Renita dan Hasto masih berbincang berdua di ruangan BAAK yang sudah mulai sepi. Bahkan dua ruangan yang ada di sebelahnya yaitu ruang BAKU dan BAUK, juga sudah ditinggalkan para karyawannya. Karena memang jam di dinding sudah menunjukkan angka pukul 15.00, sudah melewati satu jam kerja di Universitas Perjuangan.
“Assalamu alaikum…” Hasto dan Renita terperangah melihat ke arah pintu. Tidak diduga, Prof. Dahlan Rektor
Universitas Perjuangan masuk dengan membawa satu lembar kertas di tangannya.
“Wa alaikum salam, monggo pak rector.” Hasto segera menjawab ucapan salam yang diberikan oleh pimpinan
universitas itu, Untung saja, barusan Bu renita menceritakan padanya, jika tidak Hasto akan terkejut melihat kedatangan pimpinan tertinggi di perguruan tinggi itu, datang ke ruang kerjanya.
“Saya akan bertemu dengan mbak Renita, mas Hasto keluar dulu ya..” tiba-tiba tanpa diduga. Prof. Dahlan mengusir Hasto untuk pergi dari ruangan tersebut.
“Baik pak..” tanpa menoleh lagi, Hasto langsung menuju pintu keluar BAAK.
Prof. Dahlan langsung duduk di depan Renita, dan perempuan itu menjadi mati kutu. Karena Renita tidak mengira
jika Prof. Dahlan hanya akan memberinya waktu satu hari saja, Perempuan itu berpikir jika paling tidak ada waktu satu minggu untuk mempertimbangkan penawaran itu.
“Bagaimana mbak Renita, apakah
sudah ditanda tangani surat pernyataannya? Uhuk.., uhukk..” sam bil terbatuk-batuk,
pak Dahlan Kembali mempertanyakan tentang surat pernyataan tersebut.
“Bapak sakit ya, mohon maaf pak, surat pernyataannya tertinggal di rumah. Tadi saya lupa untuk membawanya
Kembali ke kantor.” Di depan Prof. Dahlan, Renita seperti kehilangan suaranya. Kharisma Rektor ini memang sangat luar biasa, jika berhadapan siapapun akan merasa tertindas di depannya.
“Ada bollpoint…, ini kebetulan saya membawa lagi surat pernyataan tersebut.” Seperti tidak menerima penolakan,
laki-laki itu Kembali menyerahkan surat pernyataan kesanggupan untuk ditanda tangani perempuan itu. Renita merasa mati kutu, kehabisan akal untuk memberikan jawaban pada laki-laki atasannya itu.
“Mohon maaf pak rector, kebetulan tas kerja saya ada di fakultas. Jadi saya tidak memiliki pulpen di ruangan
ini.” Dengan alasan tidak masuk akal, Renita menanggapi perkataan pimpinannya itu.
“Mbak Renita.., tolong jangan halangi keinginan saya. Minggu depan saya akan menuju ke tanah suci untuk
menjalankan ibadah umroh, Jadi sebelum saya berangkat, saya ingin semua urusan sudah terselesaikan dengan baik. Jadi.., saya harap mbak Renita jangan mencoba untuk mengelabui saya. Baiklah jika begitu.., saya akan mengambilnya di ruangan saya.” Tiba-tiba tidak diduga, Prof. Dahlan berdiri dan sambil terbatuk, berjalan
meninggalkan Renita.
“Tidak perlu diambilkan pulpen pak, saya akan ambil sendiri tas saya di fakultas. Nanti jika sudah selesai,
saya akan mengembalikan surat pernyataan ini kepada Bapak.” Kembali Renita mengelak.
“Baiklah.., ingat sekali lagi. Jangan kecewakan saya..” Prof. Dahlan kemudian berjalan meninggalkan ruangan
tersebut,
*******
Beberapa jam sesudahnya
Prof. Dahlan berjalan keluar dari dalam ruangan, mendatangi ruang karyawan bagian administrasi Rektorat. Melihat
keberadaan mas Andi yang masih berada di belakang mejanya, Prof. Dahlan mendatangi laki-laki muda tersebut.
“Mas Andi.. segera ke ruangan bu Renita. Minta menanda tangani surat kesanggupan ini. Ingat harus dapat saat ini
juga, dan jangan Kembali jika belum mendapatkan tanda tangan dari bu Renita.” Dengan nada tegas, Prof. Dahlan memberi perintah pada Andi.
‘Baik pak..” tanpa mencari tahu peruntukkannya, Andi langsung menuju ke ruangan BAAK. Tetapi begitu masuk ke
ruangan tersebut, Andi tidak melihat keberadaan Bu Renita di dalam ruangan.
