Setelah suksesi berakhir, pembenahan system tata Kelola universitas dilakukan besar-besaran. Yayasan meminta system keuangan dirubah, dan tidak menggunakan pola keuangan seperti pada saat kepemimpinan Prof. Dahlan. Bahkan hampir semua istilah penamaan dana tarif biaya kuliah, juga dilakukan perubahan dengan alasan seperti anak kecil, yaitu tidak boleh sama dengan era Prof. Dahlan. Renita kewalahan, karena sebenarnya bertahannya dia pada posisinya menimbulkan kegaduhan. Tetapi Rektor yang memang memiliki hubungan dekat dengan perempuan itu, tetap mempertahankan dengan dalih sudah menyampaikan sosialisasi jika yang akan dipilih untuk mendampinginya adalah yang mendapatkan suara senat terbanyak.
“Sabar Bu.. hanya Bu Renita saat ini tempat kami bergantung. Kebijakan kepemimpinan sekarang sangat jauh
dibandingkan dengan prof. kemarin.” Andi berkomentar pada Renita, Ketika laki-laki itu masuk ke ruangan perempuan itu untuk minta paraf.
“Masih awal mas.. biasa mereka bermaksud idealis tetapi dengan pendapat mereka sendiri, dan pendapat itu salah. Tapi ya gimana lagi, kalau dibilangi malah Rektor biasanya diperkuat oleh WR III malah melapor ke Yayasan. Begitulah deh.. akhirnya omelan dan kemarahan selalu ditimpakan kepadaku.” Sahut Renita sambil tersenyum pahit.
“Iya Bu.. para karyawan juga pada rasan-rasan, ternyata tidak seindah dalam bayangan mereka. Tata Kelola Universitas yang bagus semuanya ambyar, diselesaikan seperti cara preman pasar. Terus gimana nanti nasib kita ke depan.. masih aka nada atau malah terus hilang ya..” tidak biasanya, Andi banyak bicara. Mungkin karena sudah merasa sesak melihat ketimpangan dimana-mana.
“Aku tuh sering menjadi serba salah mas.. terkadang aku mengatakan begini lho tata Kelola yang baik, tetapi sama
Ketua Pengurus dan Wakil Ketua pasti langsung dibilang, itu tinggalannya Prof. Dahlan. Bisa tidak kita punya system yang berbeda, ini adalah system kita bukan system tinggalan.” Tanpa sadar, Renita terbawa arus ikut memberikan tanggapan.
Karena memang posisinya saat ini masih diragukan oleh tim pak Umam. Hal ini dipahami karena euphoria dari orang-orang UP, yang selama belasan tahun sudah merasa tertindas oleh Prof. Umam dan Bu Kiki. Sehingga begitu bebas, mereka tidak bisa mengerem atau mengendalikan semuanya dengan baik.
“Sabar saja Bu.. saya yakin jika Allah pasti tidak akan tidur, saat ini hanya menguji orang-orang itu dengan kejayaan. Tetapi mereka tidak paham, jika di belakang itu akan ada adzab yang menanti untuk hukuman bagi mereka yang dhalim. Aku Kembali ke depan ya bu.. ntar malah temboknya bisa nguping.” Merasa sudah beberapa saat, berada di dalam ruangan WR II, akhirnya Andi Kembali ke ruangannya.
Begitu Andi pergi meninggalkan ruangan, tiba-tiba dada atas Renita seperti terkena pukulan jarak jauh, sampai
Renita merasa kesakitan. Tetapi untungnya, perempuan itu bisa menahan diri untuk tidak berteriak.
“Apa lagi ini, apa benar ya yang dibicarakan teman-teman. Apa mungkin aku terkena kiriman santet juga, seperti
yang dialami oleh beberapa teman yang lain..” merasakan beberapa kejadian aneh yang terkadang datang, pergi, kemudian datang lagi, menjadikan Renita akhirnya berpikir.
Tetapi begitu Renita mulai berpikir rasa nyeri itu semakin datang dan berpindah cepat ke bagian tubuh yang lain,
seperti orang sedang bermain tusuk jarum. Merasakan kejadian aneh pada tubuhnya, membuat Renita menjadi semakin panik, dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Perempuan itu segera bergegas merapikan mejanya, kemudian segera keluar dari dalam ruangan. Andi yang melihat Renita pergi hanya melihat punggung perempuan itu dari belakang, tidak menyapanya.
*******
Malam Hari
Renita merasa sedang berada di tengah hutan, perempuan itu merasa tersesat dan menghindari kejaran dari beberapa binatang yang ada pada hutan tersebut. Sampai berkilometer-kilometer renita berlari, tetap belum bisa mendapatkan perlindungan. Setelah beberapa saat, akhirnya perempuan itu menemukan sebuah rumah di tengah hutan, kemudian berlindung di dalamnya.
“Mam.. mamah kenapa, mimpi burukkah. Sejak tadi tidurnya gelisah, seperti ketakutan dikejar sesuatu.” Andri membangunkan istrinya, kemudian menanyai perempuan itu.
Sambil terengah-engah, Renita mencoba duduk. Suaminya Andri membantu perempuan itu duduk, dengan mengambil bantal dan digunakannya untuk mengganjal punggung perempuan itu.
“Mamah mimpi buruk yah.., tadi sebelum mimpi, mamah mengalami tindihan. Rasanya menakutkan yah, sampai mamah seperti kehabisan nafas, Untung mamah pernah membaca artikel, agar menggerakkan jempol kaki jika kita mengalami tindihan dalam tidur. Akhirnya setelah mamah lakukan, akhirnya tindihan itu hilang yah. Betul-betul malam yang menakutkan.” Renita kemudian menceritakan apa yang dirasakannya itu.
“Baca Al Fatehah, ayat kursi, Al Ikhlas, Al Falaq dan Annas mah.. sebelum tidur. Semoga kita mendapatkan perlindungan.” Sambil mengusap punggung Renita untuk menenangkan perempuan itu, Andri menyampaikan beberapa kata.
“Iya juga sih yah.. soalnya tadi ketiduran sih, jadi tidak sempat doa.” Renita mengiyakan,
“tidur lagi saja mah.. masih malam, Atau mamah mau tahajud dulu..” Andri bertanya Kembali.
“Iya.. mamah tak sholat tahajud dulu saja yah. Semoga tidak tindihan lagi jika nanti tidur lagi.” Renita kemudian
beranjak turun dari ranjang, perempuan itu perlahan berjalan keluar dari dalam kamar.
Di ruang tamu, perempuan itu menengok kea rah jam dinding, dan waktu sudah berada di angka dua. Waktu yang tepat untuk menjalankan sholat tahajud. Tiba-tiba Renita merasakan kembali rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, dan hampir merata terjadi di sekujur tubuhnya. Perempuan itu mengambil nafas Panjang untuk menenangkan perasaanya, kemudian berjalan keluar untuk mengambil air wudhu.
Sekitar lima belas menit, Renita menghabiskan waktu untuk melaksanakan sholat tahajud dan sholat witir untuk
memohon perlindungan. Setelah melipat dan menyimpan Kembali mukena, perempuan itu belum merasa mengantuk. Renita berjalan menuju ke kursi tamu kemudian duduk, sambil mengusap-usap kulitnya yang terasa sakit seperti ditusuk-tusuk dengan jarum itu.
“Apakah benar ya aku sebenarnya terkena kiriman santet, cuman aku tidak merasakannya saja.” Kembali pikiran
Renita berkembang kemana-mana.
Tetapi begitu perempuan itu berpikiran yang tidak, rasa nyeri tidak semakin hilang, malah semakin keras dan menjadi. Renita mengerutkan dahinya sambil menahan rasa nyeri, Ketika tiba-tiba rasa nyeri itu seperti menusuk di organ kewanitaannya. Renita bertambah panik, dan hanya duduk di depan jendela sambil merasakan dan berpikir tentang rasa sakitnya itu.
“besok pagi di kantor aku cari mak Nancy saja.. dia punya pengalaman hidup bermain dengan santet yang dikirimkan bekas suaminya. Siapa tahu mak Nancy bisa mendeteksi dan membaca apa sebenarnya yang terjadi pada tubuhku ini.” Renita berpikir sendiri.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Renita Kembali menuju kamarnya untuk melanjutkan tidur. Perempuan itu
tidak mau, suaminya akan bertanya dari mana, karena sudah beberapa saat perempuan itu menghabiskan waktu di kursi tamu. Sesampainya di pinggir ranjang, Renita tersenyum. Ternyata suaminya sudah Kembali tertidur, dan suara dengkuran menandakan jika suaminya sudah terlelap.
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments