Aku Pawangmu Direktur

Aku Pawangmu Direktur

Orang Asing Pembawa Keberuntungan

“Bagas, kamu masih di depanku?” bisik Banyu yang semakin erat memegang tongkat yang Bagas ulurkan dari depan, dengan posisi jalan agak miring.

“Iya, tenang aja,” bisik Bagas kembali.

Posisi mereka saat ini saling memegang satu sama lain, seperti estafet. Ada yang mengulurkan tongkat, ada yang menggunakan senter dan sebagainya yang tersedia di masing-masing pendaki.

Jumlah mereka cukup banyak, sekitar 20 orang, kurang lebih. Mereka adalah para eksekutif muda dari Jakarta. Sedang mendaki salah satu gunung yang berada di Jawa bagian tengah. Katakan saja Gunung Sagede.

“Tapi aku nggak ngerasain Estu. Tongkatku kayak enteng,” bisik Banyu kembali.

“Coba panggil agak keras. Dan yang di depan, tetap ingat ya semuanya, jangan ada yang panik.” Bagas mengingatkan pada rekan-rekannya yang lain.

“Tu, Estu! Kamu masih di belakangku?” tanya Banyu sambil menggoyang-goyangkan tongkat yang dipegang tangan kirinya. Sebab tangan kanan, dia memegang tongkat dari Bagas.

Namun, suasana hening.  Tidak ada respons dari Estu.

“Tu ... Estu!” kali ini Banyu dan Bagas memanggil bersama.

“Hei, aku di sini, tapi belum kepegang tongkatmu, Banyu,”  ucap Estu.

“Kalau gitu,  kamu maju aja lurus pelan-pelan. Dan jangan lupa, sebelum kakinya jelas meraba tanah, jangan dulu diinjekin. Kanan, kiri, jurang, hati-hati,”  perintah Bagas pada Estu.

Estu kemudian menurut apa kata kakaknya.

Mereka sedang melakukan perjalanan turun dari puncak gunung pada sore hari, sekitar pukul empat. Sialnya kabut begitu cepat datang padahal waktu belum terlalu gelap. Akhirnya mereka terjebak, perjalanan pun terhambat.

Tidak lama kemudian ....

“Akh!” Suara teriakan dari belakang Banyu.

Beberapa orang mulai goyah, mereka saling bertanya. Ada apa?

“Tolong!”

“Estu, Gas! Estu!” ucap Banyu, panik.

“Senter mana senter? Ingat, tetap diam di tempat jangan ada yang bergerak. Malah celaka semuanya, berabe!” perintah Bagas.

Salah seorang dari depan menyalakan senter bercahaya kuning, khusus untuk situasi kabut. Sedangkan Banyu yang posisinya lebih dekat dengan Estu, berusaha mengamati di mana jatuhnya Estu.

Banyu sudah bisa meraih tangan Estu, yang ternyata ia berpegangan pada akar tanah yang menonjol. Sedangkan Bagas berusaha menghampiri posisi Banyu dan beberapa senter sudah menyorot ke mereka.

Banyu meminta untuk Estu mengulurkan satu tangannya tapi tidak terjangkau juga oleh tangan Banyu. Tidak ada tongkat atau apa pun untuk penyambung tangan mereka yang hanya tinggal sedikit saja.

Akhirnya Estu memiliki akal dia melepas tas pinggangnya perlahan dengan satu tangan dan berhasil disodorkan menyentuh tangan Banyu.

“Ayo, Estu, kamu bisa! Tenang jangan terburu-buru,” ucap Banyu.

Sementara itu Bagas juga mencari ranting atau kayu apa pun yang kuat untuk Estu gapai lebih leluasa.

Bagas juga meminta kepada teman-teman yang lain untuk mengeluarkan tali. Namun, sayangnya hal itu sulit karena kualitas pandangan mereka tidak baik, terhalang kabut, tidak bisa membuka tas dengan bebas.

“Ayo Banyu udah sampai, pegang tasnya,” ucap Estu, dan kini mereka sudah berpegangan pada tas pinggang yang disodorkan tadi.

“Akh, tolong!”

“Estu! Estu! Gas? Gimana Gas? Bagas! Estu jatuh.” Banyu panik, dia saat ini hanya memegang tas pinggang Estu tanpa pemiliknya.

Banyu panik dia syok Estu jatuh karena tidak mampu menggenggam tas dengan baik, suasana kabut membuat udara mudah menjadi embun. Tangan Estu licin, padahal sudah erat memegang tas yang menjadi perantara tangannya dan tangan Bayu.

Bagas sebagai personil tertua di sana, setelah menimbang dengan berat. Memutuskan melanjutkan perjalanan turun. Mereka akan melaporkan pada tim SAR dan panitia. Usaha mereka sendiri menyelamatkan Estu jelas sangat mustahil, apalagi di tengah kabut tebal.

 

***

Rombongan Bagas kini sudah ada di bawah, tepatnya di pos jaga. Mereka menceritakan tentang kecelakaan yang dialami Estu.

Namun, sayang sekali pihak penjaga dan keamanan gunung tersebut tidak bisa mencari dengan segera. Karena cuaca yang buruk, paling bisa dilakukan pencarian esok hari.

Bagas memutuskan untuk beberapa orang pulang ke Jakarta sedangkan dirinya dan Banyu akan tetap di sana, untuk esok mengikuti pencarian bersama tim SAR.

 

***

 

Pagi pun tiba.

Di kampung yang bernama Malikan, letaknya di balik Gunung Sagede. Dua orang gadis sedang berjalan menuju hutan, mereka biasa mencari kayu bakar di hari Jumat, saat meliburkan diri untuk berjualan di pasar.

“Udah yuk, Nas. Udah banyak nih,” ucap Deswita sahabatnya Kinasih.

“Belum Wi, aku baru seikat, tanggung,” ucap Kinasih masih memungut ranting-ranting tergeletak sepanjang jalan, yang mereka lalui.

“Udah, pakai punyaku aja. Aku di rumah masih banyak kok, kita belum pernah melalui jalur ini lho, terlalu jauh,” ucap Deswita merasa merinding.

Di Kampung Malikan memang masih banyak penduduk yang menggunakan kayu bakar, bukan tidak ada kompor gas. Hanya saja mereka akan kesulitan untuk membeli isi ulang gas, karena harus ke kota yang jaraknya cukup jauh sekitar satu jam setengah, menggunakan kendaraan bermotor.

Adapun pasar di kampung Malikan hanya pasar kecil, ada beberapa yang menjual isi ulang gas, tapi selain harganya cukup mahal stoknya juga hanya sedikit.  Makanya mereka menggunakan kayu bakar saja.

Sedangkan kompor gas yang mereka punya hanya sesekali dipakai untuk keadaan darurat dan masak yang ringan saja.

“Yuk ke sana sedikit saja! Aku janji deh, udah dua ikat ini kita pulang,” ucap Kinasih sambil menarik Deswita, sahabatnya.

Deswita mengikuti apa kata temannya karena dia pun tidak bisa berbuat apa-apa, pulang sendiri pun takut karena sudah terlalu jauh ke dalam hutan.

“Eh Wi, hujan ya?” tanya Kinasih yang sedang fokus memungut ranting-ranting di tanah.

“Enggak kok,” sahut Deswita, dia memperhatikan ke sekeliling atas tidak ada tanda mendung juga.

“Di kepalaku kayak ada yang netes,” ucapkan Kinasih kembali.

“Nggak ada, eek burung kali, hehehe,” Deswita malah ketawa merasa lucu kalau iya sahabatnya kena eek burung.

Kemudian Kinasih mengusap kepalanya, benar, basah.  Hanya saja agak beda sedikit, kesat kena tangan dan agak licin juga.

Bahkan saat Kinasih masih memegang kepalanya, cairan itu menetes di punggung tangannya juga.

“Darah Wi, beneran ... darah, merah loh.” Kinasih terkejut saat melihat punggung tangannya.

Deswita langsung mendekat pada Kinasih, dia merinding di hutan seperti ini membicarakan darah.

“Serius lihat!” ucap Kinasih menunjukkan tangannya.

Deswita tak bisa berkata-kata, dia langsung menengadah ke atas. Namun, belum menemukan apa pun yang mencurigakan.

Akan tetapi, saat Kinasih menengok ke atas, dia agak mundur sedikit menjauh dari pohon dekat dia berdiri, seperti terlihat tangan yang menjuntai.

“Wi, ada orang Wi,” ucap Kinasih lirih.

“Jangan ngagetin, ah. Mana ada orang di atas,” Deswita belum percaya.

“Beneran sini, sebelah sini.” Kinasih melambai-lambaikan tangannya sambil tetap menengadah terus mengamati ke atas pohon.

Deswita menurut apa kata Kinasih, dia mengamati dan benar saja itu orang tersangkut. Mereka sedikit memutar mengelilingi pohon tersebut dan jarak pandang juga agak dijauhkan agar terlihat sedikit ke atas pohon lebih jelas.

“Beneran orang. Gimana nih? Kayaknya masih hidup deh. Kalaupun udah mati, masa kita biarin gitu aja,” ucap Kinasih.

“Ya udah, kita tolongin,” ucap Deswita.

“Gimana caranya? Itu pohon lurus kayak gitu, gak ada cabang-cabangnya buat manjat. Lagian mana kita kuat? Kalau pun bisa naik. Mau kita jorokin itu mayat?”

“Kalau gitu kita cari pertolongan ke kampung.”

“Kalau gitu, kamu tunggu sini. Aku cari pertolongan.”

“Nggak ah, takut.” Deswita menolak.

“Ya udah, kita tukeran tugas.”

“Takut juga. Lumayan jauh loh dari hutan ini ke kampung. Kamu sih kejauhan cari kayu bakarnya,” Deswita malah mencari kesalahan.

Akhirnya Kinasih memutuskan mereka untuk balik ke kampung berdua, sambil membawa kayu bakar yang sudah mereka dapatkan.

Bukan tidak ada ponsel, tapi bagi mereka di kampung, ponsel tidak begitu berguna apalagi hanya untuk mencari kayu bakar. Akan tetapi andai saja mereka membawa ponsel, mungkin mereka bisa menghubungi orang-orang di kampung dengan cepat.

***

Sekitar 45 menit perjalanan mereka sampai kampung bahkan baru keluar dari hutan. Pertama orang yang mereka temui langsung diberi tahu biar berita cepat menyebar.

Sampai ke rumah, Kinasih langsung bercerita kepada Pak Karso, ayahnya.

Pak Karso adalah RT di Kampung Malikan, tanpa menunggu lama Pak Karso langsung memberitahu seluruh warga dan mengambil keputusan.

“Biar cepat, kita pakai motor aja. Bagaimanapun keadaan orang tersebut mau meninggal atau masih hidup, tetap kita bawa kemari,” perintah Pak Karso.

Beberapa peralatan mereka sediakan, mulai dari tandu mayat, gerobak, tali, bahkan sampai tangga sudah disiapkan.

Sekitar lima motor melaju ke arah hutan, setiap motor berboncengan ada yang dua sampai tiga orang. Ada juga yang penasaran menyusul dengan berjalan kaki.

Orang yang dibonceng memegang semua peralatan dibagi-bagi. Roda pengangkut pasir nantinya akan digunakan untuk membawa orang itu. Mencari angkot atau pinjam mobil warga yang memiliki, prosesnya lama.

***

Hanya sekitar lima menit, warga kampung sudah sampai hutan, tempat di mana ditemukannya orang yang menyangkut di atas pohon.

Tanpa menunggu lama mereka langsung mengevakuasi sosok tersebut, kemudian kembali lagi ke kampung.

Namun, mereka langsung membawanya ke klinik.

Pak Karso, Kinasih dan Deswita menunggu hasil pemeriksaan dari petugas kesehatan.

Sekitar dua jam Dokter Waluyo memberikan kabar bahwa orang tersebut masih hidup dan sekarang sudah dalam keadaan lebih baik.

“Tapi maaf, Pak, mungkin saya bisa meminta pakaian untuk mengganti pakaian pasien yang sudah kotor?” ucap Dokter Waluyo kepada Pak Karso.

“Bisa, Pak. Nanti saya akan bawakan kemari. Apakah langsung beberapa saja buat ganti besok?” tanya Pak Karso.

“Boleh,  Pak. Lebih baik sekalian saja,”  ucap Dokter Waluyo.

 

***

Kinasih merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga orang yang ia temukan. Maka dari itu dia tidak pulang, dari tadi menjaga orang asing tersebut di ruangan perawatan.

 

Pukul tujuh malam Pak Karso datang ke klinik untuk melihat perkembangan orang asing tersebut dan membawa makanan untuk Kinasih.

“Gimana, Nas? Apa dia sudah siuman?”

“Nggak tahu, Yah, tadi bola matanya seperti bergerak-gerak, tapi masih terpejam,” ucap Kinasih.

“Coba deh kasih air mulutnya, itu agak ngebuka sedikit.  Dari tadi udah dikasih apa aja?”

“Belum, Yah. Kan belum sadar.”

“Coba deh, kasih aja. Mungkin beda energi dari infus dan yang masuk ke mulut. Bisa jadi tenggorokan berasa kering, haus.”

Kinasih menurut apa kata ayahnya. Dia memberikan sesendok demi sesendok air pada mulut orang asing itu.

Orang tersebut, terbatuk pelan.

“Hati-hati Kinasih, kebanyakan mungkin,” ucap Ayahnya.

Kepala orang asing itu langsung bergerak perlahan, matanya terbuka namun masih belum begitu jelas.

“Di mana saya?” tanya pria tersebut lirih.

Kinasih mencoba menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan pria tersebut, perlahan Kinasih memberitahukan keadaan dia.

 

***

Hampir dua minggu Kinasih pulang pergi menjaga orang tersebut, kadang bergantian dengan Deswita dan hari ini orang tersebut sudah cukup sehat bisa duduk dan sedikit berjalan.

“Gimana keadaannya? Sudah lebih baik, ‘kan?” tanya Pak Karso yang kebetulan hari ini menjenguk pemuda tersebut.

Pemuda tersebut hanya mengangguk sambil sesekali memegang kepalanya yang diperban.

“Kalau pulang ke rumah Bapak mau?” tanya Pak Karso.

“Saya ikut saja, sudah dibantu juga bersyukur sekali. Mungkin biaya rumah sakit ini juga akan mahal jika terus di sini,” ucap pria tersebut masih lirih suaranya.

Dia tidak tahu bahwa itu adalah klinik yang ditanggung oleh pemerintah operasionalnya, bukan rumah sakit pada umumnya.

“Tenang saja, yang penting kamu sehat dulu. Biar nanti kita bisa mengurusi hal-hal untuk kepulangan ke rumah kamu sesungguhnya,” papar Pak Karso.

“Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?” tanya Pak Karso.

Orang itu diam sejenak, dia mengerutkan keningnya seperti berpikir. Kembali dipegangnya kepala yang terasa sakit, seakan ditusuk-tusuk, kemudian dia menggeleng berkali-kali.

“Kamu tidak ingat?” tanya Pak Karso, yang mendapatkan jawaban dengan gelengan kepala lagi dari orang itu.

“Baiklah, tak masalah. Yang penting kita pulang dulu, perlahan kamu pasti mengingat semuanya.”

“Kinasih, bantu Ayah membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang,” ucap Pak Karso kembali.

Kemudian mereka pulang setelah mengkonfirmasi pada Dokter Waluyo, kemudian mereka pulang menggunakan angkot.

 

**#

Aktivitas Kinasih dilalui seperti hari-hari biasa, meskipun saat ini seakan menambah satu anggota keluarga di rumah mereka, yang tadinya hanya bertiga, yaitu Pak Karso, Kinasih, dan adiknya, Helin.

Satu minggu sudah, orang asing tersebut berada di rumah Pak Karso. Berarti hampir 1 bulan berada di kampung tersebut dari semenjak ditemukan.  Dan hari ini, jumat pagi di mana Kinasih tidak berjualan di pasar. Mereka berkumpul di tepi kolam ikan, ada beberapa kue basah yang biasa dia bikin untuk disajikan.

“Kamu yang membuat ini semua?” tanya orang asing itu basa-basi.

Kinasih sebenarnya agak sungkan jika terlalu dekat dengan orang asing itu. Sebenarnya juga bukan sungkan karena malu. Namun, karena dia terlalu tampan, senyumnya sungguh menawan, Kinasih takut jatuh cinta. Padahal dia orang asing, siapa tahu sebenarnya orang jahat.

“Bagaimana, kamu udah sehat, ‘kan?” tanya Pak Karso.

“Sudah Pak, saya sudah lebih baik. Oh ya, kue-kue ini dijual, kah?” tanya pemuda itu.

“Iya, anak saya menjualnya di pasar, tapi tiap hari Jumat libur.  Biasanya hari libur digunakan untuk mencari kayu bakar,” jawab Pak Karso.

“Kalau gitu, besok saya boleh mulai ikut jualan, Pak? Saya nggak enak kalau terus merepotkan Bapak sekeluarga.”

“Terserah kamu saja, kalau memang sanggup, kita sih boleh-boleh aja. Gimana, Kinasih?”

“Kalau Kinasih juga, terserah saja, tapi nanti kalau ada yang nanya Mas ini siapa, Kinasih jawab apa? Namanya aja nggak tahu,” jawab Kinasih.

“Oh iya. Sudah ingat namamu siapa?” tanya Pak Karso.

Orang asing itu terdiam sejenak, kembali dia memejamkan mata sambil mengerutkan keningnya. Kepalanya menggeleng, tanda dia belum mengingat apa pun.

“Baiklah, tidak apa. Jangan dipaksakan kalau begitu. Bagaimana kalau saya memberi kamu nama ... Maruta? Yang berarti angin. Karena kamu ditemukan di atas pohon seperti terbawa angin,” ucap Pak Karso diakhiri dengan tawa ringan.

“Seperitnya itu nama yang bagus, Pak. Ma-ru-ta, saya suka nama itu. Semoga adanya saya di sini juga membawa angin keberkahan untuk keluarga bapak,” tutur Maruta alias Estu.

“Aamiin,” jawab Kinasih dan Pak Karso serempak.

Maruta lambat laun bisa menyesuaikan diri dengan Kampung Malikan tersebut. Hingga merasa hidupnya ketergantungan pada Kinasih. Karena ada apa pun dia pasti menanyakan pada Kinasih atau menunggu persetujuan Kinasih. Bahkan hingga perkembangan pemulihan dia juga Kinasih yang mendampingi.

Maruta rutin ikut berjualan bersama Kinasih di pasar. Tempat Kinasih jualan bukan sebuah toko, tetapi hanya lapak bongkar pasang, jadi dia ke pasar pukul tiga sebelum subuh. Saat hari mulai terang sekitar pukul sepuluh atau sebelas, tempat Kinasih dirapikan. Karena di belakang lapaknya ada toko lain yang sudah buka dari pukul tujuh atau delapan.

“Kinasih, boleh aku menggunakan motor ayahmu?” tanya Maruta.

“Untuk apa? Boleh saja. Memangnya mau ke mana?” tanya Kinasih.

“Aku ingin mencoba peruntungan, menaruh kue-kue ini di kota. Akan aku titipkan ke beberapa toko.”

“Ngapain kaya gitu? Terlalu repot dan berabe. Lebih baik jual sendiri aja, keuntungannya utuh. Dari pada dititipkan, nanti dibagi dua keuntungannya,” ujar Kinasih. Dia berpikir terlalu simpel.

“Menurutku, meskipun keuntungan kita lebih kecil, tapi jika yang beli banyak itu tak ada bedanya dengan keuntungan utuh seperti yang kita jual.”

Kinasih sempat berpikir, “Lalu kalau seandainya tidak habis di toko yang kita titipkan, bagaimana? Kerugiannya akan jadi lebih besar, ‘kan?”

“Kamu kan punya ponsel, nah merek yang ada di kue ini kamu taruh nomor ponsel kamu. Nanti saat orang akan membutuhkan kue-kue ini dia bisa menghubungimu. Pesan berapa banyak, lalu bisa dikasih uang dp dulu. Sehingga tidak ada istilah batal dan meminimalisir barang sia.”

Kinasih dengan sabar menyimak penjelasan dari Maruta. Dia mulai merasa tertarik dengan cowok yang entah dari mana asalnya. Terlihat cerdas dan pandai berbisnis.

“Nah, kalau untuk menyimpan di toko, secukupnya saja. Bukankah lebih baik kurang? Justru kalau konsumen merasa barang yang dibutuhkannya selalu kurang, dia akan penasaran, ketagihan dan mencari terus barang tersebut.”

Kinasih mengangguk-angguk mencoba mencerna ide yang Maruta berikan.

“Dan satu lagi, walaupun kita tinggal di kampung dan kue basah tidak akan bertahan lama untuk pengiriman jarak jauh, yang mungkin sampai berhari-hari baru akan sampai, tapi kita promosikan untuk membuat snack.

Jadi, kita bukan menjual kue satuan saja. Kan sering tuh, beberapa orang mengadakan acara seperti hajatan, ulang tahun, syukuran. Lalu kita membuka jasa untuk pengadaan snacknya. Iya, ‘kan?” Maruta sangat piawai sekali menjelaskan strategi bisnis.

Kinasih kagum atas pemikiran Maruta. Kenapa tidak terpikirkan olehnya dari dulu? Ibarat kalau dia tidak jualan di pasar pun kalau banyak pesanan tak jadi masalah. Bukankah itu lebih baik? Tak terlihat jualan oleh orang lain, tapi pemasukan tak pernah surut. Mengantarkan pesanan  dan bekerja tetap di rumah.

Kinasih setuju atas usulan Maruta, mereka pun membuat perencanaan untuk promosi di media sosial yang pernah. Pertama dibutuhkan adalah membuat akun media sosial, karena Kinasih belum memilikinya. beberapa aplikasi digunakan oleh Maruta untuk membuat banner promosi.

Maruta memang hilang ingatan, tapi bukan berarti dia hilang akal, menjadi bodoh dan kepandaiannya ikut lenyap pula. Kemampuan dasar seseorang tak kan pernah hilang, selagi orang tersebut masih hidup.

Awal bulan setelah Maruta dan Kinasih membuat konsep pemasaran yang berbeda, belum terlihat perubahan yang drastis dari penjualan kue Kinasih.

Setelah menginjak bulan ketiga sudah banyak orang yang memesan kue pada Kinasih, baik untuk konsumsi pribadi acara kecil-kecilan atau besar-besaran.

Bahkan Deswita yang selama ini hanya mencari kayu bakar dengan Kinasih, dia ikut sibuk dengan usaha sahabatnya itu di depan rumah.

Pak Karso yang masih memiliki lahan sekitar tiga kali tiga meter di depan rumahnya, di buat bangunan sederhana, sisi-sisinya tembok seperti biasa. Namun, untuk penutup warung menggunakan papan, mungkin bisa dikatakan toko kecil.

Walau itu adalah kampung, tapi Kinasih membutuhkan tempat itu untuk promosi yang nanti akan dibagikan ke media sosial. Bahkan terkadang Kinasih live streaming juga saat membuat kue. Dan etalase tokonya terpampang, supaya lebih meyakinkan customer bahwa produksinya tertata dengan baik serta tempat yang nyata.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Siti H

Siti H

aku mampir kak...

2022-10-02

2

IF

IF

Hilang ingatan nggak mempengaruhi kepiawaian dalam berbisnis. Seolah udah melekat ya Mom... pinter otornya

2022-09-17

1

ReiRey

ReiRey

Salam kenal thor, saling follow yuk

2022-09-16

1

lihat semua
Episodes
1 Orang Asing Pembawa Keberuntungan
2 Adu Ngambek
3 Meski Takut Jadian
4 Halal
5 Malam Pertama Sederhana
6 Pencarian Datang
7 Ingatan Hestama.
8 Jujur
9 Ternyata Datang Juga
10 Hari Penentuan
11 Serah Tugas Toko
12 Siap Ke Jakarta
13 Hadiah Besar
14 Wastu Hestama
15 Tak Dianggap
16 Aku Siapa?
17 Terombang-ambing
18 Cari sang Istri
19 Menghapal Wastu Hestama
20 Papi Hestama
21 Mohon Memaklumi
22 Papi Mertua Ternyata
23 Bab 22 Sekolah TK
24 Lupa Rumah Sendiri
25 Belum Jelas Nasib
26 Mempertahankan Posisi
27 Pesaing Berat
28 Amnesia vs Bolot
29 Masih drama
30 Dikerjai Suami
31 Tidak Memiliki Peran
32 Masih Takut Kanjeng Mami
33 Terbongkar Rahasia Sendiri
34 Cemburu Kakak Sendiri
35 Sudah Tahu Tentang Menantu
36 Mulai Diakui
37 Ternyata Kemala
38 Teman Menyebalkan
39 Kinasih atau Keken
40 Pemanasan Sejoli
41 Kanjeng Mami Berulah Lagi.
42 Jangan Kira Matre
43 Menantu Siapa?
44 Kinasih Makin Penasaran.
45 Salah Pengertian
46 Malam Bercocok Tanam
47 Jodoh Salah Alamat
48 Seseorang Tak Disangka
49 Istri Jadi Kaka Ipar
50 Hubungan Silang
51 Lika Liku Asmara
52 Perintah Membingungkan
53 Senjata Makan Tuan
54 Salah Paham yang Rumit
55 Wejangan Jennie
56 Masih Tentang Noda
57 Semakin Ada Jarak
58 Taktik Menukar Kostum
59 Kanjeng Papi Bisa Marah
60 Pertunangan Salah Pasangan
61 Kak Ipar Tak Habis Akal
62 Saling Jaga Gengsi
63 Lumayan Bersuara Sedikit.
64 Hari Yang Panik
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Orang Asing Pembawa Keberuntungan
2
Adu Ngambek
3
Meski Takut Jadian
4
Halal
5
Malam Pertama Sederhana
6
Pencarian Datang
7
Ingatan Hestama.
8
Jujur
9
Ternyata Datang Juga
10
Hari Penentuan
11
Serah Tugas Toko
12
Siap Ke Jakarta
13
Hadiah Besar
14
Wastu Hestama
15
Tak Dianggap
16
Aku Siapa?
17
Terombang-ambing
18
Cari sang Istri
19
Menghapal Wastu Hestama
20
Papi Hestama
21
Mohon Memaklumi
22
Papi Mertua Ternyata
23
Bab 22 Sekolah TK
24
Lupa Rumah Sendiri
25
Belum Jelas Nasib
26
Mempertahankan Posisi
27
Pesaing Berat
28
Amnesia vs Bolot
29
Masih drama
30
Dikerjai Suami
31
Tidak Memiliki Peran
32
Masih Takut Kanjeng Mami
33
Terbongkar Rahasia Sendiri
34
Cemburu Kakak Sendiri
35
Sudah Tahu Tentang Menantu
36
Mulai Diakui
37
Ternyata Kemala
38
Teman Menyebalkan
39
Kinasih atau Keken
40
Pemanasan Sejoli
41
Kanjeng Mami Berulah Lagi.
42
Jangan Kira Matre
43
Menantu Siapa?
44
Kinasih Makin Penasaran.
45
Salah Pengertian
46
Malam Bercocok Tanam
47
Jodoh Salah Alamat
48
Seseorang Tak Disangka
49
Istri Jadi Kaka Ipar
50
Hubungan Silang
51
Lika Liku Asmara
52
Perintah Membingungkan
53
Senjata Makan Tuan
54
Salah Paham yang Rumit
55
Wejangan Jennie
56
Masih Tentang Noda
57
Semakin Ada Jarak
58
Taktik Menukar Kostum
59
Kanjeng Papi Bisa Marah
60
Pertunangan Salah Pasangan
61
Kak Ipar Tak Habis Akal
62
Saling Jaga Gengsi
63
Lumayan Bersuara Sedikit.
64
Hari Yang Panik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!