Bab7
Pak Karso tidak langsung banyak bertanya pada Kinasih. Dirinya membiarkan dulu Kinasih agar pada posisi stabil.
Sebab saat ini Ayuning sedang menyapu tidak baik mengajak bicara orang yang sedang bekerja, apalagi tidak dalam posisi duduk, terlebih lagi Kinasih seperti sedang kacau dengan pikirannya.
Pak Karso sedang menikmati kopi dan hidangannya yang sudah disiapkan oleh Kinasih, sambil dia berpikir bagaimana caranya jika nanti apa yang disangkakan benar. Yaitu Pak Karso sudah ada firasat apakah ini tentang Maruta dan keluarganya?
Pak Karso berpikir, keluarga Maruta yang sebenarnya tidak akan tinggal diam untuk mencari keberadaan nya. Keluarga mana yang akan tinggal diam saat anggota keluarganya hilang, belum ditemukan bukti baik itu jasad atau kabarnya yang pasti.
Makanya Pak Karso menduga diamnya Kinasih karena sudah mendapat kabar itu, terlebih Pak Kardi mendengar saat dirinya masih di kamar, Deswita datang dengan seperti tergesa-gesa mungkin kabar itu dari Deswita.
Maruta datang dari depan, setelah selesai urusan pekerjaan di teras.
“Maruta,” sapa Pak Karso.
“Iya Pak,” Maruta berdiri di dekat Pak Karso menunggu apa perintahnya.
“Cuci tangan dulu, kita nikmati hidangan ini bersama,” ucap Pak Karso.
Maruta menurut apa kata ayah mertuanya itu. Dia cuci tangan lalu kembali ke tempat duduk dekat Pak Karso. Maruta tidak sempat memperhatikan gelagat Kinasih yang menyapu dengan tidak semangat.
Pak Karso basa-basi terlebih dahulu tentang usaha kuenya dengan Kinasih, tentang rencana ke depannya setelah menikah dan perkembangan kesehatan Maruta, terutama tentang ingatannya. Apakah sudah ada titik terang untuk mengingat masa lalunya.
Maruta menjelaskan apa-apa yang menjadi pertanyaan Pak Karso. Bahwa kesehatannya sejauh ini masih baik-baik saja. Untuk rencana ke depannya, Maruta sebenarnya ingin mandiri. Hanya saja bingung dengan Pak Karso yang tinggal hanya bersama adiknya Kinasih.
Kinasih memang memiliki seorang adik, cuma memang jarang diceritakan karena dia pulang hanya kalau liburan. adiknya Kinasih tinggal bersama bibinya di kota untuk sekolah.
Kemudian tentang ingatan Maruta dia merasa belum ada perubahan yang signifikan, paling beberapa hal tentang beberapa nama yang seakan merasa familier.
“Bapak senang mendengarnya, semuanya tidak ada yang bermasalah. Lantas, nama apa yang sepertinya selalu terbersih diingatan kamu? Nama seseorang kah?”
“Entah Pak, ini entah nama seseorang, atau seperti nama sebuah perusahaan, kelompok, atau komunitas. Tapi nama ini seperti begitu memiliki pengaruh.”
“Bisa kamu sebutkan namanya?” pinta Pak Karso, penasaran.
Maruta diam sejenak, dia mengingat-ingat apa yang sering terlintas di dalam pikirannya. Matanya memejam sambil tangannya sedang memegangi gelas teh yang masih hangat.
“He... Hes-ta-ma,” ucap Maruta lirih juga terputus-putus ucapannya.
“Hastama?” tanya Pak Karso kembali.
Maruta mengangguk, nama itu seakan-akan sebuah label yang begitu bermakna, entah untuk sebuah perusahaan, nama besar atau apa, tapi lidah Maruta selalu merasa sering mengucapkan hal itu. Atau merasa hal itu bagian dari hidupnya.
Saat nama itu terlintas, lidahnya tidak pernah terasa asing untuk mengucapkan bahkan, hatinya merasa benar-benar dekat dengan nama itu.
“Segitu juga udah bersyukur ada tanda bahwa kamu sudah ada perkembangan. Jangan dipaksakan,” ucap Pak Karso kembali.
Maruta mengangguk dengan nasehat Ayah mertuanya.
Ayuning yang sudah selesai menyapu kemudian mencuci tangan. Pak Karso memanggilnya untuk duduk bersama.
Kini Ayuning sudah duduk bersama ayah dan suaminya, dia juga menikmati hidangannya mumpung hari santai, tidak berjualan. Mereka gunakan waktunya untuk kumpul keluarga, ini hal yang jarang sekali dilakukan.
Biasanya pagi-pagi sekali Ayuning dan Maruta sibuk dengan kue-kuenya, sedangkan Pak Karso sibuk dengan kolam ikan dan kebunnya, jika siang Pak Karso akan keliling kampung untuk menjalankan dedikasinya sebagai ketua RT.
“Kinasih, bisa katakan pada Bapak, kamu kenapa? Jangan membohongi diri atau pun kami,” ucap Pak Karso memancing obrolan.
Kinasih melihat pada ayahnya Kemudian pada Maruta.
Maruta baru menyadari bahwa Kinasih tidak baik-baik saja, terlihat dari sorot matanya begitu layu, tidak bersemangat.
Maruta beranjak dari duduknya, dia beralih duduk di samping Kinasih. Diusapnya punggung istrinya tersebut, untuk memberi semangat agar baik-baik saja.
“Ada apa? Jujurlah, jika tidak bicara, kami tidak bisa membantu apa yang menjadi beban kamu,” ucap Maruta.
Ayuning masih bingung untuk mengatakannya mulai dari mana. Ayuning tidak mau egois juga, tapi jika dia tidak mengatakan berarti mengekang hak Maruta untuk mengetahui masa lalunya. Lalu jika mengatakan, maka perasaannya akan terancam untuk patah hati, kemungkinan Maruta akan pergi.
Dengan berat hati Ayuning memutuskan untuk mengatakannya saja. Perkara nanti kedepannya, terserah nanti aja. Ayuning yakin, perkara yang terjadi memang sudah waktunya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
$uRa
ayuning apa kinasih
2023-06-28
0
mbak ijus
ayuning
2022-10-01
0
Elisabeth Putri Mamasa
namanya kanisah apa ayuning sih Thor?
2022-09-27
1