Chapter 19 Merasa Seperti Aib

Andi dan Niken bercerita pada Pak Adi WR I jika melihat Renita keluar dari ruang sidang, dan sebelumnya bertemu pak Wawan dan Cahyono. Sebagai bentuk kepedulian pada atasannya, Andi dan Niken berusaha mencari tahu apa penyebab Renita menangis. Kedua karyawan itu memang memiliki hubungan dekat dengan Bu Renita.

"Apakah mas Andi dan mbak Niken tidak salah lihat, mungkin Bu Renita sedang kelilipan atau kemasukan debu, dan kalian berdua melihatnya menangis.” Pak Adi menyangsikan apa yang diceritakan kedua staff Rektorat itu.

“Ya Allah pak.. masak sebegitunya kami berani berbohong pada bapak. Beneran pak, tapi ustadz Wawan dan pak Cahyo tidak mau ngaku juga, ketika kami bertanya pada beliau berdua.” Niken menyahut perkataan pak Adi.

“Nanti jika bu Renita sudah ada di kursinya, aku akan tanya pada beliau. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya

kemarin.” Akhirnya pak Adi menyanggupi untuk konfirmasi dengan Renita.

“Sip pak WR I, begitu dong. Bu Renita saja empatinya bagus kok, ada apa-apa saja pada diri karyawan, selalu menjadi yang pertama untuk peduli. Masa Ketika beliau ada masalah, kita pura-pura tidak tahu, malah mengabaikannya.” kembali Niken menambahkan.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba Renita memasuki ruang kerjanya, dan terlihat jelas oleh pak Adi karena ruang mereka kebetulan berdampingan, dan hanya diberi pembatas sekat kaca.

“Baru muncul bu.., sejak tadi kita cari-cari je.. mbak Niken dan mas Andi sudah menanyakan sejak tadi.” dengan berbasa basi, WR I menyapa Renita.

“Sudah sejak tadi pagi, aku ada di prodi pak. Ambil jadwal kuliah..” Renita menjawab pertanyaan pak Adi, dan terdengar seperti tidak ada masalah yang sedang dihadapinya.

Andi dan Niken memberi kode pada WR I untuk menanyakan permasalahan kemarin siang di ruang sidang. WR I tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian..

“Bu WR II yang terhormat, bolehkan kami bertiga melakukan konfirmasi pada bu Renita..” sambil bercanda, WR I mengajukan pertanyaan.

Renita menghentikan aktivitas, kemudian perempuan itu menggeser kursi kemudian duduk berhadapan dengan ruang kerja WR I, meskipun masih terhalang sekat. Niken dan Andi kemudian memposisikan duduk mereka. Tidak lama kemudian..

“Bu Ren.. sebenarnya kami merasa heran itu sejak kemarin siang, dan ingin segera melakukan konfirmasi dengan Bu Renita. Apakah tanpa sengaja, kami telah menyalahi atau menyakiti bu Ren.. sampai waktu siang hari, ibu keluar dari ruang sidang sambil menangis.” dengan tertata, Pak Adi mengajukan pertanyaan pada Renita.

“Gimana ya pak saya harus bercerita.Jujur pak.. saya malu, karena seperti aib untuk saya pak. Di era seperti ini, era teknologi, masa masih ada orang yang menyelesaikan masalah dengan adu pendapat secara langsung, tetapi menggunakan jasa ghaib dengan mengirim santet pada lawan yang dianggap pesaingnya.” Ketiga orang itu terkejut dan saling berpandangan, mendengar jawaban yang keluar dari mulut Renita.

"Sebentar.. sebentar.. sebenarnya apa maksud perkataan bu Ren..? Kita malah menjadi bingung, jika bu Ren bersedia ceritakan pada kami dengan jelas, siapa tahu kami bisa membantunya.” Perasaan ingin tahu semakin membuncah pada ketiga orang itu.

Renita kemudian menceritakan apa yang terjadi padanya, yang dirasakannya, sampai pada pengambilan media oleh Cahyono,dengan Wawan sebagai saksinya.

“Sabar bu.. saya percaya dengan apa yang dialami bu Renita. Nabi Muhammad junjungan kita saja, bisa terkena santet yang dimasukkan di sumur tempat mencari air minum. Apalagi kita sebagai manusia biasa, juga tidak akan terhindar dari hal demikian. Hanya saran saya bu.., tidak perlulah untuk mencari tahu siapa yang mengirimkan, tapi bu Ren berupaya untuk meningkatkan imun bu Renita sendiri. Jangan sampai lemah dan lengah..” ternyata di luar dugaan, WR I yang terlihat alim mempercayai apa yang diceritakan oleh Renita,

“Tapi kok kemarin ada pak Cahyo juga bu, juga pak Wawan.” Niken menambahkan.

“Iya mbak, sebenarnya aku menghubungi pak Cahyo untuk membuatkan janji dengan pemilik pondok pesantren di lereng Gunung Andong untuk membersihkan badanku. Tetapi ternyata pak Cahyo bisa melakukannya, jadi kemarin itu aku dibersihkan di ruang sidang. Keberadaan pak Wawan memang aku minta, untuk menjadi saksi saja.” Renita menjelaskan.

Akhirnya tanpa sengaja teman-teman di Rektorat, mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Renita. Sejujurnya WR I juga merasakan ada hal aneh selama dia mengantor di Gedung A, makanya setiap kali laki-laki itu datang dan duduk di ruangan, selalu mengawalinya dengan membaca Al Qur.an. Kemudian setiap habis Ashar, kembali WR I akan mengaji.

*****

Hari-hari selanjutnya, Renita tetap menjalani pekerjaan dan menyelesaikan semua pekerjaan seperti biasa. Kejadian yang dialaminya, tidak membuat perempuan itu kemudian merasa takut untuk memperjuangkan nasib para karyawan, tetapi malah memotivasinya untuk menyuarakan hak-hak karyawan, baik tetap maupun honorer. Untuk tidak menimbulkan multi tafsir, Renita memberi tahu apa yang dialaminya pada WR III dan juga kepada Rektor. Keduanya terhenyak, tetapi hanya bisa turut merasakan prihatin.

Gangguan serangan fisik belum kemudian berakhir, tetapi jika terjadi keanehan pada tubuhnya. Renita langsung menelpon Cahyono. Laki-laki itu akan memberikan bantuan penyembuhan dari rumahnya di Grabag, Magelang. Untuk itu, Renita tidak merasa takut sedikitpun. Hanya saja jika tiba-tiba ada penyakit yang muncul, kepanikan dan rasa was was menghantui Renita. Padahal sebagai korban santet, sebenarnya Renita harus menghilangkan rasa panik, was was, atau ketakutan, karena menjadi titik terlemah manusia sehingga jin dengan mudah merasukinya.

“Bu Ren.. jika ibu mau, setiap habis sholat bu renita bisa membaca Al fatehah sebanyak 10 kali, dilanjutkan dengan

sholawat tibbil qullubi sebanyak 11 kali, Itu untuk membentuk benteng pertahanan pada diri bu Renita..” lewat kiriman chat di wa, Cahyono memberi amalan pada Renita.

“Iya mas, nanti Inshaa Allah  saya amalkan setiap habis sholat mas..” Renita menyanggupi untuk melakukan permintaan itu, karena Cahyono juga menyertakan tulisan latinnya, sehingga mudah untuk menghapalkannya.

“Baik bu itu saja, jika terjadi apa-apa kabari saya saja bu. Kapanpun, Inshaa Allah saya akan membantu bu Renita., meskipun itu malam hari. Bismillahi ladzi la yadhurru maasmihi saeun fil ardhi walla fissama’I wahuwas samiul alim, juga bisa sering diucapkan bu, terutama jika bertemu dengan orang yang Ibu curigai.” Cahyono menambahkan.

“Okay mas, terima kasih banget lho ya. Saya tidak bisa membalas apa-apa pada mas Cahyo sekeluarga, Hanya titip salam untuk mas Suryo dan keluarga, juga bapak dan ibu ya mas..”

Hanya ucapan terima kasih yang kembali Renita sampaikan pada laki-laki itu. Untungnya saja, hubungan keluarga Renita dengan keluarga kakak kandungnya Cahyono sudah seperti saudara kandung, sehingga mengurangi rasa tidak enak pada perempuan itu. Suryo kakaknya Cahyono, juga mewanti-wanti semua anggota keluarganya, untuk tidak berpikir yang tidak-tidak tentang hubungannya dengan keluarga Renita.

*********

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!