Bab15
Maruta diantar oleh Keken ke kamarnya. Namun, secara refleks Kinasih ikut juga dan seketika itu ibunya Maruta menegur Kinasih.
"Eh, kamu mau ke mana?" tanya Mami Desi.
Suaranya lembut tapi ada kesan tidak suka.
Cara bicara keluarga itu memang menyenangkan, mungkin karena keturunan ningrat tidak terbiasa dengan nada tinggi atau seperti kelihatan orang marah. Akan tetapi dari gerak-gerik matanya tidak bisa dibohongi, ada sesuatu yang bertolak belakang dengan cara bicara.
Kinasih menoleh, dia gugup. Sesekali menatap Bagas, dia mau bicara bingung. Sesekali juga menatap pada Cesil, berharap ada yang membantu menjawab. Namun, mereka juga bingung sepertinya.
"Maaf nyonya, saya mau ngantar Ma, Eh- Mas Estu ke kamar," jawab Kinasih memberanikan diri.
"Kan sudah ada Keken," ucap Mami Desi.
"E ... t- tapi saya mau merawat Mas Estu."
"Tidak perlu. Kalau di kampung dokter itu kurang berpengalaman, berarti kamu percayakan Estu dirawat dengan baik di sini."
"Bagas. Ikut Mami!" perintah Mami Desi.
Bagas kemudian mengikuti Mami Desi yang akan pergi ke ruang kerja. Sedangkan Kinasih bingung harus bagaimana, dia bertanya kepada Cesil apa yang harus dilakukannya.
Cesil mengantar Kinasih ke dapur, dia memperkenalkan kepada para pelayan yang mungkin jumlahnya ada lebih dari 10 orang. Rumah sebesar itu sepertinya lebih banyak pelayannya daripada tuan rumahnya, itu pikiran Kinasih.
Cesil kemudian memberitahu kepada Kinasih untuk membantu seadanya di dapur, nanti selebihnya tunggu Estu membaik, kedepannya dia akan memberikan arahan berikutnya.
"Maaf, aku hanya bisa membantu segini," ucap Cesil, kemudian dia pamit untuk melakukan tugasnya yang lain.
Kinasih duduk di kursi tempat makan para pelayan, dia termenung sebentar. Tidak disangka jadinya akan seperti ini bahkan, Estu apakah ingat bahwa dirinya datang bersama Kinasih?
'Kenapa Mas Maruta langsung saja pergi, kan bisa menggandengku atau mengajakku terlebih dahulu? Kalau kayak gini aku jadi bingung,' renung Kinasih dalam hatinya.
Kinasih paham Maruta sedang kambuh sakit kepalanya, tapi masa sedikit saja tidak bisa sempatkan untuk mengajak Kinasih ikut dengannya. Kinasih berperang dengan hatinya supaya jangan terlalu berlebihan, dia mencoba untuk tetap berpikir positif.
"Mbak..Mau bantu saya potong kentang-kentang ini?" ucap pelayan yang saat ini sudah membawa wadah besar yang berisi beberapa kentang.
"Eh, b-boleh," ucap Kinasih cukup terkejut, karena dia sedang melamun. Bahkan tasnya juga masih ditentengnya dan saat ini dia taruh di kolong meja.
Setidaknya dengan Kinasih membantu pekerjaan dapur, dia tidak terlalu merasa kesal karena seakan tidak dianggap oleh orang-orang.
*##
"Bagas, Mami ingin tahu bagaimana bisa wanita itu ikut? Sepenting itukah? Kamu sendiri tahu para dokter di kota ini lebih ahli, lebih modern, rumah sakit di sini peralatannya pasti lebih mendukung untuk pemulihan Estu, daripada di kampung. Jadi apa perlunya wanita itu?"
Mami Desi meminta kejelasan dari Bagas. Mami Desi tidak bisa bersikap ramah kepada orang asing yang memang tidak ada tujuannya. Mami Desi seorang wanita ningrat yang berpendidikan. Bukan dia tidak punya belas kasih, tapi cara berpikirnya tentu lebih mengutamakan untung dan rugi.
Jika Kinasih tidak ada sangkut paut dengan keluarganya, tidak ada kontribusinya, lalu buat apa ada di sana? Pelayan semua sudah cukup dengan tugas-tugasnya. Merawat maruta ada tenaga medis, begitupun Keken yang pasti lebih paham dan akan lebih peduli karena dia calon istrinya.
Bagas bingung ingin menjelaskan seperti apa kepada maminya. Jangan sampai Estu baru berasa di rumah ini, maminya malah mendapat kabar buruk karena putra bungsunya ternyata sudah menikah.
"Mih ... mungkin kita pikir dokter memang tenaga medis yang ahli, tetapi aku melihat Kinasih sangat tahu apa yang Estu butuhkan. Bahkan saat akan diajak kemari pun penawaran Estu jika Kinasih tidak ikut maka Estu juga tidak mau ikut dengan kami," papar Bagas..
Meskipun dia tidak tahu apakah alasan yang dibuatnya bisa diterima oleh maminya atau tidak.
"Kok bisa gitu? Palingan orang sakit ya butuh obat, kita bisa memberikannya tidak harus oleh wanita itu. Kalau itu sakit kepalanya kambuh, tinggal bilang mau diapain. Mau diusap? Mau dikompres? Mau dipijit-pijit atau mau langsung ke dokter Nggak guna ada wanita itu di sini," ucap Mami Desi.
Tok!
Tok!
Terdengar suara ketukan pintu seperti terburu-buru.
"Mami!" seru Keken dengan lembut, tapi masih terdengar teriakannya sampai dalam.
Walau dalam keadaan darurat mereka itu tidak dengan suara gaduh, seperti keributan.
Keken yang panik melihat Estu berguling-guling di kasur karena kesakitan kepalanya, dia langsung bergegas ke ruang kerja calon mertuanya. Meskipun begitu tidak memanggilnya dengan teriak karena panik terus menggedor pintu. Itulah wanita ningrat yang masih mengedepankan norma
Mami Desi mendengar ketukan pintu, kemudian bergegas membukanya.
"Ada apa Ken?" tanya Mami Desi.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
$uRa
pulang saja kin...
2023-06-28
0
$uRa
cesil apa keken
2023-06-28
0