Dengan pengalaman kerja dan kemampuan kerja yang dimiliki oleh Renita, kerjaan Bidang 2 yang mencakup
tentang keuangan, sumber daya manusia, dan pengelolaan sarana prasarana dengan mudah dilaksanakan oleh Renita. Berbagai tugas yang tertunda Ketika pak Leo masih menjabat, dengan cepat diselesaikan oleh perempuan itu dengan timnya.
“Bu Renita.. jangan lupa. Tugas besar penghitungan anggaran tahun lalu harus segera dilakukan, Hal itu menjadi
salah satu tugas penting, karena terkait untuk penghitungan sisa lebih anggaran.” Dalam rapat koordinasi di tingkat pimpinan, Prof. Dahlan mengingatkan tugas bidang 2.
“Siap pak, nanti akan kami sebarkan undangan pada Tim Bidang 2, untuk segera melakukan penghitungan dengan
para pelaku anggaran.” Renita segera menyanggupi tugas yang diberikan itu.
Mendengar kesanggupan Renita, Prof. Dahlan kemudian mengarahkan tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh Wakil Rektor Bidang tiga. Hanya Wakil Rektor Bidang 1 saja yang sama sekali pekerjaannya tidak diutak-utik oleh Rektor. Tidak berapa lama kemudian, Rektor mengakhiri rapat dan semua Kembali ke ruang kerja masing-masing. Seperti biasa, begitu WR II dan WR III keluar dari ruang kerja Rektor, WR I masih bertahan di ruangan tersebut. Mungkin masih ada hal yang akan mereka berdua diskusikan, sehingga membutuhkan waktu khusus berdua.
“Sudah selesai bu Ren .. rapatnya..?” Andi bertanya pada Renita, Ketika melihat perempuan itu sudah keluar dari ruangan.
“Sudah mas.. bahasnya rapat hal rutinitas kok, jadi ga begitu lama. Yang penting semua WR sudah melaksanakan
apa yang menjadi tugas kita masing-masing..” Renita menjawab pertanyaan dari sekretaris Rektorat.
“Siap Bu..” sahut Andi.
********
Seorang laki-laki yang sudah masuk kategori tua karena sudah berusia 66 tahun tampak tersenyum di belakang
kerjanya. Sebagai seorang yang memegang jabatan sebagai Wakil Ketua Pengurus Yayasan Universitas Perjuangan, Tommitius Sahari seperti mendapatkan sebuah ide. Laki-laki paruh baya ini, sejak muda jadi mahasiswa di UP sangat menyukai bermain klenik. Beberapa sendang, sungai besar yang ada di seantero kota ini,
semuanya sudah digunakan sebagai tempat untuk merendam diri. Ambisi besar untuk menguasai UP menjadi salah satu pemicu laki-laki paruh baya itu, melakukan hal tersebut.
“Aku bisa memanfaatkan kesempatan ini.. karena sepertinya aku bisa mencium ada permainan yang tidak sehat dalam pergantian pejabat WR II di Lembaga. Jika sesuatu terjadi pada perempuan itu, tidak akan ada yang mencurigaiku.” Tommitius Sahari berpikir sendiri,
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dan seorang perempuan tua yang mengenakan kerudung masuk ke dalam ruangan. Tommitius segera duduk serius, dan dengan ramah menyapa perempuan itu.
“Dari mana bu.. sejak tadi saya hanya sendiri di ruangan, anggota Yayasan lainnya tidak ada yang datang kesini
sejak pagi..” ucap Tommitius.
“Tadi aku ikut karyawan menengok Intan petugas perpustakaan. Intan melahirkan sudah selapan usia bayinya, yah mewakili pihak Yayasan.” Perempuan tua yang Bernama Andini itu menjawab, sambil berjalan masuk dan duduk di kursinya.
“Baguslah Bu.. jadi kita juga ikut memperhatikan warga UP. Yang penting dari pihak Yayasan ada yang mewakili,
meskipun tidak semuanya bisa bergabung ikut menengok Intan..” Timmotius menanggapi.
Kedua orang tua itu kemudian saling sibuk dengan aktivitas masing-masing. Andini membuka buku besar bergaris
untuk mencatatkan pengeluaran hari ini, sedangkan Timmotius melihat ke arah layar laptopnya. Laki-laki tua itu memang tidak pernah menyadari usia tuanya, masih suka masuk membuka-buka situs bokep di youtube. Hal itu tidak menjadi rahasia umum, karena karyawan PPTIK yang memegang IP Lembaga bisa mengetahui track record dari semua orang di UP, dan bisa mencari jejak digital.
********
Di atas ranjang, Renita memijit-mijit alisnya. Sudah beberapa hari, Renita merasakan alisnya seperti tegang dan terkadang terasa nyeri dan menusuk-nusuk. Perempuan itu sudah memijit-mijit area yang sakit, namun belum bisa mengurangi rasa sakitnya. Bahkan beberapa obat salep juga sudah dioleskan untuk mengurangi rasa nyeri, namun rasa nyeri itu malah semakin terasa bertambah,
“Kenapa lagi mah.. sakit lagi.Sebenarnya yang sakit itu alis, atau matanya? Jika mata, gimana kalau ayah antarkan ke dokter mata saja.” Andri suami Renita bertanya dengan suara pelan pada istrinya.
“Ga tahulah yah.. pokoknya rasanya itu nyeri banget. Kayak ada kayu di dalam alis dengan posisi melintang. Sudah mamah pijit, dan dikasih obat tidak berkurang juga sakitnya. Tidak tahu ini mata atau alisnya yang sakit.” Renita mengeluhkan apa yang dirasakan pada suaminya.
“Hadeh.. kok ngeri mah.. Sudah kita ke RS. PKU Muhammadiyah saja, sepertinya besok siang ada jadwal Dokter
Mata. Mamah bisa periksa, dan dites siapa tahu mamah matanya Minus.” Dengan penuh perhatian Andri.. menyarankan untuk membawa istrinya ke RS.
“Iya yah besok kita ke RS, tapi sebelumnya kita ke Klinik dulu ambil rujukan, kan bisa pakai BPJS. Sayang, setiap bulan mamah bayar iuran masak tidak pernah digunakan.” Akhirnya Renita menyetujui tawaran suaminya.
“Sekarang mamah istirahat dulu saja, ayah bantu pijit punggung mamah pakai minyak kutus-kutus, siapa tahu tegang syarafnya langsung hilang..” Andri menawarkan untuk memijit punggung istrinya.
Andri memang laki-laki yang baik, laki-laki itu sangat menyayangi istri, dan kedua anak laki-laki mereka. Meskipun sering marah-marah, tetapi sebenarnya itu hanya untuk mendidik putranya agar tidak menjadi anak yang manja, dan salah pergaulan. Pengalaman masa mudanya yang terjerumus dalam pergaulan bebas, dan juga narkoba menjadi pengalaman buruk baginya. Bebekal pengalaman buruknya itu, makanya Andri sangat hati-hati dan terlalu protektif menjaga keluarganya.
Laki-laki itu segera mengambil minyak kutus-kutus, kemudian meminta istrinya berbaring telungkup dan melepas
baju atasannya. Dengan lincah, jari-jari Andri memijit punggung istrinya terutama di wilayah tengkuk dan belakang serta bawah telinga. Di pijit di area situ, Renita merasa sedikit berkurang sakitnya, dan lama kelamaan perempuan itu akhirnya tertidur.
“Mam.. gimana sakitnya, apakah sudah berkurang?” Andri bertanya dengan suara pelan. Tetapi tidak terdengar
suara jawaban dari Renita.
“Mam.. mam…” merasa tidak mendapatkan jawaban, Andri menengok ke bawah, dan melihat mata istrinya sudah
terpejam.
“Tidur ternyata.. kasihan mam.. mam.. menjabat posisi baru, belum ada dua minggu malah matanya sudah sakit
saja..” Andri bergumam, laki-laki itu seperti memiliki firasat buruk tentang istrinya. Tetapi laki-laki itu mengambil nafas Panjang untuk mengusir perasaan itu.
‘Semoga saja bukan penyakit apa-apa mah. Tapi kok firasatku tidak nyaman ya.” Kembali Andri bergumam lagi.
Laki-laki itu menatap wajah istrinya sekali lagi, terasa di sudut hati Andri melihat istrinya seperti ada sesuatu.
Laki-laki itu kemudian mengambil bantal, dan memposisikan istrinya tidur dengan posisi miring ke kanan. Satu
buah guling diletakkan di depan tubuh istrinya, dan satu kaki serta satu tangannya memeluk guling tersebut. Melihat istrinya tetap tidak terbangun, Andri mengambil selimut dan menyelimuti istrinya.
********..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments