Keesokan harinya Renita mengatur janji dengan Mak Nancy, dan mereka sepakat untuk bertemu di kafe Kinanthi yang ada di sebelah utara kampus UP Unit satu. Tepat pada pukul sebelas siang, kedua perempuan itu bertemu, dan mereka memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari orang-orang yang sedang nongkrong disitu.
“Ada apa Nyah,.. ada hal penting kah sampai mengajak kita ketemuan..” sambil menyeruput minuman, Mak Nancy bertanya pada Renita.
“Anu mak,, aku tak cerita ya, tapi jangan ditertawakan. Jujur sebenarnya aku malu untuk menyampaikan apa yang aku alami kepadamu, karena bagiku ini seperti aib. Berjanjilah dulu mak.. untuk tidak tertawa..” dengan malu-malu, Renita meminta mak Nancy berjanji.
Perempuan yang duduk di depan Renita itu tersenyum sambil menatap wajah Renita sambil tersenyum.
“Ha.. ha.. ha.., nyah, nyah.. dari ekspresimu aku bisa menebak apa yang akan kamu sampaikan. Kita itu korban
Nyah.. mereka yang dholim pada kita, bukan aib. Kamu harus membuang pikiran itu jauh-jauh. Tidak boleh seperti itu, kamu malah akan menanggung beban moral.” Seperti sudah tahu apa yang dialami oleh Renita, mak Nancy berbicara meyakinkan perempuan itu.
Renita terdiam, dia masih belum berani untuk bercerita dan bertanya pada perempuan itu. Renita juga menengok ke sekeliling, khawatir ada orang UP yang mencuri dengar pembicaraan mereka,
“Sudah ga usah ribet, pinjem tanganmu. Aku pingin memegangnya sebentar saja..” seperti apa yang diminta oleh Mak Nancy, renita mengikuti arahan perempuan itu. Renita mengangkat tangan kanannya, kemudian Mak Nancy sambil memandang mata Renita, menggenggam tangan Renita. Tetapi beberapa saat kemudian, mak Nancy melepaskan genggamannya.
“Nyah.. maaf ya.. kamu harus cari kiyai atau ustadz secepatnya. Aku merasa dalam tubuhmu ada energi santet yang masuk,” Mak Nancy langsung menceramahi Renita. Mendengar kata-kata perempuan sahabat akrabnya itu, Renita marasa hancur, pikirannya terbang kemana-mana. Selama hidupnya, Renita tidak pernah berurusan dengan seorang Kiyai atau ustadz untuk pengobatan.
Begitu Renita merasa hatinya mulai terpuruk, rasa nyeri seperti tusukan-tusukan semakin gencar merajam tubuh Renita dari dalam. Tusukan itu tidak hanya bertahan pada satu tempat, tetapi berpindah-pindah.
“Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu mak, apa bukti dari perkataanmu.” Masih merasa belum yakin, Renita mengejar Mak Nancy.
“Nyah.. santet itu berisi energi negative yang masuk di tubuh seseorang, hampir sama dengan aliran listrik. Ketika aku memegang tanganmu, aku merasa ketarik atau kesetrom oleh energi itu. Hal itu menandakan jika dalam tubuhmu ada pengaruh santet. Dan Ketika aku memegang tanganmu, yang berkelebat di depan otakku adalah Pak Tommitius Wakil Ketua Pengurus Yayasan. Percayalah, secepatnya kamu harus mencari seorang ustadz untuk menarik atau mengeluarkan energi itu.” Lanjut Mak Nancy.
Mendengar perkataan mak Nancy, tiba-tiba Renita teringat dengan Cahyono dosen baru dari prodi Bimbingan Konseling. Kakak kandung Cahyono adalah anak asuh kakak ipar Renita, dan dia cukup kenal dekat dengan laki-laki itu. Bahkan Ketika Cahyono menikah, Renita juga mendatangi rumahnya di Grabag, Magelang. Setahu Renita, kakak Cahyono yang bernama Suryo pernah menuntut ilmu di pondok pesantren Bambu Kuning Wonosobo, dan mengetahui tentang hal-hal ghaib. Suryo juga memiliki seorang Guru yaitu Kiai dari pondok pesantren yang ada di lereng Gunung Andong.
“Aku akan coba menghubungi mas Cahyono dosen prodi BK dulu mak, dia memiliki kakak kandung yang mengetahui tentang hal ghaib. Aku akan mencarinya, siapa tahu bisa mengatur janji agar aku bisa bertemu dengan kakaknya.” Renita bermaksud ingin menemui Cahyono.
“Secepatnya Nyah.. jika bisa sekarang juga kamu hubungi dia. Karena aku melihatnya energi negative dalam tubuhmu itu besar, aku khawatir kamu tidak kuat karena energi positifmu bisa tersedot keluar.” Mak Nancy Kembali berbicara.
Renita segera mengambil ponselnya, beberapa kali dia mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Cahyono, namun nomor tersebut berada di luar jangkauan. Tiba-tiba Renita memiliki inisiatif untuk menghubungi Kaprodi atasan Cahyono. Karena merasa sudah kenal baik, Renita mengirim pesan wa pada laki-laki itu.
“Assalamu alaikum pak Danang.. apakah saat ini pak Danang sedang Bersama dengan pak Cahyo. Jika ya, minta tolong disampaikan ya pak, jika saya ingin menghubungi beliau. Terima kasih.” Dengan cepat Renita mengetik beberapa kata pada chat di wa.
“Wa alaikum salam, iya Bu WR II. Kebetulan kami berdua sedang keluar untuk makan siang dengan beberapa dosen dari prodi BK. Ini sudah langsung saya sampaikan Bu.. setelah makan pak Cahyo akan menemui Bu Ren di ruangan.” Dengan cepat pak Danang menjawab chat tersebut.
“Alhamdulillah, terima kasih ya pak Danang. Wassalamu alaikum..” Renita mengakhiri chat.
“Wa alaikum salam, sama-sama bu.” Danang menjawab.
********
Sepulang dari kafe Kinanthi, Renita Kembali ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda.
Meskipun belum mendapatkan penanganan, tetapi perempuan itu merasa nyaman, karena sudah mendapat janji untuk didatangi Cahyono. Sedikit harapan muncul dalam angan-angannya. Sambil menahan rasa nyeri, Renita melanjutkan membuat laporan keuangan bulanan.
“Tok.. tok.. tok..” tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk tiga kali.
“Masuk..” tanpa melihat siapa yang datang, Renita mempersilakan si pengetuk pintu untuk masuk ke dalam ruangan.
Tidak lama kemudian pintu ruangan Renita didorong dari luar, dan tampak Andi muncul di depan pintu.
“Bu Ren, ada pak Wawan dan pak Cahyo mau bertemu dengan ibu. Apakah bisa tak persilakan duduk bu..” ternyata Andi memberi tahukan kedatangan orang yang sudah ditunggunya sejak tadi.
“Oh iya mas.. aku memang yang mengundang mas Cahyo kemari. Suruh menunggu di ruang sidang sebentar ya mas.. aku tak menyimpan file dulu.” Renita segera save file yang sedang dibukanya. Setelah memastikan jika file tersimpan dengan baik, Renita mematikan laptop.
Tidak lama kemudian Renita keluar dari dalam ruangan, ternyata kedua laki-laki muda itu masih berdiri di depan ruang sidang. Mereka tersenyum melihat kedatangan perempuan itu. Cahyono dan Nanang berjalan ke depan, kemudian dua laki-laki itu menyalami Renita. Seperti sikap dengan orang tua, Cahyono tampak takzim dan akan mencium tangan Renita. Tetapi dengan cepat, Renita menarik Kembali tangannya.
“Kita bicara di ruang siding saja ya mas, biar agak leluasa. Kalau di luar, nanti banyak yang mendengar sehingga
timbul persepsi yang multi tafsir.” Renita mengajak dua laki-laki itu untuk masuk ke dalam ruang siadang.
“Baik Bu..” tanpa diminta lagi, kedua laki-laki itu kemudian masuk ke dalam ruang sidang, dan mereka langsung duduk mengapit Renita.
“Silakan Bu.. jika ada yang mau ditanyakan atau disampaikan kepada saya. Kebetulan ponsel saya hari ini tertinggal di rumah Bu. Jadi jika ibu tadi mengirim wa, atau menelpon pasti tidak akan yang menerima panggilan tersebut.” Cahyono menjelaskan keberadaan ponselnya.
********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments