Bab13
Kinasih mengangguk dengan senyum sedikit dipaksakan. Sebenarnya dia setengah hati meninggalkan toko kuenya, tapi bagaimana dengan suaminya.
"Ya sudah. Ayo! mereka sudah pada selesai makan," ucap Maruta kembali.
Maruta dan Kinasih pergi, diikuti Deswita di belakangnya.
**#
Kinasih dan Maruta pamitan pada Pak Karso, begitupun pada Deswita, Mamanya dan Paman Deswita.
"Sampai sana jangan lupa kabarin Bapak ya," ucap Pak Karso mengusap pipi putrinya yang basah kena air mata.
Kinasih tak bisa berkata-kata lagi, baik merespon pesan ayahnya, pesan sahabat ataupun mama dan pamannya Deswita.
Meski keinginan dirinya ikut dengan sang suami, namun Kinasih tetap merasa ada sesak di dada saat mereka akan berpisah dengan keluarga yang sejak kecil bersamanya.
Begitupun Bagas dan rekan-rekannya berpamitan kepada keluarga Kinasih dan ada sebuah bingkisan yang diberikan pada Paj Karso, sebagai tanda terima kasih meskipun tidak seberapa.
"Sebenarnya Jangan repot-repot Pak Bagas," ucap Pak Karso hampir menolak bingkisan itu. Sebuah kotak seperti kotak amal, cukup berat isinya.
Pak Karso sendiri masih bingung memanggil Bagas dengan sebutan Mas, Pak atau Nak. Karena sungkan rasanya jika terlalu akrab meskipun kerabat Bagas sudah menjadi menantunya, yaitu suami dari Kinasih.
"Ini tidak seberapa Pak. Terima saja. Kami pamit, semoga kelak bisa berkunjung lagi kemari," ucap Bagas mengakhiri pertemuan mereka sebelum benar-benar bertolak ke Jakarta.
Kinasih yang mengenakan dress di bawah lutut bercorak bunga kecil berwarna biru dengan rambut panjang yang diikat, begitu manis sekali, terlihat seperti bunga desa yang sering dikisahkan.
Wanita-wanita dari pegunungan memang terkenal dengan wajah ayu, kulit yang bersih meskipun tanpa perawatan, cantik alami.
Namun, dengan penampilan Kinasih seperti itu, apakah dapat menarik perhatian namanya Estu?
Dalam perjalanan Estu dan Kinasih satu mobil dengan Bagas dan Cesil. Sedangkan satu mobil lagi diisi rekan lainnya.
**#
"Dek, sudah nggak usah dibereskan biar aku aja," ucap Pak Karso kepada mamanya Deswita. Dia memanggil dek' karena usianya yang di bawah Pak Karso.
"Nggak apa-apa Mas, saya juga nggak ada kerjaan di rumah. Biar nanti saat kami tinggalin, Mas tidak kerepotan sendiri," ucap mamanya Deswita.
Keluarga Pak Karso dan Keluarga Deswita memang akrab sekali. Meskipun tidak ada ikatan darah, benar-benar saling menghargai dan membantu.
"Nando, bantu Mas membuka kotak ini, ya," ajak Pak Karso kepada pamannya Deswita.
"Deswita juga mau ikut Pak. Penasaran!" tiba-tiba Deswita yang sedang merapikan piring bersama ibunya nyeletuk, ikut nimbrung urusan paman dan Ayahnya Kinasih.
"Hus ... kamu selalu nimbrung aja. Nggak sopan! Anak perempuan itu harus sedikit kalem," tegur sang ibu pada Deswita.
"Yah... Ibu, cuman gitu aja. Kalau ke orang lain Deswita juga bisa menempatkan diri," ucap Deswita malah melawan. Meskipun bukan dengan kasar, Deswita memang sedikit manja kalau pada ibunya.
Saat dibuka kotak itu, Pak Karso dan Pak Nando terbelalak, sungguh ini bukan hadiah sekedar hadiah.
"Kenapa Paman?' tanya Deswita yang belum sempat nimbrung karena baru saja membawa piring kotor ke belakang. Saat dia ke depan lagi melihat Pak Karso dan pamannya melongo, seakan melihat sesuatu yang aneh yang belum pernah mereka lihat.
"Masya Allah!" seru Deswita saat ikut melihat isi kotak itu.
Ibunya Deswita ikut terpancing yang tadinya hendak menyapu, dia menghampiri Pak Karso Karena penasaran.
"Astagfirullah! Ini uang semua?" seru mamanya Deswita saking tidak percayanya.
"Coba Pak, buka yang satu lagi apa?" tanya Pak Nando.
Dengan tangan bergetar Pak Karso mengambil satu kotak lagi, di samping tumpukan uang yang mungkin ada 20 ikat. Kita hitung saja uang pecahan 100.000, satu ikatnya berapa dan ini ada 20 ikat.
Tangan Pak Karso bergetar membuka kotak satu lagi yang masih dibungkus sampul coklat.
"Sini Pak, saya bantuin." Deswita mengambil alih kotak yang dipegang Pak Karso, dia tidak sabar karena Pak Karso terlalu lama.
Sedangkan mamanya Deswita menjawil pundak Deswita yang sudah jongkok di depan meja, karena anaknya memang terlalu berani meskipun Ayah Deswita sudah dianggap orang tuanya sendiri.
"Ini HP Pak!" seru Deswita. Baru dibuka sedikit sampulnya saja, Deswita tahu itu ponsel dari kemasan dusnya.
"HP?!' seru Mamanya Deswita.
"HP bentuknya kayak gitu? Gede banget," ucap kembali mamanya Deswita, heran.
"Ini memang HP canggih Bu. Memangnya di kita, HP gede tapi masih abal-abal cepet rusak. Kalau yang ini canggihnya, benar-benar canggih," papar Deswita sambil terus membuka kemasan ponsel tersebut dengan hati - hati.
Di kampung tersebut memang sudah pada mengenal hp. Namun, para orang tua tidak begitu peduli dengan adanya teknologi yang masuk ke kampung Malikan. Karena mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mau di pasar, berkebun mencari getah karet di hutan, di sawah.
Tentunya kalau anak muda, meskipun mereka tidak memiliki barang-barang bagus atau alat elektronik yang canggih, mereka tahu dari media sosial, dari iklan, sering komunikasi dengan teman dunia maya.
"Bagaimana cara makainya? Bapak nggak ngerti," ucap Pak Karso kebingungan.
"Tukeran aja Pak dengan punya Deswita. Gampang makainya hehehe." Deswita mencoba merayu ayahnya Kinasih. Kalau aja beruntung.
"Kamu lama-lama ya...," colek mamanya Deswita lagi.
Anaknya benar-benar ngelunjak, untung Pak Karso ngerti dengan karakter Deswita dan memang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Coba sini pak. Deswita isi daya dulu nanti sore Deswita ajarin ya.
Deswita mengambil HP itu untuk di-charge.
Kini mereka mengurus uang yang ada di hadapan Pak Karso, mereka panas dingin melihat tumpukan uang begitu banyak di atas meja. Selama ini paling banyak mereka memegang uang mungkin satu juta dua juta itu pun cepat hilang buat bayar ini itu dan kini mereka menyentuh uang mungkin 20 juta lebih atau ratusan.
Jika satu ikat ratusan ribu itu 10 juta, kalau 20 ikat, mata mereka masih terhentinya memperhatikan uang tersebut dan benar-benar menghitung setiap ikatnya meskipun sudah tertera tulisannya. Berapa jumlah, hanya saja mereka tetap penasaran.
"Bapak harus simpan di mana uang ini?" ucap Karso dengan nada bergetar saking takutnya melihat uang banyak.
"Jangan lupa mampir juga ke Novel author yang berjudul, Oh ... Bunga Lain CEO." seru loh, tentang perjuangan pelakor. Ada give away-nya juga.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments