Papi Hestama

Saat Kinasih merasa ragu untuk ikut mengantarkan minuman pada Kanjeng Papi.

"Tidak apa, santai saja. Sudah jadi kebiasaan kok. Jika pelayan baru pun seperti itu. Mereka akan ikut terlebih dahulu sebelum dilepas untuk bekerja sesuai tugasnya."

Kinasih mengangguk, mengerti. Akhirnya dia berdiri dan mengekor kepada pelayan tersebut.

"Maaf Mbak namanya siapa ya? Nggak enak dari tadi sudah mengobrol tapi tidak tahu namanya, hehe," ucap Kinasih.

"Aku Lili," jawabnya singkat.

"Oh... Mbak Lili," Kinasih manggut-manggut.

Sedangkan Kinasih tidak perlu memperkenalkan diri. Sebab, penghuni rumah sudah tahu semua, siapa Kinasih. Kecuali Kanjeng Papi.

Lili menuju lantai tiga tentunya menggunakan lift dan Kinasih baru pertama kali menggunakan lift dalam rumah. Bahkan untuk swalayan pun dia belum pernah. Karena seumur hidupnya hanya baru bergaul di desanya saja, dia hanya tahu lift dari televisi.

"Mbak Lili," panggil seseorang dari belakang mereka yang sedang menghadapi pintu lift.

"Eh, Mbak Keken. Kenapa Mbak?" tanya Lili setelah menoleh pada sumber suara.

"Semalam aku pesan dibuatkan bekal. Apakah sudah?" tanya Keken.

"Ya ampun... aku lupa Mbak, maaf."

"Kok bisa lupa?" tanya Keken, mengerutkan keningnya.

"Tadi aku mau memberikan minuman untuk Kanjeng Papi, tapi ada kecelakaan sedikit. Jadi membuat ulang minuman ini."

"Oh ...ya sudah, tiga puluh menit lagi aku berangkat dan makananku harus sudah siap." Keken memberi peringatan pada Lili.

Keken kembali. Sepertinya menuju kamarnya. Itu yang dilihat oleh Kinasih, karena ada beberapa ruangan lagi di belakang tangga. Mungkin kamar Keken di sana, sama halnya dengan kamar Kinasih dari arah dapur ke belakang, itu juga dekat dengan tangga. Namun kamar Kinasih sebelah kanan tangga, sedangkan Keken di kamar sebelah kiri tangga.

Kinasih sungguh pusing memahami rumah ini, tangga menuju lantai dua saja begitu besar.

Kemudian Kinasih mengikuti Lili yang sudah masuk ke dalam lift.

"Pijit tombol nomor tiga," perintah Lili.

Saat di dalam lift, Kinasih bertanya tentang Keken. Apakah dia benar calon istri dari Estu? Tapi mengapa sangat pagi sudah ada di Wastu Hestama? Ataukah mereka sebenarnya sudah resmi menikah?

Kemudian Lili menjawab antara Estu dan Keken memang belum menikah. Namun, Keken termasuk kerabat dari keluarga Hestama meskipun kerabat jauh. Sehingga tak masalah ada di rumah itu.

Lili juga menjelaskan, jika keluarga ningrat memang biasanya menikahkan keturunan mereka dengan yang masih satu turunan. Tujuannya agar warisan mereka tidak jatuh ke tangan orang lain yang bukan memiliki darah ningrat.

Meskipun begitu, mereka tidak membenarkan jika menikah dengan saudara dekat, selain memang tidak dibolehkan dalam agama, menurut mitos juga jika menikah dengan saudara dekat maka keturunannya akan mendapatkan tubuh yang tidak sempurna, atau dengan kata lain cacat.

"Tapi Mbak Keken sangat cantik ya? Tubuhnya bagus, kulitnya bersih, bicaranya pun tertata sekali. Enak di denger," ucap Kinasih.

"Namanya juga orang berpendidikan, dari keluarga ningrat lagi. Tempat sekolahnya nggak kaleng-kaleng," jawab Lili.

"Nggak kaleng-kaleng? Maksudnya apa ya?"

Kinasih tidak tahu bahasa gaul kaleng-kaleng. Lily kemudian menjelaskan sekolahnya pun bukan di tempat yang sembarang. Keken sudah pernah dua tahun sekolah di luar negeri dan saat ini hanya tinggal mematangkan saja di Indonesia.

Sebenarnya sejak tadi Kinasih ingin menanyakan tentang Estu, tapi dia bingung. Takut apa yang ditanyakan menjadi kecurigaan para pelayan. Kenapa dirinya menanyakan majikannya?

Karena mereka tahunya Kinasih adalah sebagai pelayan di sana.

"Terus yang lainnya pada ke mana? Rumah ini sepertinya sepi," tanya Kinasih mencoba memancing agar dia bisa menanyakan tentang Estu.

"Mas Bagas biasanya sudah berangkat kerja, tadi juga sudah sarapan sama Mbak Secil, kalau Kanjeng Mami sama Mas Estu, tadi pergi ke dokter."

"Ke dokter? Pagi-pagi sekali?" tanya Kinasih.

"Kata Kanjeng Mami, sudah janjian sejak malam, jadi harus menurut jadwal."

Kinasih langsung diam, dia harap-harap cemas. Semoga hasil dari dokter mendapat kabar baik.

"Kenapa" tanya Lili heran. Setelah menanyakan tentang Estu, Kinasih langsung terdiam.

"E-enggak. Ikut prihatin aja. Semoga Mas Mar ... Em, maksud saya Mas Estu segera pulih." Kinasih belum terbiasa memanggil Maruta dengan nama Estu. Selalu hampir salah sebut.

Lili mengangguk, setuju dengan pernyataan Kinasih.

Setelah keluar dari lift, mereka sampai di lantai tiga. Lili menuju ruang perpustakaan, di sana ada Papi Hestama.

"Perhatikan cara aku menaruh gelas," bisik Lili sesaat sebelum membuka pintu.

Papi Hestama merasa terganggu dengan kedatangan Lili yang sebenarnya membawa aroma kurang sedap.

"Lili, kamu kebiasaan ya!" tegur Kanjeng Papi, dia sambil menutup hidungnya dengan buku yang dipegangnya sejak tadi.

"M-Maaf Kanjeng Papi, ada apa?" tanya Lili. Dia tidak mengerti teguran yang dilayangkan padanya.

"Cuci tanganmu sebelum memberikan minuman untukku. Bagaimana aku bisa menikmati minuman ini?" Kanjeng Papi sepertinya jengkel.

Kinasih terkejut dengan suara Papi Hestama yang begitu besar dan berat. Meskipun wajahnya tidak menyeramkan, tapi dari nadanya cukup membuat jantung Kinasih bergetar.

Papi Hestama sudah cukup sepuh, bahkan seluruh rambutnya hampir memutih semua. Namun, wajahnya begitu bersih dan masih terlihat raut ketampanan.

Lili perlahan menoleh pada Kinasih, dia sadar mungkin aroma kurang enak tersebut dari Kinasih yang baru mengupas bawang merah.

Kinasih merasa harus bertanggung jawab, dia maju beberapa langkah mendekat pada Kanjeng Papi, tepatnya kini Kinasih berada di samping Lili..

"M-maaf tuan," ucap Kinasih dengan gugup. Kedua tangannya menangkup, diletakkan di depan dada seperti orang yang meminta ampun.

Aroma itu semakin menyeruak saat Kinasih lebih dekat pada Kanjeng Papi.

Papi Hestama agak memundurkan sedikit posisi duduknya dan masih menutup hidungnya. Raut mukanya memerah.

Kinasih semakin panik, jangan-jangan dia akan dimarahi. Padahal Kinasih hanya akan meminta maaf karena aroma tersebut bersumber darinya yang baru mengupas bawang merah..

Papi Hestama menatap lekat pada sosok baru di rumahnya, seorang wanita muda di depannya.

Bersambung....

Terpopuler

Comments

$uRa

$uRa

semoga Kanjeng papi hatinya baik

2023-06-28

0

re

re

Next

2022-09-28

1

lihat semua
Episodes
1 Orang Asing Pembawa Keberuntungan
2 Adu Ngambek
3 Meski Takut Jadian
4 Halal
5 Malam Pertama Sederhana
6 Pencarian Datang
7 Ingatan Hestama.
8 Jujur
9 Ternyata Datang Juga
10 Hari Penentuan
11 Serah Tugas Toko
12 Siap Ke Jakarta
13 Hadiah Besar
14 Wastu Hestama
15 Tak Dianggap
16 Aku Siapa?
17 Terombang-ambing
18 Cari sang Istri
19 Menghapal Wastu Hestama
20 Papi Hestama
21 Mohon Memaklumi
22 Papi Mertua Ternyata
23 Bab 22 Sekolah TK
24 Lupa Rumah Sendiri
25 Belum Jelas Nasib
26 Mempertahankan Posisi
27 Pesaing Berat
28 Amnesia vs Bolot
29 Masih drama
30 Dikerjai Suami
31 Tidak Memiliki Peran
32 Masih Takut Kanjeng Mami
33 Terbongkar Rahasia Sendiri
34 Cemburu Kakak Sendiri
35 Sudah Tahu Tentang Menantu
36 Mulai Diakui
37 Ternyata Kemala
38 Teman Menyebalkan
39 Kinasih atau Keken
40 Pemanasan Sejoli
41 Kanjeng Mami Berulah Lagi.
42 Jangan Kira Matre
43 Menantu Siapa?
44 Kinasih Makin Penasaran.
45 Salah Pengertian
46 Malam Bercocok Tanam
47 Jodoh Salah Alamat
48 Seseorang Tak Disangka
49 Istri Jadi Kaka Ipar
50 Hubungan Silang
51 Lika Liku Asmara
52 Perintah Membingungkan
53 Senjata Makan Tuan
54 Salah Paham yang Rumit
55 Wejangan Jennie
56 Masih Tentang Noda
57 Semakin Ada Jarak
58 Taktik Menukar Kostum
59 Kanjeng Papi Bisa Marah
60 Pertunangan Salah Pasangan
61 Kak Ipar Tak Habis Akal
62 Saling Jaga Gengsi
63 Lumayan Bersuara Sedikit.
64 Hari Yang Panik
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Orang Asing Pembawa Keberuntungan
2
Adu Ngambek
3
Meski Takut Jadian
4
Halal
5
Malam Pertama Sederhana
6
Pencarian Datang
7
Ingatan Hestama.
8
Jujur
9
Ternyata Datang Juga
10
Hari Penentuan
11
Serah Tugas Toko
12
Siap Ke Jakarta
13
Hadiah Besar
14
Wastu Hestama
15
Tak Dianggap
16
Aku Siapa?
17
Terombang-ambing
18
Cari sang Istri
19
Menghapal Wastu Hestama
20
Papi Hestama
21
Mohon Memaklumi
22
Papi Mertua Ternyata
23
Bab 22 Sekolah TK
24
Lupa Rumah Sendiri
25
Belum Jelas Nasib
26
Mempertahankan Posisi
27
Pesaing Berat
28
Amnesia vs Bolot
29
Masih drama
30
Dikerjai Suami
31
Tidak Memiliki Peran
32
Masih Takut Kanjeng Mami
33
Terbongkar Rahasia Sendiri
34
Cemburu Kakak Sendiri
35
Sudah Tahu Tentang Menantu
36
Mulai Diakui
37
Ternyata Kemala
38
Teman Menyebalkan
39
Kinasih atau Keken
40
Pemanasan Sejoli
41
Kanjeng Mami Berulah Lagi.
42
Jangan Kira Matre
43
Menantu Siapa?
44
Kinasih Makin Penasaran.
45
Salah Pengertian
46
Malam Bercocok Tanam
47
Jodoh Salah Alamat
48
Seseorang Tak Disangka
49
Istri Jadi Kaka Ipar
50
Hubungan Silang
51
Lika Liku Asmara
52
Perintah Membingungkan
53
Senjata Makan Tuan
54
Salah Paham yang Rumit
55
Wejangan Jennie
56
Masih Tentang Noda
57
Semakin Ada Jarak
58
Taktik Menukar Kostum
59
Kanjeng Papi Bisa Marah
60
Pertunangan Salah Pasangan
61
Kak Ipar Tak Habis Akal
62
Saling Jaga Gengsi
63
Lumayan Bersuara Sedikit.
64
Hari Yang Panik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!