Chapter 20 Emosi

Renita melihat ada undangan rapat yang tergeletak di meja kerjanya, kemudian dia mengambil dan membacanya sekilas sambil duduk di kursi. Melihat siapa yang memberikan undangan, Renita mengambil nafas dalam. Undangan itu dikirimkan oleh Yayasan dengan agenda pembahasan tentang tunggakan yang ada di unit kerja.

“Hah.. apalagi yang mau dibahas, orang jika tidak paham bagaimana mekanisme dan alur pasti hanya berpikir untuk mencari-cari kelemahan saja.” Tanpa sadar, Renita bergumam. Sebenarnya bukannya di aitu tidak mau dilakukan pemeriksaan, tetapi tim pemeriksa diambil orang-orang yang tidak kompetibel, dan cenderung berseberangan dengannya. Jadi Ketika menurut mereka ada temuan, maka dijelaskan dengan menggunakan akal sehat mereka tidak pernah mau mendengarnya.

Yang ada dalam pikiran mereka adalah WR II tidak bisa bekerja, dan untuk apa menutupi kasus itu. Pasti ada apa-apa dengan WR II. Sudah tidak hanya sekali dua kali, dengan kata-kata kasar yang tidak etis dikeluarkan oleh seorang petinggi, orang-orang Yayasan sering memarahi WR II atas pekerjaan orang lain. Tetapi untungnya Renita selalu memegang prinsip, jika bawahan tidak pernah salah.  Yang melakukan kesalahan adalah atasan, yang tidak bisa membina bawahannya.

“Undangan rapat dari mana Bu.. kok saya tidak dapat?” Dari ruang sebelah, pak Faiz WR III bertanya dari ruang

kerjanya.

“Biasa pak, dari yang mengaku punya UP. Mau join, atau mau mewakili saya untuk datang di forum rapat. Saya ikhlas deh, lillahi ta’ala..” sahut Renita dengan maksud bercanda.

“Ha.., ha.., ha.. ampun Bu.. ampun. Jika undangan dari Yang Mengaku Kuasa di UP, saya lebih baik lepas tangan.

Lebih baik menjaga hati, agar tidak ternodai oleh hujatan-hujatan mereka tentang kita. Mungkin di mata mereka, sedikitpun tidak ada hal baik dari kita. Hanya tidak bisa bekerja, itu saja stemple untuk kita. “ Faiz semakin bersemangat dari ruang sebelah.

“Jangan begitulah pak.. aku sampai kebal pak. Jika mereka sudah mulai mengomel, mending telinga aku tutup saja.

Yang paling susah itu mengobati hati pak, jika terlanjur terluka..” Renita tanpa sadar ikut terpancing curcol.

“Sabar Bu.. aku tinggal dulu ya, mau buka acara Diksar Menwa di pantai Parangkusumo..” akhirnya Faiz menutup obrolan pagi mereka. Laki-laki itu bergegas keluar dari ruang kerjanya.

Karena undangan rapat pada pukul sebelas siang, Renita masih memiliki banyak waktu untuk mengerjakan tugas yang lain. Perempuan itu mulai mencermati surat-surat disposisi yang ada di atas mejanya, dan mengklasifikasikan ke unit mana harus didisposisi.

********

Pintu ruang kerja Renita diketuk dari luar, dan perempuan itu mengangkat wajahnya. Terlihat pak Umam, Rektor yang menggantikan Prof. Dahlan berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Renita segera berdiri, kemudian membuka pintu ruangan dari dalam.

“Berangkat rapat ke Yayasan sekarang pak, jika iya.. saya tak siapkan laptop dulu. Jaga-jaga, siapa tahu nanti Yayasan minta data mendadak.” Renita bertanya pada laki-laki itu.

“Ya.. saya tunggu di depan.” Pak Umam kemudian berjalan meninggalkan ruang kerja Renita.

Renita langsung menutup laptopnya, dan bahkan belum sempat mematikan laptop. Ponsel, pulpen, dan laptop segera dimasukkan ke dalam tasnya, kemudian perempuan itu segera bergegas menyusul pak Umam yang menunggunya di depan lobby Gedung A. Baru beberapa Langkah, Renita berjalan tanpa sengaja perempuan itu bertemu dengan Prof, Umam, Rektor periode sebelumnya yang sering berbeda pendapat dengannya, dan sempat terjadi beberapa kali konflik internal.

“Baru datang Prof…” Renita menyapa lebih dulu, kemudian menghampiri Prof. Dahlan. Mereka berdua saling berjabat tangan.

“Ya mbak, soalnya tadi mampir dulu di Dispora karena ada undangan dari pak Baskoro untuk mengisi materi di Dinas Pendidikan. Mbak Renita sendiri mau kemana ini, sepertinya tergesa-gesa.” Dengan ramah, Prof. Dahlan balik bertanya pada perempuan itu.

“Mau ke ruang siding Yayasan pak, kebetulan mendapatkan undangan rapat dari pengurus Yayasan.” Dengan cepat Renita menjawab pertanyaan dari laki-laki itu, sambil matanya melihat ke arah pak Umam yang menunggunya di depan Gedung A.

“Bersama dengan pak Rektor ya, itu sudah ditunggu. Saya ke Pasca dulu mbak Renita..” merasa jika Renita sudah

ditunggu, akhirnya Prof. Dahlan mengalah. Laki-laki itu kemudian bergegas naik tangga untuk menuju lantai tiga.

**********

Ruang Yayasan

Dengan wajah yang tidak enak dilihat, Ketua Pengurus memaparkan temuan-temuan versi mereka, dan meminta WR II untuk menjelaskannya. Pengurus Yayasan lainnya ikut menambahkan, apalagi Wakil Ketua Pengurus tampak sinis menyinggung kinerja buruk WR II. Renita hanya diam dan mengambil nafas dalam, berusaha untuk menelan semua tuduhan itu.

“Sekarang mbak Ren saya minta untuk menjelaskannya,. Bagaimana ini bisa terjadi..” dengan suara lebih lembut,

Bendahara Yayasan meminta WR II untuk menyampaikan penjelasan.

“Terima kasih bu Bendahara, Ketua Pengurus Yayasan dan jajarannya yang saya hormati, pak Rektor UP yang saya hormati pula. Terkait dengan tunggakan unit kerja, sebenarnya itu sudah terjadi sangat lama, sebelum saya menjabat pada posisi WR II dari jaman Prof. Dahlan. Semula jumlah tunggakan SPJ sebesar 1 milyar lebih dua ratus juta, dan untuk saat ini masih tersisa enam ratus juta. Setiap dua minggu, Biro Administrasi Keuangan juga sudah mengirimkan surat untuk melakukan penagihan. Tetapi bapak/Ibu juga mungkin tahu sendiri, kan dulu Bendahara Yayasan juga pernah duduk di Biro Administrasi Keuangan.” Bukan bemaksud untuk sarkasme, Renita

menyampaikan penjelasannya.

“Jika begitu berarti WR II tidak tegas, atau jangan-jangan malah WR II ikut bermain disitu. Karena tim yang ada di BAKU kata pak Rektor permintaan dari WR II sendiri. Tidak mau diganti dengan orang lain.” Tiba-tiba Ketua Pengurus agak tendensius menuduh WR II.

“Maksud bapak dengan pernyataan itu, demi Tuhan pak, saya tidak tahu apa-apa tentang cash bon tersebut. Bisa-bisanya Bapak menuduhkan hal itu kepada saya..”  dengan nada agak tinggi, Renita terpancing.

“Okay jika Bu Renita mau buka-bukaan.. kita akan buka semuanya. Saya memiliki semua buktinya, jangan mengelak..” dengan wajah merah padam, Yayak  sebagai Ketua Pengurus Yayasan meluapkan emosinya.

“Buka saja pak.., saya tidak takut. Saya juga bisa membuka bagaimana bapak/ibu yang di duduk di ruangan ini

semuanya. Bukankah begitu yang kita inginkan..” sambil senyum mencibir Renita menanggapi perkataan Ketua Pengurus.

Muka Yayak bertambah merah padam, semua peserta rapat diam tidak ada yang berani untuk menyela. Tiba-tiba

laki-laki itu berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. Wakil Ketua Pengurus yang biasa menggaris bawahi, menebalkan, dan menyampaikan Kembali terlihat hanya diam. Tetapi Renita sedikit curiga, karena laki-laki itu tidak terpancing marah, malah seperti senyum-senyum mendapatkan tontonan.

“Lihat saja Yayak.. aku tidak ridho sudah kamu fitnah seperti ini. Dunia akhirat aku membencimu.. lihat akan terjadi apa denganmu nanti..” tanpa sadar, dengan geram Renita meluapkan amarahnya dengan membatin sendiri.

“Mungkin begini bapak/ibu Pengurus. Dalam kepemimpinan kami, tidak ada lagi hal yang perlu untuk dicurigai. Nanti saya sendiri yang akan memantau bu WR II bagaimana akan menyelesaikan masalah ini. Jadi menurut saya tidak perlu diperpanjang.” Rektor akhirnya turut bicara, tetapi hati Renita sudah terlanjur sakit dan menyimpan amarah.

*******

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!