Chapter 13 Konspirasi

Hari demi hari dilalui Renita di UPdengan rutinitas. Akhir-akhir ini perdebatan dengan Rektor dan WR I semakin

tajam, bahkan sindiran-sindiran keras yang dialamatkan Renita juga semakin gencar. Tetapi Renita mengabaikannya, karena untungnya dari semua kalang baik dari kalangan pantry, security sampai pada level atas, Renita mengenal semua pegawai di UP dengan baik. Bahkan karena kelincahan dan kecekatannya, Renita juga mengenal baik dengan unsur orang-orang yang ada di Yayasan pusat, yaitu di Pengurus Besar. Bahkan beberapa kali pertemuan, Ketua Umum Yayasan sering mengajak Renita untuk diskusi Bersama.

“Pak Rektor.. ternyata kita di Rektorat tidak tahu apa-apa.. Di luar, sudah tersebar jika Yayasan sudah membentuk Tim Suksesi Kepemimpinan. Tidak etis dong, masak Rektorat tidak diajak bicara, bahkan Rektor yang masih menjabat seperti ditinggalkan.” Tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan, WR I yang baru datang membuka pembicaraan.

Semua yang duduk di ruangan itu melihat ke arah Bu Kiki, dan tampak ekspresi kesal di wajahnya.

“Duduk dulu bu.. ibu itu dapatinformasi dari mana. Apakah yang lainnya sudah mendengar, Bu Renita mungkin

atau pak Jatmiko..” Prof. Dahlan bertanya satu persatu pada WR yang lain.

“Saya tidak tahu Prof., dan bahkan belum mendengarnya.” Renita langsung menanggapi. Karena memang perempuan itu belum mendapatkan informasi sedikitpun tentang berita itu.

“Saya juga belum mendengar, malah baru dengan barusan dari Bu Kiki..” Jatmiko menanggapi.

“Kita lihat saja nanti, sampai sejauh mana Yayasan berani bertindak. Apakah mereka itu menganggap kita ini musuh

sehingga harus dirahasiakan seperti ini. Untung saja tidak ada yang bertanya tentang hal ini pada kita, jika ada betapa memalukannya.” Prof. Dahlan membuat analisa.

“Jika seperti itu kan tidak benar, kepanitiaan yang mereka bentuk dianggap tidak sah. Warga UP bisa melakukan

suatu tuntutan hukum..” Bu Kiki tampak marah menanggapi situasi. Sedangkan Renita dan Jatmiko hanya diam tidak bicara apa-apa, takut membuat kesalahan.

Rapat koordinasi Rektorat yang semula akan membahas program kerja jadi buyar, karena semua mengeluarkan emosinya. Wajah Prof. Dahlan tampak memerah menahan emosi, tetapi mungkin karena factor usia dan kedewasaan, laki-laki itu lebih bisa untuk menahan diri.

*****

Tidak ada sosialisasi secara lisan, tiba-tiba undangan penjaringan aspirasi warga UP untuk pemilihan Rektor sudah

beredar. Orang-orang di Rektorat malah bingung, dan Renita menjadi satu-satunya yang dicurigai menyembunyikan informasi. Padahal perempuan itu betul-betul tidak tahu, dan tidak ikut untuk melakukan konspirasi.

Tepat hari Rabu, system pemilihan suara dengan melakukan pencontrengan diadakan di Gedung auditorium. Acara penyampaian aspirasi dibatasi sampai pukul 12.00. Jika sampai pukul tersebut, pegawai belum melakukan registrasi, maka sudah tidak diperbolehkan lagi menyampaikan aspirasi dengan cara mencontreng calon Rektor yang dipilih.

“Bu Renita sudah ke auditorium belum Bu.. untuk melakukan pemilihan..” dari samping ruang kerjanya., Jatmiko bertanya pada Renita.

“Belum pak.. ini sebentar lagi. Sebenarnya sejak tadi saya menunggu Bu Kiki, tapi beliaunya belum datang-datang. Rencana ini mau saya tinggal saja pak.. lagian pekerjaan kita juga sudah selesai.” Dari meja kerjanya, Renita menanggapi perkataan Jatmiko.

“Sekarang saja Bu.. saya barengan sekalian..” ternyata Jatmiko mengajak datang bersama-sama.

“Baik pak..” Renita segera bersiap kemudian berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya.

Renita menengok ke tempat kerja Andi dan Niken, tetapi kedua anak muda itu tidak ada di tempatnya. Mungkin sedang berada di auditorium untuk melakukan pilihan. Renita segera menghampiri Jatmiko yang sudah menunggunya di depan pintu ruangan laki-laki tersebut.

“Bu Renita nanti mau milih siapa?” sambil berjalan, Jatmiko melangkahkan kaki.

“Mmm siapa ya pak, bingung sih. Untuk Prof. sepertinya saya tidak deh pak, beliau sudah terlalu lama dan terlalu

sering duduk di pimpinan. Mungkin UP memerlukan wajah baru, dan pola pemikiran baru yang bisa merubah UP. Prof. juga lebih bisa berkonsentrasi untuk pengembangan karir di tingkat pusat.” Renita dengan jujur menyampaikan perkataannya.

“Benar bu.. saya juga bukan beliau kok yang akan saya pilih. Memang benar yang Ibu sampaikan, kita memerlukan

pemikiran baru.” Jatmiko mengiyakan pemikiran Renita.

Kedua orang itu tidak lama kemudian sampai di depan auditorium. Ternyata antusiasme warga UP sangat besar meskipun tidak ada sosialisasi secara lisan. Kepanitiaan juga diambilkan orang-orang baru, yang mungkin satu visi dan pemikiran dengan Yayasan. Renita tidak mau banyak berpikir, perempuan itu akhirnya masuk ke auditorium dan langsung menerima kertas untuk dicontreng.

Tidak mau lama-lama berada di auditorium, setelah melakukan pencontrengan renita segera Kembali ke Gedung A tempat ruang kerjanya berada. Undangan rapat jam sepuluh, menjadikan perempuan itu bergegas dan bahkan melupakan Jatmiko. Padahal keduanya tadi datang bersamaan, tetapi ketika kembali Renita berjalan sendiri.

******

Meskipun di auditorium sedang ada perhelatan, Rektorat tetap mengadakan rapat pimpinan untuk menjalankan program kerja. Di bulan Juli.. sebenarnya mereka memiliki akan menyelenggarakan International Conference bekerja sama dengan Pengurus Besar. Karena merasa masih menjadi tanggung jawab mereka, Prof. Dahlan tetap bermaksud untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut.

“Bu Kiki sudah ke auditorium untuk jajak pendapat..” Prof. Dahlan bertanya pada WR I. saat ini mereka sedang break rapat.

“Belum.. malas saja. Buat kepanitiaan tidak benar kayak gitu, malas sebenarnya mau datang..” Kiki membuat alasan, disambung dengan marah-marah tidak jelas.

“Tidak boleh begitu.. harus tetap menghormati atasan kita. Sebentar lagi acara akan ditutup lho, tadi aku dengar

pukul 12, akan diakhiri.” Prof. Dahlan mengajak bicara Bu Kiki.

“Lihat saja berani menutup sebelum aku jajak pendapat, bisa aku damprat panitianya.” Akhirnya Bu Kiki mengalah,

perempuan itu kemudian keluar dari ruang siding Rektorat dan menuju ke auditorium.

Jatmiko dan Renita saling berpandangan mata, dan mereka tersenyum tanpa diketahui Prof. Dahlan. Mereka tahu jika WR I dan Rektor semacam marah terhadap keadaan, dan mereka seperti berpikir jika warga UP masih mendukung mereka. Jatmiko dan Renita kemudian kembali menekuni pekerjaan yang sedang mereka selesaikan saat ini. Prof. Dahlan mengarahkan pandangan matanya pada ponsel yang ada di tangannya, seperti sedang membaca isi pesan yang masuk via wa. Tidak lama kemudian, Bu Kiki sudah Kembali ke ruang sidang dengan wajah penuh emosi..

“Kenapa Bu.. sudah kan jajak pendapatnya.” Dengan sabar, Prof, Dahlan bertanya pada Bu Kiki.

“Sudah.. tadinya benar-benar ditutup dengan alasan sudah mau selesai. Ya aku damprat semua panitianya, orang masih jam 11.30, kok mau diakhiri. Itu kan sama saja mereka dholim, tidak menghargai pekerjaan pegawai.” Bu Kiki mengutarakan kekesalannya.

“Sudah.. sudah sabar. Tidak baik jika didengar orang yang lewat di ruang sidang. Nanti dikiranya kita enggan turun dari jabatan.” Prof. Dahlan Kembali menenangkan WR I.

******

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!