Chapter 5 Stroke Mata

Setelah mendapatkan rujukan untuk mengunjungi dokter spesialis mata, Andri mengantar istrinya Renita ke RS PKU Muhammadiyah. Sebelumnya Renita sudah ijin pada Rektor untuk tidak masuk, dengan alasan sedang periksa di RS. Untungnya Rektor mengijinkannya, sehingga perempuan itu bisa berada di RS PKU.

“Nyonya Renita.. nomor antrian tujuh.. silakan masuk.” Tiba-tiba nama Renita dipanggil masuk ke dalam oleh

petugas jaga.

“Mama sendiri saja ya, tidak perlu ayah temani.” Andri berkata pada istrinya, dan merasa tidak mengalami sakit berat, perempuan itu kemudian masuk ke dalam ruangan.

“Assalamu alaikum Dok..” melihat ada dokter paruh baya duduk di belakang meja, Renita menyapa dokter tersebut.

“Wa alaikum salam, masuk mbak dan duduk di kursi itu.” Dokter segera meminta perempuan itu duduk.

Renita segera mengikuti arahan dokter, seorang perawat datang mendatangi Renita kemudian memeriksa tekanan

darah perempuan itu.

“160/110, lho kok tinggi Bu.. tekanan darahnya. Harus hati-hati lho..” perawat berkomentar tentang hasil cek

tekanan darah tersebut.

“Iya mbak sudah biasa.. karena keturunan dari orang tua, dua-duanya penderita darah tinggi. Bahkan bapak saya

meninggal karena stroke.” Renita menjawab komentar dari perawat.

“Apa yang dikeluhkan mbak?” tiba-tiba Dokter Imam bertanya pada Renita.

“Mata saya sakit Dok.. kemudian di alis rasanya pegal banget, seperti ada kayu yang melintang di atasnya.

Terkadang sampai ga nahan dokt.. merasakan sakitnya.” Tanpa menutupi apa yang dirasakannya, Renita menceritakan apa yang dideritanya selama ini.

Dokter Imam mengambil alat kecil seperti senter, kemudian menyoroti kedua mata Renita. Beberapa saat, dokter

terlihat seperti mencermati hasil pemeriksaan.

“Suster.. siapkan Tonometri non kontak, untuk mengukur tekanan bola mata pasien!” tanpa memberi tahu hasil

pemeriksaannya, Dokter Imam malah meminta suster perawat untuk menyiapkan peralatan untuk mengukur tekanan bola mata pasien.

Mendengar peralatan itu disebut oleh Dokter, jantung Renita berdegup kencang. Tidak lama kemudian, Renita

diminta oleh Dokter untuk mendekatkan wajahnya, dan peralatan Tonometri Non kontak terlihat ada di depannya. Sebuah gel dingin dioleskan Suster untuk menghilangkan radang karena radiasi dari peralatan tersebut. Setelah beberapa saat..

“Mbak Renita.. RS ini tidak bisa menangani penyakit mata yang diidap oleh mbak Renita. Jadi saya akan merujuk

mbak Renita ke RSUP Dr. Sardjito ya. Hanya RS itu di Jogja yang memiliki peralatannya.” Tiba-tiba Dokter Imam menjelaskan hasil pemeriksaannya.

“Saya sakit apa Dokt.. apakah Katharak atau yang lainnya..?” Renita segera mengejar dokter untuk memberi tahu

apa yang dideritanya.

“Lebih dari itu semua mbak, bahkan lebih berbahaya dari katharak. Makanya RS PKU belum memiliki peralatannya, nanti RS Sardjito yang akan menjelaskan lebih rinci setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan harap bersabar, biasanya di RS itu antrinya sangat Panjang, bisa sampai sore hari..” sambil menulis surat rujukan, Dokter Imam menjelaskan pada perempuan itu.

Renita sudah tidak bisa berpikir Panjang, perempuan itu sudah tidak bisa menguasai emosinya. Ketika Dokter

menyerahkan surat rujukan, dan perempuan itu berjalan keluar dari dalam ruangan, Renita sudah tidak sanggup untuk berbicara.

“Ada apa mam.. apanya yang sakit?” dengan penuh rasa khawatir.., Andri menanyakan penyakit yang diderita

istrinya.

Renita tidak mampu menjawab, perempuan itu hanya menggelengkan kepala dengan air mata mengalir deras di

pipinya. Andri menjadi tanggap, kemudian mengambil amplop putih dari Dokter Imam, kemudian membacanya sekilas.

“Ayo mam.. keburu siang.. ayah antar ke RSUP Sardjito..” laki-laki itu tanpa berkata apa-apa lagi, meraih

tangan istrinya kemudian menggandengnya keluar dari RS.

******

Perawat laki-laki di RSUP DR. Sardjito terhenyak, sudah diulang sampai tiga kali tetapi tekanan darah Renita

tidak terdeteksi. Kondisi itu sering terjadi, karena alasan mesinnya mengalami kerusakan, atau karena tingginya tekanan darah pasien. Sekali lagi, dengan sabar perawat itu melakukan pengetesan tekanan darah sekali lagi.

“Mbak Renita saat ini apa sedang merasa panik, atau was-was..?” dengan suara pelan, dan intonasi sabar perawat

itu bertanya dengan hati-hati pada Renita.

“Iya mas.. jujur saya sampai sekarang masih deg-degan. Barusan saya sama Dr. Imam di PKU Muhammadiyah

dikatakan jika penyakit mata saya sudah sangat mengerikan, sampai RS itu tidak sanggup untuk menangani pasien. Akhirnya saya dirujuk kesini mas..” dengan wajah sedih, Renita menyampaikan kegelisahannya.

“Pantas saja mbak.. tekanan darah mbak saat ini 200, makanya sampai saya ulang berkali-kali. Pasrah saja mbak,

yang penting mbak Renita sudah ikhtiar untuk penyakit yang saat ini mbak rasakan. Untuk masalah hasil, serahkan semua pada ketentuan Allah, yang Maha Menyembuhkan..” dengan suara lirih, perawat yang masih terlihat berusia muda itu menenangkan Renita.

Mendengar perkataan perawat laki-laki yang bernama Handoyo itu, muncul setitik harapan di hati Renita. Dia sudah melupakan Allah, yang Maha penegur, dan Maha segalanya. Perlahan hati Renita menjadi sedikit tenang, dan Andri mengusap punggung istrinya dengan penuh kasih sayang.

“Terima kasih mas Handoyo..” sahut Renita.

“Sama-sama mbak sudah menjadi tugas saya, antriannya sangat Panjang mbak. Tapi ga pa pa, nanti mbak saya

selipkan saja, agar cepat mendapatkan penanganan.” Ucap Handoyo sambil memasukkan berkas pengecekan awal Kesehatan perempuan itu.

Andri mengajak istrinya untuk mencari tempat duduk, dan ternyata memang banyak sekali pasien yang menunggu

giliran untuk dipanggil ke dalam. Tetapi kebanyakan pasien memang sudah berusia tua.  Renita termasuk yang memiliki usia muda sendiri, di antara para pasien yang mengantri.

Tidak lama kemudian, nama Renita dipanggil. Andri tersenyum, karena Handoyo membuktikan kata-katanya, laki-laki muda itu membantu menyelipkan nama Renita dalam antrian, sehingga mereka tidak menunggu begitu lama. Andri menemani Renita masuk ke dalam ruang pemeriksaan, dan terlihat satu dokter yang sudah berusia tua, ditemani banyak co asisten Dokter sedang melakukan pemeriksaan.

“Mbak Renita tadi sudah dilakukan tes tekanan bola mata ya. Sekarang retina yang akan dilakukan scanning. Silakan masuk ke ruangan yang ada di sebelah ruang pemeriksaan awal, nanti akan dilakukan scanning mata disana.” Seorang dokter muda memberikan rujukan pada Renita.

“Baik Dokter.., terima kasih.” Renita ditemani Andri segera melangkah keluar dari ruangan itu, kemudian sambil merangkul bahu istrinya Andri menuju ke ruangan yang ada disamping ruang periksa.

Untungnya tidak ada pasien yang antri di depan ruangan itu, sehingga Renita bisa langsung ditangani oleh dokter. Andri diperbolehkan masuk untuk menemani istrinya, sehingga mereka berdua segera masuk ke dalam. Serangkaian pemeriksaan dilakukan, dan hampir sama dengan di RS PKU, Renita Kembali berhadapan dengan beberapa mesin teknologi kedokteran.

“Mbak, mas.. dari hasil scanning, ibu saat ini dinyatakan menderita stroke mata. Tapi kita belum  bisa menganalisis apa yang menjadi penyebabnya. Lihatlah gambar retinanya.. ini ada darah dan lemak yang keluar menutup mata

mbak Renita, sehingga mengganggu Sebagian penglihatan.” Dokter mulai menjelaskan analisisnya.

Renita dan Andri terkejut, keduanya saling berpandangan. Tampak print out pemeriksaan mata diberikan dokter pada mereka berdua.

“Untuk memastikan penyebabnya, mbak Renita saya beri pengantar untuk melakukan general Check Up di

laboratorium ya. Nanti dari hasil pemeriksaan bisa dilakukan analisis ulang, dan hasil dibawa ke dokter Syaraf untuk diperiksa lebih lanjut.” Dokter kemudian membuat pengantar untuk dilakukan general check up.

“Oh ya Dokt.. apakah saya bisa melakukan cek di laboratorium luar?” merasa agak ngeri dengan penampakan RS

ini, Renita bertanya pada Dokter.

“Bisa mbak, tapi saya sarankan untuk dilakukan di RS ini saja, karena biayanya sangat mahal. Tetapi jika menggunakan pengantar ini, dan dilakukan di laboratorium RS ini, maka mbak Renita akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.” Dokter menyarankan.

“Baik Dokter.. terima kasih..” sahut Renita dan Andri secara bersamaan.

********

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!