Bab 10
Kinasih yang sedang menyapu di teras terkejut dia, menghentikan kegiatannya serta menoleh pada mobil yang datang.
Entah mengapa dadanya langsung berdegup kencang, darahnya berdesir seolah jantungnya terhenti. Firasat Kinasih mengatakan bahwa ini adalah hari di mana dia harus mempersiapkan diri untuk kelangsungan rumah tangganya dengan Maruta.
Hari ini adalah hari penentuan!
Ada sekitar enam orang turun dari kedua mobil itu, empat orang laki-laki dan dua wanita. Bagaimanapun Kinasih terkejutnya, dia masih sempat tersenyum ramah menyambut mereka.
Sebelum ke enam orang itu menyapa, rupanya paman Deswita datang menggunakan motor, setelah sampai dia langsung mengatakan pada Kinasih.
"Maaf Kinasih, Paman nggak sempet memberitahu kamu sejak kemarin. Kebetulan kerjaan numpuk, kenalkan ini adalah keluarga maruta dan nama asli Maruta adalah Estu."
Kinasih baru mendengar nama yang unik tersebut. Estu, nama yang bagus, pantas untuk keluarga orang kaya.
Kinasih hanya bisa mengangguk, dia tersenyum pada semua orang kemudian mempersilakan masuk.
Saat mereka semua masuk, tanpa dipanggil, Maruta dan Pak Karso datang dari arah dapur. Karena rumah itu tidak begitu besar, sehingga tentu saja penghuni rumah akan tahu kedatangan orang ke rumah tersebut.
Bagas yang sudah duduk, lalu berdiri melihat kedatangan adiknya.
Maruta tidak bereaksi karena memang dia tidak mengenal mereka semua.
"Tenang dulu Pak, biar Maruta, eh- maksud saya Estu menyesuaikan terlebih dahulu." ucap seseorang yang ada di sebelah Bagas.
Keluarga yang datang dari kota tersebut memperkenalkan diri satu persatu, pada Kinasih Pak Karso Kemudian pada Estu.
Namun, beda halnya dengan Bagas. Dia langsung memeluk Estu dengan sangat erat. Ditepuknya punggung berkali-kali, dia bersyukur sekali melihat adik kandungnya selamat dan sehat wal'afiat, tidak terlihat ada kekurangan sedikitpun dalam fisiknya.
Bagas sudah kembali duduk, dia mengerti bahwa Estu cukup terkejut dengan kedatangan mereka. Terlebih ingatan Itu memang hilang, Bagas tahu dari pamannya Deswita.
"Maaf Pak Karso, tentunya kedatangan kami kemari sudah Bapak ketahui tujuannya," ucap Bagas membuka pembicaraan.
"Benar, kami sudah tahu beberapa hari yang lalu, sudah dijelaskan oleh Pak Nando," respons Pak Karso.
Pak Nando adalah pamannya Deswita.
"Lalu bagaimana Pak? Apakah Estu sudah siap?" tanya Bagas kembali.
"Kalau saya terserah anaknya. Tapi jujur, kami tidak menyangka saudara sekalian akan datang hari ini, makanya kami tidak ada persiapan sama sekali," ucap Pak Karso kembali.
Bagas terdiam sejenak, dia melihat pada Estu yang sejak tadi tidak berbicara.
"Kau mengingat aku tanya?" Bagas perlahan.
Maruta hanya menggeleng, dia mengenyitkan keningnya. Kepala belakangnya sedikit dipegang, diusap-usap seperti merasakan sakit. Kemudian Kinasih pemegang tangan maruta supaya jangan memaksakan untuk mengingat sesuatu.
Bagas merasa prihatin dengan keadaan adiknya, dia ingin segera membawanya ke kota untuk diobati oleh tenaga ahli.
"Jika begitu hari ini juga saya akan membawa Estu pulang Pak. Terima kasih atas segala pengorbanan Bapak yang sudah dilakukan pada Estu. Jujur, ini sangat besar dan begitu berharga bagi kami. Mungkin kami tidak dapat membalasnya dengan apapun," papar Bagas.
Bagas masih berbasa-basi kepada Pak Karso. Dia juga menceritakan tidak bisa menunda lagi untuk menjemput Estu. Hari ini harus sudah dibawa ke Jakarta, karena mamanya sudah antusias sekali ingin bertemu dengan Estu.
"Gimana maruta?" tanya Pak Karso, dia tak menyangka bahwa menantunya itu akan diam saja sejak kedatangan keluarganya.
"Kalau aku ikut saja, jika memang mereka ini keluargaku." Hanya itu yang keluar dari mulut Estu.
"Sebentar," ucap Bagas.
Bagas kemudian mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya.
"Cecil tolong bawakan tas pinggang milik Estu," perintah Bagas kepada wanita yang ada di sebelahnya, dia adalah sekretarisnya.
"Lihat ini kau mengenalnya?" Bagas menunjukkan album foto yang memang sudah disiapkannya, karena dia mengetahui Estu hilang ingatan, maka dia berinisiatif untuk membawa album foto itu.
Lalu Bagas juga mengeluarkan ponselnya, memutar beberapa video saat mereka di kantor, perayaan di rumah, bahkan mereka sering naik gunung bersama.
Tak lama Cesil datang menyerahkan tas pinggang milik Maruta.
"Tu... ingat ini?" tanya Bagas kembali. "Ini adalah tas pinggang saat kau mendaki. Malam itu kami hanya bisa meraih tas ini dan..."
Bagas tidak melanjutkan ucapannya, dia takut Maruta teringat tragedi tersebut dan memperburuk kondisinya.
Benar saja Maruta memegang kembali kepalanya. Meskipun tidak diminta untuk mengingat kejadian malam itu, tapi secara spontan reaksi ingatan Maruta kembali memutar kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Maruta, kalau dari dokumen yang dikeluarkan Pak Bagas ini dia memang keluargamu. Tidak ada salahnya ikut. Pak Bagas juga mirip denganmu," ucap Pak Karso sekali lagi.
"Tapi istriku harus ikut," ucap Maruta.
Bagas terhenyak, "Istri?" ucapnya penuh tanya.
Bagas menggenggam tangan Kinasih yang kini sedang merasakan degup jantungnya, tak menyangka Maruta akan seterusterang itu.
"Ini Kinasih, kami sudah menikah dua minggu yang lalu," ucap Maruta memperkenalkan istrinya.
Bagas menoleh kepada Cesil dan rekan lainnya, tidak menduga bahwa Maruta sudah menikah. Kemarin waktu berbincang dengan Pak Nando tidak mengatakan hal lain selain memang ada orang yang ditemukan di hutan dan amnesia, itu saja.
Andai Bagas mengetahui dari awal Estu sudah menikah, dia akan mempersiapkan cara atau memikirkan terlebih dahulu layakkah istrinya Estu ikut ke kota atau tidak.
Tentunya Kalau mendadak seperti ini, Bagas pun masih punya hati untuk terlalu tegas tidak menerima orang lain yang tidak dikenalnya, terlebih Kinasih adalah penolongnya Estu.
Bagas tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa telepon dulu Kanjeng mami tuan?" tanya Cesil.
"Sepertinya jangan, kamu tahu sendiri Mama sangat antusias ingin bertemu Estu, lalu diberi kabar yang menurutku Mama tidak bisa menerimanya dengan mudah."
"Lalu bagaimana kita? Bermain drama? Berbohong?" tanya Cecil menawarkan beberapa saran.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
$uRa
wah Kanjeng mami..semoga tidak mempersoalkan bibit ..bebet. bobot
2023-06-28
0