Chapter 6 Koordinasi

Keesokan Harinya

Renita dengan ditemani suaminya Andri Kembali datang ke RSUP DR. Sardjito untuk menjalani serangkaian pemeriksaan. Perempuan itu sudah melakukan puasa, karena akan dilakukan pengecekan sebelum makan, dan dilanjutkan pemeriksaan sesudah makan. Dengan sabar, Andri mendampingi istrinya, dan rela mendapatkan omelan karena emosi Renita yang kurang stabil. Laki-laki ini maklum dan sangat prihatin dengan apa yang dialami istrinya, sehingga tidak ikut terpancing emosinya.

“Hari ini sudah puasa mbak Renita.. karena pemeriksaan sampel darah kali ini dilakukan saat pasien puasa. Dan nanti diberi waktu 2 jam, agar pasien makan kemudian diambil darahnya lagi,” petugas laboratorium bertanya pada Renita.

“Sudah Bu.. monggo, saya siap untuk diambil darahnya.” Renita yang biasanya sangat takut dengan jarum suntik,

harus rela diambil sedikit darahnya untuk dilakukan pemeriksaan.

“Ga lama, semua sudah selesai mbak. Silakan mengisi perut dulu, dan setelah dua jam lagi silakan mbak Renita

kemari untuk dilakukan pemeriksaan.” Dengan ramah petugas laboratorium sudah menyelesaikan tahap pertama pengecekan.

Renita segera keluar menemui Andri yang menunggunya di luar ruangan. Perempuan itu segera mengajak suaminya untuk menuju ke kantin rumah sakit, dan kebetulan suaminya juga belum makan maupun minum apapun, karena untuk menemani istrinya.

“hasilnya langsung jadi hari ini ya mam..” sambil makan bakso, Andri bertanya pada Renita,

“Iya yah.. nanti kita bawa hasil cek laboratorium ke klinik pemeriksaan mata lagi. Jadi akan dianalisis, apa

yang jadi factor penyebabnya..” Renita menjawab pertanyaan suaminya.

*******

Dokter spesialis mata merasa sedikit bingung Ketika membaca hasil laboratorium. Dari pengecekan sample darah

sebelum dan sesudah puasa, tidak ada satupun dalam teori kedokteran yang mengindikasikan sebagai penyebab terjadinya stroke mata. Dengan agak ragu, dokter menggunakan tekanan darah sebagai factor penyebabnya. Gula, kadar kolesterol, trygleserid, dan semua yang bisa memicu terjadinya stroke mata, semua normal angkanya.

“Mbak Renita.. dari hasil pemeriksaan semua factor yang diperkirakan menjadi penyebab penyakit dikategorikan normal, Kami belum bisa merekomendasikan Tindakan mbak, untuk beberapa waktu mbak akan kita observasi terlebih dahulu. Baru kemudian akan kita putuskan, Tindakan apa yang bisa menangani permasalahan mata mbak Renita.” Dr. Irwan. Sp.M membacakan hasil analisis terhadap sakit perempuan itu.

“Ya dokt.. kita ikut apa yang disarankan oleh dokter.” Renita dan Andri hanya bisa pasrah.

“Setiap dua minggu, mbak Renita kita kasih rujukan untuk control ya, dan tidak akan ada obat atau penanganan

lainnya. Setelah beberapa bulan pemantauan, baru kita putuskan Tindakan apa yang dapat meringankan penyakit mbak Renita.” Dokter menambahkan. Setelah membuat surat rujukan untuk pemeriksaan lanjutan, dokter menyerahkan kertas itu pada renita,

“Bawa kertas ini setiap melakukan pemeriksaan control.” Ucap dokter.

“Baik DOkter Irwan, terima kasih.” Andri segera merengkuh bahu istrinya, kemudian membawanya keluar dari dalam ruangan.

******

Di Kantor

Prof. Dahlan mengundang rapat pimpinan yang juga dihadir oleh anggota Yayasan. Renita yang masih berada di

RSUP DR. Sardjito tidak bisa menghadiri rapat tersebut. Untungnya perempuan itu sudah menyampaikan ijin secara langsung pada rector, sehingga ketidak datangannya tidak menjadi masalah.

“Jadi yang barusan kami sampaikan merupakan rencana kerja kita. Mungkin ada yang akan memberikan sorotan atau masukan, disilakan.” Prof. Dahlan sebagai pemimpin rapat, menyampaikan paparan materi yang diambil dari hasil rapat kerja tahunan. Setiap awal bulan, rector memang melakukan pemantauan hasil kerja selama sebulan sebelumnya,

“Saya ijin memberikan sorotan pak Rektor, sebelum peserta rapat yang lain memberikan masukan. Sejak tadi yang

Rektor sampaikan terkait dengan rencana penyusunan realisasi anggaran tahun sebelumnya, dan juga rencana pengembangan SDM. Tetapi kenapa, WR II yang harusnya menggawangi permasalahan ini, malah tidak terlihat dan tidak hadir dalam rapat.” Tommitius mewakili Yayasan, menyampaikan sorotannya.

“Benar pak Tomm… harusnya mbak Renita yang menyampaikan, kenapa malah Rektor yang memaparkan.” Andini

menambahkan.

Rektor tersenyum mendengar perkataan dua orang yang mewakili dari unsur pengurus Yayasan. Prof. Dahlan menyadari, jika pengurus Yayasan yang ada saat ini, memang terlihat sering tidak menyetujui atau bahkan berusaha selalu mencari kelemahan kepemimpinan yang sekarang.

“Baik pak Tomm, Bu Andini.. kebetulan rapat hari ini, memang Bu Renita tidak bisa bergabung dengan kita di

ruang sidang ini. Beliau sudah dari kemarin ijin karena baru sakit mata, dan sudah dibawa ke spesialis mata di RS PKU Muhammadiyah, tetapi dirujuk ke RSUP DR. Sardjito dan diminta melakukan general check up hari ini. Tetapi

bapak/ibu pimpinan unit kerja dan dari pihak Yayasan, jangan khawatir. Bu Renita sendiri yang memberikan materi terkait bidang II, dan saya hanya menyampaikannya saja.” Rektor menjawab keraguan dari pihak Yayasan.

Peserta rapat yang lain tidak ada yang berani memberikan komentar, karena hampir semua pemimpin unit kerja juga kurang menyukai cara kerja dari Yayasan. Terkadang Yayasan terlalu overlap sering mencampuri ranah yang seharusnya menjadi kewenangan dan tanggung jawab dari pihak Lembaga universitas.

“Nha .. jika disampaikan alasan keberadaan Ibu WR II, semuanya kan jadi jelas dan terbuka. Tidak terkesan,

Rektor yang memonopoli semua aktivitas yang terjadi di Lembaga. Pimpinan unit kerja hanya seperti macan ompong tidak punya pendapat..” Tommitius menanggapi perkataan Rektor. Tetapi anehnya, terlihat seringai halus di wajah laki-laki tua itu. Andini yang duduk di samping laki-laki itu hanya diam dan tersenyum.

“Baik Bapak Wakil Ketua Pengurus Yayasan, dan ibu Bendahara Yayasan. Dalam memimpin Universitas, kami pimpinan di Rektorat selalu berusaha untuk mengimplementasikan Good University Governance.. asas keadilan, transparansi, akuntable selalu menjadi sesuatu yang diutamakan dalam setiap pengambilan keputusan. Jadi apa yang menjadi ranah masing-masing bidang, bidang yang lainnya juga ikut memahaminya. Sehingga tidak terjadi tumpang tindih, tapi saling memberikan masukan dan selalu brainstorming.” Rektor kembali menambahkan.

Semua yang ada di ruang sidang itu diam, tidak ada yang berani menyanggah apa yang dikatakan oleh Rektor. Dahlan memang memiliki charisma untuk berbicara, dan tidak mengakomodir sanggahan. Peserta rapat terkadang diberikan waktu untuk menyampaikan pendapatnya, namun akhirnya keputusan Rektor juga yang akhirnya akan diterapkan.

“Ijin bertanya pak Rektor..” Bu Winarti Direktur Pasca Sarjana menunjukkan jari.

“Iya Bu Win.. langsung saja disampaikan.” Bu Kiki Wakil Rektor I selaku moderator memberi waktu pada bu

Winarti.

“Terima kasih Bu WR I. Hanya mau konfirmasi saja, kami dari Pasca Sarjana masih belum bisa menyelesaikan laporan pertanggung jawaban keuangan pada tahun anggaran kemarin. Saat ini kegiatan masih progress dilakukan, apakah kami bisa meminta sedikit pengunduran waktu untuk penyelesaiannya.” terkait dengan anggaran, Direktur Pasca Sarjana mengajukan konfirmasi.

“Ijin bantu menjawab bu Direktur, WR II berpesan bagi unit kerja yang belum menyelesaikan pertanggung jawaban

keuangan, masih diberi waktu sebelum akhir bulan ini. Jika Bapak/Ibu pimpinan belum bisa menyelesaikannya, maka akan berdampak pada terpendingnya pencairan dana untuk bulan berikutnya. Jadi.. mohon semua mentaati kesepakatan yang sudah dilakukan.” WR I menjawab pertanyaan Direktur.

*******

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!