Chapter 3 Pelantikan

Satu minggu sebelum keberangkatan Prof. Dahlan untuk melaksanakan ibadah umroh, pengukuhan Renita sebagai Wakil Rektor Bidang 2 dilaksanakan di auditorium, dengan menghadirkan dari pihak Yayasan, dan semua anggota senat. Selain itu pejabat WR 2 yang lama juga dihadirkan untuk melakukan serah terima jabatan. Acara demi acara dimulai dengan penuh kekhidmatan, dan sebelum Renita dikukuhkan, Prof. Dahlan selaku Ketua Senat menyampaikan beberapa patah kata.

“Yang terhormat Bapak Pembina, Pengurus dan Pembina Yayasan, dan anggota senat semuanya. Rapat senat kali ini diadakan secara mendadak, karena berkaitan dengan pengunduran diri dari bapak Leo Sinatra dari jabatannya, dengan alasan untuk focus pada penyelesaian studi S3 nya. Untuk itu, karena pergantian dilakukan hanya secara antar waktu, maka setelah berkomunikasi dengan calon terpilih, saya sebagai Rektor memutuskan untuk mengangkat Ibu Renita Cahyaningsih untuk menduduki jabatan tersebut. Saya harap pak Leo Sinatra untuk menyampaikan sendiri beberapa patah kata pengunduran dirinya.” Ucap Rektor selaku Ketua Senat menyampaikan maksud diadakannya rapat tersebut.

Para anggota senat seketika menjadi ribut, mereka kasak kusuk sendiri berusaha mencari tahu dan membicarakan keadaan yang sedang terjadi. Duduk di kursi yang ada di sayap utara, terlihat Renita tidak dapat mengendalikan emosinya. Perempuan itu tidak dapat menahan dan menghentikan air mata yang sejak tadi menetes dan membasahi pipinya. Duduk di sebelahnya, Dekan FST sejak tadi menghibur dan menenangkan perempuan itu.

“Apakah mungkin rapat hari ini sudah diskenario, sejak dulu Prof. Dahlan, Bu Renita, dan Bu Kiki mereka kan

berada dalam satu kubu, Mungkin saja mereka menindas pak Leo agar mengundurkan dirinya.” Gunawan memberikan komentarnya.

“Jangan suka su’udzon.. lihatlah kesedihan yang saat ini dialami Bu Renita, sepertinya perempuan itu tidak berkenan untuk diminta menggantikan pak Leo.” Iin menimpali. Sebagai orang tua, Iin memang selalu berhati-hati dalam membuat statement.

“Huh.. bisa jadi itu kamuflase saja. Menurutku bu Renita lebih bisa diterima oleh warga Universitas, dari kalangan bawah sampai kalangan atas, perform Bu Renita tidak diragukan lagi. Bahkan mahasiswa juga memiliki hubungan akrab dengan beliau. Dengan jadinya Bu Renita, akan bisa menopang kans buruk Prof. Dahlan dan Kiki selama ini. He.. he.., kalau aku sih, kasihan bu Renitanya..” dari samping, Zakaria ikut berkomentar.

Anggota senat peserta rapat membuat asumsi sendiri berdasarkan penilaian mereka masing-masing. Tiba-tiba

pak Leo selaku Wakil Rektor II yang mengundurkan diri, tiba-tiba berjalan ke podium dan memegang microphone. Ruangan rapat Kembali terlihat sepi, semua perhatian terfokus pada laki-laki itu.

“Assalamu alaikum, Bapak Ketua Pembina, Pengurus, dan Pengawas Yayasan, serta ketua Senat dan para anggota senat yang saya hormati. Ijin menegaskan Kembali apa yang sudah disampaikan oleh Bapak Rektor, yang sekaligus sebagai Ketua Senat perihal pengunduran diri saya. Hal itu saya lakukan karena saya akan focus pada penyelesaian studi saya. Kepada Ibu Dewi, dan anggota senat yang dahulu sudah memilih saya, mohon maaf

saya tidak bisa menyelesaikan Amanah sesuai dengan masa jabatan di universitas ini. Sekian terima kasih.” Dengan suara serak menahan tangis, pak Leo menyampaikan penegasannya. Ruang rapat Kembali hening.

“Baiklah barusan kita semua sudah mendengarkan kata-kata tentang pengunduran diri dari Bapak Leo. Apakah dari

pihak Yayasan ada yang mau menyampaikan pendapat.” Ketua Senat meminta pendapat dari pihak Yayasan.

“Menurut saya tidak perlu lagi ada penyampaian pendapat. Jika memang Bapak Rektor yang juga sekaligus Ketua Senat sudah menginginkan Ibu Renita untuk menggantikan Bapak Leo, ya sudah dilanjutkan saja pelantikannya. Tidak perlu lagi ada permintaan pendapat.” Tiba-tiba pak Tomm dari pengurus Yayasan menyampaikan pendapatnya.

“Terima kasih Bapak Ketua 2 Yayasan, jika begitu akan segera kita lanjutkan pelantikan. Saya mohon ibu Renita dan pak Leo menuju ke depan untuk menanda tangani surat serah terima jabatan.” Dengan tegas, Ketua Senat langsung memutuskan.

Acara seremoni segera dilanjutkan, dan hamper semua peserta rapat tidak dapat menahan air mata mereka. Hal itu dipicu oleh Renita yang sejak berjalan ke depan, sampai penanda tanganan berkas, terus menangis tidak dapat menahan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.

******

Kiki selaku Wakil Rektor 1 masuk ke ruang Rektor tanpa mengetuk pintu. Prof. Dahlan yang sedang membaca dan

mereview surat-surat yang masuk, menengadahkan wajah memandang perempuan itu. Tanpa menunggu dipersilakan, Kiki langsung duduk di depan meja Prof. Dahlan.

“Kenapa Bapak tidak membicarakan hal ini terlebih dulu kepada saya. Orang-orang pasti berpikir, jika saya adalah

orang yang ada di belakang pelantikan ini. Bapak kan paham, bagaimana hubungan kedekatan saya dengan Bu Renita..?” tanpa control, Kiki menyampaikan emosinya pada laki-laki itu.

Kedua orang itu memiliki hubungan yang dekat, bukan hanya sebagai Rektor dan Wakil Rektor. Namun keduanya

memiliki kedekatan hubungan emosional. Bahkan di Universitas ini, keduanya digosipkan menjalin hubungan perselingkuhan  dari pasangan mereka masing-masing. Namun karena tidak ada protes dari pasangan masing-masing, akhirnya pihak Yayasan mengabaikan beredarnya gossip tersebut.

“Untuk apa kita berbicara tentang pikiran orang lain. Memang kondisinya demikian. Mungkin jika pak Leo hanya

menyampaikan surat pengunduran ini pada saya saja, masih bisa untuk diselamatkan. Tetapi tanpa koordinasi, pak Leo sudah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Yayasan. Ya sudah.. lebih baik langsung saya gantikan

dengan Bu Renita.” Sahut Prof. Dahlan berusaha menjelaskan.

“Tetapi paling tidak, Bapak diskusi dulu dengan saya. Kita sama-sama pikirkan solusi terbaik untuk masalah

ini.” Kiki langsung nyerocos memotong perkataan Prof. Dahlan.

“Sebentar, sebentar.. memangnya bu Kiki ada masalah apa dengan bu Renita. Bukannya kalian ini satu tim, sering

terlibat dalam task force bareng. Kenapa kali ini, bu Kiki malah menolaknya. Sudah.. saya tidak mau debat lagi, kita juga sama-sama tahu bagaimana dedikasi dan kinerja bu Renita.” Dengan cepat Prof. Dahlan mengakhiri pembicaraan.

“Saya juga pernah memangku jabatan sambil studi S3 pak, buktinya saya bisa menjalankan peran saya dengan

merangkap tiga jabatan sekaligus dengan baik dan tanpa cela bukan.” Tanpa sadar, Kiki malah menyombongkan dirinya.

“Masing-masing orang itu memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing Bu. Jangan suka membanding-bandingkan dengan kondisi orang lain. Sudah jangan ganggu saya lagi.. kerjaan saya masih menumpuk ini.” Prof. Dahlan Kembali menutup diskusi.

Laki-laki itu kembali memfokuskan diri pada tumpukan berkas di depannya, dan mengabaikan posisi Bu Kiki di

ruangan itu. Tanpa pamit dan sepatah kata sedikitpun, Bu Kiki berdiri kemudian berjalan meninggalkan kursi di ruangan rector.

“Blam..” dengan suara keras, tanpa sadar Bu Kiki membanting pintu ruangan kerja Rektor.

Petugas administrasi Rektorat mas Andi dan mbak Niken kaget, mereka saling memandang. Tetapi melihat bu Kiki yang tanpa menyapanya segera masuk ke ruangan, mereka tidak mau memberikan komentar sedikitpun. Hanya saling Mengerti dan saling memahami.

******

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!