Adu Ngambek

Warga merasa penemuan Maruta oleh keluarga Kinasih adalah sebuah keberuntungan. Apakah Maruta memiliki jimat untuk penarik rezeki? Warga kampung masih percaya dengan hal klenik. Padahal walau Maruta hilang ingatan, tapi kemampuannya dalam mengelola manajemen usaha, tidak hilang.

Jadi sebenarnya perekonomian keluarga Pak RT berubah pesat, bukan karena hoki yang Maruta miliki. Namun, karena kepiawaian Maruta sebagai direktur sebelumnya yang tidak diketahui warga kampung.

“Mas Maruta ada kue ulang tahun nggak?” tanya Erna yang sengaja datang ke sana bersama Evi.

“Ada Mbak. Mau yang ukuran berapa? Tapi kalau mau pesan khusus paling cepat bisa besok sore,” jawab Maruta dengan ramah.

“Ya udah besok sore aja. Antar ke rumah saya ya.”

“Alamatnya di mana Mbak?”

“Nanti saya share loc deh,” ucap Erna dengan senyum termanisnya, berjarak Maruta tertarik.

“Baik, Mbak. Nanti tinggal konfirmasi saja ke nomor Kinasih. Soalnya saya nggak punya HP,” ucap Maruta jujur.

“Tapi, Mas yang nganterin kan? Bukan Kinasih?”

“Ya ... tergantung,” jawab Maruta

“Ya udah deh. Besok saya kabarin lagi ya,” ucap Erna, melambaikan tangan lalu pergi.

Tak lama setelah kepergian Erna, datang seorang gadis lagi dia adalah Novi. Sengaja datang ke sana sebenarnya buat PDKT, bukan membeli kue.

Akhir-akhir ini memang sering sekali banyak konsumen wanita yang datang ke sana, padahal mereka adalah orang kampung itu juga yang tentunya bisa pesan melalui ponselnya Kinasih. Akan tetapi mereka sengaja biar bisa melihat Maruta dengan jelas dan ngobrol.

“Kalau yang tersedia cuman tiga ini mbak, atau ini ada sampelnya di foto. Mbak mau yang mana?”  ucap Maruta.

“Saya, ini aja deh. Tapi nanti diantarnya buat seminggu lagi. Dan kenapa saya pesan sekarang, takutnya buat hiasannya belum ada. Saya kan pengertian Mas, takutnya Kinasih belum sempat belanja ke kota. Jadi saya pesen jauh hari, biar Kinasih persiapan.”

“Iya, Mbak, hehe. Baik.” Maruta malah canggung sendiri pada wanita yang terlali agresif.

Sat Novi sedang memesan kue pada Maruta, terlihat Kinasih pulang dibonceng seseorang.

“Eh, Mas Mauruta tau nggak? Dia itu siapa?” tanya Novi dengan wajahnya mengarah kepada Kinasih yang baru turun dari boncengan motor seseorang.

“Itu? Ya tentu saja Kinasih,” ucap Maruta.

“Bukan, maksud saya cowok itu.”

“Oh, paling tukang ojek.”

“Bukan ... mungkin Mas Maruta nggak tahu ya? Dia itu mantannya Kinasih,” bisik Novi, mendekat wajahnya.

Maruta mengamati pria yang menggunakan topi hitam tersebut. Di kampung itu helm tidak begitu penting. Kecuali kalau mereka akan pergi jauh. Kalau hanya sekedar dari pasar mereka akan santai dengan aturan berkendara seadanya.

Ada rasa tidak enak di dalam hati Estu saat melihat pria itu. Dilihatnya tampan juga sepertinya dia seorang guru atau pegawai kecamatan karena mengenakan pakaian putih hitam seperti seorang pekerja dinas.

“Dia itu namanya Parman, calonnya Kinasih,” ucap Novi memanas-manasi.

“Calon?” Maruta merasa heran karena selama ini Kinasih seperti orang yang tidak memiliki hubungan spesial dengan siapa pun.

“Iya calonnya Kinasih. Memangnya Mas Maruta nggak tahu? Nggak dikasih tahu sama Kinasih?”

Maruta menggeleng.

“Hati-hati Mas, jangan sampai jadi orang ketiga antara hubungan Kinasih dengan Parman. Mereka udah lama loh berhubungan.”

Novi berusaha memengaruhi Maruta.

“Kalau saya masih single, Mas, hihi. Malah saya kuliah satu semester lagi, wisuda. Kali aja Mas mau cepat cari jodoh,” ucap Novi dengan ketawa tidak jelas.

Novi berniat ingin membuat jarak antara Maruta dan Kinasih. Dia juga mempromosikan dirinya agar Maruta tertarik.

Namun, di luar dugaan. Maruta malah fokus melihat gerak-gerik pria yang menjinjing barang belanjaan milik Kinasih. Melihat Kinasih kerepotan, pria itu peka dengan segara turun dari motornya.

Maruta semakin yakin bahwa Parman itu memang benar calon Kinasih, karena terlihat begitu peduli.

“Ya udah, Mbak, nanti Mbak hubungi lagi aja ke nomornya Kinasih. Beritahukan jam berapa mau diantar,” pungkas Maruta.

“Oke, Mas. Kalau kayak gitu makasih ya,” ucap Novi dengan senyuman menggoda.

Tiba-tiba Novi menyodorkan tangannya, Maruta bingung untuk apa. Namun, Maruta kembali menjulurkan tangannya karena Novi seperti yang mau bersalaman.

Kemudian Novi menyambut tangan Maruta, dia bersalaman dan ditempelkannya punggung tangan Maruta ke keningnya, seperti seorang anak yang salim ke orang tuanya atau ke pasangan.

Maruta heran, tapi ya sudahlah mungkin itu budaya Kampung Malikan, pikirnya.

Saat toko tutup Maruta membantu Kinasih bersiap di dapur untuk menyiapkan bahan-bahan pesanan konsumen.

Kinasih merasa heran kenapa Maruta jadi pendiam, biasanya dia suka banyak bertanya. Hari ini berapa orang yang pesan, berapa pcs yang di pesanan atau bahkan bertanya tadi belanja habis berapa. Soalnya Maruta juga ikut menghitung pengeluaran dan pemasukan keuangan.

“Mas?” sapa Kinasih.

“Ya?” ucap Maruta singkat.

“Mas sakit?”

“Enggak.”

Kinasih menyimpan buku catatannya kemudian tangannya ingin menempelkan di kening Maruta. Namun, belum juga sampai, Maruta menepisnya.  Meskipun tidak dengan cara kasar.

Kinasih bingung, tumben biasanya Kinasih bebas aja mengecek keadaan Maruta, karena selama ini Kinasih seperti perawat untuk Maruta. Dia berhak mengecek perkembangan kesehatannya.

“Tapi ... Mas Maruta baik-baik saja?” tanya Kinasih, meyakinkan. Seakan Maruta sengaja menjaga jarak dengan dirinya atau tidak ingin diperhatikan.

“Ya, saya baik. Ini, saya sudah memisahkan catatan pesanan hari ini, saya mau mandi dulu terus istirahat, boleh?” ucap Maruta yang lebih tepatnya seperti meminta izin.

“Iya, silakan,” ucap Kinasih seakan percakapan sore ini begitu formal. Bahkan Kinasih hanya ingin menjawab mengangguk pun tak bisa. Karena dia melihat Maruta menunduk fokus pada tangannya yang sedang melakukan aktivitas. Jika Kinasih menjawab dengan anggukan saja, Maruta tidak akan melihat respons gerak tubuhnya.

Dan setelah mandi, benar saja, Maruta langsung istirahat di kamar. Bahkan saat pukul tujuh malam seperti biasa Kinasih memberikan obat untuk Maruta. Namun, Maruta tidak bangun, biasanya saat Kinasih baru membuka pintu kamar saja, Maruta akan langsung duduk jika sebelumnya dalam posisi berbaring.

Kinasih mengintip wajah Maruta yang tidur miring menghadap tembok, dengan badan berselimut sampai leher.

“Mas, obatnya saya taruh sini ya. Nanti kalau Mas bangun, langsung minum saja. Ini juga ada roti kalau mas lapar, dimakan,” ucap Kinasih, dia tidak peduli apakah Maruta mendengarnya atau tidak.

Keesokan harinya kegiatan seperti biasa, pagi-pagi sekali Kinasih sudah membuat kue pesanan begitu pun Maruta. Dia cekatan, tangannya tak pernah berhenti mengerjakan ini dan itu. Namun, lagi-lagi dalam mode sunyi. Paling kalau bersuara hanya menanyakan hal yang penting saja.

Siang hari saatnya toko dibuka, dan beberapa pesanan harus diantarkan terlebih dahulu. Maruta hanya bertanya singkat saja.

“Ini pesanan yang harus aku antar?” tanya Maruta pada Kinasih yang duduk menghadapi buku tulis dan kalkulatornya.

“Iya, tolong cek lagi ya sesuaikan nota dan jumlah fisiknya,” jawab Kinasih.

Maruta tidak menjawab, tapi Kinasih melihat bahwa Maruta menganggukkan kepalanya.

Komunikasi dengan anggota tubuh memang tidak enak, apalagi kalau kita sedang tidak melihat orang tersebut, tidak tahu apakah yang mengangguk atau geleng kepala.

Saat Maruta pergi, ayahnya Kinasih keluar rumah. Dia membawa map seperti biasa tugas seorang RT, menagih iuran untuk kebutuhan warganya.

“Ayah,” sapa Kinasih, menghampiri ayahnya.

“Ya, ada apa?” tanya Pak Karso.

“Ayah tahu Mas Maruta kenapa?”

“Kenapa apa maksudnya?” Pak Karso malah bingung.

“Akhir-akhir ini dia jadi pendiam,” ucap Kinasih.

“Enggak tau, Ayah pikir biasa aja deh.”

“Enggak, Yah, dia kalau bicara sekarang jadi singkat. Bahkan terkesan menghindar. Apa dia udah sadar ya? Bahwa ini memang bukan tempatnya atau jangan-jangan dia tidak betah setelah sadar tempat kita terlalu sederhana? Mungkin juga dia anak orang kaya tidak terbiasa di tempat seperti ini.”

“Hus, jangan ngomong ngawur, jangan kemana-mana pikirannya. Mungkin dia memang sedang tidak ingin banyak bicara. Siapa tahu memang sedang mengingat sesuatu. Orang kalau mengingat itu butuh fokus. Sudah, seperti biasa aja jangan banyak pikiran,” ucap Pak Karso.

 

*#

Hari keempat Maruta masih memasang wajah kaku. Kebetulan hari ini adalah hari Jumat, kinasih ingin mengajak Maruta ke suatu tempat.

“Mas, mumpung hari libur ikut aku yuk!” ajak Kinasih.

“Ke mana?” tanya Maruta, singkat.

“Ada pokoknya, tempatnya sejuk, nyaman pokoknya.”

“Hanya kita berdua?” tanya Maruta lagi

“Aku ikut!” seru Deswita yang baru saja datang.

“Ikut apaan? Tiba-tiba datang bilang ikut. Ikut ke mana?” ledek Kinasih.

“Jangan gitu dong. Aku dengar kok kalian ngomong apa. Udah ayo, aku ikut pokoknya. Aku tahu kamu mau ke mana. Aku juga lagi stres pengen ngadem dulu,” ucap Deswita.

“Dasar, anak tukang ngekor terus!” seru Kinasih sambil meraih tangan Maruta dan ditariknya untuk berjalan mengikutinya.

Maruta melihat pada tangannya yang digenggam oleh Kinasih, dia tidak bisa menolak karena genggaman itu erat sekali. Dia berjalan seakan ditarik oleh Kinasih jadi mengikuti saja, sedangkan Deswita menyusul di belakangnya.

Mereka pergi ke arah hutan. Saat di perjalanan ada Novi, dia menghampiri Maruta dan seketika meraih tangan pria itu, lalu menciumnya dengan kening seperti kemarin.

“Pagi Mas Maruta. Mau ke mana nih?” tanya Novi, dengan gaya manjanya.

“Aku nggak tahu, ikut Kinasih aja,”  jawab Maruta.

“Kalau gitu aku ikut ya,” pinta Novi, dia mengaleng tangan Maruta sebelah kanannya.

Kinasih yang berada di sebelah kiri Maruta tidak suka dengan Novi yang begitu akrab pada Maruta.

“Kamu ngapain sih Nov? Kan bisa jalan biasa. Deswita juga jalan biasa,” ucap Kinasih seperti orang yang cemburu kepada kekasihnya.

Maruta peka akan hal itu, dia melirik pada Kinasih, ada rasa suka melihat Kinasih cemburu karena Novi, tapi ada juga rasa ragu, yang mungkin Maruta hanya terbawa perasaan saja.

