“Jadi, kita pacaran?* tanya Maruta semakin membuat Kinasih kikuk.
Kinasih tidak bisa menjawab pertanyaan Maruta, dia hanya tersenyum simpul sambil lebih menundukkan kepala.
“Kalau tidak ada jawaban penolakan, berarti aku anggap iya,” lanjut Maruta kembali.
“Aku mau beresin barang dulu,” ucap Kinasih melepas tangannya dari genggaman Maruta, kemudian balik badan menuju dapur dengan sedikit berlari.
Maruta hanya tersenyum menyimak tingkah Kinasih, dia tahu cintanya tidak ditolak. Akan tetapi tidak pula mendapat jawaban yang pasti, itu karena Kinasih mungkin malu. Karena bagi perempuan Jika dia tidak ingin, pasti bisa menolak. Namun, gelagat Kinasih yang terlalu posesif selama ini sudah membuktikan, bagaimana perasaan wanita berbadan tinggi itu.
***
Waktu dilalui dengan lancar oleh Maruta dan Kinasih. Mereka terbiasa dengan kebiasaan yang baru yaitu pulang dari pasar sebelum pukul sembilan. Dan Maruta sekarang lebih sering berada di dapur untuk mengemas pesanan bersama Kinasih dan Deswita.
Sedangkan yang berada di toko, di jaha oleh karyawan Kinasih satunya lagi.
***
Pada suatu malam, Pak Karso memanggil mereka berdua yaitu Kinasih dan Maruta.
“Kalian duduklah di sini, sudah saatnya Ayah memastikan tentang hubungan kalian, jangan ditunda-tunda lagi,” ucap Pak Karso setelah kedua anaknya duduk berkumpul, di sofa set yang sudah usang.
“Maksud Bapak apa ya?” tanya Maruta.
“Kalian sudah saling menyatakan perasaan?” tanya balik Pak Karso.
Namun, keduanya hening. Takut mengucapkan sesuatu yang sebenarnya sudah pasti, namun belum mereka ikrarkan perasaan masing-masing. Saat ini mereka hanya saling yakin bahwa mereka memiliki rasa yang sama.
“Seperti yang pernah bapak bilang Minggu kemarin Maruta, Jika kamu menerima anak bapak, Kinasih, sebagai seseorang yang akan mendampingimu, Bapak bersedia segera menikahkan kalian.
Namun, jika kamu menolak, mungkin karena memang Kinasih bukan sosok wanita yang sesuai selera kamu, Bapak tidak apa-apa.
Akan tetapi, dengan begitu kamu harus siap mandiri tidak lagi serumah dengan Bapak.
Bapak harap kamu paham. Bukan Bapak tidak ingin menerima keberadaan kamu di sini, tapi untuk menghindari fitnah warga dan Bapak juga akan membantu untuk mencarikan tempat tinggal, indekos mungkin.
“Gimana Kinasih?” Maruta malah bertanya pada Kinasih yang sejak tadi dia merasa gugup, semakin panik saat ditanya kesepakatan oleh Maruta.
“E-Eh, aku gimana baiknya aja,” ucap Kinasih dengan gugup.
“Jika menunggu kalian, tidak akan ada keputusannya. Baiklah Bapak putuskan minggu depan kalian akan menikah, jika kalian menolak katakan saja tidak. Simpel bukan?” ucap Pak Karso, dia gemas dengan kedua anaknya ini. Mempertimbangkan begitu lama dan tidak ada ujungnya.
Ya, Pak Karso sudah menganggap Maruta seperti anaknya sendiri.
“Ya sudah, Bapak mau istirahat. Nanti saat bapak dan beberapa warga mempersiapkan pernikahanmu, jika ada yang masih kurang setuju dengan keputusan Bapak, sampaikan segera. Mumpung waktunya belum mepet pada hari kalian akan akad.”
Sepeninggalan Pak Karso, maruta melihat wajah Kinasih seperti yang murung, dia terus menunduk, tatapannya seakan hampa, lurus memandangi lantai entah dengan pemikiran apa.
Maruta memberanikan diri menggenggam tangan Kinasih.
“Ada apa?” ucap Maruta dengan lembut. “Kamu mau menolak permintaan bapak? Belum terlambat,” ucap Maruta kembali.
Kinasih mengangkat kepalanya, dia menatap pria yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya, “Jika ingatanmu kembali bagaimana?” ucap Kinasih lirih.
“Kamu mengkhawatirkan hal itu?” tanya Maruta.
Kinasih hanya mengangguk.
“Yang pasti, saat ingatanku kembali, tentangmu tak akan hilang. Jika masa laluku yang sudah dilalui aku ingat kembali, tidak mungkin tentang kamu yang ada untuk masa depanku menjadi terlupakan. Apalagi yang dikhawatirkan setelah ini? Kita akan selalu bersama bukan?”
Maruta berusa membuat Kinasih tenang, tidak terbayang ketakutan yang belum pasti terjadi.
“Jika keluargamu tidak menerimaku?” tanya Kinasih kembali.
“Yang menjalani hidup adalah aku, jika keluargaku tidak bisa menerimamu, aku bisa hidup seperti ini. Berdua denganmu sekarang dan nanti tidak ada bedanya bukan?”
Kinasih sedikit mendapat kelegaan dari apa yang diucapkan oleh Maruta, dia mencoba keyakinannya untuk tidak lagi ragu akan kesungguhan dan percaya, bahwa Maruta tidak akan mengecewakannya kelak.
***
Rencana Pak Karso untuk menikahkan Kinasih dan maruta berjalan dengan lancar. Hari H pun tiba. Pernikahan mereka diselenggarakan dengan sederhana namun cukup meriah.
Tenda biru di depan rumah Pak Karso cukup luas, karena hajat di kampung memang seperti itu tidak perlu dekor yang mewah. Namun, persediaan untuk menampung tamu cukup.
Lima hari sebelum acara pernikahan berlangsung, Maruta tinggal di rumah Deswita, hal itu atas pertimbangan Pak Karso dan orang tua Deswita yang ikut sebagai panitia, dalam acara pernikahan Maruta dan Kinasih.
Karena menurut adat, hal itu tidak boleh dilakukan saat pengantin pria dan wanita bertemu sebelum hari pernikahan mereka.
“Gimana? Rasanya deg-degan apa senang?” tanya Deswita menggoda Kinasih yang sedang dirias.
“Nano-nano Wi ,” ucap Kinasih dengan senyum merekah di depan cermin.
“Akhirnya Mas Maruta yang jadi rebutan, kamu juga pemenangnya,” kembali Deswita menggoda sahabatnya itu.
“Iya dong. Siapa yang menemukan, dia yang memiliki, hehe,” ucap Kinasih diakhiri tawa kedua sahabat tersebut.
Pukul 08.30 terdengar pembawa acara mengumumkan bahwa pengantin pria telah tiba. Kinasih semakin gugup saja, tapi prosesi akad Kinasih tidak akan ada di samping Maruta sebelum akad selesai dan dia sah menjadi istri dari Maruta.
Kinasih akan keluar setelah akad dilaksanakan dan itu artinya Kinasih sudah sah menjadi istri Maruta.
Akad pun berlangsung walau Kinasih tidak berada di depan penghulu bersama Maruta. Namun, rasa gugup dan cemas menghinggapi wanita berkebaya putih saat ini. Kinasih takut Maruta tidak bisa lancar mengucapt kalimat untuk mengikrarkan janji pernikahan mereka.
Dengan saksama Kinasih mendengarkan apa yang diucapkan penghulu, kemudian diikuti oleh Maruta yang terakhir terdengar mas diucapkan sebesar 2.000.000 dengan cincin dua gram, membuat Kinasih lega. Terlebih saat para tamu mengucapkan kata ‘SAH’ secara serempak..
“Alhamdulillah ...,”ucap Kinasih bersama Deswita berbarengan, tanpa sadar mereka saling berpelukan hampir saja merusak riasan Kinasih saking senangnya.
“Ayo Mbak Kinasih, kita ke depan. Mbak Deswita mengiringi, yah. Di sampingnya,” ucap tata rias tersebut.
Kinasih begitu anggun cantik dengan tubuh tinggi semampai. Dengan wajah manis dan imut. Siapa pun yang melihatnya akan merasa pangling, karena sehari-harinya Kinasih tidak pernah bermake up, rambut panjangnya sampai bawah punggung selalu diikat satu.
Deswita mengirim Kinasih dengan begitu pelan, menyesuaikan kain kebaya Kinasih yang pas untuk tubuhnya.
***
Saat malam tiba.
Kinasih sudah berganti pakai dengan baju tidur, begitu pun dengan Maruta. Namun, mereka sama-sama canggung.
Maruta sudah mendekati Kinasih. Namun, wanita yang kini rambutnya digelung karena terlalu panjang, seperti ketakutan. Tubuhnya beringsut.
“Kenapa?”, tanya Maruta yang masih duduk di tepi ranjang, tapi sangat menjaga jarak dari Kinasih yang sekarang telah menjadi istrinya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments