Keesokan Harinya
Renita dengan ditemani suaminya Andri Kembali datang ke RSUP DR. Sardjito untuk menjalani serangkaian pemeriksaan. Perempuan itu sudah melakukan puasa, karena akan dilakukan pengecekan sebelum makan, dan dilanjutkan pemeriksaan sesudah makan. Dengan sabar, Andri mendampingi istrinya, dan rela mendapatkan omelan karena emosi Renita yang kurang stabil. Laki-laki ini maklum dan sangat prihatin dengan apa yang dialami istrinya, sehingga tidak ikut terpancing emosinya.
“Hari ini sudah puasa mbak Renita.. karena pemeriksaan sampel darah kali ini dilakukan saat pasien puasa. Dan nanti diberi waktu 2 jam, agar pasien makan kemudian diambil darahnya lagi,” petugas laboratorium bertanya pada Renita.
“Sudah Bu.. monggo, saya siap untuk diambil darahnya.” Renita yang biasanya sangat takut dengan jarum suntik,
harus rela diambil sedikit darahnya untuk dilakukan pemeriksaan.
“Ga lama, semua sudah selesai mbak. Silakan mengisi perut dulu, dan setelah dua jam lagi silakan mbak Renita
kemari untuk dilakukan pemeriksaan.” Dengan ramah petugas laboratorium sudah menyelesaikan tahap pertama pengecekan.
Renita segera keluar menemui Andri yang menunggunya di luar ruangan. Perempuan itu segera mengajak suaminya untuk menuju ke kantin rumah sakit, dan kebetulan suaminya juga belum makan maupun minum apapun, karena untuk menemani istrinya.
“hasilnya langsung jadi hari ini ya mam..” sambil makan bakso, Andri bertanya pada Renita,
“Iya yah.. nanti kita bawa hasil cek laboratorium ke klinik pemeriksaan mata lagi. Jadi akan dianalisis, apa
yang jadi factor penyebabnya..” Renita menjawab pertanyaan suaminya.
*******
Dokter spesialis mata merasa sedikit bingung Ketika membaca hasil laboratorium. Dari pengecekan sample darah
sebelum dan sesudah puasa, tidak ada satupun dalam teori kedokteran yang mengindikasikan sebagai penyebab terjadinya stroke mata. Dengan agak ragu, dokter menggunakan tekanan darah sebagai factor penyebabnya. Gula, kadar kolesterol, trygleserid, dan semua yang bisa memicu terjadinya stroke mata, semua normal angkanya.
“Mbak Renita.. dari hasil pemeriksaan semua factor yang diperkirakan menjadi penyebab penyakit dikategorikan normal, Kami belum bisa merekomendasikan Tindakan mbak, untuk beberapa waktu mbak akan kita observasi terlebih dahulu. Baru kemudian akan kita putuskan, Tindakan apa yang bisa menangani permasalahan mata mbak Renita.” Dr. Irwan. Sp.M membacakan hasil analisis terhadap sakit perempuan itu.
“Ya dokt.. kita ikut apa yang disarankan oleh dokter.” Renita dan Andri hanya bisa pasrah.
“Setiap dua minggu, mbak Renita kita kasih rujukan untuk control ya, dan tidak akan ada obat atau penanganan
lainnya. Setelah beberapa bulan pemantauan, baru kita putuskan Tindakan apa yang dapat meringankan penyakit mbak Renita.” Dokter menambahkan. Setelah membuat surat rujukan untuk pemeriksaan lanjutan, dokter menyerahkan kertas itu pada renita,
“Bawa kertas ini setiap melakukan pemeriksaan control.” Ucap dokter.
“Baik DOkter Irwan, terima kasih.” Andri segera merengkuh bahu istrinya, kemudian membawanya keluar dari dalam ruangan.
******
Di Kantor
Prof. Dahlan mengundang rapat pimpinan yang juga dihadir oleh anggota Yayasan. Renita yang masih berada di
RSUP DR. Sardjito tidak bisa menghadiri rapat tersebut. Untungnya perempuan itu sudah menyampaikan ijin secara langsung pada rector, sehingga ketidak datangannya tidak menjadi masalah.
“Jadi yang barusan kami sampaikan merupakan rencana kerja kita. Mungkin ada yang akan memberikan sorotan atau masukan, disilakan.” Prof. Dahlan sebagai pemimpin rapat, menyampaikan paparan materi yang diambil dari hasil rapat kerja tahunan. Setiap awal bulan, rector memang melakukan pemantauan hasil kerja selama sebulan sebelumnya,
“Saya ijin memberikan sorotan pak Rektor, sebelum peserta rapat yang lain memberikan masukan. Sejak tadi yang
Rektor sampaikan terkait dengan rencana penyusunan realisasi anggaran tahun sebelumnya, dan juga rencana pengembangan SDM. Tetapi kenapa, WR II yang harusnya menggawangi permasalahan ini, malah tidak terlihat dan tidak hadir dalam rapat.” Tommitius mewakili Yayasan, menyampaikan sorotannya.
“Benar pak Tomm… harusnya mbak Renita yang menyampaikan, kenapa malah Rektor yang memaparkan.” Andini
menambahkan.
Rektor tersenyum mendengar perkataan dua orang yang mewakili dari unsur pengurus Yayasan. Prof. Dahlan menyadari, jika pengurus Yayasan yang ada saat ini, memang terlihat sering tidak menyetujui atau bahkan berusaha selalu mencari kelemahan kepemimpinan yang sekarang.
“Baik pak Tomm, Bu Andini.. kebetulan rapat hari ini, memang Bu Renita tidak bisa bergabung dengan kita di
ruang sidang ini. Beliau sudah dari kemarin ijin karena baru sakit mata, dan sudah dibawa ke spesialis mata di RS PKU Muhammadiyah, tetapi dirujuk ke RSUP DR. Sardjito dan diminta melakukan general check up hari ini. Tetapi
bapak/ibu pimpinan unit kerja dan dari pihak Yayasan, jangan khawatir. Bu Renita sendiri yang memberikan materi terkait bidang II, dan saya hanya menyampaikannya saja.” Rektor menjawab keraguan dari pihak Yayasan.
Peserta rapat yang lain tidak ada yang berani memberikan komentar, karena hampir semua pemimpin unit kerja juga kurang menyukai cara kerja dari Yayasan. Terkadang Yayasan terlalu overlap sering mencampuri ranah yang seharusnya menjadi kewenangan dan tanggung jawab dari pihak Lembaga universitas.
“Nha .. jika disampaikan alasan keberadaan Ibu WR II, semuanya kan jadi jelas dan terbuka. Tidak terkesan,
Rektor yang memonopoli semua aktivitas yang terjadi di Lembaga. Pimpinan unit kerja hanya seperti macan ompong tidak punya pendapat..” Tommitius menanggapi perkataan Rektor. Tetapi anehnya, terlihat seringai halus di wajah laki-laki tua itu. Andini yang duduk di samping laki-laki itu hanya diam dan tersenyum.
“Baik Bapak Wakil Ketua Pengurus Yayasan, dan ibu Bendahara Yayasan. Dalam memimpin Universitas, kami pimpinan di Rektorat selalu berusaha untuk mengimplementasikan Good University Governance.. asas keadilan, transparansi, akuntable selalu menjadi sesuatu yang diutamakan dalam setiap pengambilan keputusan. Jadi apa yang menjadi ranah masing-masing bidang, bidang yang lainnya juga ikut memahaminya. Sehingga tidak terjadi tumpang tindih, tapi saling memberikan masukan dan selalu brainstorming.” Rektor kembali menambahkan.
Semua yang ada di ruang sidang itu diam, tidak ada yang berani menyanggah apa yang dikatakan oleh Rektor. Dahlan memang memiliki charisma untuk berbicara, dan tidak mengakomodir sanggahan. Peserta rapat terkadang diberikan waktu untuk menyampaikan pendapatnya, namun akhirnya keputusan Rektor juga yang akhirnya akan diterapkan.
“Ijin bertanya pak Rektor..” Bu Winarti Direktur Pasca Sarjana menunjukkan jari.
“Iya Bu Win.. langsung saja disampaikan.” Bu Kiki Wakil Rektor I selaku moderator memberi waktu pada bu
Winarti.
“Terima kasih Bu WR I. Hanya mau konfirmasi saja, kami dari Pasca Sarjana masih belum bisa menyelesaikan laporan pertanggung jawaban keuangan pada tahun anggaran kemarin. Saat ini kegiatan masih progress dilakukan, apakah kami bisa meminta sedikit pengunduran waktu untuk penyelesaiannya.” terkait dengan anggaran, Direktur Pasca Sarjana mengajukan konfirmasi.
“Ijin bantu menjawab bu Direktur, WR II berpesan bagi unit kerja yang belum menyelesaikan pertanggung jawaban
keuangan, masih diberi waktu sebelum akhir bulan ini. Jika Bapak/Ibu pimpinan belum bisa menyelesaikannya, maka akan berdampak pada terpendingnya pencairan dana untuk bulan berikutnya. Jadi.. mohon semua mentaati kesepakatan yang sudah dilakukan.” WR I menjawab pertanyaan Direktur.
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments