Situasi menegangkan terjadi di ruang rapat Ketika Rektor berbicara menyampaikan pendapatnya. WR I turut menambahi dan memperkuat pernyataan yang disampaikan oleh Rektor. Ketua Tim Penyusun yang sebenarnya merupakan orang dekat Rektor dan WR I tidak dapat berkutik, mendapatkan protes dari kedua petinggi di Universitas itu.
“Jika begitu.., mungkin kita bisa mengambil win win solution yang bisa mengakomodir kepentingan kita bersama,” WR II yang dalam hal ini merasa berada dalam persimpangan akhirnya menambahkan. Satu sisi di Universitas Renita sebagai wakil Rektor yang harus taat dan tunduk kepada Rektor. Tetapi di satu sisi, saat ini dirinya sebagai
anggota Tim Penyusun yang harus mempertahankan konsep yang telah disusunnya bersama dengan anggota Tim lainnya.
“Win win solution yang bagaimana, bu WR II bisa lebih menjelaskannya.” Wakil ketua pengurus dengan nada sinis,
menanggapi perkataan WR II.
“Maksud saya begini pak, karena di Lembaga kita terdiri dari tiga kelompok pegawai yaitu tetap Yayasan, DPK, dan
honorer. Kita tidak boleh hanya berpihak pada salah satu saja. Jika pegawai tetap Yayasan kita berikan pension, maka pegawai honorer dan DPK kita perlu lanjutkan pemberian DPLK seperti yang sudah kita jalankan. Sedangkan pegawai tetap Yayasan, iurannya kita hentikan.” Renita menyampaikan usulannya.
“Tetapi apa yang disampaikan bu WR II itu seimbang tidak..?” Prof. Dahlan mengejar dengan pertanyaan,
“Maksud seimbang yang bapak katakan itu dari sisi yang mana, Dosen DPK di perguruan tinggi ini, bukannya mereka ditempatkan, dan jika tidak memiliki tempat maka semua pendapatannya juga akan ditinjau ulang oleh pemerintah. Tetapi untuk pegawai Yayasan, siapa yang akan memikirkan pak, jika bukan kita sendiri yang memiliki inisiatif.” Sekretaris Yayasan menanggapi perkataan Rektor dengan nada sarkasme,
Perdebatan terus terjadi di sepanjang rapat. Padahal jika dilakukan voting, Rektor dan WR I akan kalah karena semua pengurus Yayasan, Tim Penyusun juga WR III menyepakati apa yang telah disusun oleh Tim. Sampai hari menjelang siang, belum juga diputuskan kebijakan mana yang akan diambil.
“Sekarang saya harus bicara untuk menetapkan keputusan. Perlu kita ingat jika keputusan tertinggi Lembaga kita
adalah di tangan kami pengurus Yayasan. Jika Rektor dan WR I sepakat tidak setuju, semua akan berakhir dengan keluarnya SK dari Yayasan. Karena Kamilah yang memiliki hak untuk menetapkannya. Diskusi ini tidak akan berakhir sampai malam hari sekalipun, jika tidak kita ambil keputusan ini.” Merasa jengkel dengan perdebatan yang semakin berlarut, Ketua Pengurus Yayasan akhirnya berbicara.
“Tidak bisa begitu juga dong pak.. itu namanya otoriter..” dengan tegas dan berani, WR I berbicara.
“Otoriter.. apa maksud perkataan bu Kiki selaku WR I. Seharusnya sebagai seorang pemimpin, Bu Kiki itu turut
berpikir bagaimana mensejahterakan pegawai, bukannya malah menghalangi kebijakan.” Ketua pengurus Yayasan tersulut emosi, dan berbicara keras pada WR I.
Rektor mengacungkan jari ingin memperkuat pernyataan WR I, tetapi moderator dan Ketua pengurus Yayasan tidak
memberi kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan pendapatnya. Akhirnya bagaimana hasil dari keputusan akhir, akan ditetapkan dengan SK yang diterbitkan oleh yayasan, Dengan wajah memerah karena menahan rasa marah, Rektor segera berjalan Kembali menuju Rektorat dengan ditemani oleh WR I.
“ Bu Renita.. ayo kita Kembali ke Rektorat..” pak Jatmiko WR III mengajak Renita untuk kembali bersama-sama
menuju Rektorat.
“Mari pak..” akhirnya WR III dan WR II berjalan Bersama. Di belakang keduanya, tampak para WD II dan Kepala Biro Keuangan mengikuti mereka di belakangnya.
******
Pada pukul 14.00, Renita yang sudah bersiap untuk berangkat pulang didatangi Andi di ruangannya. Renita
menghentikan aktivitasnya, kemudian menoleh kepada Andi yang duduk di depan meja kerjanya.
“Ada apa An..” dengan suara lembut, Renita bertanya pada laki-laki itu.
“Bu Ren mau kemana.. Saya diutus pak Rektor untuk memanggil Bu Renita agar datang ke ruangan Rektor.” Dengan wajah kurang enak, Andi menyampaikan pesan dari Rektor.
“Mmmm apakah ada pesan sponsor mas.. kalau tidak , yah.. alamat mendapat omelan nih..” sambil tersenyum pahit, Renita bertanya pada Andi.
“Tidak tahu je bu.. tapi sepertinya sih kurang bagus. Karena tadi aku dan Niken melihat ekspresi wajah beliau tidak
enak dilihat. Apakah ada sesuatu dalam rapat tadi bu..”Andi menceritakan ekspresi rector.
“Ya sudahlah mas.. dimarahi ya didengarkan saja..” Renita kemudian berdiri, dan Andi keluar duluan. Perempuan itu memang selalu memandang setiap masalah dengan kepala dingin.
Renita tidak melihat keberadaan para wakil rector lainnya. Memang bisa dipastikan, jika Rektor memanggil WR II,
pasti WR I akan pergi terlebih dahulu. Sepertinya sudah diatur oleh mereka berdua, agar tidak menimbulkan multi tafsir. Dengan pikiran penuh pertanyaan, Renita mengetuk pintu ruang kerja Rektor.
“Masuk..” nada suara yang tidak enak mempersilakan Renita masuk.
Perempuan itu segera mendorong pintu, kemudian menutup Kembali pintu secara perlahan. Tanpa menunggu di persilakan duduk, Renita duduk di depan meja kerja Prof. Dahlan.
“Bapak memanggil saya, kira-kira ada apa pak..” Renita pura-pura polos.
“Hmm.. hanya mau menyampaikan beberapa kata kepada bu WR II. Ibu ini kan di rektorat sebagai orang yang mewakili saya, untuk menangani bidang pengembangan SDM, keuangan dan sarana prasarana. Jadi.. setiap keputusan yang ada dalam pikiran Ibu.. sebelum dibawa ke Yayasan harus terlebih dulu disampaikan kepada saya.” Dengan wajah merah menahan emosi, Prof. Dahlan berbicara pada Renita.
“Hal apa memangnya yang tidak saya diskusikan dengan bapak terkait tugas saya..” merasa sudah menjalankan apa yang dikatakan laki-laki itu, Renita membela diri.
“Buktinya tadi mengenai dana pension. Kenapa bu WR II tidak memberitahukan konsep itu kepada saya selaku atasan. Tiba-tiba saja, saya merasa ditodong oleh Tim dan pihak Yayasan..” ternyata Rektor mengungkit kembali hasil rapat tadi siang.
Renita terhenyak, perempuan itu tidak menyangka jika hal itu yang menyebabkan laki-laki paruh baya di depannya itu marah. Padahal di tim, posisinya juga hanya sebagai anggota, dan ilustrasi hitungan angka dengan menggunakan Microsoft Excell juga dibuat oleh Sekretaris Yayasan langsung.
“Sebentar pak.. kenapa jadinya bapak marah dengan saya. Posisi saya dalam tim itu hanya sebagai anggota Prof., bukan Ketua ataupun Sekretaris. Jadi apa saya harus menyampaikan hasil diskusi kepada bapak, padahal saya sebagai anggota Tim.” Renita mencoba membela diri.
“Apakah bu Renita lupa dimana posisinya. WR II itu adalah wakil Rektor, jadi tidak ada salahnya jika menyampaikan hal-hal terkait dengan bidang II kepada saya. Apalagi saya mendengar langsung dari Ketua pengurus Yayasan, jika bu WR II malah yang memiliki ide agar Lembaga kita berganti vendor ke bank lain untuk urusan keuangan.” Omongan Rektor malah berkembang kemana-mana.
Perempuan itu sampai merasa bingung dengan apa yang didengarnya barusan. Dengan tatapan kosong, Renita memberanikan diri menatap lekat wajah pimpinan yang ada di depannya itu.
*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments