Berbagai strategi akhirnya diterapkan oleh Yayasan, dan Renita diundang secara khusus oleh sekretaris panitia dan
Bendahara II Yayasan untuk bertemu di sebuah kafe. Tanpa berprasangka sedikitpun, Renita mendatangi kafe dengan harapan ketemu dengan kedua teman baiknya. Setelah memarkirkan mobil, Renita segera mencari-cari tempat duduk yang digunakan oleh kedua temannya itu. Tidak lama kemudian, perempuan itu melihat dua laki-laki melambaikan tangannya, mengundang Renita untuk bergabung.
“Sudah lama pak.. maaf ya saya terlambat.” Renita segera menarik kursi dan duduk di samping Didik sekretaris panitia.
“Tidak apa-apa, minumnya sementara baru tak pesankan wedang uwuh Bu.. jika mau ganti, pesan sendiri ya.” Didik
menanggapi permintaan maaf Renita.
“Sudah pak, cukup.” Renita langsung menyesap minuman hangat yang sudah terhidang di meja itu.
Beberapa saat ketiga teman lama itu meminum dan menikmati makanan yang sudah dipesan. Tidak lama kemudian, karena semua sudah merasa kenyang,..
“Rencana bu Renita mau bagaimana ke depannya?” tiba-tiba pak Purno mengajaknya bicara.
“Ya tetap bekerja di UP to pak, masak gitu saja ditanyakan. Tidak masalah pak, jika aku tidak menjabat lagi, malah
aku bisa mengistirahatkan pikiranku.” Renita menjawab pertanyaan Pak Purno. Didik tidak berbicara apapun disamping Renita.
“Bu.. jujur kita mengajak Bu Renita ke tempat ini, karena aka nada yang kami bicarakan. Kami yakin bu Renita mau
membantu dan memberi bantuan kepada kami.” Purno melanjutkan kata-katanya.
Renita terdiam dan menebak apa yang akan dimintakan bantuan kepadanya, tetapi perempuan itu tidak mau berpikir. Dia hanya mau menunggu permintaan bantuan apa yang akan diutarakan kepadanya.
“Begini Bu.. dengan mundurnya Prof, dari calon berarti pak Umam tidak memiliki tandem dalam pemilihan di rapat
senat nanti. Dan Yayasan tidak akan mengangkat hal tersebut, karena akan menyalami statute kita. Untuk itu, kami mau minta Bu Renita untuk berkenan menjadi calon Rektor mendampingi pak Umam dalam pemilihan nanti.” Akhirnya Purno menyampaikan permintaannya.
“Iya Bu.., bu Ren mau kan membantu Yayasan.” Didik akhirnya berbicara menguatkan perkataan Purno.
“Maaf pak.. bukan begini caranya. Ini Namanya kita itu berpolitik tetapi secara kasar. Aku tidak mau ikut-ikut pak,
tahu sendiri kan bagaimana posisiku..” sambil tersenyum, Renita menolak permintaan kedua temannya itu.
“Kita ini hanya ikut Bu Renita lho.. ingat pertanyaanku dulu. Kita mau tetap mendukung Prof. atau kita akan menggantinya. Jangan setengah-setengah, karena balas dendam Prof, akan bisa menghancurkan semuanya.” Purno Kembali berusaha mempengaruhi Renita,
“Terserah pak.., pokoknya saya tidak mau ikut meneruskan rencana ini, jika dengan cara ini. Terlalu kasar, mungkin
Pak purno dan pak Didik bisa mencari kandidat lainnya untuk menemani pak Umam.” Renita tetap bersikeras menolak ajakan itu.
Dua orang di samping Renita itu terdiam, mereka tadi berpikir jika perempuan itu akan setuju untuk bermain dengannya. Tetapi ternyata tidak, Renita bersikeras pada pendiriannya.
*******
Proses suksesi di UP terus berlangsung, dan akhirnya pak Umam berhasil menduduki sebagai jabatan Rektor.
Berbagai posisi di bawahnya segera ditetapkan, dan sama sekali tidak melihatkan Prof. Dahlan, Bu Kiki maupun pak Wahyu. Renita masih dicalonkan untuk duduk di WR II dipasangkan dengan tim sukses yang membantu pak Umam sampai bisa duduk di kursi Rektor sekarang. Calon lain WR II adalah pak Anto dari fakultas yang sama
dengan Bu Renita. Sebenarnya Renita menolak tawaran itu, tetapi pak Umam dan Bu Andini meyakinkan Renita agar mau untuk dicalonkan dalam rapat senat. Akhirnya karena merasa tidak enak, Renita bersedia untuk dicalonkan, dan perempuan itu tidak berusaha mencari nama untuk mendukungnya dalam pemilihan.
Hari pemilihan senat pemilihan WR, akhirnya dimulai. Rektor terpilih sudah koar-koar kemana-mana, untuk menjadikan calon yang memiliki suara terbanyak untuk menjadi pejabat yang telah dipilihnya. Rektor dan Tim sukses merasa yakin jika hasil pemilihan akan sesuai dengan yang sudah mereka rancangkan.
“Bu Renita mau studi lanjut S3 ya..?” sebelum naik ke multi media tempat dilaksanakannya rapat senat, rector terpilih bertanya pada Renita.
“Ya mau dong pak.., tapi belum dalam waktu dekat. Masih banyak yang harus aku persiapkan, dan menunggu anak-anakku sudah mampu mandiri berangkat dan pulang sekolah sendiri,” dengan alasan anak, Renita menunda studi lanjutnya.
“Tapi studi lanjut itu penting Bu.., nanti akan menjadi program utama periode jabatan saya, juga peningkatan
publikasi karya penelitian dosen.” Dr. Umam menambahkan.
“Hmm.. mohon doanya saja pak, yakin saja dengan mengalirnya waktu. Pada saatnya, saya juga akan ambil studi S2." Renita menanggapi perkataan Rektor terpilih dengan tersenyum.
Akhirnya semua peserta rapat senat, dan semua calon Wakil Rektor dari I, II, dan III sudah semuanya hadir dan
diminta duduk di meja paling depan. Bu kiki sebagai sekretari senat, dan Prof. Dahlan sebagai Ketua Senat memimpin jalannya rapat. Setelah beberapa saat, penjajagan pendapat peserta rapat dilakukan dengan system mencontreng seperti pemilihan Rektor.
Setelah semua peserta rapat sudah selesai mencontreng kemudian dilakukan penghitungan suara. Tenyata dari hasil penghitungan, untuk WR I dan WR III menang mutlak diperoleh pak Adi dan pak Faiz hanya selisih sekitar 5 suara. Sedangkan untuk WR II diluar prediksi dari Tim Sukses, karena Renita Kembali memenangkan jajak pendapat dengan suara 14 orang, sedangkan Antok mendapatkan 8 orang.
“Sudah selesai.., tidak perlu ditayangkan angkanya.” Antok berkomentar Ketika melihat sekretaris Senat menulis dalam font besar di layer laptop yang terhubung dengan Projector. Terlihat wajah Prof. Dahlan merah padam, seakan tidak menginginkan kemenangan ada di tangan Renita.
“Tidak apa-apa pak, untuk seru-seru saja..” Bu Mei calon WR I yang tidak terpilih menyahuti perkataan pak Antok.
“Baiklah.. mungkin tidak perlu lagi untuk kita bacakan, karena Bapak/ibu semua juga ikut menyaksikan jalannya
proses persidangan. Maka.. semua hasil kami serahkan kepada Yayasan dan Rektor terpilih, untuk ditetapkan siapa yang akan menjadi Wakil Rektor pada masa jabatan periode empat tahun ke depan. Akhirnya karena acara inti sudah terlaksana, maka pertemuan rapat senat untuk pemilihan Wakil Rektor saya tutup. Tok.. tok.. tok..” Selaku Ketua Senat, Prof. Dahlan akhirnya menyampaikan kata-katanya, dan ditutup dengan memukul meja sebanyak tiga kali.
Begitu rapat ditutup, semua peserta rapat menjadi heboh. Masing-masing orang menyalami tiga kandidat terkuat WR yang sudah terpilih. Renita menyelinap keluar, karena tidak tega ketika harus bertatapan dengan Prof.Dahlan dan Bu Kiki. Begitu juga dengan Pak Antok, laki-laki itu segera menyusul keluar Renita.
“Selamat ya Bu Renita.. benar kan kata-kataku. Tidak usah membersihkan ruangan, karena Bu Renita pasti akan tetap berada di Rektorat.” Niken menyambut kedatangan Renita dan mengucapkan kata-kata selamat.
“Hush.. bukan selamat, tetapi semoga selamat. Tidak perlu disyukuri, ini musibah. Inna lillahi wa inna Illaihi rojiun.” Sahut Renita sambil bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya.
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rancito
Loh ada ya WR msh S1,kukira minimal S2 kyk dl d kampusku, itupun sdh 20 thn yg lalu,masa skrg malah turun jenjang akademikny
2022-11-22
0