Setelah mendapatkan rujukan untuk mengunjungi dokter spesialis mata, Andri mengantar istrinya Renita ke RS PKU Muhammadiyah. Sebelumnya Renita sudah ijin pada Rektor untuk tidak masuk, dengan alasan sedang periksa di RS. Untungnya Rektor mengijinkannya, sehingga perempuan itu bisa berada di RS PKU.
“Nyonya Renita.. nomor antrian tujuh.. silakan masuk.” Tiba-tiba nama Renita dipanggil masuk ke dalam oleh
petugas jaga.
“Mama sendiri saja ya, tidak perlu ayah temani.” Andri berkata pada istrinya, dan merasa tidak mengalami sakit berat, perempuan itu kemudian masuk ke dalam ruangan.
“Assalamu alaikum Dok..” melihat ada dokter paruh baya duduk di belakang meja, Renita menyapa dokter tersebut.
“Wa alaikum salam, masuk mbak dan duduk di kursi itu.” Dokter segera meminta perempuan itu duduk.
Renita segera mengikuti arahan dokter, seorang perawat datang mendatangi Renita kemudian memeriksa tekanan
darah perempuan itu.
“160/110, lho kok tinggi Bu.. tekanan darahnya. Harus hati-hati lho..” perawat berkomentar tentang hasil cek
tekanan darah tersebut.
“Iya mbak sudah biasa.. karena keturunan dari orang tua, dua-duanya penderita darah tinggi. Bahkan bapak saya
meninggal karena stroke.” Renita menjawab komentar dari perawat.
“Apa yang dikeluhkan mbak?” tiba-tiba Dokter Imam bertanya pada Renita.
“Mata saya sakit Dok.. kemudian di alis rasanya pegal banget, seperti ada kayu yang melintang di atasnya.
Terkadang sampai ga nahan dokt.. merasakan sakitnya.” Tanpa menutupi apa yang dirasakannya, Renita menceritakan apa yang dideritanya selama ini.
Dokter Imam mengambil alat kecil seperti senter, kemudian menyoroti kedua mata Renita. Beberapa saat, dokter
terlihat seperti mencermati hasil pemeriksaan.
“Suster.. siapkan Tonometri non kontak, untuk mengukur tekanan bola mata pasien!” tanpa memberi tahu hasil
pemeriksaannya, Dokter Imam malah meminta suster perawat untuk menyiapkan peralatan untuk mengukur tekanan bola mata pasien.
Mendengar peralatan itu disebut oleh Dokter, jantung Renita berdegup kencang. Tidak lama kemudian, Renita
diminta oleh Dokter untuk mendekatkan wajahnya, dan peralatan Tonometri Non kontak terlihat ada di depannya. Sebuah gel dingin dioleskan Suster untuk menghilangkan radang karena radiasi dari peralatan tersebut. Setelah beberapa saat..
“Mbak Renita.. RS ini tidak bisa menangani penyakit mata yang diidap oleh mbak Renita. Jadi saya akan merujuk
mbak Renita ke RSUP Dr. Sardjito ya. Hanya RS itu di Jogja yang memiliki peralatannya.” Tiba-tiba Dokter Imam menjelaskan hasil pemeriksaannya.
“Saya sakit apa Dokt.. apakah Katharak atau yang lainnya..?” Renita segera mengejar dokter untuk memberi tahu
apa yang dideritanya.
“Lebih dari itu semua mbak, bahkan lebih berbahaya dari katharak. Makanya RS PKU belum memiliki peralatannya, nanti RS Sardjito yang akan menjelaskan lebih rinci setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan harap bersabar, biasanya di RS itu antrinya sangat Panjang, bisa sampai sore hari..” sambil menulis surat rujukan, Dokter Imam menjelaskan pada perempuan itu.
Renita sudah tidak bisa berpikir Panjang, perempuan itu sudah tidak bisa menguasai emosinya. Ketika Dokter
menyerahkan surat rujukan, dan perempuan itu berjalan keluar dari dalam ruangan, Renita sudah tidak sanggup untuk berbicara.
“Ada apa mam.. apanya yang sakit?” dengan penuh rasa khawatir.., Andri menanyakan penyakit yang diderita
istrinya.
Renita tidak mampu menjawab, perempuan itu hanya menggelengkan kepala dengan air mata mengalir deras di
pipinya. Andri menjadi tanggap, kemudian mengambil amplop putih dari Dokter Imam, kemudian membacanya sekilas.
“Ayo mam.. keburu siang.. ayah antar ke RSUP Sardjito..” laki-laki itu tanpa berkata apa-apa lagi, meraih
tangan istrinya kemudian menggandengnya keluar dari RS.
******
Perawat laki-laki di RSUP DR. Sardjito terhenyak, sudah diulang sampai tiga kali tetapi tekanan darah Renita
tidak terdeteksi. Kondisi itu sering terjadi, karena alasan mesinnya mengalami kerusakan, atau karena tingginya tekanan darah pasien. Sekali lagi, dengan sabar perawat itu melakukan pengetesan tekanan darah sekali lagi.
“Mbak Renita saat ini apa sedang merasa panik, atau was-was..?” dengan suara pelan, dan intonasi sabar perawat
itu bertanya dengan hati-hati pada Renita.
“Iya mas.. jujur saya sampai sekarang masih deg-degan. Barusan saya sama Dr. Imam di PKU Muhammadiyah
dikatakan jika penyakit mata saya sudah sangat mengerikan, sampai RS itu tidak sanggup untuk menangani pasien. Akhirnya saya dirujuk kesini mas..” dengan wajah sedih, Renita menyampaikan kegelisahannya.
“Pantas saja mbak.. tekanan darah mbak saat ini 200, makanya sampai saya ulang berkali-kali. Pasrah saja mbak,
yang penting mbak Renita sudah ikhtiar untuk penyakit yang saat ini mbak rasakan. Untuk masalah hasil, serahkan semua pada ketentuan Allah, yang Maha Menyembuhkan..” dengan suara lirih, perawat yang masih terlihat berusia muda itu menenangkan Renita.
Mendengar perkataan perawat laki-laki yang bernama Handoyo itu, muncul setitik harapan di hati Renita. Dia sudah melupakan Allah, yang Maha penegur, dan Maha segalanya. Perlahan hati Renita menjadi sedikit tenang, dan Andri mengusap punggung istrinya dengan penuh kasih sayang.
“Terima kasih mas Handoyo..” sahut Renita.
“Sama-sama mbak sudah menjadi tugas saya, antriannya sangat Panjang mbak. Tapi ga pa pa, nanti mbak saya
selipkan saja, agar cepat mendapatkan penanganan.” Ucap Handoyo sambil memasukkan berkas pengecekan awal Kesehatan perempuan itu.
Andri mengajak istrinya untuk mencari tempat duduk, dan ternyata memang banyak sekali pasien yang menunggu
giliran untuk dipanggil ke dalam. Tetapi kebanyakan pasien memang sudah berusia tua. Renita termasuk yang memiliki usia muda sendiri, di antara para pasien yang mengantri.
Tidak lama kemudian, nama Renita dipanggil. Andri tersenyum, karena Handoyo membuktikan kata-katanya, laki-laki muda itu membantu menyelipkan nama Renita dalam antrian, sehingga mereka tidak menunggu begitu lama. Andri menemani Renita masuk ke dalam ruang pemeriksaan, dan terlihat satu dokter yang sudah berusia tua, ditemani banyak co asisten Dokter sedang melakukan pemeriksaan.
“Mbak Renita tadi sudah dilakukan tes tekanan bola mata ya. Sekarang retina yang akan dilakukan scanning. Silakan masuk ke ruangan yang ada di sebelah ruang pemeriksaan awal, nanti akan dilakukan scanning mata disana.” Seorang dokter muda memberikan rujukan pada Renita.
“Baik Dokter.., terima kasih.” Renita ditemani Andri segera melangkah keluar dari ruangan itu, kemudian sambil merangkul bahu istrinya Andri menuju ke ruangan yang ada disamping ruang periksa.
Untungnya tidak ada pasien yang antri di depan ruangan itu, sehingga Renita bisa langsung ditangani oleh dokter. Andri diperbolehkan masuk untuk menemani istrinya, sehingga mereka berdua segera masuk ke dalam. Serangkaian pemeriksaan dilakukan, dan hampir sama dengan di RS PKU, Renita Kembali berhadapan dengan beberapa mesin teknologi kedokteran.
“Mbak, mas.. dari hasil scanning, ibu saat ini dinyatakan menderita stroke mata. Tapi kita belum bisa menganalisis apa yang menjadi penyebabnya. Lihatlah gambar retinanya.. ini ada darah dan lemak yang keluar menutup mata
mbak Renita, sehingga mengganggu Sebagian penglihatan.” Dokter mulai menjelaskan analisisnya.
Renita dan Andri terkejut, keduanya saling berpandangan. Tampak print out pemeriksaan mata diberikan dokter pada mereka berdua.
“Untuk memastikan penyebabnya, mbak Renita saya beri pengantar untuk melakukan general Check Up di
laboratorium ya. Nanti dari hasil pemeriksaan bisa dilakukan analisis ulang, dan hasil dibawa ke dokter Syaraf untuk diperiksa lebih lanjut.” Dokter kemudian membuat pengantar untuk dilakukan general check up.
“Oh ya Dokt.. apakah saya bisa melakukan cek di laboratorium luar?” merasa agak ngeri dengan penampakan RS
ini, Renita bertanya pada Dokter.
“Bisa mbak, tapi saya sarankan untuk dilakukan di RS ini saja, karena biayanya sangat mahal. Tetapi jika menggunakan pengantar ini, dan dilakukan di laboratorium RS ini, maka mbak Renita akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.” Dokter menyarankan.
“Baik Dokter.. terima kasih..” sahut Renita dan Andri secara bersamaan.
********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments