceritakan penyakitnya, air mata menggenang di kelopak matanya.
“Tindakan dokter jika begitu, apakah diberi obat atau bagaimana?” Rektor melanjutkan pertanyaannya.
“Sementara belum ada Tindakan pak, menurut ilmu kedokteran katanya diobservasi dulu minimal tiga bulan sampai
dengan enam bulan. Baru nanti akan dilakukan Tindakan..” tidak ada yang ditutupi, Renita menceritakan pengobatannya.
Prof. Dahlan terdiam, laki-laki paruh baya itu memiliki banyak pengalaman hidup, dan juga memahami bagaimana
kehidupan di tempat Lembaga yang dipimpinnya saat ini. Tetapi untuk menyelamatkan dirinya, Prof. Dahlan cenderung diam tidak melakukan apapun.
“Diikuti saja bagaimana anjuran Dokter mbak, kita hanya bisa berdoa dan saling mendoakan. Semoga tidak terjadi
apa-apa untuk selanjutnya.” Prof. Dahlan mencoba menenangkan Renita.
“Iya pak.. rencana nanti malam juga mau cari second opinion pak. Kita mau ke dokter mata senior di Jalan Parangtritis, yang saat ini dilanjutkan oleh putranya.” Renita mengemukakan gagasannya.
“Bagus itu, jadi kita tidak hanya percaya pada hasil analisis satu orang dokter saja. Jika tidak salah, dulu klinik di Jalan Parangtritis itu milik Dokter Serodja, tetapi saat ini diteruskan oleh putranya, karena pak Sarodja sudah meninggal,” Prof. Dahlan mendukung Renita untuk mencari second opinion.
Setelah berbicara tentang sakit yang diderita oleh anak buahnya itu, Prof. Dahlan segera menyampaikan ringkasan hasil rapat koordinasi pimpinan unit kerja Bersama dengan Yayasan.
“Baik pak.. secepatnya saya akan undang Tim Pelaksana dan penyusun Anggaran, untuk melakukan penghitungan
anggaran.” Renita dengan cepat menyanggupi untuk Kembali menyelesaikan tanggung jawabnya.
“Ya segeralah dilakukan, jika ada apa-apa mbak Renita bisa memberi tahu saya. Kiranya cukup mbak, mbak Renita
bisa Kembali ke ruangan untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain.” Akhirnya Prof. Dahlan mengakhiri koordinasinya dengan WR II.
“Baik pak, saya pamit. Terima kasih.” Renita segera meninggalkan ruang kerja rector dan Kembali menuju ruangannya.
********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments