Satu minggu sebelum keberangkatan Prof. Dahlan untuk melaksanakan ibadah umroh, pengukuhan Renita sebagai Wakil Rektor Bidang 2 dilaksanakan di auditorium, dengan menghadirkan dari pihak Yayasan, dan semua anggota senat. Selain itu pejabat WR 2 yang lama juga dihadirkan untuk melakukan serah terima jabatan. Acara demi acara dimulai dengan penuh kekhidmatan, dan sebelum Renita dikukuhkan, Prof. Dahlan selaku Ketua Senat menyampaikan beberapa patah kata.
“Yang terhormat Bapak Pembina, Pengurus dan Pembina Yayasan, dan anggota senat semuanya. Rapat senat kali ini diadakan secara mendadak, karena berkaitan dengan pengunduran diri dari bapak Leo Sinatra dari jabatannya, dengan alasan untuk focus pada penyelesaian studi S3 nya. Untuk itu, karena pergantian dilakukan hanya secara antar waktu, maka setelah berkomunikasi dengan calon terpilih, saya sebagai Rektor memutuskan untuk mengangkat Ibu Renita Cahyaningsih untuk menduduki jabatan tersebut. Saya harap pak Leo Sinatra untuk menyampaikan sendiri beberapa patah kata pengunduran dirinya.” Ucap Rektor selaku Ketua Senat menyampaikan maksud diadakannya rapat tersebut.
Para anggota senat seketika menjadi ribut, mereka kasak kusuk sendiri berusaha mencari tahu dan membicarakan keadaan yang sedang terjadi. Duduk di kursi yang ada di sayap utara, terlihat Renita tidak dapat mengendalikan emosinya. Perempuan itu tidak dapat menahan dan menghentikan air mata yang sejak tadi menetes dan membasahi pipinya. Duduk di sebelahnya, Dekan FST sejak tadi menghibur dan menenangkan perempuan itu.
“Apakah mungkin rapat hari ini sudah diskenario, sejak dulu Prof. Dahlan, Bu Renita, dan Bu Kiki mereka kan
berada dalam satu kubu, Mungkin saja mereka menindas pak Leo agar mengundurkan dirinya.” Gunawan memberikan komentarnya.
“Jangan suka su’udzon.. lihatlah kesedihan yang saat ini dialami Bu Renita, sepertinya perempuan itu tidak berkenan untuk diminta menggantikan pak Leo.” Iin menimpali. Sebagai orang tua, Iin memang selalu berhati-hati dalam membuat statement.
“Huh.. bisa jadi itu kamuflase saja. Menurutku bu Renita lebih bisa diterima oleh warga Universitas, dari kalangan bawah sampai kalangan atas, perform Bu Renita tidak diragukan lagi. Bahkan mahasiswa juga memiliki hubungan akrab dengan beliau. Dengan jadinya Bu Renita, akan bisa menopang kans buruk Prof. Dahlan dan Kiki selama ini. He.. he.., kalau aku sih, kasihan bu Renitanya..” dari samping, Zakaria ikut berkomentar.
Anggota senat peserta rapat membuat asumsi sendiri berdasarkan penilaian mereka masing-masing. Tiba-tiba
pak Leo selaku Wakil Rektor II yang mengundurkan diri, tiba-tiba berjalan ke podium dan memegang microphone. Ruangan rapat Kembali terlihat sepi, semua perhatian terfokus pada laki-laki itu.
“Assalamu alaikum, Bapak Ketua Pembina, Pengurus, dan Pengawas Yayasan, serta ketua Senat dan para anggota senat yang saya hormati. Ijin menegaskan Kembali apa yang sudah disampaikan oleh Bapak Rektor, yang sekaligus sebagai Ketua Senat perihal pengunduran diri saya. Hal itu saya lakukan karena saya akan focus pada penyelesaian studi saya. Kepada Ibu Dewi, dan anggota senat yang dahulu sudah memilih saya, mohon maaf
saya tidak bisa menyelesaikan Amanah sesuai dengan masa jabatan di universitas ini. Sekian terima kasih.” Dengan suara serak menahan tangis, pak Leo menyampaikan penegasannya. Ruang rapat Kembali hening.
“Baiklah barusan kita semua sudah mendengarkan kata-kata tentang pengunduran diri dari Bapak Leo. Apakah dari
pihak Yayasan ada yang mau menyampaikan pendapat.” Ketua Senat meminta pendapat dari pihak Yayasan.
“Menurut saya tidak perlu lagi ada penyampaian pendapat. Jika memang Bapak Rektor yang juga sekaligus Ketua Senat sudah menginginkan Ibu Renita untuk menggantikan Bapak Leo, ya sudah dilanjutkan saja pelantikannya. Tidak perlu lagi ada permintaan pendapat.” Tiba-tiba pak Tomm dari pengurus Yayasan menyampaikan pendapatnya.
“Terima kasih Bapak Ketua 2 Yayasan, jika begitu akan segera kita lanjutkan pelantikan. Saya mohon ibu Renita dan pak Leo menuju ke depan untuk menanda tangani surat serah terima jabatan.” Dengan tegas, Ketua Senat langsung memutuskan.
Acara seremoni segera dilanjutkan, dan hamper semua peserta rapat tidak dapat menahan air mata mereka. Hal itu dipicu oleh Renita yang sejak berjalan ke depan, sampai penanda tanganan berkas, terus menangis tidak dapat menahan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
******
Kiki selaku Wakil Rektor 1 masuk ke ruang Rektor tanpa mengetuk pintu. Prof. Dahlan yang sedang membaca dan
mereview surat-surat yang masuk, menengadahkan wajah memandang perempuan itu. Tanpa menunggu dipersilakan, Kiki langsung duduk di depan meja Prof. Dahlan.
“Kenapa Bapak tidak membicarakan hal ini terlebih dulu kepada saya. Orang-orang pasti berpikir, jika saya adalah
orang yang ada di belakang pelantikan ini. Bapak kan paham, bagaimana hubungan kedekatan saya dengan Bu Renita..?” tanpa control, Kiki menyampaikan emosinya pada laki-laki itu.
Kedua orang itu memiliki hubungan yang dekat, bukan hanya sebagai Rektor dan Wakil Rektor. Namun keduanya
memiliki kedekatan hubungan emosional. Bahkan di Universitas ini, keduanya digosipkan menjalin hubungan perselingkuhan dari pasangan mereka masing-masing. Namun karena tidak ada protes dari pasangan masing-masing, akhirnya pihak Yayasan mengabaikan beredarnya gossip tersebut.
“Untuk apa kita berbicara tentang pikiran orang lain. Memang kondisinya demikian. Mungkin jika pak Leo hanya
menyampaikan surat pengunduran ini pada saya saja, masih bisa untuk diselamatkan. Tetapi tanpa koordinasi, pak Leo sudah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Yayasan. Ya sudah.. lebih baik langsung saya gantikan
dengan Bu Renita.” Sahut Prof. Dahlan berusaha menjelaskan.
“Tetapi paling tidak, Bapak diskusi dulu dengan saya. Kita sama-sama pikirkan solusi terbaik untuk masalah
ini.” Kiki langsung nyerocos memotong perkataan Prof. Dahlan.
“Sebentar, sebentar.. memangnya bu Kiki ada masalah apa dengan bu Renita. Bukannya kalian ini satu tim, sering
terlibat dalam task force bareng. Kenapa kali ini, bu Kiki malah menolaknya. Sudah.. saya tidak mau debat lagi, kita juga sama-sama tahu bagaimana dedikasi dan kinerja bu Renita.” Dengan cepat Prof. Dahlan mengakhiri pembicaraan.
“Saya juga pernah memangku jabatan sambil studi S3 pak, buktinya saya bisa menjalankan peran saya dengan
merangkap tiga jabatan sekaligus dengan baik dan tanpa cela bukan.” Tanpa sadar, Kiki malah menyombongkan dirinya.
“Masing-masing orang itu memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing Bu. Jangan suka membanding-bandingkan dengan kondisi orang lain. Sudah jangan ganggu saya lagi.. kerjaan saya masih menumpuk ini.” Prof. Dahlan Kembali menutup diskusi.
Laki-laki itu kembali memfokuskan diri pada tumpukan berkas di depannya, dan mengabaikan posisi Bu Kiki di
ruangan itu. Tanpa pamit dan sepatah kata sedikitpun, Bu Kiki berdiri kemudian berjalan meninggalkan kursi di ruangan rector.
“Blam..” dengan suara keras, tanpa sadar Bu Kiki membanting pintu ruangan kerja Rektor.
Petugas administrasi Rektorat mas Andi dan mbak Niken kaget, mereka saling memandang. Tetapi melihat bu Kiki yang tanpa menyapanya segera masuk ke ruangan, mereka tidak mau memberikan komentar sedikitpun. Hanya saling Mengerti dan saling memahami.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments