Bab17
Saat di dapur, sepi. Tidak ada orang. Kinasih sudah mulai lelah, tapi karena rasa sedihnya melihat suaminya yang sedang kambuh, kemudian dirinya yang seakan terlunta. Padahal di dalam rumah, tapi tidak bisa sebagai tempat berlindung.
Ingin menangis rasanya, tapi malu juga, takut disebut cengeng bahkan Kinasih sudah berusaha untuk membuka hatinya selapang mungkin menerima keadaan. Demi tidak memberatkan Estu, tetap saja sedih rasanya.
Seperti inilah perbedaan rumah besar dan rumah kecil, percuma segala berkecukupan, tapi tidak ada rasa kekeluargaan di dalamnya. Apalagi untuk orang asing, seakan tidak layak untuk diperlakukan sama dengan keluarga, setidaknya sedikit dipedulikan.
"Secil. Kau mau kembali ke apartemenmu atau di sini? Besok kita harus pagi-pagi sekali ke kantor." Bagas menghentikan langkah Secil.
"Aku tidur di sini saja Pak, takutnya besok kesiangan kalau aku harus ke apartemen selarut ini."
"Baiklah. Istirahat di kamarmu seperti biasa."
Cesil kemudian pergi menuju kamarnya yang biasa dia tempati kalau menginap di Wastu Hestama. Kebetulan kamar itu melalui dapur, sekelebat ia seperti melihat ada orang di sana, dengan suara sesenggukan seperti seseorang yang menangis.
Cesil perlahan mengendap ke dapur, takut sesuatu yang membahayakan dirinya.
"Kinasih?" Sesil mengerutkan kening. Ya, ternyata Kinasih ada di sana.
'Ya ampun.... Kenapa hampir lupa? Aku harus menghubungi Pak Bagas,' batin Secil.
Cesil Kemudian mengirim pesan pada Bagas untuk datang kepadanya, karena ada Kinasih di dapur. Cesil juga tidak bisa menentukan bagaimana nasibnya Kinasih di Wastu Hestama, karena Cesil bukan tuan rumah di sana. Dia hanya sebagai sekretaris, meskipun terbiasa di sana, tapi tidak punya wewenang untuk memutuskan apa-apa yang terjadi.
Tak lama Bagas datang menuju ke arah dapur.
Bagas langsung ke dapur dan dia merasa bersalah. Kenapa membiarkan Kinasih sendiri di dapur, dia lupa karena saat datang langsung diajak diskusi oleh maminya hingga kejadian Estu panik.
"Kinasih?" seru Bagas.
Kinasih mendongak dengan pipi yang sudah basah, bibirnya bergetar, selain kebingungan dia juga ketakutan. Dapur yang remang, rumah yang tidak begitu terang karena memang sudah malam, lampu-lampu sudah dimatikan.
Bagas merasa panik, dia tidak tahu harus bagaimana, merasa ikut sedih. Untungnya ada tisu di meja makan tersebut, kemudian diambilnya satu lembar dan memberikannya kepada Kinasih. Namun, Kinasih kebingungan dia tak mengambil tisu itu, akhirnya Bagas yang mengusap air mata Kinasih.
"Maafkan aku, ya. Aku lupa," lirih Bagas.
Kinasih sebenarnya kesal, terlebih saat mendengar hal itu dari Bagas. Seakan Bagas memang harus bertanggung jawab atas Kinasih yang dilupakan oleh mereka.
"Ayo ikut aku!" ajak Bagas yang sudah berdiri.
Kinasih tidak beranjak, dia takut akan dibawa kemana dirinya. Dia malah menatap Bagas.
"Ayo ke kamarmu," ucap Bagas.
Kemudian Kinasih berdiri mengikuti belakang Bagas.
"Secil, temani aku dulu," pinta Bagas.
Kamar Kinasih berada berdampingan dengan kamar Cesil.
Wastu Hestama yang memiliki tiga lantai. Dan terdapat Lima kamar di lantai bawah, yaitu tiga kamar tamu dan dua kamar untuk tuan rumah. Sedangkan Kinasih ditempatkan di ruang tamu lantai satu, begitu pun Secil.
Sedangkan kamar Estu berada di lantai dua. Kemudian ruangan kerja Mami Desi berada di lantai tiga.
Sisanya kamar yang lain untuk tuan rumah tersebar di setiap lantai. Seperti di lantai bawah selain tiga kamar tamu ada dua kamar milik anggota keluarga yang lain. Termasuk kamar Bagas di lantai satu.
Lantai dua kamar Estu, Mami dan papinya, serta dua kamar milik kakaknya Estu. Namun, jarang ditempati karena mereka sering mendapatkan tugas di luar negeri.
Di lantai tiga ada dua kamar, meskipun bukan kamar tamu, tapi kamar itu tidak diperuntukkan untuk tamu. Hanya untuk jika sanak saudara datang di saat Wastu hestama sedang ada acara besar.
Serta di lantai tiga perpustakaan, ruang kerja tempat nge-gym, rooftop dan mini cafe.
"Ini adalah kamarmu, aku mohon bersabar sebentar ya. Semoga kamar ini bisa membuatmu istirahat dengan nyaman, karena hari sudah larut. Aku akan kembali lagi ke kamar untuk beristirahat karena besok aku juga harus bekerja," papar Bagas.
"Terima kasih Mas Bagas," ucap Kinasih.
"Cesil, tolong temani Kinasih sebentar. Mungkin ada yang diperlukan kembali," perintah Bagas pada sekretarisnya.
Secil hanya mengangguk.
Setelah Bagas pergi, Secil sedikit berbincang dengan Kinasih untuk menawarkan apa saja yang Kinasih butuhkan atau yang Kinasih bingung di rumah itu.
Kinasih meminta izin untuk melihat lihat sudut kamar tersebut, terutama dia ingin tahu di mana tempatnya mandi.
Ada lemari besar sudah tersedia di sana, Kinasih membukanya. Kemudian ada meja rias, nakas di samping tempat tidur, tombol lampu, jendela yang ternyata ada balkon, kemudian kamar mandi dan Kinasih ada kebingungan pada beberapa benda yang Kinasih tidak tahu.
"Biar aku jelaskan," ucap Secil yang sejak tadi mengikuti Kinasih melihat-lihat sudut kamar.
Setelah Secil menjelaskan, Kinasih cukup mengerti dan mengucapkan terima kasih serta meminta maaf jika hasil sudah direpotkan.
"Tak masalah, segera tidurlah. Aku juga akan kembali ke kamar."
Kinasih tersenyum, ternyata tidak seperti dugaannya. Di rumah ini banyak yang baik, mungkin Mami Desi sebenarnya baik juga, hanya Kinasih saja yang belum mengenalnya karena terlalu sungkan. Seakan perbedaan kasta antara keluarganya di kampung dan di sini membuat Kinasih merasa kecil di depan mereka. Jadi takut salah bertindak, takut salah berbicara, pokoknya serba salah jadinya.
Kinasih sudah mengganti pakaiannya, saat dia hendak merebahkan badannya, ada seseorang yang mengetuk pintu. Kinasih langsung terperanjat dan duduk.
'Malam-malam begini siapa yang mengetuk pintu?' batin Kinasih.
Kinasih diam sejenak mengamati kembali. Benarkah ada seseorang yang mengetuk pintu atau hanya pendengarannya saja?
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
$uRa
kin...mas maruta datang
2023-06-28
0