“Mas Denny.. bu Renita dimana ya..? Saya diutus pak rector untuk minta tanda tangan beliau.” Andi bertanya
pada salah satu karyawan BAAK.
“Tadi pergi sama mas Hasto.., sepertinya ke fakultas. Dicari saja di fakultas Ekonomi, sudah tahu kan, letak
ruangan beliau..” Denny menjawab pertanyaan Andi.
“Baik terima kasih mas, aku langsung cuzz kesana saja.” Tanpa banyak bicara, Andi langsung berjalan menuju
ke Fakultas Ekonomi. Fakultas itu untungnya masih berada di komplek bangunan Gedung Unit 1, hanya beda bangunan Gedung saja. Jika Rektorat berada di Gedung A, sedangkan Fakultas Ekonomi berada di Gedung B.
Di depan pintu masuk ruangan Fakultas, Andi berjumpa dengan Bu Yustina karyawan administrasi fakultas
tersebut. Andi berbisik,mengisyaratkan ingin bertemu dengan Renita, dan perempuan itu langsung menunjuk ke ruangan. Andi langsung masuk ke ruangan perempuan itu, dan melihat Renita sedang berbicara dengan Hasto. Tidak diduga, Andi melihat Renita menghapus air mata yang menetes dari sudut matanya.
“Maaf Bu Renita.., saya hanya menjalankan amanat. Tolong jangan bersikap jutek kepada saya..” merasa sudah
kenal baik dengan Renita, Andi meletakkan kertas dari Rektor di depan perempuan itu. Hasto hanya senyum-senyum melihat kejadian itu.
“Tinggal saja mas Andi.., nanti aku antar sendiri ke Rektorat jika sudah aku tanda tangani.” Renita meminta
Andi meninggalkannya sendiri.
“Maaf Bu.., sekali lagi aku minta maaf. Sebelum mendapatkan tanda tangan dari bu Renita, aku tidak akan pergi
dari sini. Karena seperti itu pesan dari pak Rektor bu.., tolong pahami saya.” Dengan wajah tak berdaya, Andi duduk di samping Hasto.
Mendengar penjelasan dari laki-laki itu, tangisan Renita Kembali pecah. Terbayang bagaimana ejekan dan cemooh dari rekan-rekan kerjanya, jika dia menanda tangani pernyataan kesanggupan itu. Tetapi melihat ke depannya, Andi dan Hasto hanya memandanginya dengan trenyuh, tetapi mereka juga tidak bisa melakukan apapun,
Beberapa saat, ketiga orang itu terdiam dalam satu ruangan yang sama. Renita sudah tidak dapat mengendalikan
air mata yang mengalir dari matanya. Begitu air mata itu dihapus, Kembali air mata penuh Kembali di kelopak mata perempuan itu.
“Ya sudah mas.., jika aku tidak tanda tangan, akan berpengaruh pada kinerja mas Andi. Bismillah.., ini bukan mauku mas, aku sudah menolaknya, tetapi pak rector tetap memaksaku untuk menerimanya.” Ucap Renita akhirnya.
“Aku paham bu.., tidak akan ada yang menyalahkan bu Renita. Semua juga tahu, bagaimana kalau pak Rektor punya kemauan.” Ucap Andi tanpa daya. Dengan tatapan lesu, merasa tidak tega dengan perempuan yang duduk di depannya itu, Andi memegang bahu Hasto,
“Bismillah semoga berkah bu.. Kami tahu bagaimana bu Renita kok,., jangan khawatir.” Hasto ikut membesarkan
hati Renita.
Dalam diam dan diiringi tetesan air mata, akhirnya Renita menanda tangani surat pernyataan kesanggupan itu
dengan disaksikan Andi dan Hasto. Meskipun surat pernyataan itu sudah ada tanda tangan dari Renita, tetapi Andi tetap duduk di depan perempuan itu. Tanpa disadarinya, sudut mata laki-laki itu juga basah oleh air mata. Hati kecilnya tertotok dengan kebesaran hati perempuan di depannya itu.
“Pergilah mas.., kasihan pak Rektor sedang batuk. Nanti beliau menunggu..” ucap Renita lirih. Perempuan itu
kemudian menelungkupkan wajahnya di depan meja kerjanya, berusaha menuangkan perasaannya lewat air mata.
“Baik Bu.., saya permisi ya. Ayo mas Hasto.., Kembali ke ruangan..” Andi kemudian berdiri, dan berjalan keluar
dari ruangan Renita.
************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments