Bab 14
Akhirnya pamannya Deswita bersedia membantu Pak Karso membuka rekening bank. Karena selama ini Pak Karso tidak pernah memiliki tabungan di bank.
Adapun Kinasih memiliki tabungan itu tidak pernah dipergunakan oleh Pak Karso. Karena dia pikir cukup anaknya saja yang memiliki. Karena Pak Karso tidak pernah melakukan transaksi rutin seperti Kinasih atau orang-orang yang memiliki usaha.
Dari semenjak itu Deswita ditemani dua orang temannya kadang sering menginap di rumah Pak Karso, untuk menemani. Kemudian Pak Karso lambat laun sudah bisa menggunakan ponsel pemberian dari Bagas.
**#
Rombongan Bagas sudah keluar provinsi Jawa tengah bahkan sudah melewati Jawa Barat, mereka berhenti dulu di rest area sebelum masuk ke kota Jakarta.
Saat semuanya sudah menyegarkan diri dengan basuhan air yang ada di toilet, kini mereka makan bersama.
"Estu, em-maksudku Maruta," ucap Bagas, rupanya adiknya itu belum terbiasa jika dipanggil Estu. .
"Bagaimana kalau Kinasih diperkenalkan dulu sebagai orang yang merawatmu. Dia bisa menjadi asisten rumah tangga untuk sementara di sana," ucap Bagas kembali.
Estu sejenak terdiam, dia sebenarnya keberatan. Masa iya istrinya dijadikan pelayan di rumah, tapi jika menjadi perawat untuk dirinya, orang rumah akan tahu bahwa Kinasih tidak ada dasar di bidang kesehatan.
Maruta menatap pada Kinasih, sebenarnya ingin meminta pendapat. Namun, takut menyinggung istrinya.
"Tidak apa Mas, aku bersedia. Kita kan belum tahu keadaan yang sebenarnya di sana. Semoga tidak seburuk apa yang kita pikirkan," ucap Kinasih berusaha untuk bijak.
"Jika istrimu sudah setuju. Apalagi yang kamu pertimbangkan?" tanya Bagas.
"Tentu saja berat, dia istriku. Tidak bisa semudah bicara saat orang lain yang tidak memiliki ikatan."
Bagas mengerti apa yang dikatakan oleh Estu. Maka Bagas pun berjanji akan membantu mengawasi Kinasih, jika ada hal-hal yang merugikan dirinya.
Kinasih menjadi pelayan hanya pura-pura, sehingga tidak ada tugas-tugas yang memberatkan dirinya, itu dijamin oleh Bagas.
"Baiklah, kita coba saja," ucap Estu akhirnya.
Setelah itu mereka memanfaatkan waktu yang sedikit untuk istirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
**#
"Kalian sampai mana?" tanya Mami Desi dari sambungan telepon.
"Sebentar lagi sampai, Mih," sahut Bagas.
"Kira-kira berapa jam lagi? Ini loh, Keken sudah nungguin. Kasihan dia jika terlalu malam, akhirnya dia harus memutuskan tidak akan pulang," keluh Mami Desi.
"Mungkin sekitar 30 menit lagi," sahut Bagas.
"Baiklah, hati-hati kalian ya. Kami semua sudah menunggu di rumah."
Kemudian panggilan ditutup. Kinasih mendengar ada nama yang disebut yaitu Keken, sepertinya dia sangat berarti bagi keluarga nya Estu.
Kinasih tahu yang menelepon itu adalah mamanya E, karena dari cara bicara dan sapaan Bagas. Namun, Keken siapa? Sebegitunya dia menunggu Estu.
**#
Perjalanan pun sampai di Watu Hestama, sekitar pukul 01.00 dini hari.
Estu turun dengan menggandeng Kinasih. Namun, Bagas memberi kode untuk tidak terlalu dekat terlebih dahulu. Kinasih melepaskan pegangan tangan Estu, lalu kedua tangannya dialihkan untuk menggenggam tas yang di jinjingnya.
"Anakku! Mama rindu sekali. Gimana keadaanmu, Nak?" seru Mami Desi menghambur memeluk Estu. Dia melihat seluruh tubuh Estu dari kepala sampai bawah.
Mami desi juga meraba seluruh badan Estu dari lengan, tangan, muka, semuanya tidak ada yang berubah ataupun terluka.
Keken yang berada di samping mama desi juga ikut memeluk Estu. Sedangkan Estu merasa kikuk. Dia harus gimana dan tidak tahu apa-apa jangan, sampai saat Estu bereaksi malah akan menjadi masalah.
"Kenapa bengong gitu, Nak? Dia ini Keken, calon istrimu." Mami desi menjelaskan.
Estu mengurutkan kening lalu menoleh pada Kinasih, yang berada di samping sisi belakangnya.
Kinasih tersenyum kecut dia berusaha membuat ekspresi biasa saja.
"Ayo Nak, masuk. Mami kangen sekali pengen banyak mengobrol sama kamu. Apa yang kamu alami? Apa yang kamu rasakan?" Akhirnya Mami desi masuk dengan menggandeng Estu, begitupun dengan Keken yang menggandeng lengan Estu di sisi lainnya.
'Hati Kinasih merasa teriris, di depan matanya sangat dekat, suaminya di gandeng oleh wanita lain.
Bahkan Kinasih seakan tidak ada di sana. Baik disapa sebagai menantu bahkan disapa sebagai orang baru ataupun pelayan, tidak.
"Mbak! Tolong ambilkan minuman hangat buat tuan muda," ucap Mami Desi.
Salah satu pelayan itu mengangguk langsung pergi ke dapur untuk membuatkan pesanan Mami desi.
Di rumah itu Mami desi dipanggil Kanjeng Mami oleh para pelayan. Atau karyawan lain, baik security, tukang kebun, bahkan karyawan kantor.
"Apa yang kamu ingat setelah masuk rumah ini, Nak?" tanya Mami Desi antusias.
Estu hanya menggeleng.
Mami Desi juga menceritakan beberapa kenangan mereka. Namun Estu hanya bisa terbangong saja dengan manggut-manggut, tapi tidak mengerti. Dia hanya mencoba untuk mengingat tapi belum sampai pada memori masa lalunya.
"Sekarang Mami ingin tanya. Apa makanan kesukaan kamu? Kapan pun Mami berikan, pasti kamu tidak akan menolak. Kamu tahu apa itu?" tanya Mami Desi.
Estu mengernyitkan keningnya, lalu menyentuh kepala belakangnya. Semenjak tadi sebenarnya sudah sakit rasanya kepala itu, namun Estu mencoba untuk melawannya. Siapa tahu dia mengingat semua apa yang diucapkan Mami Desi.
Namun, bukannya ada sedikit bayangan, malah semakin sakit. Kinasih panik melihat reaksi Estu. Kinasih yang semenjak tadi masih berdiri, tiba-tiba menjatuhkan tasnya lalu menghampiri Estu.
"Mas Estu...!" seru Kinasih sambil menyentuh kepala Estu dan mengusapnya perlahan.
Mami Desi terbengong melihat Kinasih dengan tidak sopan menyentuh anak bungsunya itu. Mami Desi juga baru tersadar ada orang asing di sana, saking antusiasnya ingin tahu kabar Estu selama menghilang.
"Siapa kamu?" ketus Mami Desi.
Otomatis Kinasih juga terbengong, dia bingung untuk menjelaskan. Untungnya Bagas masih ada di sana. Kinasih menoleh pada Bagas, tanda meminta bantuan untuk menjelaskan.
"Mih, dia Kinasih yang selama ini merawat Estu saat di kampung," ucap Bagas.
"Dia perawat?" tanya Mami Desi kembali.
Bagas ingin mengatakan iya agar maminya lebih menghargai Kinasih. Namun, andai kebohongannya suatu saat diketahui maminya, akan lebih marah. Maka dari saat itu Mami Desi tidak akan percaya lagi.
Mami desi memiliki karakter yang tegas, sekali dia dibohongi maka tidak akan percaya selamanya.
"Bukan Mih, dia yang menemukan Estu lalu merawatnya. Karena di sana minim sekali tenaga medis. Jadi dengan sukarela Kinasih memberikan perawatan sesuai arahan dokter yang bertugas di sana," papar Bagas.
"Oh kalau gitu, mau apa ikut ke sini?"
Bagas mau menjelaskan kembali, dia sudah membuka mulutnya. Namun, Estu tiba-tiba bicara.
"Maaf, tolong! Aku ingin beristirahat," ucap Estu masih memejamkan matanya menahan rasa sakit di kepalanya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
$uRa
wahhh..alamat menderita nehh
2023-06-28
0