Chapter 4 Sakit Mata

Dengan pengalaman kerja dan kemampuan kerja yang dimiliki oleh Renita, kerjaan Bidang 2 yang mencakup

tentang keuangan, sumber daya manusia, dan pengelolaan sarana prasarana dengan mudah dilaksanakan oleh Renita. Berbagai tugas yang tertunda Ketika pak Leo masih menjabat, dengan cepat diselesaikan oleh perempuan itu dengan timnya.

“Bu Renita.. jangan lupa. Tugas besar penghitungan anggaran tahun lalu harus segera dilakukan, Hal itu menjadi

salah satu tugas penting, karena terkait untuk penghitungan sisa lebih anggaran.” Dalam rapat koordinasi di tingkat pimpinan, Prof. Dahlan mengingatkan tugas bidang 2.

“Siap pak, nanti akan kami sebarkan undangan pada Tim Bidang 2, untuk segera melakukan penghitungan dengan

para pelaku anggaran.” Renita segera menyanggupi tugas yang diberikan itu.

Mendengar kesanggupan Renita, Prof. Dahlan kemudian mengarahkan tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh Wakil Rektor Bidang tiga. Hanya Wakil Rektor Bidang 1  saja yang sama sekali pekerjaannya tidak diutak-utik oleh Rektor. Tidak berapa lama kemudian, Rektor mengakhiri rapat dan semua Kembali ke ruang kerja masing-masing. Seperti biasa, begitu WR II dan WR III keluar dari ruang kerja Rektor, WR I masih bertahan di ruangan tersebut. Mungkin masih ada hal yang akan mereka berdua diskusikan, sehingga membutuhkan waktu khusus berdua.

“Sudah selesai bu Ren .. rapatnya..?” Andi bertanya pada Renita, Ketika melihat perempuan itu sudah keluar dari ruangan.

“Sudah mas.. bahasnya rapat hal rutinitas kok, jadi ga begitu lama. Yang penting semua WR sudah melaksanakan

apa yang menjadi tugas kita masing-masing..” Renita menjawab pertanyaan dari sekretaris Rektorat.

“Siap Bu..” sahut Andi.

********

Seorang laki-laki yang sudah masuk kategori tua karena sudah berusia 66 tahun tampak tersenyum di belakang

kerjanya. Sebagai seorang yang memegang jabatan sebagai Wakil Ketua Pengurus Yayasan Universitas Perjuangan, Tommitius Sahari seperti mendapatkan sebuah ide. Laki-laki paruh baya ini, sejak muda jadi mahasiswa di UP sangat menyukai bermain klenik. Beberapa sendang, sungai besar yang ada di seantero kota ini,

semuanya sudah digunakan sebagai tempat untuk merendam diri. Ambisi besar untuk menguasai UP menjadi salah satu pemicu laki-laki paruh baya itu, melakukan hal tersebut.

“Aku bisa memanfaatkan kesempatan ini.. karena sepertinya aku bisa mencium ada permainan yang tidak sehat dalam pergantian pejabat WR II di Lembaga. Jika sesuatu terjadi pada perempuan itu, tidak akan ada yang mencurigaiku.” Tommitius Sahari berpikir sendiri,

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dan seorang perempuan tua yang mengenakan kerudung masuk ke dalam ruangan. Tommitius segera duduk serius, dan dengan ramah menyapa perempuan itu.

“Dari mana bu.. sejak tadi saya hanya sendiri di ruangan, anggota Yayasan lainnya tidak ada yang datang kesini

sejak pagi..” ucap Tommitius.

“Tadi aku ikut karyawan menengok Intan petugas perpustakaan. Intan melahirkan sudah selapan usia bayinya, yah mewakili pihak Yayasan.” Perempuan tua yang Bernama Andini itu menjawab, sambil berjalan masuk dan duduk di kursinya.

“Baguslah Bu.. jadi kita juga ikut memperhatikan warga UP. Yang penting dari pihak Yayasan ada yang mewakili,

meskipun tidak semuanya bisa bergabung ikut menengok Intan..” Timmotius menanggapi.

Kedua orang tua itu kemudian saling sibuk dengan aktivitas masing-masing. Andini membuka buku besar bergaris

untuk mencatatkan pengeluaran hari ini, sedangkan Timmotius melihat ke arah layar laptopnya. Laki-laki tua itu memang tidak pernah menyadari usia tuanya, masih suka masuk membuka-buka situs bokep di youtube. Hal itu tidak menjadi rahasia umum, karena karyawan PPTIK yang memegang IP Lembaga bisa mengetahui track record dari semua orang di UP, dan bisa mencari jejak digital.

********

Di atas ranjang, Renita memijit-mijit alisnya. Sudah beberapa hari, Renita merasakan alisnya seperti tegang dan terkadang terasa nyeri dan menusuk-nusuk. Perempuan itu sudah memijit-mijit area yang sakit, namun belum bisa mengurangi rasa sakitnya. Bahkan beberapa obat salep juga sudah dioleskan untuk mengurangi rasa nyeri, namun rasa nyeri itu malah semakin terasa bertambah,

“Kenapa lagi mah.. sakit lagi.Sebenarnya yang sakit itu alis, atau matanya? Jika mata, gimana kalau ayah antarkan ke dokter mata saja.” Andri suami Renita bertanya dengan suara pelan pada istrinya.

“Ga tahulah yah.. pokoknya rasanya itu nyeri banget. Kayak ada kayu di dalam alis dengan posisi melintang. Sudah mamah pijit, dan dikasih obat tidak berkurang juga sakitnya. Tidak tahu ini mata atau alisnya yang sakit.” Renita mengeluhkan apa yang dirasakan pada suaminya.

“Hadeh.. kok ngeri mah.. Sudah kita ke RS. PKU Muhammadiyah saja, sepertinya besok siang ada jadwal Dokter

Mata. Mamah bisa periksa, dan dites siapa tahu mamah matanya Minus.” Dengan penuh perhatian Andri.. menyarankan untuk membawa istrinya ke RS.

“Iya yah besok kita ke RS, tapi sebelumnya kita ke Klinik dulu ambil rujukan, kan bisa pakai BPJS. Sayang, setiap bulan mamah bayar iuran masak tidak pernah digunakan.” Akhirnya Renita menyetujui tawaran suaminya.

“Sekarang mamah istirahat dulu saja, ayah bantu pijit punggung mamah pakai minyak kutus-kutus, siapa tahu tegang syarafnya langsung hilang..” Andri menawarkan untuk memijit punggung istrinya.

Andri memang laki-laki yang baik, laki-laki itu sangat menyayangi istri, dan kedua anak laki-laki mereka. Meskipun sering marah-marah, tetapi sebenarnya itu hanya untuk mendidik putranya agar tidak menjadi anak yang manja, dan salah pergaulan. Pengalaman masa mudanya yang terjerumus dalam pergaulan bebas, dan juga narkoba menjadi pengalaman buruk baginya. Bebekal pengalaman buruknya itu, makanya Andri sangat hati-hati dan terlalu protektif menjaga keluarganya.

Laki-laki itu segera mengambil minyak kutus-kutus, kemudian meminta istrinya berbaring telungkup dan melepas

baju atasannya. Dengan lincah, jari-jari Andri memijit punggung istrinya terutama di wilayah tengkuk dan belakang serta bawah telinga. Di pijit di area situ, Renita merasa sedikit berkurang sakitnya, dan lama kelamaan perempuan itu akhirnya tertidur.

“Mam.. gimana sakitnya, apakah sudah berkurang?” Andri bertanya dengan suara pelan. Tetapi tidak terdengar

suara jawaban dari Renita.

“Mam.. mam…” merasa tidak mendapatkan jawaban, Andri menengok ke bawah, dan melihat mata istrinya sudah

terpejam.

“Tidur ternyata.. kasihan mam.. mam.. menjabat posisi baru, belum ada dua minggu malah matanya sudah sakit

saja..” Andri bergumam, laki-laki itu seperti memiliki firasat buruk tentang istrinya. Tetapi laki-laki itu mengambil nafas Panjang untuk mengusir perasaan itu.

‘Semoga saja bukan penyakit apa-apa mah. Tapi kok firasatku tidak nyaman ya.” Kembali Andri bergumam lagi.

Laki-laki itu menatap wajah istrinya sekali lagi, terasa di sudut hati Andri melihat istrinya seperti ada sesuatu.

Laki-laki itu kemudian mengambil bantal, dan memposisikan istrinya tidur dengan posisi miring ke kanan. Satu

buah guling diletakkan di depan tubuh istrinya, dan satu kaki serta satu tangannya memeluk guling tersebut. Melihat istrinya tetap tidak terbangun, Andri mengambil selimut dan menyelimuti istrinya.

********..

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!