Andi dan Niken bercerita pada Pak Adi WR I jika melihat Renita keluar dari ruang sidang, dan sebelumnya bertemu pak Wawan dan Cahyono. Sebagai bentuk kepedulian pada atasannya, Andi dan Niken berusaha mencari tahu apa penyebab Renita menangis. Kedua karyawan itu memang memiliki hubungan dekat dengan Bu Renita.
"Apakah mas Andi dan mbak Niken tidak salah lihat, mungkin Bu Renita sedang kelilipan atau kemasukan debu, dan kalian berdua melihatnya menangis.” Pak Adi menyangsikan apa yang diceritakan kedua staff Rektorat itu.
“Ya Allah pak.. masak sebegitunya kami berani berbohong pada bapak. Beneran pak, tapi ustadz Wawan dan pak Cahyo tidak mau ngaku juga, ketika kami bertanya pada beliau berdua.” Niken menyahut perkataan pak Adi.
“Nanti jika bu Renita sudah ada di kursinya, aku akan tanya pada beliau. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya
kemarin.” Akhirnya pak Adi menyanggupi untuk konfirmasi dengan Renita.
“Sip pak WR I, begitu dong. Bu Renita saja empatinya bagus kok, ada apa-apa saja pada diri karyawan, selalu menjadi yang pertama untuk peduli. Masa Ketika beliau ada masalah, kita pura-pura tidak tahu, malah mengabaikannya.” kembali Niken menambahkan.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba Renita memasuki ruang kerjanya, dan terlihat jelas oleh pak Adi karena ruang mereka kebetulan berdampingan, dan hanya diberi pembatas sekat kaca.
“Baru muncul bu.., sejak tadi kita cari-cari je.. mbak Niken dan mas Andi sudah menanyakan sejak tadi.” dengan berbasa basi, WR I menyapa Renita.
“Sudah sejak tadi pagi, aku ada di prodi pak. Ambil jadwal kuliah..” Renita menjawab pertanyaan pak Adi, dan terdengar seperti tidak ada masalah yang sedang dihadapinya.
Andi dan Niken memberi kode pada WR I untuk menanyakan permasalahan kemarin siang di ruang sidang. WR I tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian..
“Bu WR II yang terhormat, bolehkan kami bertiga melakukan konfirmasi pada bu Renita..” sambil bercanda, WR I mengajukan pertanyaan.
Renita menghentikan aktivitas, kemudian perempuan itu menggeser kursi kemudian duduk berhadapan dengan ruang kerja WR I, meskipun masih terhalang sekat. Niken dan Andi kemudian memposisikan duduk mereka. Tidak lama kemudian..
“Bu Ren.. sebenarnya kami merasa heran itu sejak kemarin siang, dan ingin segera melakukan konfirmasi dengan Bu Renita. Apakah tanpa sengaja, kami telah menyalahi atau menyakiti bu Ren.. sampai waktu siang hari, ibu keluar dari ruang sidang sambil menangis.” dengan tertata, Pak Adi mengajukan pertanyaan pada Renita.
“Gimana ya pak saya harus bercerita.Jujur pak.. saya malu, karena seperti aib untuk saya pak. Di era seperti ini, era teknologi, masa masih ada orang yang menyelesaikan masalah dengan adu pendapat secara langsung, tetapi menggunakan jasa ghaib dengan mengirim santet pada lawan yang dianggap pesaingnya.” Ketiga orang itu terkejut dan saling berpandangan, mendengar jawaban yang keluar dari mulut Renita.
"Sebentar.. sebentar.. sebenarnya apa maksud perkataan bu Ren..? Kita malah menjadi bingung, jika bu Ren bersedia ceritakan pada kami dengan jelas, siapa tahu kami bisa membantunya.” Perasaan ingin tahu semakin membuncah pada ketiga orang itu.
Renita kemudian menceritakan apa yang terjadi padanya, yang dirasakannya, sampai pada pengambilan media oleh Cahyono,dengan Wawan sebagai saksinya.
“Sabar bu.. saya percaya dengan apa yang dialami bu Renita. Nabi Muhammad junjungan kita saja, bisa terkena santet yang dimasukkan di sumur tempat mencari air minum. Apalagi kita sebagai manusia biasa, juga tidak akan terhindar dari hal demikian. Hanya saran saya bu.., tidak perlulah untuk mencari tahu siapa yang mengirimkan, tapi bu Ren berupaya untuk meningkatkan imun bu Renita sendiri. Jangan sampai lemah dan lengah..” ternyata di luar dugaan, WR I yang terlihat alim mempercayai apa yang diceritakan oleh Renita,
“Tapi kok kemarin ada pak Cahyo juga bu, juga pak Wawan.” Niken menambahkan.
“Iya mbak, sebenarnya aku menghubungi pak Cahyo untuk membuatkan janji dengan pemilik pondok pesantren di lereng Gunung Andong untuk membersihkan badanku. Tetapi ternyata pak Cahyo bisa melakukannya, jadi kemarin itu aku dibersihkan di ruang sidang. Keberadaan pak Wawan memang aku minta, untuk menjadi saksi saja.” Renita menjelaskan.
Akhirnya tanpa sengaja teman-teman di Rektorat, mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Renita. Sejujurnya WR I juga merasakan ada hal aneh selama dia mengantor di Gedung A, makanya setiap kali laki-laki itu datang dan duduk di ruangan, selalu mengawalinya dengan membaca Al Qur.an. Kemudian setiap habis Ashar, kembali WR I akan mengaji.
*****
Hari-hari selanjutnya, Renita tetap menjalani pekerjaan dan menyelesaikan semua pekerjaan seperti biasa. Kejadian yang dialaminya, tidak membuat perempuan itu kemudian merasa takut untuk memperjuangkan nasib para karyawan, tetapi malah memotivasinya untuk menyuarakan hak-hak karyawan, baik tetap maupun honorer. Untuk tidak menimbulkan multi tafsir, Renita memberi tahu apa yang dialaminya pada WR III dan juga kepada Rektor. Keduanya terhenyak, tetapi hanya bisa turut merasakan prihatin.
Gangguan serangan fisik belum kemudian berakhir, tetapi jika terjadi keanehan pada tubuhnya. Renita langsung menelpon Cahyono. Laki-laki itu akan memberikan bantuan penyembuhan dari rumahnya di Grabag, Magelang. Untuk itu, Renita tidak merasa takut sedikitpun. Hanya saja jika tiba-tiba ada penyakit yang muncul, kepanikan dan rasa was was menghantui Renita. Padahal sebagai korban santet, sebenarnya Renita harus menghilangkan rasa panik, was was, atau ketakutan, karena menjadi titik terlemah manusia sehingga jin dengan mudah merasukinya.
“Bu Ren.. jika ibu mau, setiap habis sholat bu renita bisa membaca Al fatehah sebanyak 10 kali, dilanjutkan dengan
sholawat tibbil qullubi sebanyak 11 kali, Itu untuk membentuk benteng pertahanan pada diri bu Renita..” lewat kiriman chat di wa, Cahyono memberi amalan pada Renita.
“Iya mas, nanti Inshaa Allah saya amalkan setiap habis sholat mas..” Renita menyanggupi untuk melakukan permintaan itu, karena Cahyono juga menyertakan tulisan latinnya, sehingga mudah untuk menghapalkannya.
“Baik bu itu saja, jika terjadi apa-apa kabari saya saja bu. Kapanpun, Inshaa Allah saya akan membantu bu Renita., meskipun itu malam hari. Bismillahi ladzi la yadhurru maasmihi saeun fil ardhi walla fissama’I wahuwas samiul alim, juga bisa sering diucapkan bu, terutama jika bertemu dengan orang yang Ibu curigai.” Cahyono menambahkan.
“Okay mas, terima kasih banget lho ya. Saya tidak bisa membalas apa-apa pada mas Cahyo sekeluarga, Hanya titip salam untuk mas Suryo dan keluarga, juga bapak dan ibu ya mas..”
Hanya ucapan terima kasih yang kembali Renita sampaikan pada laki-laki itu. Untungnya saja, hubungan keluarga Renita dengan keluarga kakak kandungnya Cahyono sudah seperti saudara kandung, sehingga mengurangi rasa tidak enak pada perempuan itu. Suryo kakaknya Cahyono, juga mewanti-wanti semua anggota keluarganya, untuk tidak berpikir yang tidak-tidak tentang hubungannya dengan keluarga Renita.
*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments