Chapter 12 Was was

Renita kaget mendengar apa yang dituduhkan Rektor dengannya. Perempuan itu masih menatap lekat wajah pimpinan di depannya, Perempuan itu seperti tidak mempercayai jika kalimat itu muncul dari orang yang selama ini dihormatinya. Bukan maksud untuk tidak menghormati laki-laki paruh baya itu, tetapi ingin membela diri, dan membersihkan namanya dari tuduhan itu.

“Jika bapak menuduh saya seperti itu atas perkataan bapak pengurus Yayasan, mungkin saya akan melakukan konfirmasi pak. Kapan, dan dimana saya pernah mengatakan pada laki-laki itu. Mohon ijin Prof., saya akan mengambil ponsel saya untuk menelpon pak Yayak.” Ucap Renita membela diri,

“Jangan bertindak seperti itu. Terlalu kekanak-kanakan, katanya bu Renita yang memiliki ide untuk membawa Lembaga kita ke Bank Mandiri.” Laki-laki itu masih melanjutkan.

“Untuk apa Prof., saya mengusulkan untuk membawa Bank Mandiri ke Lembaga kita. Keluarga, suami, anak tidak ada satupun yang bekerja di bank itu, tidak ada manfaatnya dimanapun. Mau BNI, BRI, BCA maupun Bank Mandiri bagi saya sama saja, sama sekali tidak ada yang menguntungkan bagi saya. Kalau bapak mau tahu.. pemimpin Bank mandiri cabang Wirobrajan itu malah teman SMA atau adik kelas pak Ketua Pengurus sendiri. Bisa-bisanya malah melemparkan kesalahan pada saya.” Renita terus mengutarakan kekesalannya,

Keadaan seakan berbalik arah, jika tadi Rektor yang marah. Kali ini Renita lah yang marah, karena merasa tidak

melakukan apa yang dituduhkan oleh laki-laki itu.

“Kalau pak Yayak itu dari SMA II Jetis, bukan SMA I. Sudah.. lupakan saja, tidak perlu diperpanjang..” rector

memberi saran.

“Ya tidak boleh begitu Prof... harus diluruskan jika ada yang bengkok dalam hal ini. Jika dibiarkan akan bisa

berkembang, saya malah yang dibawa-bawa.” Renita terus menyampaikan kekesalannya.

Dua orang itu terus berbicara, tetapi sudah melenceng dari apa yang mereka bicarakan di awal. Di akhir pembicaraan, Rektor berpesan agar Renita menyampaikan segala sesuatu hal terkait Bidang II, sebelum di floor kan di Yayasan.

*******

Renita agak menyeret kaki kanannya. Tidak tahu mengapa, tiba-tiba saja kaki kanannya terasa nyeri. Tetapi karena

merasa bukan sesuatu yang besar, perempuan itu hanya menahan rasa nyerinya, bahkan tidak berbicara pada suaminya.

“Mah.. kenapa sholat kok kaki kanannya diluruskan ke belakang..?” Andri merasa melihat keanehan Ketika istrinya

melakukan gerakan sholat.

“Lutut mamah sakit yah.. untuk Gerakan sujud sangat susah untuk ditekuk dan terasa nyeri. Makanya tadi waktu sholat, mamah luruskan saja kakinya.” Sambil melipat mukena, Renita menjawab pertanyaan dari suaminya.

“Mungkin asam urat mah.. apalagi mamah kan suka makan yang aneh-aneh, ga pernah mau diet. Semua makanan enak dimasukkan ke dalam perut.. Apalagi mamah juga tidak pernah mau olah raga.” Andri mengatakan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering dilakukan istrinya.

“Hmm.. masa yah. Kita mengharamkan makanan yang dihalalkan oleh Allah. Pamali tahu yah..” Renita membela dirinya.

“Tahulah mah.. terserah apa kata mamah saja. Minum obat asam urat saja, atau kolesterol. Siapa tahu kolesterol mamah naik..” Andri memberi saran pada istrinya.

“Baik ayah sayang.. nanti mamah minum Simvastatin saja. Kata orang, obat itu bisa menurunkan kadar kolesterol.” Sahut Renita sambil menggoda suaminya.

“Bagus mah.. tapi ingat untuk mengkonsumsinya setelah makan, agar pencernaan dilapisi oleh nasi.” lanjut Andri.

*******

Keesokan Paginya

Renita sedang berdiri di depan meja Andi dan Niken, karena habis makan soto bersama dengan mereka. Tiba-tiba tanpa disadari, di belakangnya sudah berdiri bu Kiki yang terlihat baru saja datang.

“Bu Renita tak kasih tahu ya.. Pak Wahyu itu tiba-tiba lutut sebelah kananya terasa sakit, lha kok sama dengan

yang dialami suamiku. Ternyata bu Laksmi juga mengalami hal yang sama. Tapi tempat pak Wahyu sudah menghilang, gara-gara tidak sengaja bertemu dengan familinya. Pak Wahyu dipegang kakinya, dan ternyata di telapak kakinya keluar batu akik. Mengerikan kan, bisa-bisa to pak Wahyu terkena santet..” Bu Kiki tiba-tiba menceritakan penyakit yang sama diderita oleh ke tiga orang. Dan sakit sama dengan yang sedang terjadi padanya.

“Kok bisa kebetulan ya Bu.. kebetulan aku juga merasa kaki kananku terutama bagian lutut sakit. Apalagi jika dipakai sholat, rasa nyerinya semakin minta ampun. Kalau sholat, sampai kaki kananku tak luruskan, baru aku bisa melakukan sujud.” Akhirnya tanpa sadar, Renita juga menceritakan apa yang dirasakannya beberapa hari terakhir.

“Wah jangan-jangan kita sebenarnya terkena santet nyah.. Kita kan ber empat memiliki sikap yang sama, dan hubungan kita akrab. Apa mungkin ada yang tidak suka dengan kita, kemudian mengerjai kita ya..” Bu Kiki dengan serius menatap Renita.

“Wallahu alam bi showab bu.. aku ga pernah berhubungan dengan hal-hal ghaib semacam itu. Pasrah saja sama kehendak Allah..” untuk menguatkan hatinya, Renita mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Iya juga sih.. habisnya heran. Masak kita sakit di tempat yang sama, dan terjadi bersamaan lagi. Untungnya pak Wahyu sudah sembuh.. Sudah ya, aku Kembali ke ruangan, tidak baik jika dilihat orang. Nanti kita malah dibilang orang sedang membicarakan orang lain.." Bu Kiki segera kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.

Renita kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu kembali ke dalam ruangan. Perempuan itu memikirkan apa yang tadi diucapkan oleh bu Kiki, dia berpikir apakah benar jika dirinya terkena santet. Tetapi begitu Renita berpikir, tiba-tiba di sepanjang tubuhnya terasa seperti ditusuk-tusuk oleh jarum.

“Apalagi ini.. rasa nyeri di kaki saja belum hilang, malahan sekarang sakit seperti ditusuk-tusuk.” Gumam Renita

sendirian.

Perempuan itu berusaha mengalihkan perhatian untuk mengabaikan rasa nyeri di seluruh tubuhnya. Karena semakin dirasakan dan dipikirkan, rasa nyeri itu semakin menjalar ke seluruh tubuh. Makanya Renita memilih untuk mengabaikan rasa nyeri tersebut. Perlahan perempuan itu Kembali menyalakan laptop, kemudian membuka situs internet.

“Oh ini pola pengelolaan keuangan di Unnes.. sepertinya hampir mirip dengan pengelolaan di UP. Aku akan baca dulu, siapa tahu ada yang bisa kita adopsi..” melihat artikel tentang pengelolaan keuangan di Unnes, Renita segera masuk ke situs dan membacanya. Beberapa hal hampir sama dengan yang terjadi di UP, tetapi karena Unnes merupakan perguruan tinggi negeri, beberapa hal juga terlihat berbeda.

“Pantas saja penerimaan sangat besar, ternyata Unnes juga memiliki beberapa unit bisnis, Hal ini yang perlu untuk

kita pikirkan di UP, karena tidak mungkin jika selamanya kita akan bersumber dari mahasiswa yang masuk” Kembali Renita bergumam,

Beberapa saat. Waktu dihabiskan Renita untuk berselancar di website universitas tersebut. Beberapa hal yang mungkin bisa diadopsi di UP, diberi tanda oleh perempuan itu. Ternyata dengan tenggelam dalam pencarian rasa nyeri di tubuh perempuan itu tiba-tiba menghilang. Tidak terasa waktu sudah memasuki waktu sore, dan Renita baru tersadarkan.

“Tidak pulang bu.. kita sudah mau pulang lho..” terdengar suara Andi dan Niken yang mengajaknya untuk bersiap

pulang.

“Iya An.. Nik.. aku juga sudah bersiap nih..” dari dalam ruangan, Renita menanggapi.

*********

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!