Dengan hati berdegup kencang, Renita melakukan panggilan keluar pada nomor yang barusan mengirim SMS
kepadanya. Beberapa saat menunggu, tiba-tiba ada suara perempuan yang menerima panggilan itu.
“Ya.. selamat siang..” suara perempuan terdengar menjawab panggilan masuk Renita.
“Mohon maaf mbak, mau konfirmasi. Saya Sapta, barusan nomor ini miss call dan sudah mengirimkan SMS kepada saya. Jika boleh tahu, apakah ini benar nomor dokter di RSUP Sardjito. Tetapi jika ya, selama ini dokter yang menangani saya itu laki-laki, Namanya Dokter Irwan,” dengan hati-hati, Renita memberi tahu maksudnya melakukan panggilan.
Oh iya ibu.., saya Dokter Anita salah satu anggota Tim yang turut menangani masalah penyakit yang ibu derita.
Saya menyampaikan informasi, jika nanti pada hari Rabu ibu dijadwalkan untuk menjalani suntik retina. Terkait hal tersebut, pada hari Senin besok, mohon Ibu ke rumah sakit untuk kita lakukan observasi terakhir sebelum penyuntikan..” dengan ramah, Dokter Anita menjelaskan.
“Terima kasih Dokter, Inshaa Allah hari Senin, saya akan segera ke RS untuk diobservasi. Terima kasih sekali lagi dokter atas informasinya..” tanpa terasa air mata mengalir ke pipi Renita.
Andi dan Niken terkejut melihat reaksi yang ditunjukkan oleh pimpinannya itu. Kedua anak muda itu segera mendekati Renita, dan duduk di depan dan sampingnya.
“Bagaimana bu Ren.. apakah benar Dokter dari RSUP DR Sardjito yang melakukan panggilan.” Dengan hati-hati Andi bertanya pada renita.
Niken mengambil tissue kemudian memberikannya pada perempuan itu. Dengan menahan sesak, Renita mengambil tissue kemudian mengeringkan air matanya dengan tissue tersebut.
“Iya mas, memang benar dokter RS yang menelponku. Suntik retina itu apa to mas.. kok aku jadi merasa takut dan
ngeri,” masih menahan rasa sesak, Renita bertanya dengan suara pelan.
Andi tiba-tiba mengambil ponsel, kemudian laki-laki muda itu mengetik tulisan suntik retina di pencarian. Tidak
lama kemudian, terlihat banyak video yang memperlihatkan tentang kasus penyuntikan retina mata. Sebuah jarum kecil disuntikkan di retina mata seseorang.
“Ternyata bukan hanya istilah bu.., tapi beneran suntik yang disuntikkan langsung ke bola mata bu. Apakah bu
Renita disarankan dokter untuk menjalani penyuntikan ini..” dengan nada prihatin, Andi memperlihatkan video tersebut.
“Matikan saja mas.. mending ga lihat saja aku.. ngeri.” Ucap Renita. Perempuan itu kemudian masuk ke dalam
ruang kerjanya. Andi dan Niken saling berpandangan, kedua karyawan staff Rektorat itu turun bersedih dan prihatin dengan keadaan yang dialami atasannya.
Sesampainya di ruangan, Renita menulis SMS dan dikirimkan ke suaminya. Saat ini Andri suami Renita sedang
keluar kota mengantarkan tamu. Tidak lama kemudian, terdengar panggilan masuk ke ponsel Renita, dan terlihat suaminya sedang melakukan panggilan masuk kepadanya.
“Assalamu alaikum yah..” dengan suara lirih, Renita menerima panggilan masuk itu.
“Wa alaikum salam, mah.. tidak perlu terlalu dipikirkan panggilan masuk dan informasi dari Tim Dokter RS. Yang
penting mamah itu yakin, berdoa jika itu bukan mamah. Kalaupun iya, yah lebih baik kita segera mendapatkan penanganan sekarang bukan. Daripada kita menunggu-nunggu, dan terombang ambing dalam ketidak pastian.” Seperti biasanya, Andri selalu berusaha menenangkan istrinya.
“Tapi yah.. tadi mamah lihat youtube, ternyata beneran matanya yang disuntik, Mamah ngeri yah.. hiks..” kembali Renita menangis sambil menerima panggilan.
“Sudah mah.. tenanglah. Besok Senin ayah temani ke RS, ayah yakin itu bukan mamah. Bisa saja berkas mamah
ketukar dengan pasien yang lain. Hati-hati ya mah.. ayah besok sore sudah sampai di Jogja kok. Beri tahu anak-anak mah, pelan-pelan agar mereka juga mendoakan mamah.” Masih dengan nada menyejukkan, Andri terus berusaha menenangkan istrinya.
“Iya yah.. terima kasih. Assalamu alaikum..” akhirnya Renita mengakhiri panggilan telpon.
*******
Sesuai intruksi Dokter, Senin pagi dengan ditemani suaminya Andri, Renita sudah antri di RS untuk melakukan
observasi. Melihat kedatangan Renita, Handoyo perawat yang selalu menanganinya di awal menghampiri perempuan itu. Laki-laki itu tersenyum padanya,..
“Jadwal control ya mbak Renita..” dengan ramah, Handoyo menyapa perempuan itu. Laki-laki itu menyiapkan alat
pengukur tekanan darah, kemudian memasangkan di lengan Renita,
“Bagaimana mas.. berapa tekanan darah saya.” Dengan gugup Renita bertanya pada Handoyo.
“Jujur ya mbak Ren.., meskipun saya bekerja sebagai perawat, tetapi saya sendiri sering mengabaikan hasil pemeriksaan tekanan darah. Karena tekanan darah itu tergantung kondisi yang sedang dialami oleh pasien. Jika pasien dalam keadaan gugup, panik, atau was was maka tekanan pasien biasanya akan tinggi. Saat ini mbak Renita sepertinya terlihat gugup kan, makanya tekanan darahnya agak tinggi.” Untuk tidak membuat Renita bertambah gugup, Handoyo mengurangi ketegangan perempuan itu.
“Iya mas..” renita menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecut. Siapapun pasti akan merasa panik jika berada dalam posisinya.
Handoyo segera menyimpan kembali alat pengukur tensi, kemudian memandang ke arah suami Renita.
“Mas.. istrinya ditemani ya. Sekarang akan dilakukan tes membaca abjad di ruang yang ada di sebelah utara.”
Handoyo meminta Andri menemani Renita.
“Okay mas.. makasih ya..” Andri segera menggandeng tangan istrinya, kemudian duduk antri di tempat duduk yang
disediakan. Masih ada dua orang yang tampak antri menunggu untuk menjalani pengujian.
Beberapa saat kemudian tiba giliran Renita. Sebelum perempuan itu masuk ke ruang pengujian, Andri menggenggam erat tangan istrinya seperti memberinya semangat. Perempuan itu melangkah gontai memasuki ruangan. Renita melihat papan yang berisi Snellen chart yang digunakan untuk tes mata, yang terdiri dari 11 baris huruf kapital dengan ukuran yang bervariasi. Semakin ke bawah ukuran huruf akan semakin kecil. Tampak petugas pengujian tersenyum melihat Renita.
“Kita mulai pengujian ya bu.. coba ibu baca tulisan pada baris pertama dalam snallen chart di depan.” Dengan ramah, petugas meminta Renita membaca tulisan tersebut.
“E.., F P.” dengan lancar, Renita membaca tulisan pada baris pertama dan baris kedua.
“Bagus.. coba bu Renita baca pada baris ke tujuh sekarang..” karena melihat jika Renita sudah lancar membaca
tanpa tersendat, petugas itu meminta perempuan itu mulai membaca huruf yang semakin kecil.
“F E L O P Z D..” dengan lancar, Renita membaca huruf yang lebih kecil. Petugas itu tersenyum, kemudian Renita
diminta untuk menutup sebelah matanya, kemudian meminta perempuan itu kembali membaca.
Tidak disangka, semua huruf yang ada pada Snallen Chart bisa dibaca Renita dengan jelas, Perempuan ini merasa heran sendiri dengan yang terjadi. Merasa jika pasien sudah lancar membaca, petugas itu akhirnya mengakhiri pengujian.
“Ibu.. ternyata ibu sudah lancar membaca. Nanti sampaikan pada Dokter ya ibu, jika ibu sudah lancer membaca. Ini
juga sudah saya tulis dalam rekomendasi, siapa tahu dokter tidak membacanya dan asal menyuruh bu renita untuk melakukan suntik retina.” Petugas menyampaikan beberapa pesan pada Renita,
“Baik mas.. terima kasih ya atas bantuannya.” Dengan wajah cerah dan berbinar, Renita keluar dari dalam ruangan
pengujian. Melihat perubahan ekspresi istrinya, Andri mendekati perempuan itu. Tanpa bicara apapun, Renita memeluk suaminya dengan erat.
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments