Chapter 16 Rasa Nyeri

Setelah suksesi berakhir, pembenahan system tata Kelola universitas dilakukan besar-besaran. Yayasan meminta system keuangan dirubah, dan tidak menggunakan pola keuangan seperti pada saat kepemimpinan Prof. Dahlan. Bahkan hampir semua istilah penamaan dana tarif biaya kuliah, juga dilakukan perubahan dengan alasan seperti anak kecil, yaitu tidak boleh sama dengan era Prof. Dahlan. Renita kewalahan, karena sebenarnya bertahannya dia pada posisinya menimbulkan kegaduhan. Tetapi Rektor yang memang memiliki hubungan dekat dengan perempuan itu, tetap mempertahankan dengan dalih sudah menyampaikan sosialisasi jika yang akan dipilih untuk mendampinginya adalah yang mendapatkan suara senat terbanyak.

“Sabar Bu.. hanya Bu Renita saat ini tempat kami bergantung. Kebijakan kepemimpinan sekarang sangat jauh

dibandingkan dengan prof. kemarin.” Andi berkomentar pada Renita, Ketika laki-laki itu masuk ke ruangan perempuan itu untuk minta paraf.

“Masih awal mas.. biasa mereka bermaksud idealis tetapi dengan pendapat mereka sendiri, dan pendapat itu salah. Tapi ya gimana lagi, kalau dibilangi malah Rektor biasanya diperkuat oleh WR III malah melapor ke Yayasan. Begitulah deh.. akhirnya omelan dan kemarahan selalu ditimpakan kepadaku.” Sahut Renita sambil tersenyum pahit.

“Iya Bu.. para karyawan juga pada rasan-rasan, ternyata tidak seindah dalam bayangan mereka. Tata Kelola Universitas yang bagus semuanya ambyar, diselesaikan seperti cara preman pasar. Terus gimana nanti nasib kita ke depan.. masih aka nada atau malah terus hilang ya..” tidak biasanya, Andi banyak bicara. Mungkin karena sudah merasa sesak melihat ketimpangan dimana-mana.

“Aku tuh sering menjadi serba salah mas.. terkadang aku mengatakan begini lho tata Kelola yang baik, tetapi sama

Ketua Pengurus dan Wakil Ketua pasti langsung dibilang, itu tinggalannya Prof. Dahlan. Bisa tidak kita punya system yang berbeda, ini adalah system kita bukan system tinggalan.” Tanpa sadar, Renita terbawa arus ikut memberikan tanggapan.

Karena memang posisinya saat ini masih diragukan oleh tim pak Umam. Hal ini dipahami karena euphoria dari orang-orang UP, yang selama belasan tahun sudah merasa tertindas oleh Prof. Umam dan Bu Kiki. Sehingga begitu bebas, mereka tidak bisa mengerem atau mengendalikan semuanya dengan baik.

“Sabar saja Bu.. saya yakin jika Allah pasti tidak akan tidur, saat ini hanya menguji orang-orang itu dengan kejayaan. Tetapi mereka tidak paham, jika di belakang itu akan ada adzab yang menanti untuk hukuman bagi mereka yang dhalim. Aku Kembali ke depan ya bu.. ntar malah temboknya bisa nguping.” Merasa sudah beberapa saat, berada di dalam ruangan WR II, akhirnya Andi Kembali ke ruangannya.

Begitu Andi pergi meninggalkan ruangan, tiba-tiba dada atas Renita seperti terkena pukulan jarak jauh, sampai

Renita merasa kesakitan. Tetapi untungnya, perempuan itu bisa menahan diri untuk tidak berteriak.

“Apa lagi ini, apa benar ya yang dibicarakan teman-teman. Apa mungkin aku terkena kiriman santet juga, seperti

yang dialami oleh beberapa teman yang lain..” merasakan beberapa kejadian aneh yang terkadang datang, pergi, kemudian datang lagi, menjadikan Renita akhirnya berpikir.

Tetapi begitu Renita mulai berpikir rasa nyeri itu semakin datang dan berpindah cepat ke bagian tubuh yang lain,

seperti orang sedang bermain tusuk jarum. Merasakan kejadian aneh pada tubuhnya, membuat Renita menjadi semakin panik, dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Perempuan itu segera bergegas merapikan mejanya, kemudian segera keluar dari dalam ruangan. Andi yang melihat Renita pergi hanya melihat punggung perempuan itu dari belakang, tidak menyapanya.

*******

Malam Hari

Renita merasa sedang berada di tengah hutan, perempuan itu merasa tersesat dan menghindari kejaran dari beberapa binatang yang ada pada hutan tersebut. Sampai berkilometer-kilometer renita berlari, tetap belum bisa mendapatkan perlindungan. Setelah beberapa saat, akhirnya perempuan itu menemukan sebuah rumah di tengah hutan, kemudian berlindung di dalamnya.

“Mam.. mamah kenapa, mimpi burukkah. Sejak tadi tidurnya gelisah, seperti ketakutan dikejar sesuatu.” Andri membangunkan istrinya, kemudian menanyai perempuan itu.

Sambil terengah-engah, Renita mencoba duduk. Suaminya Andri membantu perempuan itu duduk, dengan mengambil bantal dan digunakannya untuk mengganjal punggung perempuan itu.

“Mamah mimpi buruk yah.., tadi sebelum mimpi, mamah mengalami tindihan. Rasanya menakutkan yah, sampai mamah seperti kehabisan nafas, Untung mamah pernah membaca artikel, agar menggerakkan jempol kaki jika kita mengalami tindihan dalam tidur. Akhirnya setelah mamah lakukan, akhirnya tindihan itu hilang yah. Betul-betul malam yang menakutkan.” Renita kemudian menceritakan apa yang dirasakannya itu.

“Baca Al Fatehah, ayat kursi, Al Ikhlas, Al Falaq dan Annas mah.. sebelum tidur. Semoga kita mendapatkan perlindungan.” Sambil mengusap punggung Renita untuk menenangkan perempuan itu, Andri menyampaikan beberapa kata.

“Iya juga sih yah.. soalnya tadi ketiduran sih, jadi tidak sempat doa.” Renita mengiyakan,

“tidur lagi saja mah.. masih malam, Atau mamah mau tahajud dulu..” Andri bertanya Kembali.

“Iya.. mamah tak sholat tahajud dulu saja yah. Semoga tidak tindihan lagi jika nanti tidur lagi.” Renita kemudian

beranjak turun dari ranjang, perempuan itu perlahan berjalan keluar dari dalam kamar.

Di ruang tamu, perempuan itu menengok kea rah jam dinding, dan waktu sudah berada di angka dua. Waktu yang tepat untuk menjalankan sholat tahajud. Tiba-tiba Renita merasakan kembali rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, dan hampir merata terjadi di sekujur tubuhnya. Perempuan itu mengambil nafas Panjang untuk menenangkan perasaanya, kemudian berjalan keluar untuk mengambil air wudhu.

Sekitar lima belas menit, Renita menghabiskan waktu untuk melaksanakan sholat tahajud dan sholat witir untuk

memohon perlindungan. Setelah melipat dan menyimpan Kembali mukena, perempuan itu belum merasa mengantuk. Renita berjalan menuju ke kursi tamu kemudian duduk, sambil mengusap-usap kulitnya yang terasa sakit seperti ditusuk-tusuk dengan jarum itu.

“Apakah benar ya aku sebenarnya terkena kiriman santet, cuman aku tidak merasakannya saja.” Kembali pikiran

Renita berkembang kemana-mana.

Tetapi begitu perempuan itu berpikiran yang tidak, rasa nyeri tidak semakin hilang, malah semakin keras dan menjadi. Renita mengerutkan dahinya sambil menahan rasa nyeri, Ketika tiba-tiba rasa nyeri itu seperti menusuk di organ kewanitaannya. Renita bertambah panik, dan hanya duduk di depan jendela sambil merasakan dan berpikir tentang rasa sakitnya itu.

“besok pagi di kantor aku cari mak Nancy saja.. dia punya pengalaman hidup bermain dengan santet yang dikirimkan bekas suaminya. Siapa tahu mak Nancy bisa mendeteksi dan membaca apa sebenarnya yang terjadi pada tubuhku ini.” Renita berpikir sendiri.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Renita Kembali menuju kamarnya untuk melanjutkan tidur. Perempuan itu

tidak mau, suaminya akan bertanya dari mana, karena sudah beberapa saat perempuan itu menghabiskan waktu di kursi tamu. Sesampainya di pinggir ranjang, Renita tersenyum. Ternyata suaminya sudah Kembali tertidur, dan suara dengkuran menandakan jika suaminya sudah terlelap.

*******

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!