Johan benar-benar melaksanakan perintah Aditya,
dia menugaskan satu orang anak buahnya untuk mengawasi Rianti di rumah Nanda.
"Ri, itu orang siapa yaa?? dari tadi aku liat aneh banget mondar-mandir sambil memperhatikan rumah ini." Nanda berkata sambil menunjuk seorang laki-laki berperawakan besar yg tengah menyalakan sebatang rokok tak jauh dari pagar rumahnya.
Rianti menggeleng tak mengerti.
"Aku tidak tau, nggak kenal juga." jawab Rianti namun tiba-tiba Rianti menepuk jidatnya.
"Pasti Aditya." gumam Rianti.
"Hah? apaan?" tanya Nanda yang hanya mendengar gumaman dari bibir temannya itu.
"Aku ke kamar dulu." tanpa menjawab pertanyaan Nanda Rianti pun berlari ke kamarnya.
Wanita itududuk di tepi ranjang dan meraih HP nya yang tergeletak di atas meja.
Menghidupkan HP yang memang sengaja dia matikan guna menghindari telepon dari Aditya yang pasti akan menghubunginya.
Banyak pesan yang masuk setelah dia menghidupkan HP nya, salah satunya dari Sisil.
"Sisil pasti cemas." bisik nya.
Setelah membalas pesan dari Sisil, dia mencari nomor HP Aditya dan meneleponnya.
"Hhmm." suara Aditya ketika menjawab telepon dari Rianti.
"Kenapa kamu menyuruh orang untuk mengawasi aku?!" tanya Rianti yang sudah sangat tahu bahwa Aditya adalah dalangnya.
"Kenapa?!" malah bertanya seolah dia tidak melakukan hal yang salah.
"Kenapa katamu? aku tidak suka di awasi!" bentak r
Rianti kencang.
"Kenapa tidak suka? ooohhh, agar kamu bebas memasukkan laki-laki ke kamarmu tanpa aku ketahui begitu?!" malah menuduh Rianti seenaknya.
"Pikiran picik apa yang ada di kepalamu sebenarnya!" pekik Rianti.
"Picik? aku hanya mengawasi istriku agar tidak sembarangan berpelukan dgn laki-laki lain lagi, seperti yg telah kamu lakukan dengan Rama." sahut Aditya dengan intonasi rendah.
"Istri katamu?? kamu anggap aku istrimu?!"
"Memang kamu istri ku dan akan terus menjadi istriku, jika nanti terbukti anak yang kamu kandung bukan anakku pun, kamu akan tetap istriku dengarkan itu. aku tidak akan pernah menceraikan kamu Rianti!"
"Sudah seperti ini kamu masih juga tidak mengakui anak ini?"
"Bagaimana aku bisa mengakuinya denagn mudah jika kamu saja meninggalkanku!"
"Aditya!" bentak Rianti.
"Kamu bahkan tidakk pernah mau mengerti kenapa aku meninggalkanmu." Rianti berkata dengan emosi yang tertahan.
"Aaahhh sudah aku lelah berdebat dengan mu." ujar Aditya.
"Kamu yang selalu mengajakku berdebat sekarang kamu suruh anak buahmu itu berhenti mengawasi ku." desis Rianti.
"Tidak akan, kecuali kamu kembali ke rumahku." sahut Aditya dengan enteng.
"Buat apa aku kembali? kamu ingin kembali menyiksaku? menyiksa anakku?"
"Kamu tau?! iya aku rindu menyiksamu
rumah sepi tanpa teriakan mu, aku rindu suara tangis mu Rianti." sahut Aditya tanpa berpikir.
"Apa? dasar kamu laki-laki gila!" Rianti menutup teleponnya.
"Kenpa bisa ada orang seperti dia?" batin Rianti tak mengerti.
"Bodoh kenapa aku bilang ingin menyiksanya. jelas dia tidakk akan mau kembali." Aditya melempar HP nya hingga membentur tembok dan hancur.
Kebodohan macam apa yang sekarang ada di dalam kepala seorang Aditya, dengan ringan mulutnya itu berucap rindu mendengar tangisan dari istrinya sendiri, jelas saja jika Rianti semakin tidak ingin kembali ke rumahnya jika saat pergi saja mulut Aditya terus berkoar persis seorang lelaki tidak punya perasaan.
HP miliknya sudah berhamburan tak jelas di atas lantai membuat Johan yang baru masuk lantas matanya tertuju pada benda itu yang entah untuk berapa kalinya dia harus menyiapkan HP baru untuk atasannya itu.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Fiera
udahlah Adit otaknya masih miring belum di benerin ma Rianti
2025-02-27
0
ana Imaa
si adit cocoknya dipanggil psyco
2022-04-13
0
Siti Taslimah
jiwa yg mendendam menghilangkan nuraninya
hmmmmm
2022-03-16
1