Renita melihat ada undangan rapat yang tergeletak di meja kerjanya, kemudian dia mengambil dan membacanya sekilas sambil duduk di kursi. Melihat siapa yang memberikan undangan, Renita mengambil nafas dalam. Undangan itu dikirimkan oleh Yayasan dengan agenda pembahasan tentang tunggakan yang ada di unit kerja.
“Hah.. apalagi yang mau dibahas, orang jika tidak paham bagaimana mekanisme dan alur pasti hanya berpikir untuk mencari-cari kelemahan saja.” Tanpa sadar, Renita bergumam. Sebenarnya bukannya di aitu tidak mau dilakukan pemeriksaan, tetapi tim pemeriksa diambil orang-orang yang tidak kompetibel, dan cenderung berseberangan dengannya. Jadi Ketika menurut mereka ada temuan, maka dijelaskan dengan menggunakan akal sehat mereka tidak pernah mau mendengarnya.
Yang ada dalam pikiran mereka adalah WR II tidak bisa bekerja, dan untuk apa menutupi kasus itu. Pasti ada apa-apa dengan WR II. Sudah tidak hanya sekali dua kali, dengan kata-kata kasar yang tidak etis dikeluarkan oleh seorang petinggi, orang-orang Yayasan sering memarahi WR II atas pekerjaan orang lain. Tetapi untungnya Renita selalu memegang prinsip, jika bawahan tidak pernah salah. Yang melakukan kesalahan adalah atasan, yang tidak bisa membina bawahannya.
“Undangan rapat dari mana Bu.. kok saya tidak dapat?” Dari ruang sebelah, pak Faiz WR III bertanya dari ruang
kerjanya.
“Biasa pak, dari yang mengaku punya UP. Mau join, atau mau mewakili saya untuk datang di forum rapat. Saya ikhlas deh, lillahi ta’ala..” sahut Renita dengan maksud bercanda.
“Ha.., ha.., ha.. ampun Bu.. ampun. Jika undangan dari Yang Mengaku Kuasa di UP, saya lebih baik lepas tangan.
Lebih baik menjaga hati, agar tidak ternodai oleh hujatan-hujatan mereka tentang kita. Mungkin di mata mereka, sedikitpun tidak ada hal baik dari kita. Hanya tidak bisa bekerja, itu saja stemple untuk kita. “ Faiz semakin bersemangat dari ruang sebelah.
“Jangan begitulah pak.. aku sampai kebal pak. Jika mereka sudah mulai mengomel, mending telinga aku tutup saja.
Yang paling susah itu mengobati hati pak, jika terlanjur terluka..” Renita tanpa sadar ikut terpancing curcol.
“Sabar Bu.. aku tinggal dulu ya, mau buka acara Diksar Menwa di pantai Parangkusumo..” akhirnya Faiz menutup obrolan pagi mereka. Laki-laki itu bergegas keluar dari ruang kerjanya.
Karena undangan rapat pada pukul sebelas siang, Renita masih memiliki banyak waktu untuk mengerjakan tugas yang lain. Perempuan itu mulai mencermati surat-surat disposisi yang ada di atas mejanya, dan mengklasifikasikan ke unit mana harus didisposisi.
********
Pintu ruang kerja Renita diketuk dari luar, dan perempuan itu mengangkat wajahnya. Terlihat pak Umam, Rektor yang menggantikan Prof. Dahlan berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Renita segera berdiri, kemudian membuka pintu ruangan dari dalam.
“Berangkat rapat ke Yayasan sekarang pak, jika iya.. saya tak siapkan laptop dulu. Jaga-jaga, siapa tahu nanti Yayasan minta data mendadak.” Renita bertanya pada laki-laki itu.
“Ya.. saya tunggu di depan.” Pak Umam kemudian berjalan meninggalkan ruang kerja Renita.
Renita langsung menutup laptopnya, dan bahkan belum sempat mematikan laptop. Ponsel, pulpen, dan laptop segera dimasukkan ke dalam tasnya, kemudian perempuan itu segera bergegas menyusul pak Umam yang menunggunya di depan lobby Gedung A. Baru beberapa Langkah, Renita berjalan tanpa sengaja perempuan itu bertemu dengan Prof, Umam, Rektor periode sebelumnya yang sering berbeda pendapat dengannya, dan sempat terjadi beberapa kali konflik internal.
“Baru datang Prof…” Renita menyapa lebih dulu, kemudian menghampiri Prof. Dahlan. Mereka berdua saling berjabat tangan.
“Ya mbak, soalnya tadi mampir dulu di Dispora karena ada undangan dari pak Baskoro untuk mengisi materi di Dinas Pendidikan. Mbak Renita sendiri mau kemana ini, sepertinya tergesa-gesa.” Dengan ramah, Prof. Dahlan balik bertanya pada perempuan itu.
“Mau ke ruang siding Yayasan pak, kebetulan mendapatkan undangan rapat dari pengurus Yayasan.” Dengan cepat Renita menjawab pertanyaan dari laki-laki itu, sambil matanya melihat ke arah pak Umam yang menunggunya di depan Gedung A.
“Bersama dengan pak Rektor ya, itu sudah ditunggu. Saya ke Pasca dulu mbak Renita..” merasa jika Renita sudah
ditunggu, akhirnya Prof. Dahlan mengalah. Laki-laki itu kemudian bergegas naik tangga untuk menuju lantai tiga.
**********
Ruang Yayasan
Dengan wajah yang tidak enak dilihat, Ketua Pengurus memaparkan temuan-temuan versi mereka, dan meminta WR II untuk menjelaskannya. Pengurus Yayasan lainnya ikut menambahkan, apalagi Wakil Ketua Pengurus tampak sinis menyinggung kinerja buruk WR II. Renita hanya diam dan mengambil nafas dalam, berusaha untuk menelan semua tuduhan itu.
“Sekarang mbak Ren saya minta untuk menjelaskannya,. Bagaimana ini bisa terjadi..” dengan suara lebih lembut,
Bendahara Yayasan meminta WR II untuk menyampaikan penjelasan.
“Terima kasih bu Bendahara, Ketua Pengurus Yayasan dan jajarannya yang saya hormati, pak Rektor UP yang saya hormati pula. Terkait dengan tunggakan unit kerja, sebenarnya itu sudah terjadi sangat lama, sebelum saya menjabat pada posisi WR II dari jaman Prof. Dahlan. Semula jumlah tunggakan SPJ sebesar 1 milyar lebih dua ratus juta, dan untuk saat ini masih tersisa enam ratus juta. Setiap dua minggu, Biro Administrasi Keuangan juga sudah mengirimkan surat untuk melakukan penagihan. Tetapi bapak/Ibu juga mungkin tahu sendiri, kan dulu Bendahara Yayasan juga pernah duduk di Biro Administrasi Keuangan.” Bukan bemaksud untuk sarkasme, Renita
menyampaikan penjelasannya.
“Jika begitu berarti WR II tidak tegas, atau jangan-jangan malah WR II ikut bermain disitu. Karena tim yang ada di BAKU kata pak Rektor permintaan dari WR II sendiri. Tidak mau diganti dengan orang lain.” Tiba-tiba Ketua Pengurus agak tendensius menuduh WR II.
“Maksud bapak dengan pernyataan itu, demi Tuhan pak, saya tidak tahu apa-apa tentang cash bon tersebut. Bisa-bisanya Bapak menuduhkan hal itu kepada saya..” dengan nada agak tinggi, Renita terpancing.
“Okay jika Bu Renita mau buka-bukaan.. kita akan buka semuanya. Saya memiliki semua buktinya, jangan mengelak..” dengan wajah merah padam, Yayak sebagai Ketua Pengurus Yayasan meluapkan emosinya.
“Buka saja pak.., saya tidak takut. Saya juga bisa membuka bagaimana bapak/ibu yang di duduk di ruangan ini
semuanya. Bukankah begitu yang kita inginkan..” sambil senyum mencibir Renita menanggapi perkataan Ketua Pengurus.
Muka Yayak bertambah merah padam, semua peserta rapat diam tidak ada yang berani untuk menyela. Tiba-tiba
laki-laki itu berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. Wakil Ketua Pengurus yang biasa menggaris bawahi, menebalkan, dan menyampaikan Kembali terlihat hanya diam. Tetapi Renita sedikit curiga, karena laki-laki itu tidak terpancing marah, malah seperti senyum-senyum mendapatkan tontonan.
“Lihat saja Yayak.. aku tidak ridho sudah kamu fitnah seperti ini. Dunia akhirat aku membencimu.. lihat akan terjadi apa denganmu nanti..” tanpa sadar, dengan geram Renita meluapkan amarahnya dengan membatin sendiri.
“Mungkin begini bapak/ibu Pengurus. Dalam kepemimpinan kami, tidak ada lagi hal yang perlu untuk dicurigai. Nanti saya sendiri yang akan memantau bu WR II bagaimana akan menyelesaikan masalah ini. Jadi menurut saya tidak perlu diperpanjang.” Rektor akhirnya turut bicara, tetapi hati Renita sudah terlanjur sakit dan menyimpan amarah.
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments