Bab8
“Apakah ini karena kedatangan Deswita?” tanya Maruta.
Ayuning mengangguk.
“Bisa aku tahu?” tanya Maruta perlahan memancing obrolan Kinasih.
Maruta sudah memiliki firasat bahwa Kinasih menjadi murung karena takut, apa yang ditakutkannya terjadi Yaitu Maruta kembali kepada keluarganya dan nasib Kinasih akan tidak jelas statusnya.
Akhirnya Kinasih jujur, bukan hanya apa yang disampaikan Deswita tadi pagi. Kinasih juga jujur saat dirinya dan Deswita mencari kayu bakar di hutan, saat itu dia melihat tim SAR dan orang asing sepertinya orang kota karena dari pakaian beda gayanya.
Kinasih juga menceritakan saat dia selalu membuat Maruta diminta untuk pulang lebih awal dari pasar.
“Oh... jadi itu alasannya. Takut orang kota itu menemukan aku?” Tanya Maruta.
Kinasih mengiyakan, dia juga menceritakan saat beberapa minggu sebelum pernikahan dirinya dan Maruta, berada di toko. Ada mobil yang melintas, yang mereka pikir mungkin mobil tetangga yang saudaranya dari kota sedang berkunjung.
Padahal Kinasih yakin itu memang orang kota yang sedang mencari kerabatnya yang hilang. Tentunya Maruta yang dicari.
“Tapi, kamu yakin itu mencari aku?” tanya Maruta.
“Siapa lagi di sini orang yang hilang selain mas?” tanya Kinasih dengan lemah.
Maruta menggenggam tangan Kinasih, dia meyakinkan jika memang benar itu keluarganya, semuanya butuh proses untuk kembali seperti semula. Dan tentunya saat ini yang Maruta tahu adalah Kinasih istrinya, tidak mungkin begitu saja dilepas.
“Tapi kalau keluarga Mas tidak mengakuiku sebagai istri Mas? Bagaimana? ucap Kinasih.
“Kenapa harus bingung? Semua itu belum terjadi. Jangan memikirkan hal yang belum tentu sesuai apa yang kita pikirkan.
“Justru karena belum terjadi kita harus mengantisipasi dari sekarang,” khawatir Kinasih.
Pak Karso menengahi kecemasan mereka, dia memberi wejangan bahwa sebuah keputusan pasti ada risikonya. Bahkan kalau Maruta tidak hilang ingatan pun, dan menikah dengan Kinasih atas dasar suka, masalah keluarga itu akan selalu ada.
Bahkan setiap orang pun masalah itu tidak akan lepas dari hidup kita. Hadapi saja.
Andai Kinasih dan Maruta sama-sama sudah kenal sejak lama, sebelum Maruta kecelakaan, kemudian menikah, masalah akan ada entah itu dari ipar, entah itu dari ekonomi, entah itu dari kedua orang tua atau bahkan ada sepasang suami istri yang masalahnya tidak memiliki momongan.
“Jadi semua takdir yang kita alami adalah untuk menguji kesabaran kita,” pungkas Pak Karso.
“Aku mengerti sekali maksud Bapak,” ucap Maruta.
“Andai keluargaku tidak mencari, masalah pernikahan kita akan tetap ada. Mungkin dari usaha kita, dari tetangga, masalah di pasar, atau dari hal kain.
Semua itu untuk menguji kedewasaan kita. Bagaimana membina rumah tangga. Begitu kan Pak?” Maruta mencoba menelaah kembali apa maksud Ayah mertuanya.
Pak Karso mengangguk, dia tersenyum bangga dengan menantunya yang bisa memahami apa makna kehidupan. Setiap masalah tidak usah dibikin panik, hadapi saja apa pun kendalanya.
Kinasih lumayan mereda saat mendengar nasihat dari ayahnya dan juga kepercayaan dari Maruta, bahwa dia menjamin hubungannya akan selalu terjaga dalam kondisi apapun.
"Ya sudah, sekarang kalian kalau mau ke makam ibu, pergilah," ucap Pak Karso. Mengingatkan Putrinya yang katanya akan nyekar ke makam mendiang ibunya setelah menikah.
Pak Karso memang selalu mengingatkan Kinasih agar selalu berkunjung ke makam ibunya, meskipun istrinya sudah meninggal. Tetapi Pak Karso selalu mengajarkan kepada anak-anaknya meminta restu kepada sang ibu, dengan bentuk kiriman doa agar kebaikan kembali kepada masing-masing.
**#
Kinasih dan Maruta berjalan kaki menuju makam ibunya, tidak jauh dari rumah jaraknya. Sedangkan arahnya sama seperti akan pergi ke hutan.
"Eh Maruta, kemarin ada yang nyariin," ucap seorang bapak yang sedang memikul dagangannya. Saat berpapasan dengan Kinasih dan Maruta.
Dia adalah salah satu tetangga yang jualan di pasar juga. Maruta Merasa bingung, siapa yang mencari dia? Karena bapak itu tidak berkata dengan lengkap.
"Ada orang kota yang nyariin orang hilang. Mungkin itu kamu," ucap Bapak tersebut.
Kemudian bapak itu juga melanjutkan agar bertanya saja kepada Pak kades. Karena orang kota itu kemarin lama di kantor desa. Cerita Bapak tersebut serupa dengan cerita Deswita.
"Baik Pak, nanti kami ke sana," ucap maruta merespons untuk menghargai informasi yang diberikan bapak tersebut.
Kinasih menggandeng lengan maruta dengan erat, seakan tidak ingin kehilangan.
Maruta menenangkan Kinasih, bahwa jika pun orang kota itu adalah kerabatnya, maka petugas desa pasti akan segera menemuinya tapi ini tidak .
"Mungkin mereka masih nunggu waktu yang tepat Mas." Kinasih menambahkan.
"Ya udah, kita lihat aja nanti," ucap Maruta dengan mengusap tangan Kinasih yang berada di lengannya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments