“Bagas, kamu masih di depanku?” bisik Banyu yang semakin erat memegang tongkat yang Bagas ulurkan dari depan, dengan posisi jalan agak miring.
“Iya, tenang aja,” bisik Bagas kembali.
Posisi mereka saat ini saling memegang satu sama lain, seperti estafet. Ada yang mengulurkan tongkat, ada yang menggunakan senter dan sebagainya yang tersedia di masing-masing pendaki.
Jumlah mereka cukup banyak, sekitar 20 orang, kurang lebih. Mereka adalah para eksekutif muda dari Jakarta. Sedang mendaki salah satu gunung yang berada di Jawa bagian tengah. Katakan saja Gunung Sagede.
“Tapi aku nggak ngerasain Estu. Tongkatku kayak enteng,” bisik Banyu kembali.
“Coba panggil agak keras. Dan yang di depan, tetap ingat ya semuanya, jangan ada yang panik.” Bagas mengingatkan pada rekan-rekannya yang lain.
“Tu, Estu! Kamu masih di belakangku?” tanya Banyu sambil menggoyang-goyangkan tongkat yang dipegang tangan kirinya. Sebab tangan kanan, dia memegang tongkat dari Bagas.
Namun, suasana hening. Tidak ada respons dari Estu.
“Tu ... Estu!” kali ini Banyu dan Bagas memanggil bersama.
“Hei, aku di sini, tapi belum kepegang tongkatmu, Banyu,” ucap Estu.
“Kalau gitu, kamu maju aja lurus pelan-pelan. Dan jangan lupa, sebelum kakinya jelas meraba tanah, jangan dulu diinjekin. Kanan, kiri, jurang, hati-hati,” perintah Bagas pada Estu.
Estu kemudian menurut apa kata kakaknya.
Mereka sedang melakukan perjalanan turun dari puncak gunung pada sore hari, sekitar pukul empat. Sialnya kabut begitu cepat datang padahal waktu belum terlalu gelap. Akhirnya mereka terjebak, perjalanan pun terhambat.
Tidak lama kemudian ....
“Akh!” Suara teriakan dari belakang Banyu.
Beberapa orang mulai goyah, mereka saling bertanya. Ada apa?
“Tolong!”
“Estu, Gas! Estu!” ucap Banyu, panik.
“Senter mana senter? Ingat, tetap diam di tempat jangan ada yang bergerak. Malah celaka semuanya, berabe!” perintah Bagas.
Salah seorang dari depan menyalakan senter bercahaya kuning, khusus untuk situasi kabut. Sedangkan Banyu yang posisinya lebih dekat dengan Estu, berusaha mengamati di mana jatuhnya Estu.
Banyu sudah bisa meraih tangan Estu, yang ternyata ia berpegangan pada akar tanah yang menonjol. Sedangkan Bagas berusaha menghampiri posisi Banyu dan beberapa senter sudah menyorot ke mereka.
Banyu meminta untuk Estu mengulurkan satu tangannya tapi tidak terjangkau juga oleh tangan Banyu. Tidak ada tongkat atau apa pun untuk penyambung tangan mereka yang hanya tinggal sedikit saja.
Akhirnya Estu memiliki akal dia melepas tas pinggangnya perlahan dengan satu tangan dan berhasil disodorkan menyentuh tangan Banyu.
“Ayo, Estu, kamu bisa! Tenang jangan terburu-buru,” ucap Banyu.
Sementara itu Bagas juga mencari ranting atau kayu apa pun yang kuat untuk Estu gapai lebih leluasa.
Bagas juga meminta kepada teman-teman yang lain untuk mengeluarkan tali. Namun, sayangnya hal itu sulit karena kualitas pandangan mereka tidak baik, terhalang kabut, tidak bisa membuka tas dengan bebas.
“Ayo Banyu udah sampai, pegang tasnya,” ucap Estu, dan kini mereka sudah berpegangan pada tas pinggang yang disodorkan tadi.
“Akh, tolong!”
“Estu! Estu! Gas? Gimana Gas? Bagas! Estu jatuh.” Banyu panik, dia saat ini hanya memegang tas pinggang Estu tanpa pemiliknya.
Banyu panik dia syok Estu jatuh karena tidak mampu menggenggam tas dengan baik, suasana kabut membuat udara mudah menjadi embun. Tangan Estu licin, padahal sudah erat memegang tas yang menjadi perantara tangannya dan tangan Bayu.
Bagas sebagai personil tertua di sana, setelah menimbang dengan berat. Memutuskan melanjutkan perjalanan turun. Mereka akan melaporkan pada tim SAR dan panitia. Usaha mereka sendiri menyelamatkan Estu jelas sangat mustahil, apalagi di tengah kabut tebal.
***
Rombongan Bagas kini sudah ada di bawah, tepatnya di pos jaga. Mereka menceritakan tentang kecelakaan yang dialami Estu.
Namun, sayang sekali pihak penjaga dan keamanan gunung tersebut tidak bisa mencari dengan segera. Karena cuaca yang buruk, paling bisa dilakukan pencarian esok hari.
Bagas memutuskan untuk beberapa orang pulang ke Jakarta sedangkan dirinya dan Banyu akan tetap di sana, untuk esok mengikuti pencarian bersama tim SAR.
***
Pagi pun tiba.
Di kampung yang bernama Malikan, letaknya di balik Gunung Sagede. Dua orang gadis sedang berjalan menuju hutan, mereka biasa mencari kayu bakar di hari Jumat, saat meliburkan diri untuk berjualan di pasar.
“Udah yuk, Nas. Udah banyak nih,” ucap Deswita sahabatnya Kinasih.
“Belum Wi, aku baru seikat, tanggung,” ucap Kinasih masih memungut ranting-ranting tergeletak sepanjang jalan, yang mereka lalui.
“Udah, pakai punyaku aja. Aku di rumah masih banyak kok, kita belum pernah melalui jalur ini lho, terlalu jauh,” ucap Deswita merasa merinding.
Di Kampung Malikan memang masih banyak penduduk yang menggunakan kayu bakar, bukan tidak ada kompor gas. Hanya saja mereka akan kesulitan untuk membeli isi ulang gas, karena harus ke kota yang jaraknya cukup jauh sekitar satu jam setengah, menggunakan kendaraan bermotor.
Adapun pasar di kampung Malikan hanya pasar kecil, ada beberapa yang menjual isi ulang gas, tapi selain harganya cukup mahal stoknya juga hanya sedikit. Makanya mereka menggunakan kayu bakar saja.
Sedangkan kompor gas yang mereka punya hanya sesekali dipakai untuk keadaan darurat dan masak yang ringan saja.
“Yuk ke sana sedikit saja! Aku janji deh, udah dua ikat ini kita pulang,” ucap Kinasih sambil menarik Deswita, sahabatnya.
Deswita mengikuti apa kata temannya karena dia pun tidak bisa berbuat apa-apa, pulang sendiri pun takut karena sudah terlalu jauh ke dalam hutan.
“Eh Wi, hujan ya?” tanya Kinasih yang sedang fokus memungut ranting-ranting di tanah.
“Enggak kok,” sahut Deswita, dia memperhatikan ke sekeliling atas tidak ada tanda mendung juga.
“Di kepalaku kayak ada yang netes,” ucapkan Kinasih kembali.
“Nggak ada, eek burung kali, hehehe,” Deswita malah ketawa merasa lucu kalau iya sahabatnya kena eek burung.
Kemudian Kinasih mengusap kepalanya, benar, basah. Hanya saja agak beda sedikit, kesat kena tangan dan agak licin juga.
Bahkan saat Kinasih masih memegang kepalanya, cairan itu menetes di punggung tangannya juga.
“Darah Wi, beneran ... darah, merah loh.” Kinasih terkejut saat melihat punggung tangannya.
Deswita langsung mendekat pada Kinasih, dia merinding di hutan seperti ini membicarakan darah.
“Serius lihat!” ucap Kinasih menunjukkan tangannya.
Deswita tak bisa berkata-kata, dia langsung menengadah ke atas. Namun, belum menemukan apa pun yang mencurigakan.
Akan tetapi, saat Kinasih menengok ke atas, dia agak mundur sedikit menjauh dari pohon dekat dia berdiri, seperti terlihat tangan yang menjuntai.
“Wi, ada orang Wi,” ucap Kinasih lirih.
“Jangan ngagetin, ah. Mana ada orang di atas,” Deswita belum percaya.
“Beneran sini, sebelah sini.” Kinasih melambai-lambaikan tangannya sambil tetap menengadah terus mengamati ke atas pohon.
Deswita menurut apa kata Kinasih, dia mengamati dan benar saja itu orang tersangkut. Mereka sedikit memutar mengelilingi pohon tersebut dan jarak pandang juga agak dijauhkan agar terlihat sedikit ke atas pohon lebih jelas.
“Beneran orang. Gimana nih? Kayaknya masih hidup deh. Kalaupun udah mati, masa kita biarin gitu aja,” ucap Kinasih.
“Ya udah, kita tolongin,” ucap Deswita.
“Gimana caranya? Itu pohon lurus kayak gitu, gak ada cabang-cabangnya buat manjat. Lagian mana kita kuat? Kalau pun bisa naik. Mau kita jorokin itu mayat?”
“Kalau gitu kita cari pertolongan ke kampung.”
“Kalau gitu, kamu tunggu sini. Aku cari pertolongan.”
“Nggak ah, takut.” Deswita menolak.
“Ya udah, kita tukeran tugas.”
“Takut juga. Lumayan jauh loh dari hutan ini ke kampung. Kamu sih kejauhan cari kayu bakarnya,” Deswita malah mencari kesalahan.
Akhirnya Kinasih memutuskan mereka untuk balik ke kampung berdua, sambil membawa kayu bakar yang sudah mereka dapatkan.
Bukan tidak ada ponsel, tapi bagi mereka di kampung, ponsel tidak begitu berguna apalagi hanya untuk mencari kayu bakar. Akan tetapi andai saja mereka membawa ponsel, mungkin mereka bisa menghubungi orang-orang di kampung dengan cepat.
***
Sekitar 45 menit perjalanan mereka sampai kampung bahkan baru keluar dari hutan. Pertama orang yang mereka temui langsung diberi tahu biar berita cepat menyebar.
Sampai ke rumah, Kinasih langsung bercerita kepada Pak Karso, ayahnya.
Pak Karso adalah RT di Kampung Malikan, tanpa menunggu lama Pak Karso langsung memberitahu seluruh warga dan mengambil keputusan.
“Biar cepat, kita pakai motor aja. Bagaimanapun keadaan orang tersebut mau meninggal atau masih hidup, tetap kita bawa kemari,” perintah Pak Karso.
Beberapa peralatan mereka sediakan, mulai dari tandu mayat, gerobak, tali, bahkan sampai tangga sudah disiapkan.
Sekitar lima motor melaju ke arah hutan, setiap motor berboncengan ada yang dua sampai tiga orang. Ada juga yang penasaran menyusul dengan berjalan kaki.
Orang yang dibonceng memegang semua peralatan dibagi-bagi. Roda pengangkut pasir nantinya akan digunakan untuk membawa orang itu. Mencari angkot atau pinjam mobil warga yang memiliki, prosesnya lama.
***
Hanya sekitar lima menit, warga kampung sudah sampai hutan, tempat di mana ditemukannya orang yang menyangkut di atas pohon.
Tanpa menunggu lama mereka langsung mengevakuasi sosok tersebut, kemudian kembali lagi ke kampung.
Namun, mereka langsung membawanya ke klinik.
Pak Karso, Kinasih dan Deswita menunggu hasil pemeriksaan dari petugas kesehatan.
Sekitar dua jam Dokter Waluyo memberikan kabar bahwa orang tersebut masih hidup dan sekarang sudah dalam keadaan lebih baik.
“Tapi maaf, Pak, mungkin saya bisa meminta pakaian untuk mengganti pakaian pasien yang sudah kotor?” ucap Dokter Waluyo kepada Pak Karso.
“Bisa, Pak. Nanti saya akan bawakan kemari. Apakah langsung beberapa saja buat ganti besok?” tanya Pak Karso.
“Boleh, Pak. Lebih baik sekalian saja,” ucap Dokter Waluyo.
***
Kinasih merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga orang yang ia temukan. Maka dari itu dia tidak pulang, dari tadi menjaga orang asing tersebut di ruangan perawatan.
Pukul tujuh malam Pak Karso datang ke klinik untuk melihat perkembangan orang asing tersebut dan membawa makanan untuk Kinasih.
“Gimana, Nas? Apa dia sudah siuman?”
“Nggak tahu, Yah, tadi bola matanya seperti bergerak-gerak, tapi masih terpejam,” ucap Kinasih.
“Coba deh kasih air mulutnya, itu agak ngebuka sedikit. Dari tadi udah dikasih apa aja?”
“Belum, Yah. Kan belum sadar.”
“Coba deh, kasih aja. Mungkin beda energi dari infus dan yang masuk ke mulut. Bisa jadi tenggorokan berasa kering, haus.”
Kinasih menurut apa kata ayahnya. Dia memberikan sesendok demi sesendok air pada mulut orang asing itu.
Orang tersebut, terbatuk pelan.
“Hati-hati Kinasih, kebanyakan mungkin,” ucap Ayahnya.
Kepala orang asing itu langsung bergerak perlahan, matanya terbuka namun masih belum begitu jelas.
“Di mana saya?” tanya pria tersebut lirih.
Kinasih mencoba menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan pria tersebut, perlahan Kinasih memberitahukan keadaan dia.
***
Hampir dua minggu Kinasih pulang pergi menjaga orang tersebut, kadang bergantian dengan Deswita dan hari ini orang tersebut sudah cukup sehat bisa duduk dan sedikit berjalan.
“Gimana keadaannya? Sudah lebih baik, ‘kan?” tanya Pak Karso yang kebetulan hari ini menjenguk pemuda tersebut.
Pemuda tersebut hanya mengangguk sambil sesekali memegang kepalanya yang diperban.
“Kalau pulang ke rumah Bapak mau?” tanya Pak Karso.
“Saya ikut saja, sudah dibantu juga bersyukur sekali. Mungkin biaya rumah sakit ini juga akan mahal jika terus di sini,” ucap pria tersebut masih lirih suaranya.
Dia tidak tahu bahwa itu adalah klinik yang ditanggung oleh pemerintah operasionalnya, bukan rumah sakit pada umumnya.
“Tenang saja, yang penting kamu sehat dulu. Biar nanti kita bisa mengurusi hal-hal untuk kepulangan ke rumah kamu sesungguhnya,” papar Pak Karso.
“Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?” tanya Pak Karso.
Orang itu diam sejenak, dia mengerutkan keningnya seperti berpikir. Kembali dipegangnya kepala yang terasa sakit, seakan ditusuk-tusuk, kemudian dia menggeleng berkali-kali.
“Kamu tidak ingat?” tanya Pak Karso, yang mendapatkan jawaban dengan gelengan kepala lagi dari orang itu.
“Baiklah, tak masalah. Yang penting kita pulang dulu, perlahan kamu pasti mengingat semuanya.”
“Kinasih, bantu Ayah membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang,” ucap Pak Karso kembali.
Kemudian mereka pulang setelah mengkonfirmasi pada Dokter Waluyo, kemudian mereka pulang menggunakan angkot.
**#
Aktivitas Kinasih dilalui seperti hari-hari biasa, meskipun saat ini seakan menambah satu anggota keluarga di rumah mereka, yang tadinya hanya bertiga, yaitu Pak Karso, Kinasih, dan adiknya, Helin.
Satu minggu sudah, orang asing tersebut berada di rumah Pak Karso. Berarti hampir 1 bulan berada di kampung tersebut dari semenjak ditemukan. Dan hari ini, jumat pagi di mana Kinasih tidak berjualan di pasar. Mereka berkumpul di tepi kolam ikan, ada beberapa kue basah yang biasa dia bikin untuk disajikan.
“Kamu yang membuat ini semua?” tanya orang asing itu basa-basi.
Kinasih sebenarnya agak sungkan jika terlalu dekat dengan orang asing itu. Sebenarnya juga bukan sungkan karena malu. Namun, karena dia terlalu tampan, senyumnya sungguh menawan, Kinasih takut jatuh cinta. Padahal dia orang asing, siapa tahu sebenarnya orang jahat.
“Bagaimana, kamu udah sehat, ‘kan?” tanya Pak Karso.
“Sudah Pak, saya sudah lebih baik. Oh ya, kue-kue ini dijual, kah?” tanya pemuda itu.
“Iya, anak saya menjualnya di pasar, tapi tiap hari Jumat libur. Biasanya hari libur digunakan untuk mencari kayu bakar,” jawab Pak Karso.
“Kalau gitu, besok saya boleh mulai ikut jualan, Pak? Saya nggak enak kalau terus merepotkan Bapak sekeluarga.”
“Terserah kamu saja, kalau memang sanggup, kita sih boleh-boleh aja. Gimana, Kinasih?”
“Kalau Kinasih juga, terserah saja, tapi nanti kalau ada yang nanya Mas ini siapa, Kinasih jawab apa? Namanya aja nggak tahu,” jawab Kinasih.
“Oh iya. Sudah ingat namamu siapa?” tanya Pak Karso.
Orang asing itu terdiam sejenak, kembali dia memejamkan mata sambil mengerutkan keningnya. Kepalanya menggeleng, tanda dia belum mengingat apa pun.
“Baiklah, tidak apa. Jangan dipaksakan kalau begitu. Bagaimana kalau saya memberi kamu nama ... Maruta? Yang berarti angin. Karena kamu ditemukan di atas pohon seperti terbawa angin,” ucap Pak Karso diakhiri dengan tawa ringan.
“Seperitnya itu nama yang bagus, Pak. Ma-ru-ta, saya suka nama itu. Semoga adanya saya di sini juga membawa angin keberkahan untuk keluarga bapak,” tutur Maruta alias Estu.
“Aamiin,” jawab Kinasih dan Pak Karso serempak.
Maruta lambat laun bisa menyesuaikan diri dengan Kampung Malikan tersebut. Hingga merasa hidupnya ketergantungan pada Kinasih. Karena ada apa pun dia pasti menanyakan pada Kinasih atau menunggu persetujuan Kinasih. Bahkan hingga perkembangan pemulihan dia juga Kinasih yang mendampingi.
Maruta rutin ikut berjualan bersama Kinasih di pasar. Tempat Kinasih jualan bukan sebuah toko, tetapi hanya lapak bongkar pasang, jadi dia ke pasar pukul tiga sebelum subuh. Saat hari mulai terang sekitar pukul sepuluh atau sebelas, tempat Kinasih dirapikan. Karena di belakang lapaknya ada toko lain yang sudah buka dari pukul tujuh atau delapan.
“Kinasih, boleh aku menggunakan motor ayahmu?” tanya Maruta.
“Untuk apa? Boleh saja. Memangnya mau ke mana?” tanya Kinasih.
“Aku ingin mencoba peruntungan, menaruh kue-kue ini di kota. Akan aku titipkan ke beberapa toko.”
“Ngapain kaya gitu? Terlalu repot dan berabe. Lebih baik jual sendiri aja, keuntungannya utuh. Dari pada dititipkan, nanti dibagi dua keuntungannya,” ujar Kinasih. Dia berpikir terlalu simpel.
“Menurutku, meskipun keuntungan kita lebih kecil, tapi jika yang beli banyak itu tak ada bedanya dengan keuntungan utuh seperti yang kita jual.”
Kinasih sempat berpikir, “Lalu kalau seandainya tidak habis di toko yang kita titipkan, bagaimana? Kerugiannya akan jadi lebih besar, ‘kan?”
“Kamu kan punya ponsel, nah merek yang ada di kue ini kamu taruh nomor ponsel kamu. Nanti saat orang akan membutuhkan kue-kue ini dia bisa menghubungimu. Pesan berapa banyak, lalu bisa dikasih uang dp dulu. Sehingga tidak ada istilah batal dan meminimalisir barang sia.”
Kinasih dengan sabar menyimak penjelasan dari Maruta. Dia mulai merasa tertarik dengan cowok yang entah dari mana asalnya. Terlihat cerdas dan pandai berbisnis.
“Nah, kalau untuk menyimpan di toko, secukupnya saja. Bukankah lebih baik kurang? Justru kalau konsumen merasa barang yang dibutuhkannya selalu kurang, dia akan penasaran, ketagihan dan mencari terus barang tersebut.”
Kinasih mengangguk-angguk mencoba mencerna ide yang Maruta berikan.
“Dan satu lagi, walaupun kita tinggal di kampung dan kue basah tidak akan bertahan lama untuk pengiriman jarak jauh, yang mungkin sampai berhari-hari baru akan sampai, tapi kita promosikan untuk membuat snack.
Jadi, kita bukan menjual kue satuan saja. Kan sering tuh, beberapa orang mengadakan acara seperti hajatan, ulang tahun, syukuran. Lalu kita membuka jasa untuk pengadaan snacknya. Iya, ‘kan?” Maruta sangat piawai sekali menjelaskan strategi bisnis.
Kinasih kagum atas pemikiran Maruta. Kenapa tidak terpikirkan olehnya dari dulu? Ibarat kalau dia tidak jualan di pasar pun kalau banyak pesanan tak jadi masalah. Bukankah itu lebih baik? Tak terlihat jualan oleh orang lain, tapi pemasukan tak pernah surut. Mengantarkan pesanan dan bekerja tetap di rumah.
Kinasih setuju atas usulan Maruta, mereka pun membuat perencanaan untuk promosi di media sosial yang pernah. Pertama dibutuhkan adalah membuat akun media sosial, karena Kinasih belum memilikinya. beberapa aplikasi digunakan oleh Maruta untuk membuat banner promosi.
Maruta memang hilang ingatan, tapi bukan berarti dia hilang akal, menjadi bodoh dan kepandaiannya ikut lenyap pula. Kemampuan dasar seseorang tak kan pernah hilang, selagi orang tersebut masih hidup.
Awal bulan setelah Maruta dan Kinasih membuat konsep pemasaran yang berbeda, belum terlihat perubahan yang drastis dari penjualan kue Kinasih.
Setelah menginjak bulan ketiga sudah banyak orang yang memesan kue pada Kinasih, baik untuk konsumsi pribadi acara kecil-kecilan atau besar-besaran.
Bahkan Deswita yang selama ini hanya mencari kayu bakar dengan Kinasih, dia ikut sibuk dengan usaha sahabatnya itu di depan rumah.
Pak Karso yang masih memiliki lahan sekitar tiga kali tiga meter di depan rumahnya, di buat bangunan sederhana, sisi-sisinya tembok seperti biasa. Namun, untuk penutup warung menggunakan papan, mungkin bisa dikatakan toko kecil.
Walau itu adalah kampung, tapi Kinasih membutuhkan tempat itu untuk promosi yang nanti akan dibagikan ke media sosial. Bahkan terkadang Kinasih live streaming juga saat membuat kue. Dan etalase tokonya terpampang, supaya lebih meyakinkan customer bahwa produksinya tertata dengan baik serta tempat yang nyata.
Bersambung...
Warga merasa penemuan Maruta oleh keluarga Kinasih adalah sebuah keberuntungan. Apakah Maruta memiliki jimat untuk penarik rezeki? Warga kampung masih percaya dengan hal klenik. Padahal walau Maruta hilang ingatan, tapi kemampuannya dalam mengelola manajemen usaha, tidak hilang.
Jadi sebenarnya perekonomian keluarga Pak RT berubah pesat, bukan karena hoki yang Maruta miliki. Namun, karena kepiawaian Maruta sebagai direktur sebelumnya yang tidak diketahui warga kampung.
“Mas Maruta ada kue ulang tahun nggak?” tanya Erna yang sengaja datang ke sana bersama Evi.
“Ada Mbak. Mau yang ukuran berapa? Tapi kalau mau pesan khusus paling cepat bisa besok sore,” jawab Maruta dengan ramah.
“Ya udah besok sore aja. Antar ke rumah saya ya.”
“Alamatnya di mana Mbak?”
“Nanti saya share loc deh,” ucap Erna dengan senyum termanisnya, berjarak Maruta tertarik.
“Baik, Mbak. Nanti tinggal konfirmasi saja ke nomor Kinasih. Soalnya saya nggak punya HP,” ucap Maruta jujur.
“Tapi, Mas yang nganterin kan? Bukan Kinasih?”
“Ya ... tergantung,” jawab Maruta
“Ya udah deh. Besok saya kabarin lagi ya,” ucap Erna, melambaikan tangan lalu pergi.
Tak lama setelah kepergian Erna, datang seorang gadis lagi dia adalah Novi. Sengaja datang ke sana sebenarnya buat PDKT, bukan membeli kue.
Akhir-akhir ini memang sering sekali banyak konsumen wanita yang datang ke sana, padahal mereka adalah orang kampung itu juga yang tentunya bisa pesan melalui ponselnya Kinasih. Akan tetapi mereka sengaja biar bisa melihat Maruta dengan jelas dan ngobrol.
“Kalau yang tersedia cuman tiga ini mbak, atau ini ada sampelnya di foto. Mbak mau yang mana?” ucap Maruta.
“Saya, ini aja deh. Tapi nanti diantarnya buat seminggu lagi. Dan kenapa saya pesan sekarang, takutnya buat hiasannya belum ada. Saya kan pengertian Mas, takutnya Kinasih belum sempat belanja ke kota. Jadi saya pesen jauh hari, biar Kinasih persiapan.”
“Iya, Mbak, hehe. Baik.” Maruta malah canggung sendiri pada wanita yang terlali agresif.
Sat Novi sedang memesan kue pada Maruta, terlihat Kinasih pulang dibonceng seseorang.
“Eh, Mas Mauruta tau nggak? Dia itu siapa?” tanya Novi dengan wajahnya mengarah kepada Kinasih yang baru turun dari boncengan motor seseorang.
“Itu? Ya tentu saja Kinasih,” ucap Maruta.
“Bukan, maksud saya cowok itu.”
“Oh, paling tukang ojek.”
“Bukan ... mungkin Mas Maruta nggak tahu ya? Dia itu mantannya Kinasih,” bisik Novi, mendekat wajahnya.
Maruta mengamati pria yang menggunakan topi hitam tersebut. Di kampung itu helm tidak begitu penting. Kecuali kalau mereka akan pergi jauh. Kalau hanya sekedar dari pasar mereka akan santai dengan aturan berkendara seadanya.
Ada rasa tidak enak di dalam hati Estu saat melihat pria itu. Dilihatnya tampan juga sepertinya dia seorang guru atau pegawai kecamatan karena mengenakan pakaian putih hitam seperti seorang pekerja dinas.
“Dia itu namanya Parman, calonnya Kinasih,” ucap Novi memanas-manasi.
“Calon?” Maruta merasa heran karena selama ini Kinasih seperti orang yang tidak memiliki hubungan spesial dengan siapa pun.
“Iya calonnya Kinasih. Memangnya Mas Maruta nggak tahu? Nggak dikasih tahu sama Kinasih?”
Maruta menggeleng.
“Hati-hati Mas, jangan sampai jadi orang ketiga antara hubungan Kinasih dengan Parman. Mereka udah lama loh berhubungan.”
Novi berusaha memengaruhi Maruta.
“Kalau saya masih single, Mas, hihi. Malah saya kuliah satu semester lagi, wisuda. Kali aja Mas mau cepat cari jodoh,” ucap Novi dengan ketawa tidak jelas.
Novi berniat ingin membuat jarak antara Maruta dan Kinasih. Dia juga mempromosikan dirinya agar Maruta tertarik.
Namun, di luar dugaan. Maruta malah fokus melihat gerak-gerik pria yang menjinjing barang belanjaan milik Kinasih. Melihat Kinasih kerepotan, pria itu peka dengan segara turun dari motornya.
Maruta semakin yakin bahwa Parman itu memang benar calon Kinasih, karena terlihat begitu peduli.
“Ya udah, Mbak, nanti Mbak hubungi lagi aja ke nomornya Kinasih. Beritahukan jam berapa mau diantar,” pungkas Maruta.
“Oke, Mas. Kalau kayak gitu makasih ya,” ucap Novi dengan senyuman menggoda.
Tiba-tiba Novi menyodorkan tangannya, Maruta bingung untuk apa. Namun, Maruta kembali menjulurkan tangannya karena Novi seperti yang mau bersalaman.
Kemudian Novi menyambut tangan Maruta, dia bersalaman dan ditempelkannya punggung tangan Maruta ke keningnya, seperti seorang anak yang salim ke orang tuanya atau ke pasangan.
Maruta heran, tapi ya sudahlah mungkin itu budaya Kampung Malikan, pikirnya.
Saat toko tutup Maruta membantu Kinasih bersiap di dapur untuk menyiapkan bahan-bahan pesanan konsumen.
Kinasih merasa heran kenapa Maruta jadi pendiam, biasanya dia suka banyak bertanya. Hari ini berapa orang yang pesan, berapa pcs yang di pesanan atau bahkan bertanya tadi belanja habis berapa. Soalnya Maruta juga ikut menghitung pengeluaran dan pemasukan keuangan.
“Mas?” sapa Kinasih.
“Ya?” ucap Maruta singkat.
“Mas sakit?”
“Enggak.”
Kinasih menyimpan buku catatannya kemudian tangannya ingin menempelkan di kening Maruta. Namun, belum juga sampai, Maruta menepisnya. Meskipun tidak dengan cara kasar.
Kinasih bingung, tumben biasanya Kinasih bebas aja mengecek keadaan Maruta, karena selama ini Kinasih seperti perawat untuk Maruta. Dia berhak mengecek perkembangan kesehatannya.
“Tapi ... Mas Maruta baik-baik saja?” tanya Kinasih, meyakinkan. Seakan Maruta sengaja menjaga jarak dengan dirinya atau tidak ingin diperhatikan.
“Ya, saya baik. Ini, saya sudah memisahkan catatan pesanan hari ini, saya mau mandi dulu terus istirahat, boleh?” ucap Maruta yang lebih tepatnya seperti meminta izin.
“Iya, silakan,” ucap Kinasih seakan percakapan sore ini begitu formal. Bahkan Kinasih hanya ingin menjawab mengangguk pun tak bisa. Karena dia melihat Maruta menunduk fokus pada tangannya yang sedang melakukan aktivitas. Jika Kinasih menjawab dengan anggukan saja, Maruta tidak akan melihat respons gerak tubuhnya.
Dan setelah mandi, benar saja, Maruta langsung istirahat di kamar. Bahkan saat pukul tujuh malam seperti biasa Kinasih memberikan obat untuk Maruta. Namun, Maruta tidak bangun, biasanya saat Kinasih baru membuka pintu kamar saja, Maruta akan langsung duduk jika sebelumnya dalam posisi berbaring.
Kinasih mengintip wajah Maruta yang tidur miring menghadap tembok, dengan badan berselimut sampai leher.
“Mas, obatnya saya taruh sini ya. Nanti kalau Mas bangun, langsung minum saja. Ini juga ada roti kalau mas lapar, dimakan,” ucap Kinasih, dia tidak peduli apakah Maruta mendengarnya atau tidak.
Keesokan harinya kegiatan seperti biasa, pagi-pagi sekali Kinasih sudah membuat kue pesanan begitu pun Maruta. Dia cekatan, tangannya tak pernah berhenti mengerjakan ini dan itu. Namun, lagi-lagi dalam mode sunyi. Paling kalau bersuara hanya menanyakan hal yang penting saja.
Siang hari saatnya toko dibuka, dan beberapa pesanan harus diantarkan terlebih dahulu. Maruta hanya bertanya singkat saja.
“Ini pesanan yang harus aku antar?” tanya Maruta pada Kinasih yang duduk menghadapi buku tulis dan kalkulatornya.
“Iya, tolong cek lagi ya sesuaikan nota dan jumlah fisiknya,” jawab Kinasih.
Maruta tidak menjawab, tapi Kinasih melihat bahwa Maruta menganggukkan kepalanya.
Komunikasi dengan anggota tubuh memang tidak enak, apalagi kalau kita sedang tidak melihat orang tersebut, tidak tahu apakah yang mengangguk atau geleng kepala.
Saat Maruta pergi, ayahnya Kinasih keluar rumah. Dia membawa map seperti biasa tugas seorang RT, menagih iuran untuk kebutuhan warganya.
“Ayah,” sapa Kinasih, menghampiri ayahnya.
“Ya, ada apa?” tanya Pak Karso.
“Ayah tahu Mas Maruta kenapa?”
“Kenapa apa maksudnya?” Pak Karso malah bingung.
“Akhir-akhir ini dia jadi pendiam,” ucap Kinasih.
“Enggak tau, Ayah pikir biasa aja deh.”
“Enggak, Yah, dia kalau bicara sekarang jadi singkat. Bahkan terkesan menghindar. Apa dia udah sadar ya? Bahwa ini memang bukan tempatnya atau jangan-jangan dia tidak betah setelah sadar tempat kita terlalu sederhana? Mungkin juga dia anak orang kaya tidak terbiasa di tempat seperti ini.”
“Hus, jangan ngomong ngawur, jangan kemana-mana pikirannya. Mungkin dia memang sedang tidak ingin banyak bicara. Siapa tahu memang sedang mengingat sesuatu. Orang kalau mengingat itu butuh fokus. Sudah, seperti biasa aja jangan banyak pikiran,” ucap Pak Karso.
*#
Hari keempat Maruta masih memasang wajah kaku. Kebetulan hari ini adalah hari Jumat, kinasih ingin mengajak Maruta ke suatu tempat.
“Mas, mumpung hari libur ikut aku yuk!” ajak Kinasih.
“Ke mana?” tanya Maruta, singkat.
“Ada pokoknya, tempatnya sejuk, nyaman pokoknya.”
“Hanya kita berdua?” tanya Maruta lagi
“Aku ikut!” seru Deswita yang baru saja datang.
“Ikut apaan? Tiba-tiba datang bilang ikut. Ikut ke mana?” ledek Kinasih.
“Jangan gitu dong. Aku dengar kok kalian ngomong apa. Udah ayo, aku ikut pokoknya. Aku tahu kamu mau ke mana. Aku juga lagi stres pengen ngadem dulu,” ucap Deswita.
“Dasar, anak tukang ngekor terus!” seru Kinasih sambil meraih tangan Maruta dan ditariknya untuk berjalan mengikutinya.
Maruta melihat pada tangannya yang digenggam oleh Kinasih, dia tidak bisa menolak karena genggaman itu erat sekali. Dia berjalan seakan ditarik oleh Kinasih jadi mengikuti saja, sedangkan Deswita menyusul di belakangnya.
Mereka pergi ke arah hutan. Saat di perjalanan ada Novi, dia menghampiri Maruta dan seketika meraih tangan pria itu, lalu menciumnya dengan kening seperti kemarin.
“Pagi Mas Maruta. Mau ke mana nih?” tanya Novi, dengan gaya manjanya.
“Aku nggak tahu, ikut Kinasih aja,” jawab Maruta.
“Kalau gitu aku ikut ya,” pinta Novi, dia mengaleng tangan Maruta sebelah kanannya.
Kinasih yang berada di sebelah kiri Maruta tidak suka dengan Novi yang begitu akrab pada Maruta.
“Kamu ngapain sih Nov? Kan bisa jalan biasa. Deswita juga jalan biasa,” ucap Kinasih seperti orang yang cemburu kepada kekasihnya.
Maruta peka akan hal itu, dia melirik pada Kinasih, ada rasa suka melihat Kinasih cemburu karena Novi, tapi ada juga rasa ragu, yang mungkin Maruta hanya terbawa perasaan saja.
“Biarin aja, aku kan menjaga Mas Maruta juga. Kalau kenapa-napa emang kamu sendiri bisa menopang tubuh Mas Maruta yang kekar ini,” cibir Novi, tidak punya Malu.
Kinasih tidak ingin berdebat di jalan, dia tanggung sudah cukup jauh dari rumahnya tidak mungkin hanya gara-gara Novi dia tidak jadi ke tempat yang dituju.
“Ini tempat apa? Kok sepi?” tanya Maruta. Dia tidak tahu bahwa sudah memasuki kawasan hutan.
“Ayo! Pokoknya ikut sana.” Kinasih terus saja menarik tangan Maruta.
Setelah masuk batas hutan beberapa meter saja, Kinasih seperti sudah hafal jalan belok ke kiri lalu ada pohon pendek yang rimbun. Kinasih sedikit menyingkirkan batang-batang pohon itu, lalu bisa masuk seakan itu adalah pintu.
Terlihat rumput hijau yang terdapat bunga-bunga kuning, pemandangan itu sangat berbeda sekali dengan rumput saat sebelum masuk ke pagar pohon tersebut.
“Wah, tempatnya memang indah,” ucap Maruta mengagumi tempat itu. Udaranya pun lebih sejuk karena di depan sana sudah tidak ada pepohonan lagi, hanya terlihat langit dan awan entah di mana ujungnya.
“Iya, tempat ini mang indah, Mas. Enak juga buat istirahat atau kalau sedang galau ke sini,” ucap Novi, nimbrung.
“Kamu suka ke sini juga, Nov?” tanya Maruta.
“Tentu dong, orang-orang Kampung Malikan tahu tempat ini rata-rata. Makanya selalu dijaga karena memang tempatnya nyaman.”
Kinasih membawa Maruta jalan ke beberapa sudut, ada gua di sana. Namun, bukan gua besar. Gua ini hanya seperti cekungan batu besar yang sedikit menjorok ke dalam, mungkin hanya beberapa meter sekitar 3 atau 5 meter dalamnya. Bukan gua yang tembus ke ruang mana pun.
“Nah, dari sini kita bisa melihat kampung lain,” ucap Kinasih, dia menarik tangan Maruta dan terus jalan.
Semakin dekat bulu kuduk Maruta seakan merinding, entah mengapa. Bukan takut ada makhluk halus atau apa, tapi dia mengamati langkahnya seakan di depan sudah tidak ada daratan lagi. Dia hanya melihat awan yang jauh, perlahan melihat bangunan tapi sangat jauh di sana. Saat semakin dekat Maruta menghentikan langkahnya, dia menepiskan tangannya yang dipegang oleh Kinasih.
“Kenapa, Mas?” tanya Kinasih panik.
“Di sana gelap, tidak terlihat apa-apa,” ucap Maruta seperti bergumam, sambil pandangannya fokus ke depan seperti tatapan kosong.
“Tidak gelap, Mas, ini masih siang. Ayo kita lihat di sana, lebih indah pemandangannya.” Kinasih akan menarik lagi tangan Maruta.
“Tidak, aku tidak bisa. Itu sungguh gelap, dingin, kakiku melayang,” lirih Maruta, kini ia menunduk.
“Ini masih siang, Mas, tidak gelap ataupun dingin. Cahaya matahari hangat.” Kinasih benar-benar tidak mengerti apa maksud penolakan Maruta.
“Aku mau pulang,” ucap Maruta. Dia memegang kepalanya sambil mengerang, tubuhnya bergetar dia ambruk ke tanah, lututnya buat penopang.
“Mas Maruta?” Novi berlari.
“Kamu sih, Nas. Kenapa memaksa Mas Maruta ke sana, kalau dia menolak ya udah,” tegur Novi.
“Aku nggak mau maksa, cuman siapa tahu dia suka dengan pemandangannya. Kalau nggak mau ya udah, mana tahu akan jadi kayak gini.” Kinasih membela diri.
“Udah jangan debat, ayo kita ajak pulang takut kenapa-napa,” ucap Deswita.
**#
Kinasih, Deswita, Maruta, dan Novi sudah berada di rumah Pak Karso.
“Kamu pulang sana, Mas Maruta juga mau istirahat,” ucap Kinasih sedikit ketus, tidak suka dengan Novi yang terlalu perhatian pada Maruta.
“Belum sore juga, ngapain sih Nas ngusir-ngusir?”
“Bukan ngusir, terus kamu di sini mau ngapain? Tumben-tumbenan, biasa juga nggak pernah main ke sini.”
“Ya udah aku pulang, titip Mas Maruta ya,” ucap Novi. Perkataannya cukup menyebalkan buat Kinasih.
Kinasih memberi minum air hangat pada Maruta, kemudian dia sedikit memijat kepalanya, biar sedikit lentur saja tidak begitu tegang.
“Mas, apa yang dirasakan?” ucap Kinasih.
“Aku mau istirahat di kamar saja,” ucap Maruta.
Kinasih tidak bisa memaksa, bahkan pertanyaannya pun diabaikan, tapi Kinasih tetap mengantar Maruta sampai kamar. Dia tidak mau takut terjadi apa-apa saat Maruta jalan sendiri, bisa saja terjatuh.
**#
Kinasih tidak bisa seperti ini terus, rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, saat Maruta seakan menghindar dan cenderung kaku dalam bicara akhir-akhir ini.
Keesokan harinya Maruta bangun pagi-pagi sekali, seperti biasa. Namun, tidak ada aktivitas di dapur bahkan tidak melihat Kinasih.
“Pak, Kinasih ke mana ya?” tanya Maruta.
“Ada, dekat kolam ikan paling.” ucap Pak Kusno.
“Pagi-pagi sekali?”
“Biasalah, dia memang gitu. Mungkin keingat mendiang ibunya, dia betah berlama-lama di kolam.”
Maruta pun pamit pada Pak Kusno untuk menghampiri Kinasih.
Sesampai di saung pinggir kolam Maruta bertanya pada Kinasih kenapa libur membuat kue hari ini, padahal kemarin hari jumat sudah libur.
“Pengen aja,” ucap Kinasih ketus.
“Kalau ada pesanan hari ini bagaimana?”
“Biarin.”
“Kok biarin? Kasihan dong konsumennya yang udah menunggu.”
“Nggak apa-apa.”
Maruta bingung, dengan sikap Kinasih yang seakan bermalas-malasan.
“Ya udah, kalau kamu sedang tidak ingin diganggu.”
Maruta akan pergi, tapi dia mendengar helaan napas Kinasih. Maruta pun menoleh pada Kinasih yang duduk di saung dengan kepalanya bersandar di tiang saung tersebut. Serta matanya lurus ke depan menatap ikan-ikan yang sejatinya belum terlihat, karena pagi masih gelap.
“Kamu kenapa sih Nas? Rindu ibumu ya?” tanya Maruta dengan sabar.
Namun Kinasih diam saja, dia tidak menggubris pertanyaan.
“Apa ada kendala dalam usahamu mendapat konsumen yang rewel atau ada kerugian apa?”
Lagi-lagi Kinasih hanya diam dan itu membuat Maruta merasa campur aduk. Ada sedikit kesal, rasa bersalah dan kasihan juga.
Maruta yang duduk di samping Kinasih kini berdiri dan menghalangi pandangan Kinasih, yang terus menatap ke kolam.
“Kalau kamu mau terus diam saja, lebih baik aku beneran pergi ke mana pun itu, karena mungkin di sini kamu sudah lelah merawatku dan aku tidak bisa memaknai kamu yang diam saja.”
“Kerasa, ‘kan?” tiba-tiba Kinasih menjawab.
“Maksudnya kerasa apa?” Maruta masih bingung.
Kinasih kemudian menjelaskan kemarin saat Maruta berkata hanya sedikit-sedikit. Menjawab ucapan Kinasih hanya singkat, dia juga kesal apa salahnya? Seakan Maruta menghindar sudah lebih tiga hari. Kinasih bersabar, Maruta tetap saja seakan Kinasih itu orang lain, padahal selama ini hampir empat bulan mereka terus akrab.
“Oh itu ... aku hanya tidak enak saja,” jawab Maruta.
“Maksudnya tidak enak kenapa? Aku punya salah? Apakah aku salah bicara?”
“Tidak, tapi pada tunanganmu.”
“Tunangan? Tunangan yang mana?” Kinasih spontan terkejut.
“Yang tiga hari lalu mengantar kamu dengan motor. Dia guru ya? Atau pegawai kesehatan?” tanya Maruta memberanikan menanyakan hal lebih jauh lagi.
“Oh, hahaha,” Kinasih malah tertawa, “Dia itu Mas Parman,” lanjutnya.
“Iya, tunanganmu kan? Makanya aku harus jaga jarak takutnya—”
Maruta tidak melanjutkan perkataannya, dia bingung takut Kinasih tidak berkenan membahas tunangannya.
“Takutnya kenapa?” pancing Kinasih.
“Ya, saya takut nanti Parman salah paham,” ucap Maruta.
Padahal Maruta bukan ingin mengatakan itu, tadinya dia ingin berkata takut 'Aku terlanjur nyaman, sedangkan kamu tidak bisa aku miliki.’ Namun, kalimat itu hanya sampai di tenggorokannya saja.
“Oh, jadi selama ini Mas Maruta cemburu?” tanya Kinasih masih mencoba memancing reaksi Maruta.
“Bukan, bukan itu. Justru takut ada salah paham.”
“Ya biasa aja kali, kalaupun ada salah paham harusnya dari lama. Sekarang kita udah dekat gini, Mas Parman biasa aja nggak banyak tanya. Dan lagian dia bukan tunanganku.”
“Loh, kata Novi?”
“Novi aja dipercaya, makanya males ladenin. Kalau ada apa-apa nanya dulu, jadi bikin kesel ‘kan.”
Kinasih kemudian menjelaskan tentang Parman, dulu mereka memang sempat bertunangan. Namun, dengan sadar mereka membatalkan tunangan itu, bahkan cincin pertunangan sudah dikembalikan pada Parman.
Waktu itu Parman akan melanjutkan pendidikannya di luar Pulau Jawa dan itu tidak dapat dipastikan pulang kapan. Diperkirakan dua atau tiga tahun dan Kinasih tidak siap untuk menjalin hubungan jarak jauh.
Tapi kalau untuk menikah dulu mereka juga belum sanggup, takutnya sama-sama tidak bisa menahan godaan atau ujian masalah, karena hubungan jarak jauh biasanya sering terjadi perselisihan dan saling curiga. Makanya mereka masing-masing dengan kerelaan membatalkan pertunangan itu.
Dan benar saja, dua tahun kemudian Parman belajar di daerah orang, dia memiliki pacar. Bahkan saat pulang ke sini, Parman meminta kedua orang tuanya untuk melamarkan dirinya pada keluarga pacarnya tersebut.
Namun, hubungan Kinasih dan Parman akrab, karena memang tidak ada yang saling disakiti di antara mereka dan tidak ada yang harus membenci juga.
Maruta mengerti setelah dijelaskan oleh Kinasih seperti itu.
“Kalau begitu maafkan aku,” ucap Maruta dengan lirih dan menunduk seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.
“Sudahlah Mas, ayo kita ke dapur. Masih sempat loh, racik-racik kue,” ajak Kinasih dengan senyuman yang selama ini hilang dari wajahnya. Karena dia males menghadapi Maruta yang tiba-tiba berubah.
“Ayo! Siapa takut,” ucap Maruta tiba-tiba menggandeng tangan Kinasih dan menariknya ke dapur dengan semangat.
Kinasih yang berjalan di belakang Maruta, melihat wajahnya dengan saksama. Wajah Maruta memang seperti keturunan ningrat, tapi mungkin masih asli warga Indonesia, bukan blasteran atau keturunan asing. Dilihat dari wajahnya seperti orang Pakistan, berkulit tidak begitu terang, hidung mancung halis tebal, tapi wajahnya sederhana, masih terlihat aura wajah orang Indonesia.
Ada rasa yang tak biasa tumbuh di dalam hati Kinasih. Dia suka tangannya dipegang seperti itu oleh Maruta. Hanya saja di sisi lain ada rasa takut, apakah tangan itu akan terus menuntunnya atau suatu saat tangan itu akan melambaikan pertemuan terakhir mereka.
Bersambung....
“Kapan kamu mau mencari Estu ke kampung di balik gunung itu?” tanya Bu Desi pada Bagas yang sedang mengenakan sepatu kantornya.
“Hari ini Ma, bersama Banyu juga,” ucap Bagas, dia sebenarnya sudah putus asa.
“Pokoknya cari sampai ketemu, mau Estu masih hidup atau tidak, biar Mama tenang jika sudah jelas apa yang terjadi. Tapi Mama yakin dia masih hidup.”
“Iya, Ma, doakan saja,” ucap Bagas kemudian berpamitan untuk ke kantor.
Rencananya Bagas dengan Banyu, sore ini akan kembali ke Pulau Jawa, tepatnya ke daerah gunung yang mereka daki.
Saat kejadian tersebut keesokan harinya mereka mencari dengan tim SAR di area jatuhnya Estu dan disusuri hingga kemungkinan beberapa meter ke bawah. Namun, tidak ada jejak hilangnya Estu, baik itu baju yang tersangkut, jasad jika sudah meninggal atau tanda-tanda lain tidak ditemukan.
Hingga hari ketiga pencarian, Banyu dan Bagas memutuskan untuk pulang menceritakan keadaan kepada keluarga. Namun, orang tua Estu yakin bahwa dua masih bisa ditemukan. Makanya sebulan sekali Banyu dan Bagas selalu kembali ke daerah pegunungan tersebut untuk mencari Estu.
Hampir enam bulan ini, Bagas dan Banyu pulang pergi untuk mencari Estu, makanya mereka sebenarnya sudah lelah. Bukan lelah karena pulang pergi, tapi lelah belum menemukan titik cerah dan pesimis. Bisa saja Estu sudah dimakan binatang buas, karena ini sudah sangat lama dan tak ada jejak apa pun.
**#
Seperti biasa hari jumat Kinasih mencari kayu bakar bersama Deswita. Namun, saat baru beberapa jarak masuk ke hutan, Kinasih merasakan ada pergerakan yang tak biasa.
Kinasih, adalah penduduk asli di sana. Otomatis peka terhadap pergerakan yang asing, dia bisa membedakan mana pergerakan manusia dan hewan, pula pergerakan orang-orang penduduk asli dan bukan.
“Wi, tunggu deh, kayaknya ada orang lain di sini,” bisik Kinasih.
“Apa iya? Oh, itu ya?” tanya Deswita menunjuk ke pepohonan yang seperti bergerak-gerak, karena tersenggol banyak makhluk.
“Iya, kita sembunyi yuk!” ucap Kinasih.
Mereka berdua pun sembunyi, benar saja tak lama terlihat beberapa tim SAR yang menggunakan seragam dan beberapa orang lagi menggunakan pakaian bebas. Percakapan mereka memang tidak begitu dipahami oleh Kinasih. Namun, terdengar seperti mencari seseorang.
Kinasih langsung berpikir apakah mereka mencari Maruta? Ada rasa harus hati-hati pada diri Kinasih.
Setelah meyakini tim pencarian jauh dari area tempat Kinasih sembunyi, dia dan sahabatnya pun ke luar. Kinasih langsung mengajaknya pulang.
“Kita kan belum dapat banyak, Nas?” ucap Deswita.
“Tidak apa-apa, pulang aja. Gampang nanti kalau aku ke kota ngantar kue, bisa isi ulang gas,” ucap Kinasih dengan jalan terburu-buru.
**#
“Kamu sudah pulang?” tanya Maruta pada Kinasih, merasa heran.
“Iya,” ucap Kinasih singkat, sambil mengambil air minum lalu diteguknya.
“Kenapa? Sakit?” tanya Maruta menempelkan tangan pada kening Kinasih.
“Nggak apa-apa.”
“Kok kaya ketakutan gitu? Nemu hantu di hutan?”
“Enggak, tenang saja. Besok kalau kamu mau ke pasar, berangkat aja seperti biasa. Pesanan besok santai kok, tapi jangan lama-lama pulangnya,” ucap Kinasih yang langsung memegang pekerjaan lagi.
*##
Keesokan harinya saat pagi-pagi sekali jadwal Maruta ke pasar, Kinasih memberikan nasihat sebelum pergi.
“Mas, nanti jangan terlalu siang pulangnya, sampai jam delapan aja,” ucap Kinasih.
“Loh kok? Sayang loh dua jam lagi. Lumayan pembelinya,” respons Maruta.
“Nggak perlu, toh yang rame cuman subuh-subuh aja.”
“Kenapa? Kita harus konsisten loh dalam berjualan. Buka jam berapa, tutup jam berapa. Biar pelanggan kita tahu pasti. Siapa tahu ada pelanggan yang datang kesiangan, kan berharap kita masih buka, eh taunya udah tutup.”
“Udah, Mas, nurut aku aja.” Kinasih memaksa.
“Oke,” ucap Maruta menurut saja pada Kinasih, takut ngambek lagi.
Begitulah protektifnya Kinasih akhir-akhir ini, semenjak dia merasa curiga orang-orang yang menyisir hutan, tempat dia mencari kayu bakar. Hingga akhirnya Pak Karso memperhatikan gelagat Kinasih yang sepertinya semakin perhatian pada Maruta.
Pak Karso tidak tahu rasa gelisah dan ketakutannya Kinasih, jika sampai benar mereka adalah keluarga dari Maruta yang mencarinya.
“Nak, sini. Ayah mau bicara.” Pak Kardi ke dapur menghampiri Kinasih yang sedang membuat kue.
“Iya, Yah. Ada apa?” tanya Kinasih, dia tidak bisa melepas pekerjaannya karena banyak pesanan dan hanya dia yang mengerjakan dan dua temannya yang membantu, termasuk Deswita.
Pak Karso duduk di kursi dekat dengan Kinasih yang sedang mengolah kue, lalu berkata. “Apa kamu tidak ada niatan untuk berhubungan serius dengan Maruta?”
Kinasih yang tangannya sedang sibuk, langsung terdiam. Dia menatap ayahnya belum bisa mencerna dengan baik apa maksud dari ayahnya.
“Maksud Ayah, kalian sudah tinggal satu rumah selama enam bulan ini. Apa tidak sebaiknya diresmikan saja? Malu sama tetangga. Ayah sebagai ketua RT harusnya bisa lebih tegas untuk keamanan warga, termasuk keluarganya sendiri.”
“Maksud Ayah? Apa hubungan Kinasih dan Maruta? Terus diresmikan menikah?” tanya Kinasih memastikan maksud dari ayahnya.
“Iya, lagi pula di rumah kita tidak ada pria dewasa lagi selain Ayah. Ayah lihat akhir-akhir ini kamu sangat perhatian kepada Maruta. Apa tidak sebaiknya kalian menjalin ikatan yang lebih resmi?”
Kinasih terdiam, dia belum bisa menjawab pernyataan dari ayahnya. Namun Pak Karso terus bicara tentang karakter Maruta yang bisa menyesuaikan cukup bertanggung jawab dan santun.
Pak Karso tidak menyangka bahwa adanya Maruta akan membawa perubahan baik pada keluarganya, makanya dia ingin sekali menganggap Maruta sebagai bagian dari keluarganya, yaitu jalan satu-satunya adalah menikahkan dengan Kinasih .
Alasan Pak Karso berani berkata seperti itu pada Kinasih, juga karena melihat kedekatan mereka bukan akhir-akhir ini saja. Sudah sejak lama, seorang ayah melihat gelagat Kinasih dan Maruta.
Namun, lebih jelas lagi akhir-akhir ini Kinasih seperti bertindak pada suaminya, peduli terhadap aktivitas dan keadaan Maruta. Begitu pun dengan Maruta yang terlihat selalu mengalah pada Kinasih, karena tidak ingin di antara mereka ada pertengkaran.
Kinasih selama ini tidak menunjukkan rasa sukanya, karena takut saat Maruta pulih ingatannya, ternyata Kinasih dilupakan. Cepat atau lambat Maruta harus kembali pada kehidupan sebelumnya. Hal itu yang selalu membayangi Kinasih, bahkan saat beberapa gadis tetangganya berusaha mencari perhatian Maruta, Kinasih merasa kesal dan tak rela. Apalagi kalau Maruta pergi kembali ke keluarganya. Tidak dapat dibayangkan bagaimana nasibnya.
“Kita bahas nanti aja, Yah. Belum tentu Maruta juga setuju,” jawab Kinasih.
“Berarti kamu setuju dong?” tanya Pak Karso, meyakinkan.
“Bukan gitu juga, Yah. Kalau Kinasih ikut yang terbaik aja. Memang benar kita harus memperhatikan tetangga, jangan sampai ada nada-nada miring, tapi Kinasih juga tidak ingin menjadi alasan untuk Maruta menerima Kinasih dengan terpaksa.”
“Maksudnya terpaksa? Jika Maruta tidak mau, ya jangan kita lanjutkan.”
“Yah, Maruta itu pada dasarnya kita yang nolong, takutnya saat dia menerima apa yang Ayah sarankan, karena terpaksa untuk balas budi. Kinasih nggak mau hanya karena menghindari obrolan tetangga, Kinasih mengorbankan masa depan untuk menikah dengan seseorang bukan atas karena dasar suka. Begitu pun dengan Maruta terpaksa menerima Kinasih karena balas budi.”
“Baiklah, bisa Ayah terima penjelasan kamu. Nanti suatu saat Ayah bakal bicara kepada Maruta.”
“Bicara apa Yah? Jangan tentang pernikahan. Nanti dia jadi terpancing perasaannya merasa merepotkan keluarga kita, lalu dengan terpaksa mengiyakan dan menyetujui rencana Ayah,” cegah Kinasih merasa takut ayahnya berlebihan.
“Tidak, tenang saja. Ayah hanya akan mancing membahas rencana dia ke depannya. Dia juga sudah dewasa Kinasih, pasti berpikir, tidak mungkin akan terus bersama keluarga yang tidak ada ikatan darah sama sekali.
Sedangkan di dekatnya ada seorang gadis yang harus dijaga nama baiknya dari lingkungan. Tenang saja, Ayah tidak akan bicara sejelas ini seperti ke kamu. Kita lihat, Apa respons Maruta.”
“Terserah Ayah deh, asal jangan ngobrolin pernikahan.” Kinasih meyakinkan lagi.
Setelah ayahnya membahas tentang hubungan serius Kinasih dan Maruta, dari sana Kinasih terus merasa was-was. Ditambah tim pencarian yang sudah sampai ke Kampung Malikan, ditambah lagi sang ayah yang membahas pernikahan. Semakin berat antara melepaskan atau mengikat lebih erat, karena perasaan Kinasih semakin hari semakin tumbuh untuk memiliki Maruta dan tak ingin kehilangan.
**#
Sudah beberapa hari Maruta mengikuti apa kata Kinasih, dia pulang sebelum pukul sembilan, kemudian melanjutkan menunggu tokonya sambil beristirahat dan mengerjakan pesanan-pesanan untuk diantar.
Kinasih yang juga ada di toko bersama Maruta, dia melihat beberapa mobil melintas di depan rumahnya. Dadanya menjadi dag dig dug entah kenapa rasa takut itu selalu muncul, ketika melihat orang asing yang masuk ke desanya.
“Kenapa? Ada mobil kok, kamu bengong gitu? Pengen punya mobil?” tanya Maruta bernada bercanda, dia tidak mengerti perasaan Kinasih sesungguhnya.
“Enggak, Mas, siapa juga yang mau punya mobil. Perawatannya mahal.”
“Lah, itu kamu ngeliatin mobil lewat sampai segitunya.”
“Aku cuman pengen tau aja, kayaknya ada orang kota yang masuk ke kampung kita,” ucap Kinasih.
“Biarinlah, mungkin sanak saudara tetangga dari kota.”
Kinasih coba yakinkan dirinya apa yang dikatakan Maruta benar. Mungkin saja memang itu keluarga tetangga mereka dari kota yang berkunjung.
*##
Hari berikutnya Kinasih gelisah karena pukul sembilan pagi Maruta belum juga pulang, ditunggu sampai beberapa menit belum juga pulang. Kinasih menyusulnya ke pasar dengan sepeda yang ia miliki.
Kinasih sampai pasar pun dia tidak menemukan Maruta. Lalu bertanya kepada teman-temannya di pasar, katanya sudah pulang satu jam yang lalu, berarti Maruta pulang tepat waktu sebenarnya. Namun belum sampai ke rumah. Ke mana dia?
Kinasih kembali pulang, tapi selama perjalanan dia menoleh kanan kiri siapa tahu menemukan Maruta, mungkin sedang mengobrol sama tetangga lain atau ada perlu di tempat siapa, hingga sampai rumah dia tidak menemukan jejak Maruta. Namun dilihat dari sendal yang sudah ada di teras rumah, Kinasih yakin Maruta sudah pulang.
Tanpa menstandarkan sepedanya dengan baik, Kinasih masuk langsung mencari Maruta.
“Mas Maruta?” Kinasih mencari ke kamar, ke dapur tidak ada, dia langsung ke belakang ke kolam ikan.
Benar saja, Maruta di sana sedang membuka beberapa kue basi yang tidak laku, untuk diberikan pada ikan-ikan. Karena memang selama ini kue yang tidak laku selalu untuk makanan ikan, biar tidak Mundzir.
“Mas, dicariin juga. Dari mana sih?” tanya Kinasih bernada kesal.
“Hei, kenapa pulang-pulang marah?” Maruta masih bernada tenang. Malah suka dengan Kinasih yang sedang kesal.
“Aku nggak marah, cuman kesel aja. Ditungguin dari tadi, kan aku bilang kalau pulang jangan lewat jam sembilan,” oceh Kinasih, hal ini membuat Maruta merasa aneh, tidak biasanya Kinasih marah sampai ngomel seperti itu.
“Aku tadi merasa ingin pergi ke hutan itu, entah mengapa aku tertarik ingin melihat suasananya.”
“Apalagi ke sana, Mas jangan dulu ke mana-mana, bahaya.” Kinasih makin sewot, pipinya mengembung saking kesalnya pada pria yang selama ini terus dikhawatirkannya.
“Maksudnya bahaya?” Maruta bingung ke mana arah bicara Kinasih. Dia kini berdiri berhadapan dengan Kinasih.
“Iya, maksudku bahaya itu, nanti aku nyari ke mana-mana, sedangkan Mas ke sana. Aku jadi bingung, kan bahaya, Aku kesel pokoknya.”
Maruta sedikit tertawa menyimak ocehan Kinasih. Merasa lucu, wanita yang tingginya hampir sama dengan dirinya, tak jelas bicara apa. Yang Maruta simak, Kinasih seperti khawatir berlebih, was-was.
“Oh, jadi kalau kamu kesal bakal bahaya nanti? Aku jadi korban kemarahan kamu gitu?” tanya Maruta, malah seakan meledek Kinasih.
“Ya, gak gitu juga. Aku khawatir aja. Jadi aku kerjanya nggak tenang,” lirih Kinasih mulai memelan suaranya.
Maruta tersenyum penuh arti melihat gerakan Kinasih yang uring-uringan tidak jelas di depannya.
“Ih, malah ketawa. Orang lagi kesel juga,” ucap Kinasih memukul dada Maruta, kesal lagi.
“Hehe, habisnya kamu lucu marah-marahnya. Dulu aja aku pulang mau dzuhur, kamu nggak kenapa-napa, tapi sekarang kayak nungguin suaminya aja. Nah, sekarang aku udah pulang. Ada apa? Kangen ya?” Maruta makin meledek Kinasih.
“Emang orang khawatir nggak boleh? Kesel deh. Ih, kesel! Orang ngomong, ditanggapinya nggak serius.” Kinasih makin gemas malah dianggap bercandaan.
Maruta meraih tangan Kinasih menghentikan pukulannya. Namun, genggaman tangan Maruta tidak dilepaskan saat Kinasih berhenti memukulnya.
“Diam, tenang ... tarik napas. Coba lihat aku. Jangan membuang muka gitu,” ucap Maruta lembut, sambil membetulkan wajah Kinasih yang tidak berani menatap karena malu.
Maruta menyentuh dagu Kinasih, lalu diarahkan pada wajahnya agar lurus menatap dirinya.
“Seandainya kamu tahu, aku pun sedang kesal,” ucap Maruta, lirih dengan tatapan teduh.
Kinasih langsung menatap Maruta. Dia mencari jawaban pada sorot matanya.
“K-kesal kenapa?” tanya Kinasih agak terbata, tak kuasa melawan tatapan Estu.
“Kamu ingin tahu kesal kenapa?” tangan Maruta.
Kinasih menggeleng karena memang dia benar-benar tidak tahu, tatapannya sudah terkunci pada manik mata Maruta. Mereka saling pandang dan menyelami menikmati masing-masing rasa, mencari sebuah jawaban di antara mereka.
“Aku kesal karena hati ini tidak bisa tenang dan tidak bisa memutuskan. Apa rasanya ini? Sakit saat menolak bahwa kamu tidak mungkin aku miliki. Namun, senang rasanya saat aku yakin bisa memilikimu karena kita sangat dekat.
Akan tetapi, terpatahkan lagi dengan keadaanku yang tidak jelas identitas. Lalu hatiku merasa utuh lagi saat kamu selalu memberikan perhatian. Di situ aku sangat kesal, setiap hari mencari arah yang tepat untuk pilihan hatiku. Jadi, aku harus merasa senang atau sakit dengan kedekatan kita?”
“Kedekatan kita? Mak—” Ucapan Kinasih terpotong.
Maksud Maruta menghentikan ucapan Kinasih, dia tahu bahwa Kinasih masih kebingungan dengan apa yang diucapkannya.
“Aku mencintaimu, Kinasih. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu secara utuh. Aku memberanikan diri menyatakan perasaan ini di tengah takut kehilangan, di tengah krisis kepercayaan, di tengah bahagia sudah bisa bersamamu dalam waktu selama ini. Dan aku siap menerima apa pun atas jawabanmu.”
“Jadi, Mas—” Lagi-lagi Maruta menghentikan pertanyaan Kinasih.
Jari telunjuk Maruta disimpan di depan bibir Kinasih.
“Jika perkataanku yang panjang masih membuatmu bingung, maka akan aku persingkat,” lirih Maruta, kini mendekatkan wajahnya pada telinga Kinasih.
“Kinasih, malaikatku. Makhluk Tuhan yang ada di depanmu ini, yang tidak jelas identitasnya, sangat mencintaimu dan ingin menjalani hubungan lebih serius. Jika kau mengizinkan.”
Suasana di pinggir kolam itu hening, hanya terdengar gemericik ikan berebut kue-kue yang tadi Maruta lemparkan. Kinasih belum sanggup melepas tatapannya dari bola mata yang juga terus menatapnya lekat.
Tangan Kinasih yang berada dalam genggaman Maruta, pun masih di depan dada bekas pukulan kekesalan.
Bersambung....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!