Chapter 2 Bismillah

Renita dan Hasto masih berbincang berdua di ruangan BAAK yang sudah mulai sepi. Bahkan dua ruangan yang ada di sebelahnya yaitu ruang BAKU dan BAUK, juga sudah ditinggalkan para karyawannya. Karena memang jam di dinding sudah menunjukkan angka pukul 15.00, sudah melewati satu jam kerja di Universitas Perjuangan.

“Assalamu alaikum…” Hasto dan Renita terperangah melihat ke arah pintu. Tidak diduga, Prof. Dahlan Rektor

Universitas Perjuangan masuk dengan membawa satu lembar kertas di tangannya.

“Wa alaikum salam, monggo pak rector.” Hasto segera menjawab ucapan salam yang diberikan oleh pimpinan

universitas itu, Untung saja, barusan Bu renita menceritakan padanya, jika tidak Hasto akan terkejut melihat kedatangan pimpinan tertinggi di perguruan tinggi itu, datang ke ruang kerjanya.

“Saya akan bertemu dengan mbak Renita, mas Hasto keluar dulu ya..” tiba-tiba tanpa diduga. Prof. Dahlan mengusir Hasto untuk pergi dari ruangan tersebut.

“Baik pak..” tanpa menoleh lagi, Hasto langsung menuju pintu keluar BAAK.

Prof. Dahlan langsung duduk di depan Renita, dan perempuan itu menjadi mati kutu. Karena Renita tidak mengira

jika Prof. Dahlan hanya akan memberinya waktu satu hari saja, Perempuan itu berpikir jika paling tidak ada waktu satu minggu untuk mempertimbangkan penawaran itu.

“Bagaimana mbak Renita, apakah

sudah ditanda tangani surat pernyataannya? Uhuk.., uhukk..” sam bil terbatuk-batuk,

pak Dahlan Kembali mempertanyakan tentang surat pernyataan tersebut.

“Bapak sakit ya, mohon maaf pak, surat pernyataannya tertinggal di rumah. Tadi saya lupa untuk membawanya

Kembali ke kantor.” Di depan Prof. Dahlan, Renita seperti kehilangan suaranya. Kharisma Rektor ini memang sangat luar biasa, jika berhadapan siapapun akan merasa tertindas di depannya.

“Ada bollpoint…, ini kebetulan saya membawa lagi surat pernyataan tersebut.” Seperti tidak menerima penolakan,

laki-laki itu Kembali menyerahkan surat pernyataan kesanggupan untuk ditanda tangani perempuan itu. Renita merasa mati kutu, kehabisan akal untuk memberikan jawaban pada laki-laki atasannya itu.

“Mohon maaf pak rector, kebetulan tas kerja saya ada di fakultas. Jadi saya tidak memiliki pulpen di ruangan

ini.” Dengan alasan tidak masuk akal, Renita menanggapi perkataan pimpinannya itu.

“Mbak Renita.., tolong jangan halangi keinginan saya. Minggu depan saya akan menuju ke tanah suci untuk

menjalankan ibadah umroh, Jadi sebelum saya berangkat, saya ingin semua urusan sudah terselesaikan dengan baik. Jadi.., saya harap mbak Renita jangan mencoba untuk mengelabui saya. Baiklah jika begitu.., saya akan mengambilnya di ruangan saya.” Tiba-tiba tidak diduga, Prof. Dahlan berdiri dan sambil terbatuk, berjalan

meninggalkan Renita.

“Tidak perlu diambilkan pulpen pak, saya akan ambil sendiri tas saya di fakultas. Nanti jika sudah selesai,

saya akan mengembalikan surat pernyataan ini kepada Bapak.” Kembali Renita mengelak.

“Baiklah.., ingat sekali lagi. Jangan kecewakan saya..” Prof. Dahlan kemudian berjalan meninggalkan ruangan

tersebut,

*******

Beberapa jam sesudahnya

Prof. Dahlan berjalan keluar dari dalam ruangan, mendatangi ruang karyawan bagian administrasi Rektorat. Melihat

keberadaan mas Andi yang masih berada di belakang mejanya, Prof. Dahlan mendatangi laki-laki muda tersebut.

“Mas Andi.. segera ke ruangan bu Renita. Minta menanda tangani surat kesanggupan ini. Ingat harus dapat saat ini

juga, dan jangan Kembali jika belum mendapatkan tanda tangan dari bu Renita.” Dengan nada tegas, Prof. Dahlan memberi perintah pada Andi.

‘Baik pak..” tanpa mencari tahu peruntukkannya, Andi langsung menuju ke ruangan BAAK. Tetapi begitu masuk ke

ruangan tersebut, Andi tidak melihat keberadaan Bu Renita di dalam ruangan.

“Mas Denny.. bu Renita dimana ya..? Saya diutus pak rector untuk minta tanda tangan beliau.” Andi bertanya

pada salah satu karyawan BAAK.

“Tadi pergi sama mas Hasto.., sepertinya ke fakultas. Dicari saja di fakultas Ekonomi, sudah tahu kan, letak

ruangan beliau..” Denny menjawab pertanyaan Andi.

“Baik terima kasih mas, aku langsung cuzz kesana saja.” Tanpa banyak bicara, Andi langsung berjalan menuju

ke Fakultas Ekonomi. Fakultas itu untungnya masih berada di komplek bangunan Gedung Unit 1, hanya beda bangunan Gedung saja. Jika Rektorat berada di Gedung A, sedangkan Fakultas Ekonomi berada di Gedung B.

Di depan pintu masuk ruangan Fakultas, Andi berjumpa dengan Bu Yustina karyawan administrasi fakultas

tersebut. Andi berbisik,mengisyaratkan ingin bertemu dengan Renita, dan perempuan itu langsung menunjuk ke ruangan. Andi langsung masuk ke ruangan perempuan itu, dan melihat Renita sedang berbicara dengan Hasto. Tidak diduga, Andi melihat Renita menghapus air mata yang menetes dari sudut matanya.

“Maaf Bu Renita.., saya hanya menjalankan amanat. Tolong jangan bersikap jutek kepada saya..” merasa sudah

kenal baik dengan Renita, Andi meletakkan kertas dari Rektor di depan perempuan itu. Hasto hanya senyum-senyum melihat kejadian itu.

“Tinggal saja mas Andi.., nanti aku antar sendiri ke Rektorat jika sudah aku tanda tangani.” Renita meminta

Andi meninggalkannya sendiri.

“Maaf Bu.., sekali lagi aku minta maaf. Sebelum mendapatkan tanda tangan dari bu Renita, aku tidak akan pergi

dari sini. Karena seperti itu pesan dari pak Rektor bu.., tolong pahami saya.” Dengan wajah tak berdaya, Andi duduk di samping Hasto.

Mendengar penjelasan dari laki-laki itu, tangisan Renita Kembali pecah. Terbayang bagaimana ejekan dan cemooh dari rekan-rekan kerjanya, jika dia menanda tangani pernyataan kesanggupan itu. Tetapi melihat ke depannya, Andi dan Hasto hanya memandanginya dengan trenyuh, tetapi mereka juga tidak bisa melakukan apapun,

Beberapa saat, ketiga orang itu terdiam dalam satu ruangan yang sama. Renita sudah tidak dapat mengendalikan

air mata yang mengalir dari matanya. Begitu air mata itu dihapus, Kembali air mata penuh Kembali di kelopak mata perempuan itu.

“Ya sudah mas.., jika aku tidak tanda tangan, akan berpengaruh pada kinerja mas Andi. Bismillah.., ini bukan mauku mas, aku sudah menolaknya, tetapi pak rector tetap memaksaku untuk menerimanya.” Ucap Renita akhirnya.

“Aku paham bu.., tidak akan ada yang menyalahkan bu Renita. Semua juga tahu, bagaimana kalau pak Rektor punya kemauan.” Ucap Andi tanpa daya. Dengan tatapan lesu, merasa tidak tega dengan perempuan yang duduk di depannya itu, Andi memegang bahu Hasto,

“Bismillah semoga berkah bu.. Kami tahu bagaimana bu Renita kok,., jangan khawatir.” Hasto ikut membesarkan

hati Renita.

Dalam diam dan diiringi tetesan air mata, akhirnya Renita menanda tangani surat pernyataan kesanggupan itu

dengan disaksikan Andi dan Hasto. Meskipun surat pernyataan itu sudah ada tanda tangan dari Renita, tetapi Andi tetap duduk di depan perempuan itu. Tanpa disadarinya, sudut mata laki-laki itu juga basah oleh air mata. Hati kecilnya tertotok dengan kebesaran hati perempuan di depannya itu.

“Pergilah mas.., kasihan pak Rektor sedang batuk. Nanti beliau menunggu..” ucap Renita lirih. Perempuan itu

kemudian menelungkupkan wajahnya di depan meja kerjanya, berusaha menuangkan perasaannya lewat air mata.

“Baik Bu.., saya permisi ya. Ayo mas Hasto.., Kembali ke ruangan..” Andi kemudian berdiri, dan berjalan keluar

dari ruangan Renita.

************

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!