“Biarin aja, aku kan menjaga Mas Maruta juga. Kalau kenapa-napa emang kamu sendiri bisa menopang tubuh Mas Maruta yang kekar ini,” cibir Novi, tidak punya Malu.

Kinasih tidak ingin berdebat di jalan, dia tanggung sudah cukup jauh dari rumahnya tidak mungkin hanya gara-gara Novi dia tidak jadi ke tempat yang dituju.

“Ini tempat apa? Kok sepi?” tanya Maruta. Dia tidak tahu bahwa sudah memasuki kawasan hutan.

“Ayo! Pokoknya ikut sana.” Kinasih terus saja menarik tangan Maruta.

Setelah masuk batas hutan beberapa meter saja,  Kinasih seperti sudah hafal jalan belok ke kiri lalu ada pohon pendek yang rimbun. Kinasih sedikit menyingkirkan batang-batang pohon itu, lalu bisa masuk seakan itu adalah pintu.

Terlihat rumput hijau yang terdapat bunga-bunga kuning, pemandangan itu sangat berbeda sekali dengan rumput saat sebelum masuk ke pagar pohon tersebut.

“Wah, tempatnya memang indah,” ucap Maruta mengagumi tempat itu. Udaranya pun lebih sejuk karena di depan sana sudah tidak ada pepohonan lagi, hanya terlihat langit dan awan entah di mana ujungnya.

“Iya, tempat ini mang indah, Mas. Enak juga buat istirahat atau kalau sedang galau ke sini,” ucap Novi, nimbrung.

“Kamu suka ke sini juga, Nov?” tanya Maruta.

“Tentu dong, orang-orang Kampung Malikan tahu tempat ini rata-rata. Makanya selalu dijaga karena memang tempatnya nyaman.”

Kinasih membawa Maruta jalan ke beberapa sudut, ada gua di sana. Namun, bukan gua besar. Gua ini hanya seperti cekungan batu besar yang sedikit menjorok ke dalam, mungkin hanya beberapa meter sekitar 3 atau 5 meter dalamnya. Bukan gua yang tembus ke ruang mana pun.

“Nah, dari sini kita bisa melihat kampung lain,” ucap Kinasih,  dia menarik tangan Maruta dan terus jalan.

Semakin dekat bulu kuduk Maruta seakan merinding, entah mengapa. Bukan takut ada makhluk halus atau apa, tapi dia mengamati langkahnya seakan di depan sudah tidak ada daratan lagi. Dia hanya melihat awan yang jauh, perlahan melihat bangunan tapi sangat jauh di sana. Saat semakin dekat Maruta menghentikan langkahnya, dia menepiskan tangannya yang dipegang oleh Kinasih.

“Kenapa, Mas?” tanya Kinasih panik.

“Di sana gelap, tidak terlihat apa-apa,” ucap  Maruta seperti bergumam, sambil pandangannya fokus ke depan seperti tatapan kosong.

“Tidak gelap, Mas, ini masih siang. Ayo kita lihat di sana, lebih indah pemandangannya.” Kinasih akan menarik lagi tangan Maruta.

“Tidak, aku tidak bisa. Itu sungguh gelap, dingin, kakiku melayang,” lirih Maruta, kini ia menunduk.

“Ini masih siang, Mas, tidak gelap ataupun dingin. Cahaya matahari hangat.” Kinasih benar-benar tidak mengerti apa maksud penolakan Maruta.

“Aku mau pulang,” ucap Maruta. Dia memegang kepalanya sambil mengerang, tubuhnya bergetar dia ambruk ke tanah, lututnya buat penopang.

“Mas Maruta?” Novi berlari.

“Kamu sih, Nas. Kenapa memaksa Mas Maruta ke sana, kalau dia menolak ya udah,” tegur Novi.

“Aku nggak mau maksa, cuman siapa tahu dia suka dengan pemandangannya. Kalau nggak mau ya udah,  mana tahu akan jadi kayak gini.” Kinasih membela diri.

“Udah jangan debat, ayo kita ajak pulang takut kenapa-napa,” ucap Deswita.

 

**#

Kinasih, Deswita, Maruta, dan Novi sudah berada di rumah Pak Karso.

“Kamu pulang sana, Mas Maruta juga mau istirahat,” ucap Kinasih sedikit ketus, tidak suka dengan Novi yang terlalu perhatian pada Maruta.

“Belum sore juga, ngapain sih Nas ngusir-ngusir?”

“Bukan ngusir, terus kamu di sini mau ngapain? Tumben-tumbenan, biasa juga nggak pernah main ke sini.”

“Ya udah aku pulang, titip Mas Maruta ya,” ucap Novi. Perkataannya cukup menyebalkan buat Kinasih.

Kinasih memberi minum air hangat pada Maruta, kemudian dia sedikit memijat kepalanya, biar sedikit lentur saja tidak begitu tegang.

“Mas, apa yang dirasakan?” ucap Kinasih.

“Aku mau istirahat di kamar saja,” ucap Maruta.

Kinasih tidak bisa memaksa, bahkan pertanyaannya pun diabaikan, tapi Kinasih tetap mengantar Maruta sampai kamar. Dia tidak mau takut terjadi apa-apa saat Maruta jalan sendiri, bisa saja terjatuh.

 

**#

 

Kinasih tidak bisa seperti ini terus, rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, saat Maruta seakan menghindar dan cenderung kaku dalam bicara akhir-akhir ini.

Keesokan harinya Maruta bangun pagi-pagi sekali, seperti biasa. Namun, tidak ada aktivitas di dapur bahkan tidak melihat Kinasih.

“Pak, Kinasih ke mana ya?” tanya Maruta.

“Ada, dekat kolam ikan paling.” ucap Pak Kusno.

“Pagi-pagi sekali?”

“Biasalah, dia memang gitu. Mungkin keingat mendiang ibunya, dia betah berlama-lama di kolam.”

Maruta pun pamit pada Pak Kusno untuk menghampiri Kinasih.

Sesampai di saung pinggir kolam Maruta bertanya pada Kinasih kenapa libur membuat kue hari ini, padahal kemarin hari jumat sudah libur.

“Pengen aja,” ucap Kinasih ketus.

“Kalau ada pesanan hari ini bagaimana?”

“Biarin.”

“Kok biarin? Kasihan dong konsumennya yang udah menunggu.”

“Nggak apa-apa.”

Maruta bingung, dengan sikap Kinasih yang seakan bermalas-malasan.

“Ya udah, kalau kamu sedang tidak ingin diganggu.”

Maruta akan pergi, tapi dia mendengar helaan napas Kinasih. Maruta pun menoleh pada Kinasih yang duduk di saung dengan kepalanya bersandar di tiang saung tersebut.  Serta matanya lurus ke depan menatap ikan-ikan yang sejatinya belum terlihat, karena pagi masih gelap.

“Kamu kenapa sih Nas? Rindu ibumu ya?” tanya Maruta dengan sabar.

Namun Kinasih diam saja, dia tidak menggubris pertanyaan.

“Apa ada kendala dalam usahamu mendapat konsumen yang rewel atau ada kerugian apa?”

Lagi-lagi Kinasih hanya diam dan itu membuat Maruta merasa campur aduk. Ada sedikit kesal, rasa bersalah dan kasihan juga.

Maruta yang duduk di samping Kinasih kini berdiri dan menghalangi pandangan Kinasih, yang terus menatap ke kolam.

“Kalau kamu mau terus diam saja, lebih baik aku beneran pergi ke mana pun itu, karena mungkin di sini kamu sudah lelah merawatku dan aku tidak bisa memaknai kamu yang diam saja.”

“Kerasa, ‘kan?” tiba-tiba Kinasih menjawab.

“Maksudnya kerasa apa?” Maruta masih bingung.

Kinasih kemudian menjelaskan kemarin saat Maruta berkata hanya sedikit-sedikit. Menjawab ucapan Kinasih hanya singkat, dia juga kesal apa salahnya? Seakan Maruta menghindar sudah lebih tiga hari. Kinasih bersabar, Maruta tetap saja seakan Kinasih itu orang lain, padahal selama ini hampir empat bulan mereka terus akrab.

“Oh itu ... aku hanya tidak enak saja,” jawab Maruta.

“Maksudnya tidak enak kenapa? Aku punya salah? Apakah aku salah bicara?”

“Tidak, tapi pada tunanganmu.”

“Tunangan? Tunangan yang mana?” Kinasih spontan terkejut.

“Yang tiga hari lalu mengantar kamu dengan motor. Dia guru ya? Atau pegawai kesehatan?” tanya Maruta memberanikan menanyakan hal lebih jauh lagi.

“Oh, hahaha,” Kinasih malah tertawa, “Dia itu Mas Parman,” lanjutnya.

“Iya, tunanganmu kan? Makanya aku harus jaga jarak takutnya—”

Maruta tidak melanjutkan perkataannya, dia bingung takut Kinasih tidak berkenan membahas tunangannya.

“Takutnya kenapa?” pancing Kinasih.

“Ya, saya takut nanti Parman salah paham,” ucap Maruta.

Padahal Maruta bukan ingin mengatakan itu, tadinya dia ingin berkata takut 'Aku terlanjur nyaman, sedangkan kamu tidak bisa aku miliki.’ Namun, kalimat itu hanya sampai di tenggorokannya saja.

“Oh, jadi selama ini Mas Maruta cemburu?”  tanya Kinasih masih mencoba memancing reaksi Maruta.

“Bukan, bukan itu. Justru takut ada salah paham.”

“Ya biasa aja kali, kalaupun ada salah paham harusnya dari lama. Sekarang kita udah dekat gini, Mas Parman biasa aja nggak banyak tanya. Dan lagian dia bukan tunanganku.”

“Loh, kata Novi?”

“Novi aja dipercaya, makanya males ladenin. Kalau ada apa-apa nanya dulu, jadi bikin kesel ‘kan.”

Kinasih kemudian menjelaskan tentang Parman, dulu mereka memang sempat bertunangan. Namun, dengan sadar mereka membatalkan tunangan itu, bahkan cincin pertunangan sudah dikembalikan pada Parman.

Waktu itu Parman akan melanjutkan pendidikannya di luar Pulau Jawa dan itu tidak dapat dipastikan pulang kapan. Diperkirakan dua atau tiga tahun dan Kinasih tidak siap untuk menjalin hubungan jarak jauh.

Tapi kalau untuk menikah dulu mereka juga belum sanggup, takutnya sama-sama tidak bisa menahan godaan atau ujian masalah, karena hubungan jarak jauh biasanya sering terjadi perselisihan dan saling curiga. Makanya mereka masing-masing dengan kerelaan membatalkan pertunangan itu.

Dan benar saja, dua tahun kemudian Parman belajar di daerah orang, dia memiliki pacar. Bahkan saat pulang ke sini, Parman meminta kedua orang tuanya untuk melamarkan dirinya pada keluarga pacarnya tersebut.

Namun, hubungan Kinasih dan Parman akrab, karena memang tidak ada yang saling disakiti di antara mereka dan tidak ada yang harus membenci juga.

Maruta mengerti setelah dijelaskan oleh Kinasih seperti itu.

“Kalau begitu maafkan aku,” ucap Maruta dengan lirih dan menunduk seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya.

“Sudahlah Mas, ayo kita ke dapur. Masih sempat loh, racik-racik kue,”  ajak Kinasih dengan senyuman yang selama ini hilang dari wajahnya. Karena dia males menghadapi Maruta yang tiba-tiba berubah.

“Ayo! Siapa takut,” ucap Maruta tiba-tiba menggandeng tangan Kinasih dan menariknya ke dapur dengan semangat.

Kinasih yang berjalan di belakang Maruta, melihat wajahnya dengan saksama. Wajah Maruta memang seperti keturunan ningrat, tapi mungkin masih asli warga Indonesia, bukan blasteran atau keturunan asing.  Dilihat dari wajahnya seperti orang Pakistan, berkulit tidak begitu terang, hidung mancung halis tebal, tapi wajahnya sederhana, masih terlihat aura wajah orang Indonesia.

Ada rasa yang tak biasa tumbuh di dalam hati Kinasih. Dia suka tangannya dipegang seperti itu oleh Maruta. Hanya saja di sisi lain ada rasa takut, apakah tangan itu akan terus menuntunnya atau suatu saat tangan itu akan melambaikan pertemuan terakhir mereka.

 

Bersambung....

Terpopuler

Comments

Siti H

Siti H

kinasih..

2022-10-02

1

IF

IF

Susah emang sama pemikiran primitif

2022-09-17

1

lihat semua
Episodes
1 Orang Asing Pembawa Keberuntungan
2 Adu Ngambek
3 Meski Takut Jadian
4 Halal
5 Malam Pertama Sederhana
6 Pencarian Datang
7 Ingatan Hestama.
8 Jujur
9 Ternyata Datang Juga
10 Hari Penentuan
11 Serah Tugas Toko
12 Siap Ke Jakarta
13 Hadiah Besar
14 Wastu Hestama
15 Tak Dianggap
16 Aku Siapa?
17 Terombang-ambing
18 Cari sang Istri
19 Menghapal Wastu Hestama
20 Papi Hestama
21 Mohon Memaklumi
22 Papi Mertua Ternyata
23 Bab 22 Sekolah TK
24 Lupa Rumah Sendiri
25 Belum Jelas Nasib
26 Mempertahankan Posisi
27 Pesaing Berat
28 Amnesia vs Bolot
29 Masih drama
30 Dikerjai Suami
31 Tidak Memiliki Peran
32 Masih Takut Kanjeng Mami
33 Terbongkar Rahasia Sendiri
34 Cemburu Kakak Sendiri
35 Sudah Tahu Tentang Menantu
36 Mulai Diakui
37 Ternyata Kemala
38 Teman Menyebalkan
39 Kinasih atau Keken
40 Pemanasan Sejoli
41 Kanjeng Mami Berulah Lagi.
42 Jangan Kira Matre
43 Menantu Siapa?
44 Kinasih Makin Penasaran.
45 Salah Pengertian
46 Malam Bercocok Tanam
47 Jodoh Salah Alamat
48 Seseorang Tak Disangka
49 Istri Jadi Kaka Ipar
50 Hubungan Silang
51 Lika Liku Asmara
52 Perintah Membingungkan
53 Senjata Makan Tuan
54 Salah Paham yang Rumit
55 Wejangan Jennie
56 Masih Tentang Noda
57 Semakin Ada Jarak
58 Taktik Menukar Kostum
59 Kanjeng Papi Bisa Marah
60 Pertunangan Salah Pasangan
61 Kak Ipar Tak Habis Akal
62 Saling Jaga Gengsi
63 Lumayan Bersuara Sedikit.
64 Hari Yang Panik
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Orang Asing Pembawa Keberuntungan
2
Adu Ngambek
3
Meski Takut Jadian
4
Halal
5
Malam Pertama Sederhana
6
Pencarian Datang
7
Ingatan Hestama.
8
Jujur
9
Ternyata Datang Juga
10
Hari Penentuan
11
Serah Tugas Toko
12
Siap Ke Jakarta
13
Hadiah Besar
14
Wastu Hestama
15
Tak Dianggap
16
Aku Siapa?
17
Terombang-ambing
18
Cari sang Istri
19
Menghapal Wastu Hestama
20
Papi Hestama
21
Mohon Memaklumi
22
Papi Mertua Ternyata
23
Bab 22 Sekolah TK
24
Lupa Rumah Sendiri
25
Belum Jelas Nasib
26
Mempertahankan Posisi
27
Pesaing Berat
28
Amnesia vs Bolot
29
Masih drama
30
Dikerjai Suami
31
Tidak Memiliki Peran
32
Masih Takut Kanjeng Mami
33
Terbongkar Rahasia Sendiri
34
Cemburu Kakak Sendiri
35
Sudah Tahu Tentang Menantu
36
Mulai Diakui
37
Ternyata Kemala
38
Teman Menyebalkan
39
Kinasih atau Keken
40
Pemanasan Sejoli
41
Kanjeng Mami Berulah Lagi.
42
Jangan Kira Matre
43
Menantu Siapa?
44
Kinasih Makin Penasaran.
45
Salah Pengertian
46
Malam Bercocok Tanam
47
Jodoh Salah Alamat
48
Seseorang Tak Disangka
49
Istri Jadi Kaka Ipar
50
Hubungan Silang
51
Lika Liku Asmara
52
Perintah Membingungkan
53
Senjata Makan Tuan
54
Salah Paham yang Rumit
55
Wejangan Jennie
56
Masih Tentang Noda
57
Semakin Ada Jarak
58
Taktik Menukar Kostum
59
Kanjeng Papi Bisa Marah
60
Pertunangan Salah Pasangan
61
Kak Ipar Tak Habis Akal
62
Saling Jaga Gengsi
63
Lumayan Bersuara Sedikit.
64
Hari Yang Panik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!