Bab 11
Bagas memutuskan untuk memikirkan perihal alasan pada mamanya nanti saja di perjalanan, untuk menyingkat waktu saat ini.
Maruta dan Kinasih diberi waktu 24 jam untuk berunding, meskipun sudah terlihat bahwa Maruta sudah memutuskan untuk mengajak Kinasih.
Dan saat ini mereka sedang mengemasi barang yang akan dibawa, terutama pakaian
Selebihnya Bagas beserta kerabat lainnya masih terus berbincang bersama Pak Nando dan Pak Karso.
***
Wastu Hestama.
Wastu adalah julukan lain dari mansion atau rumah besar.
Sebutannya memang hampir mirip dengan nama Estu. Namun, memiliki arti yang berbeda, karena pada dasarnya memang berbeda namanya.
Nama Estu yang memiliki arti sungguh-sungguh sedangkan Hestama memiliki arti kemampuan yang berarti.
Suasana wastu disibukkan dengan para pelayan mempersiapkan kedatangan anak bungsu dari keluarga besar Hestama.
Beberapa kerabat sudah diundang meskipun acara penyambutannya esok hari, karena diperkirakan perjalanan dari Jawa ke Jakarta memang membutuhkan waktu lama sekitar 10 jam lebih.
Ada waktu untuk beristirahat sebentar saat Estu sampai, untuk hadir di acara pesta kedatangannya, lebih tepatnya syukur Estu karena selamat dari tragedi kabut saat mendaki gunung.
"Ken, kamu sudah siapkan semuanya?" tanya Bu Desi.
"Sudah Ma, termasuk dengan kamarnya Estu. Wewangian aromaterapi, seprai, gorden semuanya pokoknya sudah beres," papar Keken, dia adalah calon istri Estu.
"Baju tidur Estu?" tanya Bu Desi kembali.
Keken mengangguk juga, dengan senyum yang selalu membuat Bu Desi merasa gemas dengan calon menantunya itu.
"Jangan lupa, besok kamu harus berpenampilan sesuai kesukaan Estu. Katanya dia hilang ingatan, mungkin saat melihat kamu dia bisa mengingat memori masa kecilnya."
Keken tersenyum mengiyakan apa kata calon mertuanya.
Keken dan Estu memang teman sejak kecil. Keluarga ningrat itu juga memiliki budaya untuk menikahkan mereka dengan kerabatnya, meskipun terhitung kerabat jauh.
Karena mereka juga memiliki pantangan kerabat dekat tidak boleh menikah.
Jika diurutkan silsilah, Keken adalah dari keturunan adiknya Kakeknya Estu.
Sejak kecil Keken sering main ke wastu Hestama, terlebih jika acara keluarga tahunan.
Dalam acara keluarga tahunan, mereka semua tidak ada yang mengenakan pakaian modern, semua harus dengan pakaian adat, yaitu kebaya. Pakaian adat Jawa.
Dan saat di mana pertama kali Estu mengerti atau memahami apa yang terjadi pada dirinya dan Lingkungan sekitar adalah, saat di usia sekitar delapan tahun.
Dia sangat suka kalau melihat Keken mengenakan kebaya, terlebih saat Keken disanggul, menurut Estu pipi Keken kaya bakpao, empuk bulat.
Estu sering menjawil-jawil pipi Keken hingga Keken merasa risih dan terkadang berlari menangis ke ibunya. Jika sudah seperti itu, Estu tertawa kegirangan.
Pernah suatu saat pertemuan keluarga, Keken tidak mengenakan kebaya. Estu mengambilkan kebaya yang diminta dari mamanya untuk dikenakan Keken
Namun, Keken menolak karena saat dia mengenakan kebaya, Estu suka meledeknya terus.
Seperti yang kita ketahui, seorang wanita mengenakan kebaya pasti lengkap dengan sanggulnya, maka wajah manis Keken akan terlihat semakin lucu bulat dengan pipi yang penuh berisi sehingga bibir kecilnya semakin mungil.
Saat-saat kecil Memang mereka sama-sama memiliki tubuh yang subur, beda halnya dengan sekarang saat setelah dewasa.
Kkebanyakan orang sudah pandai merawat diri sehingga menyeimbangkan berat tubuh dengan pola hidup yang sehat
**
"Silakan Mas, Mbak disantap makannya," ucap Pak Karso karena waktu sudah hampir siang, sepertinya para tamu semenjak pagi hanya disuguhi makanan alakadarnya.
Pak Karso dibantu Deswita dan Mamanya menyiapkan makan untuk para tamu. Bisa dikatakan sarapan atau makan siang karena ini masih menunjukkan pukul 11.00.
Jika menunggu menuju makan siang takut terlalu lama.
"Jadi Estu memiliki toko kue di sini?" tanya Bagas.
Benar Mas Bagas. Saya bersyukur semenjak adanya Estu, penjualan kue Kinasih berkembang. Bahkan yang tadinya hanya di pasar, bisa membangun tokok seperti yang Mas Bagas lihat di depan rumah ini.
"Lalu, nanti bagaimana kalau Kinasih ikut ke Jakarta?" tanya Bagas kembali
Pak Karso ketika terdiam. Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi?
"Ada saya Pak," Ciletuk Deswita.
Mamanya menoleh pada Deswita takut salah bicara.
Namun, Pak Karso merasa lega apa yang di utarakan Deswita memang benar. Tadinya Pak Karso merasa Bagas mengatakan seperti itu sebagai alasan untuk memberatkan Kinasih ikut ke Jakarta.
"Kamu saudaranya Kinasih?" tanya Bagas
"Lebih dari saudara, Pak hehehe," ucap Deswita ketawa canggung.
Lagi-lagi mamanya Deswita menyenggol lengan anaknya. Maksudnya supaya Deswita jangan asal bicara, apalagi mengajak bercanda orang yang baru kenal. Takutnya salah karakter nanti jadi salah paham.
Beberapa orang memang tidak makan semua termasuk ibunya Deswita dan Deswita, mereka hanya menghidangkan saja. Dan duduk agak jauh dari mereka.
**#
Di kamar.
"Mas, aku takut," ucap Kinasih saat di kamar merapikan pakaian mereka.
"Tidak perlu takut. Karena firasatku merasa baik-baik aja."
"Itu kan firasatmu Mas. Ya, mungkin memang ada keterikatan batin dengan mereka, karena kamu memang keluarga mereka."
"Karena kamu juga sudah menjadi bagian dari hidupku, bahkan lebih dari mereka maka kamu juga harus bersikap tenang "
Kinasih tidak bisa berkata apa-apa lagi. Berkali-kali Kinasih membahas rasa takutnya. Dan Estu selalu menenangkannya dan terasa tulus, bukan sesuatu yang dipaksakan. Meskipun dalam pikiran Kinasih tetap ada rasa takut.
"Mas, aku sudah selesai. Aku mau bicara dulu sama Deswita."
"Perihal apa?"
"Toko kue kita. Sayang mas kalau nggak dilanjut."
"Baiklah," ucap Estu mengangguk.
Kinasih keluar kamar, dia melihat semua orang sedang menikmati makanannya. Kebetulan Deswita sedang duduk di dapur dekat kamar Kinasih.
Sedangkan orang-orang makan di ruang tamu yang cukup luas untuk menampung sekitar 8 orang tersebut.
"Ke mana Nas?" tanya Deswita saat tangannya ditarik.
Kinasih mengajak Deswita ke samping kolam ikan.
"Aku mau nitipin toko kueku, yah. Kamu sanggup?" tanya Kinasih, saat mereka sudah duduk di saung.
Tanpa basa-basi dan alasan apapun Deswita menyanggupi. Toko kue miliki Kinasih akan dilanjutkan dan Deswita juga mengajukan beberapa permintaan pada Kinasih, terutama tentang penambahan karyawan.
"Tapi kalau di awal-awal kurang baik pemasukannya gimana?" tanya Deswita memastikan, sebelum Kinasih merasa menyesal meninggalkan tokonya.
Kinasih memaklumi jika pendapatan mungkin tidak semaksimal saat dikelola oleh dirinya. Karena biasanya dalam perdagangan seperti itu, beda yang mengelola beda juga hasilnya. Kantetapi Kinasih tetap mensupport Deswita secara yakin, bahwa sahabatnya itu sanggup dan Kinasih tidak akan memperhitungkan jika ada kerugian.
"Kamu yakin Nas?" Deswita meyakinkan Kinasih sekali lagi.
Terima kasih yang sudah mampir. Tolong bantu supportnya ya, readers tercinta. ;)
Bersambung....
Jika sudah banyak yang mampir', baru crazy up.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Wardah Juri
takut ya kinasih gak di terima keluarga estu
2022-10-03
2