Chapter 11 Kecurigaan

Situasi menegangkan terjadi di ruang rapat Ketika Rektor berbicara menyampaikan pendapatnya. WR I turut menambahi dan memperkuat pernyataan yang disampaikan oleh Rektor. Ketua Tim Penyusun yang sebenarnya merupakan orang dekat Rektor dan WR I tidak dapat berkutik, mendapatkan protes dari kedua petinggi di Universitas itu.

“Jika begitu.., mungkin kita bisa mengambil win win solution yang bisa mengakomodir kepentingan kita bersama,” WR II yang dalam hal ini merasa berada dalam persimpangan akhirnya menambahkan. Satu sisi di Universitas Renita sebagai wakil Rektor yang harus taat dan tunduk kepada Rektor. Tetapi di satu sisi, saat ini dirinya sebagai

anggota Tim Penyusun yang harus mempertahankan konsep yang telah disusunnya bersama dengan anggota Tim lainnya.

“Win win solution yang bagaimana, bu WR II bisa lebih menjelaskannya.” Wakil ketua pengurus dengan nada sinis,

menanggapi perkataan WR II.

“Maksud saya begini pak, karena di Lembaga kita terdiri dari tiga kelompok pegawai yaitu tetap Yayasan, DPK, dan

honorer. Kita tidak boleh hanya berpihak pada salah satu saja. Jika pegawai tetap Yayasan kita berikan pension, maka pegawai honorer dan DPK kita perlu lanjutkan pemberian DPLK seperti yang sudah kita jalankan. Sedangkan pegawai tetap Yayasan, iurannya kita hentikan.” Renita menyampaikan usulannya.

“Tetapi apa yang disampaikan bu WR II itu seimbang tidak..?” Prof. Dahlan mengejar dengan pertanyaan,

“Maksud seimbang yang bapak katakan itu dari sisi yang mana, Dosen DPK di perguruan tinggi ini, bukannya mereka ditempatkan, dan jika tidak memiliki tempat maka semua pendapatannya juga akan ditinjau ulang oleh pemerintah. Tetapi untuk pegawai Yayasan, siapa yang akan memikirkan pak, jika bukan kita sendiri yang memiliki inisiatif.” Sekretaris Yayasan menanggapi perkataan Rektor dengan nada sarkasme,

Perdebatan terus terjadi di sepanjang rapat. Padahal jika dilakukan voting, Rektor dan WR I akan kalah karena semua pengurus Yayasan, Tim Penyusun juga WR III menyepakati apa yang telah disusun oleh Tim. Sampai hari menjelang siang, belum juga diputuskan kebijakan mana yang akan diambil.

“Sekarang saya harus bicara untuk menetapkan keputusan. Perlu kita ingat jika keputusan tertinggi Lembaga kita

adalah di tangan kami pengurus Yayasan. Jika Rektor dan WR I sepakat tidak setuju, semua akan berakhir dengan keluarnya SK dari Yayasan. Karena Kamilah yang memiliki hak untuk menetapkannya. Diskusi ini tidak akan berakhir sampai malam hari sekalipun, jika tidak kita ambil keputusan ini.” Merasa jengkel dengan perdebatan yang semakin berlarut, Ketua Pengurus Yayasan akhirnya berbicara.

“Tidak bisa begitu juga dong pak.. itu namanya otoriter..” dengan tegas dan berani, WR I berbicara.

“Otoriter.. apa maksud perkataan bu Kiki selaku WR I. Seharusnya sebagai seorang pemimpin, Bu Kiki itu turut

berpikir bagaimana mensejahterakan pegawai, bukannya malah menghalangi kebijakan.” Ketua pengurus Yayasan tersulut emosi, dan berbicara keras pada WR I.

Rektor mengacungkan jari ingin memperkuat pernyataan WR I, tetapi moderator dan Ketua pengurus Yayasan tidak

memberi kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan pendapatnya. Akhirnya bagaimana hasil dari keputusan akhir, akan ditetapkan dengan SK yang diterbitkan oleh yayasan, Dengan wajah memerah karena menahan rasa marah, Rektor segera berjalan Kembali menuju Rektorat dengan ditemani oleh WR I.

“ Bu Renita.. ayo kita Kembali ke Rektorat..” pak Jatmiko WR III mengajak Renita untuk kembali bersama-sama

menuju Rektorat.

“Mari pak..” akhirnya WR III dan WR II berjalan Bersama. Di belakang keduanya, tampak para WD II dan Kepala Biro Keuangan mengikuti mereka di belakangnya.

******

Pada pukul 14.00, Renita yang sudah bersiap untuk berangkat pulang didatangi Andi di ruangannya. Renita

menghentikan aktivitasnya, kemudian menoleh kepada Andi yang duduk di depan meja kerjanya.

“Ada apa An..” dengan suara lembut, Renita bertanya pada laki-laki itu.

“Bu Ren mau kemana.. Saya diutus pak Rektor untuk memanggil Bu Renita agar datang ke ruangan Rektor.” Dengan wajah kurang enak, Andi menyampaikan pesan dari Rektor.

“Mmmm apakah ada pesan sponsor mas.. kalau tidak , yah.. alamat mendapat omelan nih..” sambil tersenyum pahit, Renita bertanya pada Andi.

“Tidak tahu je bu.. tapi sepertinya sih kurang bagus. Karena tadi aku dan Niken melihat ekspresi wajah beliau tidak

enak dilihat. Apakah ada sesuatu dalam rapat tadi bu..”Andi menceritakan ekspresi rector.

“Ya sudahlah mas.. dimarahi ya didengarkan saja..” Renita kemudian berdiri, dan Andi keluar duluan. Perempuan itu memang selalu memandang setiap masalah dengan kepala dingin.

Renita tidak melihat keberadaan para wakil rector lainnya. Memang bisa dipastikan, jika Rektor memanggil WR II,

pasti WR I akan pergi terlebih dahulu. Sepertinya sudah diatur oleh mereka berdua, agar tidak menimbulkan multi tafsir. Dengan pikiran penuh pertanyaan, Renita mengetuk pintu ruang kerja Rektor.

“Masuk..” nada suara yang tidak enak mempersilakan Renita masuk.

Perempuan itu segera mendorong pintu, kemudian menutup Kembali pintu secara perlahan. Tanpa menunggu di persilakan duduk, Renita duduk di depan meja kerja Prof.  Dahlan.

“Bapak memanggil saya, kira-kira ada apa pak..” Renita pura-pura polos.

“Hmm.. hanya mau menyampaikan beberapa kata kepada bu WR II. Ibu ini kan di rektorat sebagai orang yang mewakili saya, untuk menangani bidang pengembangan SDM, keuangan dan sarana prasarana. Jadi.. setiap keputusan yang ada dalam pikiran Ibu.. sebelum dibawa ke Yayasan harus terlebih dulu disampaikan kepada saya.” Dengan wajah merah menahan emosi, Prof. Dahlan berbicara pada Renita.

“Hal apa memangnya yang tidak saya diskusikan dengan bapak terkait tugas saya..” merasa sudah menjalankan apa yang dikatakan laki-laki itu, Renita membela diri.

“Buktinya tadi mengenai dana pension. Kenapa bu WR II tidak memberitahukan konsep itu kepada saya selaku atasan. Tiba-tiba saja, saya merasa ditodong oleh Tim dan pihak Yayasan..” ternyata Rektor mengungkit kembali hasil rapat tadi siang.

Renita terhenyak, perempuan itu tidak menyangka jika hal itu yang menyebabkan laki-laki paruh baya di depannya itu marah. Padahal di tim, posisinya juga hanya sebagai anggota, dan ilustrasi hitungan angka dengan menggunakan Microsoft Excell juga dibuat oleh Sekretaris Yayasan langsung.

“Sebentar pak.. kenapa jadinya bapak marah dengan saya. Posisi saya dalam tim itu hanya sebagai anggota Prof., bukan Ketua ataupun Sekretaris. Jadi apa saya harus menyampaikan hasil diskusi kepada bapak, padahal saya sebagai anggota Tim.” Renita mencoba membela diri.

“Apakah bu Renita lupa dimana posisinya. WR II itu adalah wakil Rektor, jadi tidak ada salahnya jika menyampaikan hal-hal terkait dengan bidang II kepada saya. Apalagi saya mendengar langsung dari Ketua pengurus Yayasan, jika bu WR II malah yang memiliki ide agar Lembaga kita berganti vendor ke bank lain untuk urusan keuangan.” Omongan Rektor malah berkembang kemana-mana.

Perempuan itu sampai merasa bingung dengan apa yang didengarnya barusan. Dengan tatapan kosong, Renita memberanikan diri menatap lekat wajah pimpinan yang ada di depannya itu.

*********

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!