Chapter 17 Deteksi

Keesokan harinya Renita mengatur janji dengan Mak Nancy, dan mereka sepakat untuk bertemu di kafe Kinanthi yang ada di sebelah utara kampus UP Unit satu. Tepat pada pukul sebelas siang, kedua perempuan itu bertemu, dan mereka memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari orang-orang yang sedang nongkrong disitu.

“Ada apa Nyah,.. ada hal penting kah sampai mengajak kita ketemuan..” sambil menyeruput minuman, Mak Nancy bertanya pada Renita.

“Anu mak,, aku tak cerita ya, tapi jangan ditertawakan. Jujur sebenarnya aku malu untuk menyampaikan apa yang aku alami kepadamu, karena bagiku ini seperti aib. Berjanjilah dulu mak.. untuk tidak tertawa..” dengan malu-malu, Renita meminta mak Nancy berjanji.

Perempuan yang duduk di depan Renita itu tersenyum sambil menatap wajah Renita sambil tersenyum.

“Ha.. ha.. ha.., nyah, nyah.. dari ekspresimu aku bisa menebak apa yang akan kamu sampaikan. Kita itu korban

Nyah.. mereka yang dholim pada kita, bukan aib. Kamu harus membuang pikiran itu jauh-jauh. Tidak boleh seperti itu, kamu malah akan menanggung beban moral.” Seperti sudah tahu apa yang dialami oleh Renita, mak Nancy berbicara meyakinkan perempuan itu.

Renita terdiam, dia masih belum berani untuk bercerita dan bertanya pada perempuan itu. Renita juga menengok ke sekeliling, khawatir ada orang UP yang mencuri dengar pembicaraan mereka,

“Sudah ga usah ribet, pinjem tanganmu. Aku pingin memegangnya sebentar saja..” seperti apa yang diminta oleh Mak Nancy, renita mengikuti arahan perempuan itu. Renita mengangkat tangan kanannya, kemudian Mak Nancy sambil memandang mata Renita, menggenggam tangan Renita. Tetapi beberapa saat kemudian, mak Nancy melepaskan genggamannya.

“Nyah.. maaf ya.. kamu harus cari kiyai atau ustadz secepatnya. Aku merasa dalam tubuhmu ada energi santet yang masuk,” Mak Nancy langsung menceramahi Renita. Mendengar kata-kata perempuan sahabat akrabnya itu, Renita marasa hancur, pikirannya terbang kemana-mana. Selama hidupnya, Renita tidak pernah berurusan dengan seorang Kiyai atau ustadz untuk pengobatan.

Begitu Renita merasa hatinya mulai terpuruk, rasa nyeri seperti tusukan-tusukan semakin gencar merajam tubuh Renita dari dalam. Tusukan itu tidak hanya bertahan pada satu tempat, tetapi berpindah-pindah.

“Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu mak, apa bukti dari perkataanmu.” Masih merasa belum yakin, Renita mengejar Mak Nancy.

“Nyah.. santet itu berisi energi negative yang masuk di tubuh seseorang, hampir sama dengan aliran listrik. Ketika aku memegang tanganmu, aku merasa ketarik atau kesetrom oleh energi itu. Hal itu menandakan jika dalam tubuhmu ada pengaruh santet. Dan Ketika aku memegang tanganmu, yang berkelebat di depan otakku adalah Pak Tommitius Wakil Ketua Pengurus Yayasan. Percayalah, secepatnya kamu harus mencari seorang ustadz untuk menarik atau mengeluarkan energi itu.” Lanjut Mak Nancy.

Mendengar perkataan mak Nancy, tiba-tiba Renita teringat dengan Cahyono dosen baru dari prodi Bimbingan Konseling.  Kakak kandung Cahyono adalah anak asuh kakak ipar Renita, dan dia cukup kenal dekat dengan laki-laki itu. Bahkan Ketika Cahyono menikah, Renita juga mendatangi rumahnya di Grabag, Magelang. Setahu Renita, kakak Cahyono yang bernama Suryo pernah menuntut ilmu di pondok pesantren Bambu Kuning Wonosobo, dan mengetahui tentang hal-hal ghaib. Suryo juga memiliki seorang Guru yaitu Kiai dari pondok pesantren yang ada di lereng Gunung Andong.

“Aku akan coba menghubungi mas Cahyono dosen prodi BK dulu mak, dia memiliki kakak kandung yang mengetahui tentang hal ghaib. Aku akan mencarinya, siapa tahu bisa mengatur janji agar aku bisa bertemu dengan kakaknya.” Renita bermaksud ingin menemui Cahyono.

“Secepatnya Nyah.. jika bisa sekarang juga kamu hubungi dia. Karena aku melihatnya energi negative dalam tubuhmu itu besar, aku khawatir kamu tidak kuat karena energi positifmu bisa tersedot keluar.” Mak Nancy Kembali berbicara.

Renita segera mengambil ponselnya, beberapa kali dia mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Cahyono, namun nomor tersebut berada di luar jangkauan. Tiba-tiba Renita memiliki inisiatif untuk menghubungi Kaprodi atasan Cahyono. Karena merasa sudah kenal baik, Renita mengirim pesan wa pada laki-laki itu.

“Assalamu alaikum pak Danang.. apakah saat ini pak Danang sedang Bersama dengan pak Cahyo. Jika ya, minta tolong disampaikan ya pak, jika saya ingin menghubungi beliau. Terima kasih.” Dengan cepat Renita mengetik beberapa kata pada chat di wa.

“Wa alaikum salam, iya Bu WR II. Kebetulan kami berdua sedang keluar untuk makan siang dengan beberapa dosen dari prodi BK. Ini sudah langsung saya sampaikan Bu.. setelah makan pak Cahyo akan menemui Bu Ren di ruangan.” Dengan cepat pak Danang menjawab chat tersebut.

“Alhamdulillah, terima kasih ya pak Danang. Wassalamu alaikum..” Renita mengakhiri chat.

“Wa alaikum salam, sama-sama bu.” Danang menjawab.

********

Sepulang dari kafe Kinanthi, Renita Kembali ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda.

Meskipun belum mendapatkan penanganan, tetapi perempuan itu merasa nyaman, karena sudah mendapat janji untuk didatangi Cahyono. Sedikit harapan muncul dalam angan-angannya. Sambil menahan rasa nyeri, Renita melanjutkan membuat laporan keuangan bulanan.

“Tok.. tok.. tok..” tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk tiga kali.

“Masuk..” tanpa melihat siapa yang datang, Renita mempersilakan si pengetuk pintu untuk masuk ke dalam ruangan.

Tidak lama kemudian pintu ruangan Renita didorong dari luar, dan tampak Andi muncul di depan pintu.

“Bu Ren, ada pak Wawan dan pak Cahyo mau bertemu dengan ibu. Apakah bisa tak persilakan duduk bu..” ternyata Andi memberi tahukan kedatangan orang yang sudah ditunggunya sejak tadi.

“Oh iya mas.. aku memang yang mengundang mas Cahyo kemari. Suruh menunggu di ruang sidang sebentar ya mas.. aku tak menyimpan file dulu.” Renita segera save file yang sedang dibukanya. Setelah memastikan jika file tersimpan dengan baik, Renita mematikan laptop.

Tidak lama kemudian Renita keluar dari dalam ruangan, ternyata kedua laki-laki muda itu masih berdiri di depan ruang sidang. Mereka tersenyum melihat kedatangan perempuan itu. Cahyono dan Nanang berjalan ke depan, kemudian dua laki-laki itu menyalami Renita. Seperti sikap dengan orang tua, Cahyono tampak takzim dan akan mencium tangan Renita. Tetapi dengan cepat, Renita menarik Kembali tangannya.

“Kita bicara di ruang siding saja ya mas, biar agak leluasa. Kalau di luar, nanti banyak yang mendengar sehingga

timbul persepsi yang multi tafsir.” Renita mengajak dua laki-laki itu untuk masuk ke dalam ruang siadang.

“Baik Bu..” tanpa diminta lagi, kedua laki-laki itu kemudian masuk ke dalam ruang sidang, dan mereka langsung duduk mengapit Renita.

“Silakan Bu.. jika ada yang mau ditanyakan atau disampaikan kepada saya. Kebetulan ponsel saya hari ini tertinggal di rumah Bu. Jadi jika ibu tadi mengirim wa, atau menelpon pasti tidak akan yang menerima panggilan tersebut.” Cahyono menjelaskan keberadaan ponselnya.

********

Episodes
1 Chapter 1 Pilihan Sulit
2 Chapter 2 Bismillah
3 Chapter 3 Pelantikan
4 Chapter 4 Sakit Mata
5 Chapter 5 Stroke Mata
6 Chapter 6 Koordinasi
7 Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8 Chapter 8 Miss Call
9 Chapter 9 Snellen Chart
10 Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11 Chapter 11 Kecurigaan
12 Chapter 12 Was was
13 Chapter 13 Konspirasi
14 Chapter 14 Konspirasi 2
15 Chapter 15 Pemilihan
16 Chapter 16 Rasa Nyeri
17 Chapter 17 Deteksi
18 Chapter 18 Ditarik
19 Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20 Chapter 20 Emosi
21 Chapter 21 Berita Mengejutkan
22 Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23 Chapter 23 Pembangunan
24 Chapter 24 Rencana Istighosah
25 Chapter 25 Jaga Lisan
26 Chapter 26 Korban Pembangunan
27 Chapter 27 Feeling
28 Chapter 28 Ujian Lagi
29 Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30 Chapter 30 Ilustrasi Ular
31 Chapter 31 Perjalanan
32 Chapter 32 Informasi
33 Chapter 33 Ikhtiar
34 Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35 Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36 Chapter 36 Belajar Sabar
37 Chapter 37 Opportunis
38 Chapter 38 Empati
39 Chapter 39 Kekacauan
40 Chapter 40 Tidak Benar
41 Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42 Chapter 42 Istighfar
43 Chapter 43 Sadar Kembali
44 Chapter 44 Tamu
45 Chapter 45 Lakukan Semampunya
46 Chapter 46 Tulus dan Menerima
47 Chapter 47 Teman Bicara
48 Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49 Chapter 49 Kepanikan
50 Chapter 50 Jalan Keluar
51 Chapter 51 Taktik Baru
52 Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53 Chapter 53 Perlawanan
54 Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55 Chapter 55 Thoriqot
56 Chapter 56 Masih Menunggu
57 Chapter 57 Pindah Sementara
58 Chapter 58 Menginap di Hotel
59 Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60 Chapter 60 Reaksi
61 Chapter 61 Banyak yang Membantu
62 Chapter 62 An Naas
63 Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64 Chapter 64 Penampakan
65 Chapter 65 Pindah Hotel
66 Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67 Chapter 67 Bertiga
68 Chapter 68 Ini Sukmaku
69 Chapter 69 Pertahankan Diri
70 Chapter 70 Berita Beredar
71 Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72 Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73 Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74 Chapter 74 Pembagian Tugas
75 Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76 Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77 Chapter 77 Evaluasi Diri
78 Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79 Chapter 79 Sisi Positif
80 Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81 Chapter 81 Pembuatan Laporan
82 Chapter 82 Mintalah Maaf
83 Chapter 83 Mamah minta maaf
84 Chapter 84 Kesalahan
85 Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86 Chapter 86 Undangan Rapat
87 Chapter 87 Munajat
88 Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89 Chapter 89 Down to Earth
90 Chapter 90 Saya akan Datang
91 Chapter 91 Di ruang Rapat
92 Chapter 92 Genting
93 Chapter 93 Sisi Positif
94 Chapter 94 Ke Baki
95 Chapter 95 Penanganan
96 Chapter 96 Keikhlasan
97 Chapter 97 TAMAT
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Chapter 1 Pilihan Sulit
2
Chapter 2 Bismillah
3
Chapter 3 Pelantikan
4
Chapter 4 Sakit Mata
5
Chapter 5 Stroke Mata
6
Chapter 6 Koordinasi
7
Chapter 7 Suara di Atas Plafon
8
Chapter 8 Miss Call
9
Chapter 9 Snellen Chart
10
Chapter 10 Kun fa Ya Kun
11
Chapter 11 Kecurigaan
12
Chapter 12 Was was
13
Chapter 13 Konspirasi
14
Chapter 14 Konspirasi 2
15
Chapter 15 Pemilihan
16
Chapter 16 Rasa Nyeri
17
Chapter 17 Deteksi
18
Chapter 18 Ditarik
19
Chapter 19 Merasa Seperti Aib
20
Chapter 20 Emosi
21
Chapter 21 Berita Mengejutkan
22
Chapter 22 Hilangnya Penghalang
23
Chapter 23 Pembangunan
24
Chapter 24 Rencana Istighosah
25
Chapter 25 Jaga Lisan
26
Chapter 26 Korban Pembangunan
27
Chapter 27 Feeling
28
Chapter 28 Ujian Lagi
29
Chapter 29 Aku Tidak Sakit
30
Chapter 30 Ilustrasi Ular
31
Chapter 31 Perjalanan
32
Chapter 32 Informasi
33
Chapter 33 Ikhtiar
34
Chapter 34 Upaya Penyembuhan
35
Chapter 35 Theraphy Syari'ah
36
Chapter 36 Belajar Sabar
37
Chapter 37 Opportunis
38
Chapter 38 Empati
39
Chapter 39 Kekacauan
40
Chapter 40 Tidak Benar
41
Chapter 41 Gangguan Tiba-tiba
42
Chapter 42 Istighfar
43
Chapter 43 Sadar Kembali
44
Chapter 44 Tamu
45
Chapter 45 Lakukan Semampunya
46
Chapter 46 Tulus dan Menerima
47
Chapter 47 Teman Bicara
48
Chapter 48 Menjelang 1 Muharram
49
Chapter 49 Kepanikan
50
Chapter 50 Jalan Keluar
51
Chapter 51 Taktik Baru
52
Chapter 52 Tidak Mau Menyapa
53
Chapter 53 Perlawanan
54
Chapter 54 Gangguan dalam Perjalanan
55
Chapter 55 Thoriqot
56
Chapter 56 Masih Menunggu
57
Chapter 57 Pindah Sementara
58
Chapter 58 Menginap di Hotel
59
Chapter 59 Pembinaan Pegawai
60
Chapter 60 Reaksi
61
Chapter 61 Banyak yang Membantu
62
Chapter 62 An Naas
63
Chapter 63 Pengaduan Mahasiswa
64
Chapter 64 Penampakan
65
Chapter 65 Pindah Hotel
66
Chapter 66 Nikmat Mana yang Kau Dustakan
67
Chapter 67 Bertiga
68
Chapter 68 Ini Sukmaku
69
Chapter 69 Pertahankan Diri
70
Chapter 70 Berita Beredar
71
Chapter 71 Peduli Pengembangan Diri
72
Chapter 72 Ungkapan Kekesalan
73
Chapter 73 Bukan Masa Kita Lagi
74
Chapter 74 Pembagian Tugas
75
Chapter 75 Belum Boleh Berbicara
76
Chapter 76 Lupakan Sementara Tugas
77
Chapter 77 Evaluasi Diri
78
Chapter 78 Yakin dan Percaya Diri
79
Chapter 79 Sisi Positif
80
Chapter 80 Tidak Perlu Malu
81
Chapter 81 Pembuatan Laporan
82
Chapter 82 Mintalah Maaf
83
Chapter 83 Mamah minta maaf
84
Chapter 84 Kesalahan
85
Chapter 85 Bimbingan Mahasiswa
86
Chapter 86 Undangan Rapat
87
Chapter 87 Munajat
88
Chapter 88 Berkunjung ke Rektorat
89
Chapter 89 Down to Earth
90
Chapter 90 Saya akan Datang
91
Chapter 91 Di ruang Rapat
92
Chapter 92 Genting
93
Chapter 93 Sisi Positif
94
Chapter 94 Ke Baki
95
Chapter 95 Penanganan
96
Chapter 96 Keikhlasan
97
Chapter 97 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!