Renita kaget mendengar apa yang dituduhkan Rektor dengannya. Perempuan itu masih menatap lekat wajah pimpinan di depannya, Perempuan itu seperti tidak mempercayai jika kalimat itu muncul dari orang yang selama ini dihormatinya. Bukan maksud untuk tidak menghormati laki-laki paruh baya itu, tetapi ingin membela diri, dan membersihkan namanya dari tuduhan itu.
“Jika bapak menuduh saya seperti itu atas perkataan bapak pengurus Yayasan, mungkin saya akan melakukan konfirmasi pak. Kapan, dan dimana saya pernah mengatakan pada laki-laki itu. Mohon ijin Prof., saya akan mengambil ponsel saya untuk menelpon pak Yayak.” Ucap Renita membela diri,
“Jangan bertindak seperti itu. Terlalu kekanak-kanakan, katanya bu Renita yang memiliki ide untuk membawa Lembaga kita ke Bank Mandiri.” Laki-laki itu masih melanjutkan.
“Untuk apa Prof., saya mengusulkan untuk membawa Bank Mandiri ke Lembaga kita. Keluarga, suami, anak tidak ada satupun yang bekerja di bank itu, tidak ada manfaatnya dimanapun. Mau BNI, BRI, BCA maupun Bank Mandiri bagi saya sama saja, sama sekali tidak ada yang menguntungkan bagi saya. Kalau bapak mau tahu.. pemimpin Bank mandiri cabang Wirobrajan itu malah teman SMA atau adik kelas pak Ketua Pengurus sendiri. Bisa-bisanya malah melemparkan kesalahan pada saya.” Renita terus mengutarakan kekesalannya,
Keadaan seakan berbalik arah, jika tadi Rektor yang marah. Kali ini Renita lah yang marah, karena merasa tidak
melakukan apa yang dituduhkan oleh laki-laki itu.
“Kalau pak Yayak itu dari SMA II Jetis, bukan SMA I. Sudah.. lupakan saja, tidak perlu diperpanjang..” rector
memberi saran.
“Ya tidak boleh begitu Prof... harus diluruskan jika ada yang bengkok dalam hal ini. Jika dibiarkan akan bisa
berkembang, saya malah yang dibawa-bawa.” Renita terus menyampaikan kekesalannya.
Dua orang itu terus berbicara, tetapi sudah melenceng dari apa yang mereka bicarakan di awal. Di akhir pembicaraan, Rektor berpesan agar Renita menyampaikan segala sesuatu hal terkait Bidang II, sebelum di floor kan di Yayasan.
*******
Renita agak menyeret kaki kanannya. Tidak tahu mengapa, tiba-tiba saja kaki kanannya terasa nyeri. Tetapi karena
merasa bukan sesuatu yang besar, perempuan itu hanya menahan rasa nyerinya, bahkan tidak berbicara pada suaminya.
“Mah.. kenapa sholat kok kaki kanannya diluruskan ke belakang..?” Andri merasa melihat keanehan Ketika istrinya
melakukan gerakan sholat.
“Lutut mamah sakit yah.. untuk Gerakan sujud sangat susah untuk ditekuk dan terasa nyeri. Makanya tadi waktu sholat, mamah luruskan saja kakinya.” Sambil melipat mukena, Renita menjawab pertanyaan dari suaminya.
“Mungkin asam urat mah.. apalagi mamah kan suka makan yang aneh-aneh, ga pernah mau diet. Semua makanan enak dimasukkan ke dalam perut.. Apalagi mamah juga tidak pernah mau olah raga.” Andri mengatakan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering dilakukan istrinya.
“Hmm.. masa yah. Kita mengharamkan makanan yang dihalalkan oleh Allah. Pamali tahu yah..” Renita membela dirinya.
“Tahulah mah.. terserah apa kata mamah saja. Minum obat asam urat saja, atau kolesterol. Siapa tahu kolesterol mamah naik..” Andri memberi saran pada istrinya.
“Baik ayah sayang.. nanti mamah minum Simvastatin saja. Kata orang, obat itu bisa menurunkan kadar kolesterol.” Sahut Renita sambil menggoda suaminya.
“Bagus mah.. tapi ingat untuk mengkonsumsinya setelah makan, agar pencernaan dilapisi oleh nasi.” lanjut Andri.
*******
Keesokan Paginya
Renita sedang berdiri di depan meja Andi dan Niken, karena habis makan soto bersama dengan mereka. Tiba-tiba tanpa disadari, di belakangnya sudah berdiri bu Kiki yang terlihat baru saja datang.
“Bu Renita tak kasih tahu ya.. Pak Wahyu itu tiba-tiba lutut sebelah kananya terasa sakit, lha kok sama dengan
yang dialami suamiku. Ternyata bu Laksmi juga mengalami hal yang sama. Tapi tempat pak Wahyu sudah menghilang, gara-gara tidak sengaja bertemu dengan familinya. Pak Wahyu dipegang kakinya, dan ternyata di telapak kakinya keluar batu akik. Mengerikan kan, bisa-bisa to pak Wahyu terkena santet..” Bu Kiki tiba-tiba menceritakan penyakit yang sama diderita oleh ke tiga orang. Dan sakit sama dengan yang sedang terjadi padanya.
“Kok bisa kebetulan ya Bu.. kebetulan aku juga merasa kaki kananku terutama bagian lutut sakit. Apalagi jika dipakai sholat, rasa nyerinya semakin minta ampun. Kalau sholat, sampai kaki kananku tak luruskan, baru aku bisa melakukan sujud.” Akhirnya tanpa sadar, Renita juga menceritakan apa yang dirasakannya beberapa hari terakhir.
“Wah jangan-jangan kita sebenarnya terkena santet nyah.. Kita kan ber empat memiliki sikap yang sama, dan hubungan kita akrab. Apa mungkin ada yang tidak suka dengan kita, kemudian mengerjai kita ya..” Bu Kiki dengan serius menatap Renita.
“Wallahu alam bi showab bu.. aku ga pernah berhubungan dengan hal-hal ghaib semacam itu. Pasrah saja sama kehendak Allah..” untuk menguatkan hatinya, Renita mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Iya juga sih.. habisnya heran. Masak kita sakit di tempat yang sama, dan terjadi bersamaan lagi. Untungnya pak Wahyu sudah sembuh.. Sudah ya, aku Kembali ke ruangan, tidak baik jika dilihat orang. Nanti kita malah dibilang orang sedang membicarakan orang lain.." Bu Kiki segera kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.
Renita kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu kembali ke dalam ruangan. Perempuan itu memikirkan apa yang tadi diucapkan oleh bu Kiki, dia berpikir apakah benar jika dirinya terkena santet. Tetapi begitu Renita berpikir, tiba-tiba di sepanjang tubuhnya terasa seperti ditusuk-tusuk oleh jarum.
“Apalagi ini.. rasa nyeri di kaki saja belum hilang, malahan sekarang sakit seperti ditusuk-tusuk.” Gumam Renita
sendirian.
Perempuan itu berusaha mengalihkan perhatian untuk mengabaikan rasa nyeri di seluruh tubuhnya. Karena semakin dirasakan dan dipikirkan, rasa nyeri itu semakin menjalar ke seluruh tubuh. Makanya Renita memilih untuk mengabaikan rasa nyeri tersebut. Perlahan perempuan itu Kembali menyalakan laptop, kemudian membuka situs internet.
“Oh ini pola pengelolaan keuangan di Unnes.. sepertinya hampir mirip dengan pengelolaan di UP. Aku akan baca dulu, siapa tahu ada yang bisa kita adopsi..” melihat artikel tentang pengelolaan keuangan di Unnes, Renita segera masuk ke situs dan membacanya. Beberapa hal hampir sama dengan yang terjadi di UP, tetapi karena Unnes merupakan perguruan tinggi negeri, beberapa hal juga terlihat berbeda.
“Pantas saja penerimaan sangat besar, ternyata Unnes juga memiliki beberapa unit bisnis, Hal ini yang perlu untuk
kita pikirkan di UP, karena tidak mungkin jika selamanya kita akan bersumber dari mahasiswa yang masuk” Kembali Renita bergumam,
Beberapa saat. Waktu dihabiskan Renita untuk berselancar di website universitas tersebut. Beberapa hal yang mungkin bisa diadopsi di UP, diberi tanda oleh perempuan itu. Ternyata dengan tenggelam dalam pencarian rasa nyeri di tubuh perempuan itu tiba-tiba menghilang. Tidak terasa waktu sudah memasuki waktu sore, dan Renita baru tersadarkan.
“Tidak pulang bu.. kita sudah mau pulang lho..” terdengar suara Andi dan Niken yang mengajaknya untuk bersiap
pulang.
“Iya An.. Nik.. aku juga sudah bersiap nih..” dari dalam ruangan, Renita menanggapi.
*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments