"Kamu yakin Nas?" tanya Deswita.
Bab12
Kinasih mengangguk kemudian berkata, "Aku sudah merundingkan dengan mas Maruta, dia jamin kehidupanku di Jakarta. Makanya aku tidak harus mempersalahkan toko kue di sini."
"Kamus yakin itu? Bagaimana kalau...."
Deswita menghentikan keraguannya, Kinasih mengerti bahwa keadaannya di Jakarta belum tentu terjamin, meskipun terlihat dari Bagas dan beberapa orang yang datang memang benar-benar seperti orang kaya. Akantetapi tidak tahu perlakuan mereka di sana, orang kayanya seperti apa. Pemilik usaha apa dan posisi Estu adalah siapa.
Apakah Estu hanya seorang anak dari keturunan ningrat yang manja, yang hanya mengandalkan harta orang tua, Apakah Estu memang benar-benar pekerja keras dulunya yang diandalkan keluarga. Kinasih belum tahu itu.
"Iya itu maksudku. Kalau Mas maruta misal seperti orang kaya yang ada dicerita-cerita film, novel, memang pengelola perusahaan, kamu bisa tenang. Coba kalau Mas Maruta ternyata anak mami. Dia aja hidupnya diurus sama orang tuanya, gimana bisa menjamin hidup kamu," ucap Deswita merasa khawatir
"Doakan aku semoga tidak terbawa perasaan. Jika ada gelagat tidak baik untukku lebih baik aku pulang."
"Kamu yakin? Beneran?" Deswita meyakinkan karena dia tahu temannya seperti apa.
Kinasih adalah pemilik hati yang perasa, dia selalu memutuskan dengan perasaan daripada logikanya. Saat situasinya benar-benar sulit, merugikan dirinya, bahkan Kinasih tak bisa berpikir untuk memilih mana yang lebih menguntungkan atau tidak. Kalau hatinya sudah nyaman, sudah terikat erat, kadang Kinasih menjadi seperti sosok yang bodoh, berat untuk melepas yang sudah bersarang di hatinya.
Istilah kerennya, Kinasih itu baperan.
Seperti kejadian beberapa tahun silam dengan Parman, tunangan Kinasih yang batal.
Kinasih sudah sangat terikat dengan Parman. Bahkan mereka sudah seperti suami istri, hanya saja mereka tidak satu rumah dan tidak tidur bareng.
Pagi-pagi sekali sebelum Parman berangkat sekolah, dia sudah ke rumah Kinasih untuk membantu membuat beberapa kue yang dia sanggup, setelah itu diantarkannya ke pasar bersama Kinasih.
Karena waktu ke pasar itu sangat pagi, sehingga Parman Masih sempat untuk bersiap ke sekolah.
Bahkan pulang sekolah Parman langsung ke pasar menjemput Kinasih hingga pulang berumah. Itu pun Parman tidak langsung kembali ke rumahnya, dia langsung membantu Kinasih membereskan barang sisa.
Barang dagangan Kinasih tidak selalu laku, bahkan Ada beberapa barang sisa, Parman lah yang membuka bungkusnya dan dibuang ke kolam untuk makanan ikan.
Untuk menyingkat waktu Kinasih selalu belanja bahan kuenya setelah dia pulang jualan, mumpung masih berada dalam area pasar. Parman pun membantu merapikan belanjaannya setelah itu baru pulang ke rumah sore hari.
Kinasih memang tidak sekolah sampai SMA, karena kebiasaan di kampung Malikan masih memberi batasan kepada wanita untuk sekolah tinggi, karena memiliki paham bahwa ujung-ujungnya ke dapur juga.
Sehingga saat Parman di sekolah, Kinasih di pasar. Padahal usia mereka hanya beda satu tahun, harusnya Kinasih bisa sekolah, tapi bagaimana lagi kebiasaan di kampung seperti itu.
Jarak sekolah SMA dari kampung Malikan yang cukup jauh, itu juga yang membuat hanya para lelaki yang kebanyakan sekolah sampai SMA. Sebab bisa menggunakan motor sendiri atau sepeda dengan jarak yang cukup jauh. Kalau perempuan, takutnya tidak bisa jaga diri, kenapa-napa di jalan.
Karena kedekatan itulah Kinasih dan Parman bertunangan. Saat itu Parman masih bisa meyakinkan orang tuanya. Namun, saat Parman mau kuliah ada dorongan dari orang tuanya untuk tidak mengikat siapapun wanita di kampungnya.
Orang tuanya Parman tahu bagaimana pergaulan di kota, takutnya Parman tidak bisa bertanggung jawab atas ikatan yang sudah terlanjur.
Kinasih melepasnya sangat berat dia menangis hampir tuju hari tuju malam, siapapun yang sudah menenangkannya, tetap saja pada malam hari saat tidur Kinasih merasakan sakit di hatinya dan nangis lagi.
Pernah sampai akan mengakhiri hidupnya dengan meminum racun. Namun, hal itu sempat diketahui oleh ayahnya Kinasih.
Banyak orang yang menasihati Kinasih lebih baik putus saat ini, sebelum menjadi suami, daripada nanti sudah terlanjur. Apalagi sudah memiliki anak tidak bisa memutuskan semudah itu jika di tengah rumah tangga mereka ada masalah.
Namun, Kinasih tetap keras kepala, dia memang tidak marah secara kasar, tapi dengan diam dan menangis Kinasih membuat orang yang menyaksikan lebih takut. Karena orang diam biasanya pemikirannya lebih dalam dan takut melakukan hal di luar batas.
Sebodoh itu Kinasih karena perasaannya yang terlalu besar daripada logikanya yang harus berpikir.
**#
"Gimana?" tanya Maruta saat sudah berada di area kolam menghampiri Kinasih dan Deswita.
"Iya Mas, udah," ucap Kinasih.
"Sudah selesai urusan tokonya?" tanya Maruta kembali.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments