Chapter 10 Kun fa Ya Kun

Renita seperti memiliki harapan baru, dan Ketika dipanggil Namanya untuk konsultasi dengan hasil pemeriksaan awalnya, Renita masuk ke dalam ruangan. Suaminya tidak diijinkan masuk ke dalam ruangan. Membaca hasil rekomendasi pengujian awal, dokter mengerutkan keningnya.

“Bu Renita.. dilakukan pengecekan tekanan bola mata dulu ya. Untuk menentukan apakah tekana bola mata ibu stabil atau tidak. Karena dari hasil pengujian tekanan darah, tensi ibu masih tergolong tinggi.” Dokter Anita dan dokter Irwan melakukan pemeriksaan.

“Siap Dokter..” dengan semangat, Renita menjalani serangkaian pemeriksaan.

Sebuah alat seperti teleskop tanpa menyentuh dipasangkan di kedua mata Renita. Beberapa saat, dokter melakukan pengamatan, kemudian..

“Tekanan mata ibu saat ini normal berada di angka 18 mm Hg, sementara hipertenso okular di atas 21 mm Hg.” Dokter nampak terkejut membacakan hasil pengujian; kemudian mengamati rekam medis pemeriksaan terdahulu.

“Ibu.. tolong tunggu sebentar ya, kami akan mendiskusikan hasil pemeriksaan mata ibu..” Dokter meminta Renita untuk menunggu sebentar.

“baik Dokter..” setelah Renita menjawab, Dokter itu membawa hasil pemeriksaan meninggalkan perempuan itu sendirian.

Untuk mengisi waktu, Renita mengambil majalah Kesehatan yang ada di samping tempatnya duduk. Perempuan itu membuka-buka dan membaca beberapa artikel tentang Kesehatan di dalamnya. Namun tidak lama kemudian, Dokter Anita dan dokter Irwan keluar dan mendekatinya lagi.

“Bu Renita.. untuk memastikan hasil pemeriksaan terakhir, ibu diminta untuk melakukan pemotretan dan scan retina ya. Silakan ibu ke ruang sebelah, sudah tahu bukan ruangannya.” Renita menganggukkan kepala, kemudian berjalan keluar dari ruang pemeriksaan.

Melihat istrinya sudah berada di luar ruang pemeriksaan, Andri segera mendatangi Renita.

“Sudah selesai mam.. kok cepat.” Tanya Andri ingin tahu.

“belum yah, mamah masih diminta untuk pemotretan dan dilakukan scan mata. Setelah scan, biasanya mamah akan tidak bisa melihat untuk beberapa saat.” Andri kemudian menggandeng tangan istrinya, dan membawanya ke ruang dilakukan pemeriksaan tambahan.

Terlihat Dokter Irwan menghampiri Renita, kemudian mengajak perempuan itu masuk ke dalam. Laki-laki itu melakukan pemeriksaan sendiri, tidak diwakilkan pada petugas laboratorium. Laki-laki itu menganggap kasus penyakit yang ditanganinya saat ini,  berada di luar nalar ilmu kedokteran.

“Bapak.. ibu.. selamat ya. Lihatlah gambar foto retina ibu, darah dan lemak yang dulu ada sekarang sudah bersih tidak ada lagi. Untuk meyakinkan kita akan lakukan scanning mata dulu ya, biar hasilnya lebih meyakinkan.” Dengan wajah gembira, Dokter Irwan memberi tahukan hasil pemotretan kornea mata. Renita kaget, setitik kebahagiaan merayap masuk ke dalam hatinya.

Renita mengikuti Langkah dokter, kemudian laki-laki itu meminta perempuan itu untuk Kembali duduk di kursi. Beberapa saat mata Renita dilakukan pemeriksaan lagi, kemudian hasil scan dicetak di atas kertas foto. Kornea mata Renita terlihat bersih tidak ada setitikpun noda disana.

“Bu Renita selama ini diet apa Bu.. kenapa tiba-tiba memiliki hasil yang mengejutkan seperti ini..” dengan nada heran melihat hasil pemeriksaan, Dokter Irwan bertanya pada Renita.

“Tidak ada diet Dokter.. hanya saja jujur Dok.. saya lebih mendekatkan diri pada Allah. Setiap malam saya sholat Tahajud, pagi sholat dhuha dan setiap habis sholat, mata saya tetesi air zam zam dan meminumnya beberapa teguk.” Mendengar penuturan perempuan itu, Dokter Irwan seperti merasa tertegun. Tetapi sebagai seorang dokter, laki-laki itu harus mempertahankan ilmu kedokterannya.

“Baik bu.. sudah saya catat apa yang ibu ungkapkan, nanti bisa sebagai bahan diskusi bagi tim kami. Kemudian ibu.. karena bahayanya penyakit yang ibu alami jika itu terjangkit lagi. Maka ibu diwajibkan untuk melakukan pengecekan ulang ya setiap dua minggu sekali. Agar ibu merasa yakin, jika ibu benar-benar sembuh.” Akhirnya dokter menyampaikan kesimpulan, dan untuk sementara Renita merasa bahagia atas kesembuhan penyakitnya.

*********

Hari-hari berikutnya, Renita menjalani rutinitas pekerjaan kantor dengan cekatan. Pengalaman religi yang diperolehnya, lebih meyakinkan jika kekuasaan Allah adalah di atas segalanya. Manusia hanya bisa berkehendak, namun semua keputusan akhir berada di tangan-Nya. Kun Fa Ya kun.. yang terjadi, terjadilah karena kekuasaan Allah.

“Mas Andi, mbak Niken.. aku mau ke ruang sidang Yayasan dulu ya. Hari ini adalah presentasi tim kami, tolong

doakan ya semuanya bisa berjalan lancar.” Renita memberi tahu kedua staff Rektorat.

“Ya Bu.. pak Rektor dan Bu WR I sudah berangkat duluan sejak tadi. Bu Renita yang terlambat.” Sahut Niken.

“Okay mbak.. aku berangkat.” Renita tersenyum, kemudian perempuan itu melangkahkan kaki untuk menuju ke Gedung C, tempat diselenggarakannya rapat.

Beberapa saat Renita berjalan, perempuan itu berpapasan dengan Wakil Dekan Fakultas Pertanian dan Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Mereka akhirnya berjalan bersama menuju ruang sidang Yayasan.

“Kira-kira nanti bagaimana bu.. pak Rektor akan langsung setuju atau tidak?” pak Nanang WD II FP bertanya pada

Renita.

“Jika Yayasan aku yakin okay pak, mungkin malah minta untuk dinaikkan. Yang agak berat malah pak Rektor, karena beliau adalah dosen DPK, tidak akan merasakan imbas pension dari UP, Beliau kan sudah mendapatkannya dari pemerintah.” Renita menanggapi sesuai porsi.

‘Setuju.. aku yakin juga demikian bu.. Di FKIP saja yang banyak dosen DPK, mereka sudah pada nyinyir mengetahui ada tim penyusun dana pension.” Sahut pak Deddy.

“Abaikan saja pak.. setiap ada kebijakan baru, pasti ada yang setuju dan juga pasti ada yang tidak setuju. Kita ikut arus saja, yang penting kita sudah berusaha. Masalah hasil, aku yakin semua pasti kehendak Allah. Jika rejeki, aku yakin pasti tidak akan lari kemana..” Renita menambahkan.

“Jozz pokoknya Bu WR II kita saat ini.” Sahut pak WD II FKIP.

Tidak lama kemudian, ketiga orang itu sudah sampai di ruang sidang Yayasan. Petugas administrasi Yayasan

mempersilakan ketiga orang itu untuk masuk ke dalam ruang. Sesampainya di ruangan, semua pejabat Rektorat dan Yayasan serta Tim Penyusun sudah hadir semuanya. Ketiganya segera duduk mencari kursi yang belum terisi.

“Baiklah karena semua yang diundang sudah hadir semuanya, silakan Ketua Tim Penyusun untuk menyampaikan

paparannya.” Sekretaris Yayasan segera memulai acara.

Wahyu segera memasangkan kabel HDMI ke dalam laptopnya, kemudian mulai memaparkan klausul-klausul yang sudah disusun secara bersama-sama, oleh Tim. Bendahara II Yayasan membantu memaparkan ilustrasi hitungan menggunakan Microsoft Excell.

“Bagus sekali, sangat rinci dan sangat rapi. Tetapi apakah kita memiliki dana untuk keberlanjutannya.” Prof. Dahlan

menyampaikan hasil evaluasinya atas konsep yang dipaparkan.

“Saya yakin bisa pak, karena kita selain akan menganggarkan pada setiap tahun anggara, pegawai juga diwajibkan

untuk membayarkan iuran setiap bulannya.” Bendahara II menjawab pertanyaan tersebut.

“Tetapi ingat pak, bahwa pegawai di Lembaga kita cukup rumit. Tidak hanya Yayasan saja yang memberikan pengabdian, namun juga DPK ikut menyumbangkan semua tenaganya. Tidak adil dan tidak etis jika hanya pegawai Yayasan saja yang dipikirkan, sedangkan DPK sama sekali tidak disentuh.” Ternyata Prof. Dahlan berbicara dari sudut dosen DPK, tidak berbicara selaku universal.

*********

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!