Chapter 9 Snellen Chart

Dengan hati berdegup kencang, Renita melakukan panggilan keluar pada nomor yang barusan mengirim SMS

kepadanya. Beberapa saat menunggu, tiba-tiba ada suara perempuan yang menerima panggilan itu.

“Ya.. selamat siang..” suara perempuan terdengar menjawab panggilan masuk Renita.

“Mohon maaf mbak, mau konfirmasi. Saya Sapta, barusan nomor ini miss call dan sudah mengirimkan SMS kepada saya. Jika boleh tahu, apakah ini benar nomor dokter di RSUP Sardjito. Tetapi jika ya, selama ini dokter yang menangani saya itu laki-laki, Namanya Dokter Irwan,” dengan hati-hati, Renita memberi tahu maksudnya melakukan panggilan.

Oh iya ibu.., saya Dokter Anita salah satu anggota Tim yang turut menangani masalah penyakit yang ibu derita.

Saya menyampaikan informasi, jika nanti pada hari Rabu ibu dijadwalkan untuk menjalani suntik retina. Terkait hal tersebut, pada hari Senin besok, mohon Ibu ke rumah sakit untuk kita lakukan observasi terakhir sebelum penyuntikan..” dengan ramah, Dokter Anita menjelaskan.

“Terima kasih Dokter, Inshaa Allah hari Senin,  saya akan segera ke RS untuk diobservasi. Terima kasih sekali lagi dokter atas informasinya..” tanpa terasa air mata mengalir ke pipi Renita.

Andi dan Niken terkejut melihat reaksi yang ditunjukkan oleh pimpinannya itu. Kedua anak muda itu segera mendekati Renita, dan duduk di depan dan sampingnya.

“Bagaimana bu Ren.. apakah benar Dokter dari RSUP DR Sardjito yang melakukan panggilan.” Dengan hati-hati Andi bertanya pada renita.

Niken mengambil tissue kemudian memberikannya pada perempuan itu. Dengan menahan sesak, Renita mengambil tissue kemudian mengeringkan air matanya dengan tissue tersebut.

“Iya mas, memang benar dokter RS yang menelponku. Suntik retina itu apa to mas.. kok aku jadi merasa takut dan

ngeri,” masih menahan rasa sesak, Renita bertanya dengan suara pelan.

Andi tiba-tiba mengambil ponsel, kemudian laki-laki muda itu mengetik tulisan suntik retina di pencarian. Tidak

lama kemudian, terlihat banyak video yang memperlihatkan tentang kasus penyuntikan retina mata. Sebuah jarum kecil disuntikkan di  retina mata seseorang.

“Ternyata bukan hanya istilah bu.., tapi beneran suntik yang disuntikkan langsung ke bola mata bu. Apakah bu

Renita disarankan dokter untuk menjalani penyuntikan ini..” dengan nada prihatin, Andi memperlihatkan video tersebut.

“Matikan saja mas.. mending ga lihat saja aku.. ngeri.” Ucap Renita. Perempuan itu kemudian masuk ke dalam

ruang kerjanya. Andi dan Niken saling berpandangan, kedua karyawan staff Rektorat itu turun bersedih dan prihatin dengan keadaan yang dialami atasannya.

Sesampainya di ruangan, Renita menulis SMS dan dikirimkan ke suaminya. Saat ini Andri suami Renita sedang

keluar kota mengantarkan tamu. Tidak lama kemudian, terdengar panggilan masuk ke ponsel Renita, dan terlihat suaminya sedang melakukan panggilan masuk kepadanya.

“Assalamu alaikum yah..” dengan suara lirih, Renita menerima panggilan masuk itu.

“Wa alaikum salam, mah.. tidak perlu terlalu dipikirkan panggilan masuk dan informasi dari Tim Dokter RS. Yang

penting mamah itu yakin, berdoa jika itu bukan mamah. Kalaupun iya, yah lebih baik kita segera mendapatkan penanganan sekarang bukan. Daripada kita menunggu-nunggu, dan terombang ambing dalam ketidak pastian.” Seperti biasanya, Andri selalu berusaha menenangkan istrinya.

“Tapi yah.. tadi mamah lihat youtube, ternyata beneran matanya yang disuntik, Mamah ngeri yah.. hiks..” kembali Renita menangis sambil menerima panggilan.

“Sudah mah.. tenanglah. Besok Senin ayah temani ke RS, ayah yakin itu bukan mamah. Bisa saja berkas mamah

ketukar dengan pasien yang lain. Hati-hati ya mah.. ayah besok sore sudah sampai di Jogja kok. Beri tahu anak-anak mah, pelan-pelan agar mereka juga mendoakan mamah.” Masih dengan nada menyejukkan, Andri terus berusaha menenangkan istrinya.

“Iya yah.. terima kasih. Assalamu alaikum..” akhirnya Renita mengakhiri panggilan telpon.

*******

Sesuai intruksi Dokter, Senin pagi dengan ditemani suaminya Andri, Renita sudah antri di RS untuk melakukan

observasi. Melihat kedatangan Renita, Handoyo perawat yang selalu menanganinya di awal menghampiri perempuan itu. Laki-laki itu tersenyum padanya,..

“Jadwal control ya mbak Renita..” dengan ramah, Handoyo menyapa perempuan itu. Laki-laki itu menyiapkan alat

pengukur tekanan darah, kemudian memasangkan di lengan Renita,

“Bagaimana mas.. berapa tekanan darah saya.” Dengan gugup Renita bertanya pada Handoyo.

“Jujur ya mbak Ren.., meskipun saya bekerja sebagai perawat, tetapi saya sendiri sering mengabaikan hasil pemeriksaan tekanan darah. Karena tekanan darah itu tergantung kondisi yang sedang dialami oleh pasien. Jika pasien dalam keadaan gugup, panik, atau was was maka tekanan pasien biasanya akan tinggi. Saat ini mbak Renita sepertinya terlihat gugup kan, makanya tekanan darahnya agak tinggi.” Untuk tidak membuat Renita bertambah gugup, Handoyo mengurangi ketegangan perempuan itu.

“Iya mas..” renita menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecut. Siapapun pasti akan merasa panik jika berada dalam posisinya.

Handoyo segera menyimpan kembali alat pengukur tensi, kemudian memandang ke arah suami Renita.

“Mas.. istrinya ditemani ya. Sekarang akan dilakukan tes membaca abjad di ruang yang ada di sebelah utara.”

Handoyo meminta Andri menemani Renita.

“Okay mas.. makasih ya..” Andri segera menggandeng tangan istrinya, kemudian duduk antri di tempat duduk yang

disediakan. Masih ada dua orang yang tampak antri menunggu untuk menjalani pengujian.

Beberapa saat kemudian tiba giliran Renita. Sebelum perempuan itu masuk ke ruang pengujian, Andri menggenggam erat tangan istrinya seperti memberinya semangat. Perempuan itu melangkah gontai memasuki ruangan. Renita melihat papan yang berisi Snellen chart yang digunakan untuk tes mata, yang terdiri dari 11 baris huruf kapital dengan ukuran yang bervariasi. Semakin ke bawah ukuran huruf akan semakin kecil. Tampak petugas pengujian tersenyum melihat Renita.

“Kita mulai pengujian ya bu.. coba ibu baca tulisan pada baris pertama dalam snallen chart di depan.” Dengan ramah, petugas meminta Renita membaca tulisan tersebut.

“E.., F P.” dengan lancar, Renita membaca tulisan pada baris pertama dan baris kedua.

“Bagus.. coba bu Renita baca pada baris ke tujuh sekarang..” karena melihat jika Renita sudah lancar membaca

tanpa tersendat, petugas itu meminta perempuan itu mulai membaca huruf yang semakin kecil.

“F E L O P Z D..” dengan lancar, Renita membaca huruf yang lebih kecil. Petugas itu tersenyum, kemudian Renita

diminta untuk menutup sebelah matanya, kemudian meminta perempuan itu kembali membaca.

Tidak disangka, semua huruf yang ada pada Snallen Chart bisa dibaca Renita dengan jelas, Perempuan ini merasa heran sendiri dengan yang terjadi. Merasa jika pasien sudah lancar membaca, petugas itu akhirnya mengakhiri pengujian.

“Ibu.. ternyata ibu sudah lancar membaca. Nanti sampaikan pada Dokter ya ibu, jika ibu sudah lancer membaca. Ini

juga sudah saya tulis dalam rekomendasi, siapa tahu dokter tidak membacanya dan asal menyuruh bu renita untuk melakukan suntik retina.” Petugas menyampaikan beberapa pesan pada Renita,

“Baik mas.. terima kasih ya atas bantuannya.” Dengan wajah cerah dan berbinar, Renita keluar dari dalam ruangan

pengujian. Melihat perubahan ekspresi istrinya, Andri mendekati perempuan itu. Tanpa bicara apapun, Renita memeluk suaminya dengan erat.

*******

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!