Proses pelaksanaan suksesi berjalan terus dengan perolehan suara lebih dari 75% warga UP memilih kandidat baru yaitu pak Umam dari FP. Perolehan suara lebih dari 100 orang, sedangkan Prof. Dahlan 23 suara, Bu Kiki 1 suara, Jatmiko 7 suara, dan Renita memiliki 8 suara. Besarnya suara yang didapatkan Umam, mengejutkan Rektor dan WR I. Bahkan mereka mengira, jika Renita dan Jatmiko turut bermain di dalam politik kali ini.
“Bagaimana pendapat Bapak.. kenapa suara bisa seperti itu. Pasti ada penggiringan opini ke salah satu bakal calon, sehingga suaranya sampai sebesar itu. Padahal kita semua tahu bukan, bagaimana kinerja pak Umam selama ini. Sering tidak masuk kantor, dan jam kerja juga tidak sesuai dengan ketentuan di UP.” Dengan ekspresi marah-marah, Bu Kiki mengajak diskusi Prof. Dahlan.
“Sudahlah tidak perlu kita bicarakan lagi. Saya sendiri juga tidak menyangka akan jadi seperti itu perhitungan
akhirnya. Malah sebelumnya saya berpikir jika nama Bu Kiki yang akan naik, tetapi malah hanya ada satu suara.” Prof. Dahlan juga tampak kecewa dalam nada bicaranya.
“Iya, dan angka 1 itu pasti dari Bapak bukan yang memilih saya. Oh ya pak.. ngomong-ngomong menurut bapak, Bu Renita dan pak Jatmiko ikut bermain tidak dalam pilihan kali ini. Saya kok sedikit curiga dengan mereka berdua..” tiba-tiba Kiki mencurigai kedua temannya dalam posisi Wakil Rektor.
“Saya tidak mau berpendapat, toh juga ga ada manfaatnya untuk kita. Lebih baik dalam hal ini kita diam saja, takut
keliru bicara. Kita akan lihat nanti siapa yang jadinya akan menjadi Rektor untuk periode selanjutnya, kitab isa lebih leluasa untuk mengawasi mereka. Karena aku yakin, kita masih akan dipertahankan di posisi Yayasan.” Prof. Dahlan menenangkan perempuan itu.
Selama ini memang hanya Prof. Dahlan yang bisa mengimbangi bicara Bu Kiki yang terkadang suka meledak-ledak. Mereka sudah 16 tahun menjabat bareng sebagai Tim di Rektorat sekaligus merangkap jabatan di Yayasan, maupun di Pasca Sarjana. Mereka berdua terlalu percaya diri, jika tidak ada yang akan mempermasalahkan hubungan mereka. Namun pembicaraan buruk tentang kedua orang itu sudah berkembang luas di lingkup
internal Universitas, dan bahkan sudah sampai ke LLDIKTI V dan pengurus besar Yayasan.
“Berarti bapak sudah fix tidak mau untuk menjabat lagi..” Kiki masih ragu dan Kembali menegaskan.
“Sudah.. warga dan pegawai kita sudah pintar dan cerdas-cerdas. Asal pemimpin baru nanti tetap dapat merangkul semua pegawai, dan hati-hati untuk memilih pejabat-pejabat di bawahnya.” Akhirnya Prof Dahlan menanggapi.
Kiki terdiam, memang bisa ditebak jika dengan perolehan suara seperti itu, Prof. Dahlan pasti merasa malu sehingga lebih baik memilih untuk diam. Apalagi sebagai seorang professor, tunjangan kebesaran sebesar dua kali gaji pokok, tunjangan sertifikasi dosen, dan gajinya sudah melebihi penerimaan untuk standar hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Bapak masih mau berpikir tentang masa depan UP, bukankah hanya akan wasting time..” Kiki berpendapat lain.
“Hush.. tidak boleh begitu. Bagaimanapun UP adalah tempat kita dibesarkan, dan tempat pertama kali kita mengabdi disini. Saya akan memberikan rambu-rambu, siapa saja yang dianggap berbahaya dalam kepemimpinan ke depan nanti.” Akhirnya Prof. Dahlan berbicara tegas.
Kiki hanya terdiam tidak bisa lagi memberikan masukan pada laki-laki itu. Perempuan itu merasa sudah kehilangan
lagi suara untuk menyampaikan kekesalannya. Hubungan dengan Renita, akhir-akhir ini sudah tidak seperti biasanya. Hanya dengan Wahyu, tetapi laki-laki itu juga lebih banyak waktunya untuk mengurus keluarganya.
*******
Seperti yang sudah dijadwalkan, Prof. Dahlan mendatangi Yayasan untuk menyatakan pengunduran diri sebagai Calon. Pihak Yayasan tidak berkutik dan tidak mampu berbicara banyak, Ketika laki-laki itu berbicara. Mereka memang kalah “AWU” dan juga kalah pengalaman dalam mengelola organisasi, jika dibandingkan dengan orang-orang yang saat ini duduk di Yayasan.
“Jadi pak Ketua Pengurus, saya tidak bersedia untuk menjadi calon Rektor. Hal ini bukan terjadi secara mendadak,
namun sudah jauh menjadi pemikiran saya. Sudah saatnya saya istirahat, karena sudah banyak warga UP yang muda, yang lebih cerdas dan pandai untuk menempati jabatan ini.” Dengan merendah, Prof. Dahlan menyampaikan kata-kata.
“Ya sudah.. jika itu memang sudah menjadi kemauan Prof., kita hanya mengabulkannya saja. Itu menurut saya,
bagaimana dengan pak ketua Pengurus.” Wakil Ketua Pengurus Tommitius menyampaikan tanggapannya.
“Sayapun juga sama Pak Tomm.. karena itu hak asasi dari Prof. Dahlan. Kita tidak akan menghalanginya.” Ternyata
Ketua Pengurus juga mengiyakan.
“Untuk ke depan pak Ketua, dan pengurus Yayasan Pembina lainnya. Saya hanya berpesan untuk hati-hati dalam
menempatkan orang-orang untuk menjadi pemimpin di Lembaga kita tercinta ini. Saya hanya wanti-wanti untuk tidak memilih Bu Renita sebagai calon, bisa berbahaya bagi UP. Perempuan itu sangat licik, dan akan membahayakan kita semua.” Tidak ada nama lain yang disebut oleh laki-laki itu, hanya WR II pada masa jabatannya yang disebutkan.
Semua yang ada di dalam ruang sidang Yayasan terdiam. Padahal di Yayasan ada dua orang yang berasal dari fakultas tempat Renita berasal.
“Terima kasih Prof., untuk masukannya. Jika tidak ada lagi yang mau disampaikan, Prof. bisa keluar untuk meninggalkan ruangan, karena Yayasan masih mengundang balon lain untuk berpresentasi tentang visi, misi, dan tujuannya.” Dengan tegas, Wakil ketua Pengurus Yayasan mengusir Prof. Dahlan secara halus.
Tanpa bicara lagi, Prof. Dahlan segera berdiri, kemudian menyalami satu persatu semua yang ada dalam ruang sidang Yayasan tersebut. Pengurus Yayasan yang masih duduk di ruangan, hanya diam memandang punggung pemimpin beberapa periode di UP itu keluar dari ruangan itu.
“Ha.. ha.. ha.., ternyata hanya sama Renita saja, Prof. Dahlan merasa tidak berkutik. Sepertinya mereka dulu satu
tim, satu kelompok yang sama..” sepeninggalan Prof. Dahlan, Ketua Pengurus yang bernama Yayak itu tertawa terbahak-bahak.
Usia laki-laki itu memang paling muda sendiri di antara pengurus Yayasan lainnya, sehingga jika berbicara kadang
tidak mengenal etika, norma dan tata krama. Untungnya orang-orang yang ada di
UP, Sebagian besar sudah hafal karakter laki-laki itu, sehingga tidak ada yang memprotes
sepak terjangnya.
“bagaimana rencana kita selanjutnya pak Ketua. Jika kita melihat statute, syarat untuk ditentukan sebagai Balon
harus ada dua kandidat. Tidak boleh kita hanya menggunakan satu balon saja, maka pemilihan nanti bisa digagalkan.” Wakil Ketua Pengurus Kembali menanyakan strategi lanjutan.
“Kan masih banyak nama-nama lain yang memiliki suara, kita tinggal mengundang mereka semua saja. Ada Bu Tina, Jatmiko, Renita.. aku yakin, salah satu dari mereka mau untuk berkonspirasi dengan kita. Nanti kita tinggal berikan saja jabatan untuk mereka, kan impas.” Dengan santai seperti transaksi jual beli di pasar, Yayak menanggapi perkataan Tommitius.
Semua yang ada dalam ruangan itu diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Plan A, plan B, plan C mereka siapkan untuk menggolkan Umam menjadi Rektor baru di UP.
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments