Renita seperti memiliki harapan baru, dan Ketika dipanggil Namanya untuk konsultasi dengan hasil pemeriksaan awalnya, Renita masuk ke dalam ruangan. Suaminya tidak diijinkan masuk ke dalam ruangan. Membaca hasil rekomendasi pengujian awal, dokter mengerutkan keningnya.
“Bu Renita.. dilakukan pengecekan tekanan bola mata dulu ya. Untuk menentukan apakah tekana bola mata ibu stabil atau tidak. Karena dari hasil pengujian tekanan darah, tensi ibu masih tergolong tinggi.” Dokter Anita dan dokter Irwan melakukan pemeriksaan.
“Siap Dokter..” dengan semangat, Renita menjalani serangkaian pemeriksaan.
Sebuah alat seperti teleskop tanpa menyentuh dipasangkan di kedua mata Renita. Beberapa saat, dokter melakukan pengamatan, kemudian..
“Tekanan mata ibu saat ini normal berada di angka 18 mm Hg, sementara hipertenso okular di atas 21 mm Hg.” Dokter nampak terkejut membacakan hasil pengujian; kemudian mengamati rekam medis pemeriksaan terdahulu.
“Ibu.. tolong tunggu sebentar ya, kami akan mendiskusikan hasil pemeriksaan mata ibu..” Dokter meminta Renita untuk menunggu sebentar.
“baik Dokter..” setelah Renita menjawab, Dokter itu membawa hasil pemeriksaan meninggalkan perempuan itu sendirian.
Untuk mengisi waktu, Renita mengambil majalah Kesehatan yang ada di samping tempatnya duduk. Perempuan itu membuka-buka dan membaca beberapa artikel tentang Kesehatan di dalamnya. Namun tidak lama kemudian, Dokter Anita dan dokter Irwan keluar dan mendekatinya lagi.
“Bu Renita.. untuk memastikan hasil pemeriksaan terakhir, ibu diminta untuk melakukan pemotretan dan scan retina ya. Silakan ibu ke ruang sebelah, sudah tahu bukan ruangannya.” Renita menganggukkan kepala, kemudian berjalan keluar dari ruang pemeriksaan.
Melihat istrinya sudah berada di luar ruang pemeriksaan, Andri segera mendatangi Renita.
“Sudah selesai mam.. kok cepat.” Tanya Andri ingin tahu.
“belum yah, mamah masih diminta untuk pemotretan dan dilakukan scan mata. Setelah scan, biasanya mamah akan tidak bisa melihat untuk beberapa saat.” Andri kemudian menggandeng tangan istrinya, dan membawanya ke ruang dilakukan pemeriksaan tambahan.
Terlihat Dokter Irwan menghampiri Renita, kemudian mengajak perempuan itu masuk ke dalam. Laki-laki itu melakukan pemeriksaan sendiri, tidak diwakilkan pada petugas laboratorium. Laki-laki itu menganggap kasus penyakit yang ditanganinya saat ini, berada di luar nalar ilmu kedokteran.
“Bapak.. ibu.. selamat ya. Lihatlah gambar foto retina ibu, darah dan lemak yang dulu ada sekarang sudah bersih tidak ada lagi. Untuk meyakinkan kita akan lakukan scanning mata dulu ya, biar hasilnya lebih meyakinkan.” Dengan wajah gembira, Dokter Irwan memberi tahukan hasil pemotretan kornea mata. Renita kaget, setitik kebahagiaan merayap masuk ke dalam hatinya.
Renita mengikuti Langkah dokter, kemudian laki-laki itu meminta perempuan itu untuk Kembali duduk di kursi. Beberapa saat mata Renita dilakukan pemeriksaan lagi, kemudian hasil scan dicetak di atas kertas foto. Kornea mata Renita terlihat bersih tidak ada setitikpun noda disana.
“Bu Renita selama ini diet apa Bu.. kenapa tiba-tiba memiliki hasil yang mengejutkan seperti ini..” dengan nada heran melihat hasil pemeriksaan, Dokter Irwan bertanya pada Renita.
“Tidak ada diet Dokter.. hanya saja jujur Dok.. saya lebih mendekatkan diri pada Allah. Setiap malam saya sholat Tahajud, pagi sholat dhuha dan setiap habis sholat, mata saya tetesi air zam zam dan meminumnya beberapa teguk.” Mendengar penuturan perempuan itu, Dokter Irwan seperti merasa tertegun. Tetapi sebagai seorang dokter, laki-laki itu harus mempertahankan ilmu kedokterannya.
“Baik bu.. sudah saya catat apa yang ibu ungkapkan, nanti bisa sebagai bahan diskusi bagi tim kami. Kemudian ibu.. karena bahayanya penyakit yang ibu alami jika itu terjangkit lagi. Maka ibu diwajibkan untuk melakukan pengecekan ulang ya setiap dua minggu sekali. Agar ibu merasa yakin, jika ibu benar-benar sembuh.” Akhirnya dokter menyampaikan kesimpulan, dan untuk sementara Renita merasa bahagia atas kesembuhan penyakitnya.
*********
Hari-hari berikutnya, Renita menjalani rutinitas pekerjaan kantor dengan cekatan. Pengalaman religi yang diperolehnya, lebih meyakinkan jika kekuasaan Allah adalah di atas segalanya. Manusia hanya bisa berkehendak, namun semua keputusan akhir berada di tangan-Nya. Kun Fa Ya kun.. yang terjadi, terjadilah karena kekuasaan Allah.
“Mas Andi, mbak Niken.. aku mau ke ruang sidang Yayasan dulu ya. Hari ini adalah presentasi tim kami, tolong
doakan ya semuanya bisa berjalan lancar.” Renita memberi tahu kedua staff Rektorat.
“Ya Bu.. pak Rektor dan Bu WR I sudah berangkat duluan sejak tadi. Bu Renita yang terlambat.” Sahut Niken.
“Okay mbak.. aku berangkat.” Renita tersenyum, kemudian perempuan itu melangkahkan kaki untuk menuju ke Gedung C, tempat diselenggarakannya rapat.
Beberapa saat Renita berjalan, perempuan itu berpapasan dengan Wakil Dekan Fakultas Pertanian dan Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Mereka akhirnya berjalan bersama menuju ruang sidang Yayasan.
“Kira-kira nanti bagaimana bu.. pak Rektor akan langsung setuju atau tidak?” pak Nanang WD II FP bertanya pada
Renita.
“Jika Yayasan aku yakin okay pak, mungkin malah minta untuk dinaikkan. Yang agak berat malah pak Rektor, karena beliau adalah dosen DPK, tidak akan merasakan imbas pension dari UP, Beliau kan sudah mendapatkannya dari pemerintah.” Renita menanggapi sesuai porsi.
‘Setuju.. aku yakin juga demikian bu.. Di FKIP saja yang banyak dosen DPK, mereka sudah pada nyinyir mengetahui ada tim penyusun dana pension.” Sahut pak Deddy.
“Abaikan saja pak.. setiap ada kebijakan baru, pasti ada yang setuju dan juga pasti ada yang tidak setuju. Kita ikut arus saja, yang penting kita sudah berusaha. Masalah hasil, aku yakin semua pasti kehendak Allah. Jika rejeki, aku yakin pasti tidak akan lari kemana..” Renita menambahkan.
“Jozz pokoknya Bu WR II kita saat ini.” Sahut pak WD II FKIP.
Tidak lama kemudian, ketiga orang itu sudah sampai di ruang sidang Yayasan. Petugas administrasi Yayasan
mempersilakan ketiga orang itu untuk masuk ke dalam ruang. Sesampainya di ruangan, semua pejabat Rektorat dan Yayasan serta Tim Penyusun sudah hadir semuanya. Ketiganya segera duduk mencari kursi yang belum terisi.
“Baiklah karena semua yang diundang sudah hadir semuanya, silakan Ketua Tim Penyusun untuk menyampaikan
paparannya.” Sekretaris Yayasan segera memulai acara.
Wahyu segera memasangkan kabel HDMI ke dalam laptopnya, kemudian mulai memaparkan klausul-klausul yang sudah disusun secara bersama-sama, oleh Tim. Bendahara II Yayasan membantu memaparkan ilustrasi hitungan menggunakan Microsoft Excell.
“Bagus sekali, sangat rinci dan sangat rapi. Tetapi apakah kita memiliki dana untuk keberlanjutannya.” Prof. Dahlan
menyampaikan hasil evaluasinya atas konsep yang dipaparkan.
“Saya yakin bisa pak, karena kita selain akan menganggarkan pada setiap tahun anggara, pegawai juga diwajibkan
untuk membayarkan iuran setiap bulannya.” Bendahara II menjawab pertanyaan tersebut.
“Tetapi ingat pak, bahwa pegawai di Lembaga kita cukup rumit. Tidak hanya Yayasan saja yang memberikan pengabdian, namun juga DPK ikut menyumbangkan semua tenaganya. Tidak adil dan tidak etis jika hanya pegawai Yayasan saja yang dipikirkan, sedangkan DPK sama sekali tidak disentuh.” Ternyata Prof. Dahlan berbicara dari sudut dosen DPK, tidak berbicara selaku universal.
*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments