Hari demi hari dilalui Renita di UPdengan rutinitas. Akhir-akhir ini perdebatan dengan Rektor dan WR I semakin
tajam, bahkan sindiran-sindiran keras yang dialamatkan Renita juga semakin gencar. Tetapi Renita mengabaikannya, karena untungnya dari semua kalang baik dari kalangan pantry, security sampai pada level atas, Renita mengenal semua pegawai di UP dengan baik. Bahkan karena kelincahan dan kecekatannya, Renita juga mengenal baik dengan unsur orang-orang yang ada di Yayasan pusat, yaitu di Pengurus Besar. Bahkan beberapa kali pertemuan, Ketua Umum Yayasan sering mengajak Renita untuk diskusi Bersama.
“Pak Rektor.. ternyata kita di Rektorat tidak tahu apa-apa.. Di luar, sudah tersebar jika Yayasan sudah membentuk Tim Suksesi Kepemimpinan. Tidak etis dong, masak Rektorat tidak diajak bicara, bahkan Rektor yang masih menjabat seperti ditinggalkan.” Tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan, WR I yang baru datang membuka pembicaraan.
Semua yang duduk di ruangan itu melihat ke arah Bu Kiki, dan tampak ekspresi kesal di wajahnya.
“Duduk dulu bu.. ibu itu dapatinformasi dari mana. Apakah yang lainnya sudah mendengar, Bu Renita mungkin
atau pak Jatmiko..” Prof. Dahlan bertanya satu persatu pada WR yang lain.
“Saya tidak tahu Prof., dan bahkan belum mendengarnya.” Renita langsung menanggapi. Karena memang perempuan itu belum mendapatkan informasi sedikitpun tentang berita itu.
“Saya juga belum mendengar, malah baru dengan barusan dari Bu Kiki..” Jatmiko menanggapi.
“Kita lihat saja nanti, sampai sejauh mana Yayasan berani bertindak. Apakah mereka itu menganggap kita ini musuh
sehingga harus dirahasiakan seperti ini. Untung saja tidak ada yang bertanya tentang hal ini pada kita, jika ada betapa memalukannya.” Prof. Dahlan membuat analisa.
“Jika seperti itu kan tidak benar, kepanitiaan yang mereka bentuk dianggap tidak sah. Warga UP bisa melakukan
suatu tuntutan hukum..” Bu Kiki tampak marah menanggapi situasi. Sedangkan Renita dan Jatmiko hanya diam tidak bicara apa-apa, takut membuat kesalahan.
Rapat koordinasi Rektorat yang semula akan membahas program kerja jadi buyar, karena semua mengeluarkan emosinya. Wajah Prof. Dahlan tampak memerah menahan emosi, tetapi mungkin karena factor usia dan kedewasaan, laki-laki itu lebih bisa untuk menahan diri.
*****
Tidak ada sosialisasi secara lisan, tiba-tiba undangan penjaringan aspirasi warga UP untuk pemilihan Rektor sudah
beredar. Orang-orang di Rektorat malah bingung, dan Renita menjadi satu-satunya yang dicurigai menyembunyikan informasi. Padahal perempuan itu betul-betul tidak tahu, dan tidak ikut untuk melakukan konspirasi.
Tepat hari Rabu, system pemilihan suara dengan melakukan pencontrengan diadakan di Gedung auditorium. Acara penyampaian aspirasi dibatasi sampai pukul 12.00. Jika sampai pukul tersebut, pegawai belum melakukan registrasi, maka sudah tidak diperbolehkan lagi menyampaikan aspirasi dengan cara mencontreng calon Rektor yang dipilih.
“Bu Renita sudah ke auditorium belum Bu.. untuk melakukan pemilihan..” dari samping ruang kerjanya., Jatmiko bertanya pada Renita.
“Belum pak.. ini sebentar lagi. Sebenarnya sejak tadi saya menunggu Bu Kiki, tapi beliaunya belum datang-datang. Rencana ini mau saya tinggal saja pak.. lagian pekerjaan kita juga sudah selesai.” Dari meja kerjanya, Renita menanggapi perkataan Jatmiko.
“Sekarang saja Bu.. saya barengan sekalian..” ternyata Jatmiko mengajak datang bersama-sama.
“Baik pak..” Renita segera bersiap kemudian berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya.
Renita menengok ke tempat kerja Andi dan Niken, tetapi kedua anak muda itu tidak ada di tempatnya. Mungkin sedang berada di auditorium untuk melakukan pilihan. Renita segera menghampiri Jatmiko yang sudah menunggunya di depan pintu ruangan laki-laki tersebut.
“Bu Renita nanti mau milih siapa?” sambil berjalan, Jatmiko melangkahkan kaki.
“Mmm siapa ya pak, bingung sih. Untuk Prof. sepertinya saya tidak deh pak, beliau sudah terlalu lama dan terlalu
sering duduk di pimpinan. Mungkin UP memerlukan wajah baru, dan pola pemikiran baru yang bisa merubah UP. Prof. juga lebih bisa berkonsentrasi untuk pengembangan karir di tingkat pusat.” Renita dengan jujur menyampaikan perkataannya.
“Benar bu.. saya juga bukan beliau kok yang akan saya pilih. Memang benar yang Ibu sampaikan, kita memerlukan
pemikiran baru.” Jatmiko mengiyakan pemikiran Renita.
Kedua orang itu tidak lama kemudian sampai di depan auditorium. Ternyata antusiasme warga UP sangat besar meskipun tidak ada sosialisasi secara lisan. Kepanitiaan juga diambilkan orang-orang baru, yang mungkin satu visi dan pemikiran dengan Yayasan. Renita tidak mau banyak berpikir, perempuan itu akhirnya masuk ke auditorium dan langsung menerima kertas untuk dicontreng.
Tidak mau lama-lama berada di auditorium, setelah melakukan pencontrengan renita segera Kembali ke Gedung A tempat ruang kerjanya berada. Undangan rapat jam sepuluh, menjadikan perempuan itu bergegas dan bahkan melupakan Jatmiko. Padahal keduanya tadi datang bersamaan, tetapi ketika kembali Renita berjalan sendiri.
******
Meskipun di auditorium sedang ada perhelatan, Rektorat tetap mengadakan rapat pimpinan untuk menjalankan program kerja. Di bulan Juli.. sebenarnya mereka memiliki akan menyelenggarakan International Conference bekerja sama dengan Pengurus Besar. Karena merasa masih menjadi tanggung jawab mereka, Prof. Dahlan tetap bermaksud untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut.
“Bu Kiki sudah ke auditorium untuk jajak pendapat..” Prof. Dahlan bertanya pada WR I. saat ini mereka sedang break rapat.
“Belum.. malas saja. Buat kepanitiaan tidak benar kayak gitu, malas sebenarnya mau datang..” Kiki membuat alasan, disambung dengan marah-marah tidak jelas.
“Tidak boleh begitu.. harus tetap menghormati atasan kita. Sebentar lagi acara akan ditutup lho, tadi aku dengar
pukul 12, akan diakhiri.” Prof. Dahlan mengajak bicara Bu Kiki.
“Lihat saja berani menutup sebelum aku jajak pendapat, bisa aku damprat panitianya.” Akhirnya Bu Kiki mengalah,
perempuan itu kemudian keluar dari ruang siding Rektorat dan menuju ke auditorium.
Jatmiko dan Renita saling berpandangan mata, dan mereka tersenyum tanpa diketahui Prof. Dahlan. Mereka tahu jika WR I dan Rektor semacam marah terhadap keadaan, dan mereka seperti berpikir jika warga UP masih mendukung mereka. Jatmiko dan Renita kemudian kembali menekuni pekerjaan yang sedang mereka selesaikan saat ini. Prof. Dahlan mengarahkan pandangan matanya pada ponsel yang ada di tangannya, seperti sedang membaca isi pesan yang masuk via wa. Tidak lama kemudian, Bu Kiki sudah Kembali ke ruang sidang dengan wajah penuh emosi..
“Kenapa Bu.. sudah kan jajak pendapatnya.” Dengan sabar, Prof, Dahlan bertanya pada Bu Kiki.
“Sudah.. tadinya benar-benar ditutup dengan alasan sudah mau selesai. Ya aku damprat semua panitianya, orang masih jam 11.30, kok mau diakhiri. Itu kan sama saja mereka dholim, tidak menghargai pekerjaan pegawai.” Bu Kiki mengutarakan kekesalannya.
“Sudah.. sudah sabar. Tidak baik jika didengar orang yang lewat di ruang sidang. Nanti dikiranya kita enggan turun dari jabatan.” Prof. Dahlan Kembali menenangkan WR I.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments