Bab6
“Nas, gawat Nas. Gawat!” seru Deswita yang masih berlari menghampiri Kinasih sambil bicara.
Kinasih melihat sahabatnya begitu terburu-buru, dia hanya bisa terbengong melihat Deswita menghampiri seperti orang yang panik.
Kinasih tidak dapat berkata apa-apa. Deswita begitu heboh tidak ada kesempatan untuk Kinasih bertanya.
Deswita kemudian duduk di depan Kinasih, dia melihat ke sekitar seakan pembicaraannya takut didengar oleh orang lain.
“Ada apa sih? Rahasia ya?” tanya Kinasih bersuara pelan.
“Sebenarnya bukan sih, tapi kalau didengar Maruta gimana?”
“Tentang apa?”
“Tentang dia. Jadi, beberapa hari lalu ada orang kota ke sini.”
Kinasih langsung terbengong, dia juga bingung apakah kalau Maruta mendengar tidak apa-apa atau justru Maruta layak tahu? Saat ini dia sedang di depan rumah, membuka jendela, gorden, biasanya langsung nyapu. Karena memang semenjak bangun Maruta dan Kinasih sibuk di dapur Jadi belum sempat beres-beres di depan.
“Bisa, bisa. Singkat aja,” ucapi Kinasih.
Kemudian Deswita menceritakan bahwa sebenarnya sekitar beberapa hari yang lalu, ada orang kota yang menemui kantor desa. Mereka ingin mencari orang yang hilang, mungkin saja warga desa tahu atau pernah mendengar atau mengetahui tanda untuk orang hilang.
Untungnya yang ada di desa adalah pamannya Deswita. Paman Deswita tahu betapa sudah terikatnya Kinasih dengan Maruta, jadi dia menyampaikan berita bohong pada orang kota tersebut.
Akan tetapi, Paman Deswita juga menjanjikan untuk berusaha mengecek seluruh warganya, siapa tahu ada yang menemukan orang hilang tersebut.
Sebenarnya paman Deswita tidak ingin berbuat bohong, maka dia menjanjikan seperti itu kepada orang kota terst. Karena sebenarnya tidak mungkin aparat desa tidak mengetahui kejadian besar di kampungnya, jadi posisi paman Deswita sebenarnya bingung saat itu.
“Lalu gimana Des?” ucap Kinasih, suaranya terdengar kesedihan.
“Ya makanya harus gimana? Kita nggak mungkin nyembunyiin lama-lama juga. Kecuali Marutanya mau. Maksudnya dia tidak usah keluar rumah, tidak ngapa-ngapain, tapi kan nggak mungkin orang hidup harusnya bergerak. Lagian kita juga nggak boleh egois sih.”
Kinasih mendengar apa yang Deswita ucapkan. Ada benarnya, tapi sepertinya Kinasih belum siap jika saat ini harus kehilangan Maruta.
“Pokoknya aku udah nyampein gitu ya, mungkin masih ada beberapa waktu untuk berpikir.”
“Berpikir apa? Untuk kasih tahu Maruta atau tidak?”
Pertanyaan Kinasih menandakan bahwa dia benar-benar sedang tidak stabil pemikirannya. Tidak bisa sinkron dengan apa yang diucapkan Deswita.
“Iya, maksudnya berpikir kalau kamu siap untuk menerima keadaan atau biarkanlah berjalan seperti biasa. Maruta berjualan ke pasar, beraktivitas sepet biasa aja.
Lalu, kalau sampai ketemu saudaranya Maruta, ya bersyukur. Kalau nggak juga tetap bersyukur. Ada aja gimana terserah takdir.”
“Iya sih,” Jawab Kinasih singkat dengan tatapan kosong ke depan. Seakan sedang memikirkan sesuatu tapi seperti tidak ada gairah.
“Ya udah, aku cuman mau nyampein itu aja. Ini masih pagi, aku belum nyuci,” ucap Deswita sambil beranjak dari duduknya setelah menepuk tangan Kinasih, kemudian dia pergi.
Saat sampai depan Deswita ditanya oleh Maruta yang sedang menyapu teras depan, ada apa tujuan kedatangannya karena tumben masih pagi.
“Nggak ada apa-apa. Biasa, urusan wanita,” ucap Desita berbohong dengan terus berjalan untuk pulang.
Maruta masih biasa saja saat mendengar keperluan apa Deswita datang. Dia tidak tahu istrinya di dapur sedang melamun.
Maruta masih melanjutkan pekerjaannya di teras rumah. Sedangkan Kinasih sambil melamun, dia menyeduh kopi dan beberapa camilan untuk hidangan pagi.
Kalau untuk sarapan biasanya mereka jarang masak, apalagi mood Kinasih sekarang sedang buruk. Paling kalau untuk beli lauk pauk bisa beli jadi saja nanti di warung nasi.
“Hei, melamun aja,” tegur Pak Karso saat ke dapur, melihat putrinya mengaduk kopi dengan tatapan tidak ada gairah.
“Eh ayah,” respons Kinasih terkejut dengan kedatangan ayahnya, tapi responnya hanya biasa.
“Ada apa?” tanya Pak Karso sekali lagi.
Walau Pak Karso adalah seorang pria, tepatnya seorang ayah, tapi karena dia merawat Kinasih sejak kecil tanpa seorang ibu, maka Pak Karso peka apa kegundahan putrinya itu.
“Ada yang mencari Maruta, Yah,” ucap Kinasih lirih.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments