Chapter 14 Konspirasi 2

Proses pelaksanaan suksesi berjalan terus dengan perolehan suara lebih dari 75% warga UP memilih kandidat baru yaitu pak Umam dari FP. Perolehan suara lebih dari 100 orang, sedangkan Prof. Dahlan 23 suara, Bu Kiki 1 suara, Jatmiko 7 suara, dan Renita memiliki 8 suara. Besarnya suara yang didapatkan Umam, mengejutkan Rektor dan WR I. Bahkan mereka mengira, jika Renita dan Jatmiko turut bermain di dalam politik kali ini.

“Bagaimana pendapat Bapak.. kenapa suara bisa seperti itu. Pasti ada penggiringan opini ke salah satu bakal calon, sehingga suaranya sampai sebesar itu. Padahal kita semua tahu bukan, bagaimana kinerja pak Umam selama ini. Sering tidak masuk kantor, dan jam kerja juga tidak sesuai dengan ketentuan di UP.” Dengan ekspresi marah-marah, Bu Kiki mengajak diskusi Prof. Dahlan.

“Sudahlah tidak perlu kita bicarakan lagi. Saya sendiri juga tidak menyangka akan jadi seperti itu perhitungan

akhirnya. Malah sebelumnya saya berpikir jika nama Bu Kiki yang akan naik, tetapi malah hanya ada satu suara.” Prof. Dahlan juga tampak kecewa dalam nada bicaranya.

“Iya, dan angka 1 itu pasti dari Bapak bukan yang memilih saya. Oh ya pak.. ngomong-ngomong menurut bapak, Bu Renita dan pak Jatmiko ikut bermain tidak dalam pilihan kali ini. Saya kok sedikit curiga dengan mereka berdua..” tiba-tiba Kiki mencurigai kedua temannya dalam posisi Wakil Rektor.

“Saya tidak mau berpendapat, toh juga ga ada manfaatnya untuk kita. Lebih baik dalam hal ini kita diam saja, takut

keliru bicara. Kita akan lihat nanti siapa yang jadinya akan menjadi Rektor untuk periode selanjutnya, kitab isa lebih leluasa untuk mengawasi mereka. Karena aku yakin, kita masih akan dipertahankan di posisi Yayasan.” Prof. Dahlan menenangkan perempuan itu.

Selama ini memang hanya Prof. Dahlan yang bisa mengimbangi bicara Bu Kiki yang terkadang suka meledak-ledak. Mereka sudah 16 tahun menjabat bareng sebagai Tim di Rektorat sekaligus merangkap jabatan di Yayasan, maupun di Pasca Sarjana. Mereka berdua terlalu percaya diri, jika tidak ada yang akan mempermasalahkan hubungan mereka. Namun pembicaraan buruk tentang kedua orang itu sudah berkembang luas di lingkup

internal Universitas, dan bahkan sudah sampai ke LLDIKTI V dan pengurus besar Yayasan.

“Berarti bapak sudah fix tidak mau untuk menjabat lagi..” Kiki masih ragu dan Kembali menegaskan.

“Sudah.. warga dan pegawai kita sudah pintar dan cerdas-cerdas. Asal pemimpin baru nanti tetap dapat merangkul semua pegawai, dan hati-hati untuk memilih pejabat-pejabat di bawahnya.” Akhirnya Prof Dahlan menanggapi.

Kiki terdiam, memang bisa ditebak jika dengan perolehan suara seperti itu, Prof. Dahlan pasti merasa malu sehingga lebih baik memilih untuk diam. Apalagi sebagai seorang professor, tunjangan kebesaran sebesar dua kali gaji pokok, tunjangan sertifikasi dosen, dan gajinya sudah melebihi penerimaan untuk standar hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Bapak masih mau berpikir tentang masa depan UP, bukankah hanya akan wasting time..” Kiki berpendapat lain.

“Hush.. tidak boleh begitu. Bagaimanapun UP adalah tempat kita dibesarkan, dan tempat pertama kali kita mengabdi disini. Saya akan memberikan rambu-rambu, siapa saja yang dianggap berbahaya dalam kepemimpinan  ke depan nanti.” Akhirnya Prof. Dahlan berbicara tegas.

Kiki hanya terdiam tidak bisa lagi memberikan masukan pada laki-laki itu. Perempuan itu merasa sudah kehilangan

lagi suara untuk menyampaikan kekesalannya. Hubungan dengan Renita, akhir-akhir ini sudah tidak seperti biasanya. Hanya dengan Wahyu, tetapi laki-laki itu juga lebih banyak waktunya untuk mengurus keluarganya.

*******

Seperti yang sudah dijadwalkan, Prof. Dahlan mendatangi Yayasan untuk menyatakan pengunduran diri sebagai Calon. Pihak Yayasan tidak berkutik dan tidak mampu berbicara banyak, Ketika laki-laki itu berbicara. Mereka memang kalah “AWU” dan juga kalah pengalaman dalam mengelola organisasi, jika dibandingkan dengan orang-orang yang saat ini duduk di Yayasan.

“Jadi pak Ketua Pengurus, saya tidak bersedia untuk menjadi calon Rektor. Hal ini bukan terjadi secara mendadak,

namun sudah jauh menjadi pemikiran saya. Sudah saatnya saya istirahat, karena sudah banyak warga UP yang muda, yang lebih cerdas dan pandai untuk menempati jabatan ini.” Dengan merendah, Prof. Dahlan menyampaikan kata-kata.

“Ya sudah.. jika itu memang sudah menjadi kemauan Prof., kita hanya mengabulkannya saja. Itu menurut saya,

bagaimana dengan pak ketua Pengurus.” Wakil Ketua Pengurus Tommitius menyampaikan tanggapannya.

“Sayapun juga sama Pak Tomm.. karena itu hak asasi dari Prof. Dahlan. Kita tidak akan menghalanginya.” Ternyata

Ketua Pengurus juga mengiyakan.

“Untuk ke depan pak Ketua, dan pengurus Yayasan Pembina lainnya. Saya hanya berpesan untuk hati-hati dalam

menempatkan orang-orang untuk menjadi pemimpin di Lembaga kita tercinta ini. Saya hanya wanti-wanti untuk tidak memilih Bu Renita sebagai calon, bisa berbahaya bagi UP. Perempuan itu sangat licik, dan akan membahayakan kita semua.” Tidak ada nama lain yang disebut oleh laki-laki itu, hanya WR II pada masa jabatannya yang disebutkan.

Semua yang ada di dalam ruang sidang Yayasan terdiam. Padahal di Yayasan ada dua orang yang berasal dari fakultas tempat Renita berasal.

“Terima kasih Prof., untuk masukannya. Jika tidak ada lagi yang mau disampaikan, Prof. bisa keluar untuk meninggalkan ruangan, karena Yayasan masih mengundang balon lain untuk berpresentasi tentang visi, misi, dan tujuannya.” Dengan tegas, Wakil ketua Pengurus Yayasan mengusir Prof. Dahlan secara halus.

Tanpa bicara lagi, Prof. Dahlan segera berdiri, kemudian menyalami satu persatu semua yang ada dalam ruang sidang Yayasan tersebut. Pengurus Yayasan yang masih duduk di ruangan, hanya diam memandang punggung pemimpin beberapa periode di UP itu keluar dari ruangan itu.

“Ha.. ha.. ha.., ternyata hanya sama Renita saja, Prof. Dahlan merasa tidak berkutik. Sepertinya mereka dulu satu

tim, satu kelompok yang sama..” sepeninggalan Prof. Dahlan, Ketua Pengurus yang bernama Yayak itu tertawa terbahak-bahak.

Usia laki-laki itu memang paling muda sendiri di antara pengurus Yayasan lainnya, sehingga jika berbicara kadang

tidak mengenal etika, norma dan tata krama. Untungnya orang-orang yang ada di

UP, Sebagian besar sudah hafal karakter laki-laki itu, sehingga tidak ada yang memprotes

sepak terjangnya.

“bagaimana rencana kita selanjutnya pak Ketua. Jika kita melihat statute, syarat untuk ditentukan sebagai Balon

harus ada dua kandidat. Tidak boleh kita hanya menggunakan satu balon saja, maka pemilihan nanti bisa digagalkan.” Wakil Ketua Pengurus Kembali menanyakan strategi lanjutan.

“Kan masih banyak nama-nama lain yang memiliki suara, kita tinggal mengundang mereka semua saja. Ada Bu Tina, Jatmiko, Renita.. aku yakin, salah satu dari mereka mau untuk berkonspirasi dengan kita. Nanti kita tinggal berikan saja jabatan untuk mereka, kan impas.” Dengan santai seperti transaksi jual beli di pasar, Yayak menanggapi perkataan Tommitius.

Semua yang ada dalam ruangan itu diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Plan A, plan B, plan C mereka siapkan untuk menggolkan Umam menjadi Rektor baru di UP.

*******

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!