Chapter 15 Pemilihan

Berbagai strategi akhirnya diterapkan oleh Yayasan, dan Renita diundang secara khusus oleh sekretaris panitia dan

Bendahara II Yayasan untuk bertemu di sebuah kafe. Tanpa berprasangka sedikitpun, Renita mendatangi kafe dengan harapan ketemu dengan kedua teman baiknya. Setelah memarkirkan mobil, Renita segera mencari-cari tempat duduk yang digunakan oleh kedua temannya itu. Tidak lama kemudian, perempuan itu melihat dua laki-laki melambaikan tangannya, mengundang Renita untuk bergabung.

“Sudah lama pak.. maaf ya saya terlambat.” Renita segera menarik kursi dan duduk di samping Didik sekretaris panitia.

“Tidak apa-apa, minumnya sementara baru tak pesankan wedang uwuh Bu.. jika mau ganti, pesan sendiri ya.” Didik

menanggapi permintaan maaf Renita.

“Sudah pak, cukup.” Renita langsung menyesap minuman hangat yang sudah terhidang di meja itu.

Beberapa saat ketiga teman lama itu meminum dan menikmati makanan yang sudah dipesan. Tidak lama kemudian, karena semua sudah merasa  kenyang,..

“Rencana bu Renita mau bagaimana ke depannya?” tiba-tiba pak Purno mengajaknya bicara.

“Ya tetap bekerja di UP to pak, masak gitu saja ditanyakan. Tidak masalah pak, jika aku tidak menjabat lagi, malah

aku bisa mengistirahatkan pikiranku.” Renita menjawab pertanyaan Pak Purno. Didik tidak berbicara apapun disamping Renita.

“Bu.. jujur kita mengajak Bu Renita ke tempat ini, karena aka nada yang kami bicarakan. Kami yakin bu Renita mau

membantu dan memberi bantuan kepada kami.” Purno melanjutkan kata-katanya.

Renita terdiam dan menebak apa yang akan dimintakan bantuan kepadanya, tetapi perempuan itu tidak mau berpikir. Dia hanya mau menunggu permintaan bantuan apa yang akan diutarakan kepadanya.

“Begini Bu.. dengan mundurnya Prof, dari calon berarti pak Umam tidak memiliki tandem dalam pemilihan di rapat

senat nanti. Dan Yayasan tidak akan mengangkat hal tersebut, karena akan menyalami statute kita. Untuk itu, kami mau minta Bu Renita untuk berkenan menjadi calon Rektor mendampingi pak Umam dalam pemilihan nanti.” Akhirnya Purno menyampaikan permintaannya.

“Iya Bu.., bu Ren mau kan membantu Yayasan.” Didik akhirnya berbicara menguatkan perkataan Purno.

“Maaf pak.. bukan begini caranya. Ini Namanya kita itu berpolitik tetapi secara kasar. Aku tidak mau ikut-ikut pak,

tahu sendiri kan bagaimana posisiku..” sambil tersenyum, Renita menolak permintaan kedua temannya itu.

“Kita ini hanya ikut Bu Renita lho.. ingat pertanyaanku dulu. Kita mau tetap mendukung Prof. atau kita akan menggantinya. Jangan setengah-setengah, karena balas dendam Prof, akan bisa menghancurkan semuanya.” Purno Kembali berusaha mempengaruhi Renita,

“Terserah pak.., pokoknya saya tidak mau ikut meneruskan rencana ini, jika dengan cara ini. Terlalu kasar, mungkin

Pak purno dan pak Didik bisa mencari kandidat lainnya untuk menemani pak Umam.” Renita tetap bersikeras menolak ajakan itu.

Dua orang di samping Renita itu terdiam, mereka tadi berpikir jika perempuan itu akan setuju untuk bermain dengannya. Tetapi ternyata tidak, Renita bersikeras pada pendiriannya.

*******

Proses suksesi di UP terus berlangsung, dan akhirnya pak Umam berhasil menduduki sebagai jabatan Rektor.

Berbagai posisi di bawahnya segera ditetapkan, dan sama sekali tidak melihatkan Prof. Dahlan, Bu Kiki maupun pak Wahyu. Renita masih dicalonkan untuk duduk di WR II dipasangkan dengan tim sukses yang membantu pak Umam sampai bisa duduk di kursi Rektor sekarang. Calon lain WR II adalah pak Anto dari fakultas yang sama

dengan Bu Renita. Sebenarnya Renita menolak tawaran itu, tetapi pak Umam dan Bu Andini meyakinkan Renita agar mau untuk dicalonkan dalam rapat senat. Akhirnya karena merasa tidak enak, Renita bersedia untuk dicalonkan, dan perempuan itu tidak berusaha mencari nama untuk mendukungnya dalam pemilihan.

Hari pemilihan senat pemilihan WR, akhirnya dimulai. Rektor terpilih sudah koar-koar kemana-mana, untuk menjadikan calon yang memiliki suara terbanyak untuk menjadi pejabat yang telah dipilihnya. Rektor dan Tim sukses merasa yakin jika hasil pemilihan akan sesuai dengan yang sudah mereka rancangkan.

“Bu Renita mau studi lanjut S3 ya..?” sebelum naik ke multi media tempat dilaksanakannya rapat senat, rector terpilih bertanya pada Renita.

“Ya mau dong pak.., tapi belum dalam waktu dekat. Masih banyak yang harus aku persiapkan, dan menunggu anak-anakku sudah mampu mandiri berangkat dan pulang sekolah sendiri,” dengan alasan anak, Renita menunda studi lanjutnya.

“Tapi studi lanjut itu penting Bu.., nanti akan menjadi program utama periode jabatan saya, juga peningkatan

publikasi karya penelitian dosen.” Dr. Umam menambahkan.

“Hmm.. mohon doanya saja pak, yakin saja dengan mengalirnya waktu. Pada saatnya, saya juga akan ambil studi S2." Renita menanggapi perkataan Rektor terpilih dengan tersenyum.

Akhirnya semua peserta rapat senat, dan semua calon Wakil Rektor dari I, II, dan III sudah semuanya hadir dan

diminta duduk di meja paling depan. Bu kiki sebagai sekretari senat, dan Prof. Dahlan sebagai Ketua Senat memimpin jalannya rapat. Setelah beberapa saat, penjajagan pendapat peserta rapat dilakukan dengan system mencontreng seperti pemilihan Rektor.

Setelah semua peserta rapat sudah selesai mencontreng kemudian dilakukan penghitungan suara. Tenyata dari hasil penghitungan, untuk WR I dan WR III menang mutlak diperoleh pak Adi dan pak Faiz hanya selisih sekitar 5 suara. Sedangkan untuk WR II diluar prediksi dari Tim Sukses, karena Renita Kembali memenangkan jajak pendapat dengan suara 14 orang, sedangkan Antok mendapatkan 8 orang.

“Sudah selesai.., tidak perlu ditayangkan angkanya.” Antok berkomentar Ketika melihat sekretaris Senat menulis dalam font besar di layer laptop yang terhubung dengan Projector. Terlihat wajah Prof. Dahlan merah padam, seakan tidak menginginkan kemenangan ada di tangan Renita.

“Tidak apa-apa pak, untuk seru-seru saja..” Bu Mei calon WR I yang tidak terpilih menyahuti perkataan pak Antok.

“Baiklah.. mungkin tidak perlu lagi untuk kita bacakan, karena Bapak/ibu semua juga ikut menyaksikan jalannya

proses persidangan. Maka.. semua hasil kami serahkan kepada Yayasan dan Rektor terpilih, untuk ditetapkan siapa yang akan menjadi Wakil Rektor pada masa jabatan periode empat tahun ke depan. Akhirnya karena acara inti sudah terlaksana, maka pertemuan rapat senat untuk pemilihan Wakil Rektor saya tutup. Tok.. tok.. tok..” Selaku Ketua Senat, Prof. Dahlan akhirnya menyampaikan kata-katanya, dan ditutup dengan memukul meja sebanyak tiga kali.

Begitu rapat ditutup, semua peserta rapat menjadi heboh. Masing-masing orang menyalami tiga kandidat terkuat WR yang sudah terpilih. Renita menyelinap keluar, karena tidak tega ketika harus bertatapan dengan Prof.Dahlan dan Bu Kiki. Begitu juga dengan Pak Antok, laki-laki itu segera menyusul keluar Renita.

“Selamat ya Bu Renita.. benar kan kata-kataku. Tidak usah membersihkan ruangan, karena Bu Renita pasti akan tetap berada di Rektorat.” Niken menyambut kedatangan Renita dan mengucapkan kata-kata selamat.

“Hush.. bukan selamat, tetapi semoga selamat. Tidak perlu disyukuri, ini musibah. Inna lillahi wa inna Illaihi rojiun.” Sahut Renita sambil bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya.

*******

Terpopuler

Comments

Rancito

Rancito

Loh ada ya WR msh S1,kukira minimal S2 kyk dl d kampusku, itupun sdh 20 thn yg lalu,masa skrg malah turun jenjang akademikny

2022-11-22

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!