Johan baru saja memerintahkan anak buahnya mencari Rianti.
"Cari sampai ketemu, jangan sampai terluka.."
Johan menghela nafas panjang mengurut kening nya yg terasa pusing. entah apa yg akan di lakukan Aditya jika dia menemukan Rianti nanti.
Aditya membawa mobilnya kembali ke rumah,
memarkirkan mobil dan turun dengan cepat menutup pintu kasar dan berjalan masuk menaiki tangga masuk ke kamar mandi lalu cepat berganti pakaian, dia merasa harus pergi ke kantor, bukan untuk bekerja, tapi untuk menemui Sisil dan Rama.
"Mereka pasti tau di mana Rianti sekarang." batin Aditya.
Dengan cepat Aditya membawa mobilnya menuju kantor, pikirannya sudah benar- benar tidak bisa terkendali lagi memikirkan Rianti yg mungkin pergi bersama laki- laki lain.
Sampai di kantor dia masuk ke ruangannya,
Tania menatap heran melihat pakaian bos-nya yang sangat santai saat datang ke kantor, karena tidak seperti ke bisaannya yg selalu terlihat sempurna jika ke kantor.
Sekarang Aditya hanya menggunakan celana panjang hitam dengan kemeja berwarna senada yang lengannya tergulung hingga siku, menggunakan sepatu casual, tanpa memakai jas apalagi dasi.
Tania mengerutkan keningnya.
"Aneh kan? tidak biasanya Pak Aditya ke kantor dengan penampilan yg terlihat sangat santai, tapi wajahnya menunjukkan raut yg tidak bersahabat." begitu ucapan Tania pada teman kerjanya di kantor
mangingat kejadian yang tadi ia lihat.
"Panggil Sisil ke ruangan saya sekarang."
ucap Aditya saat dia melihat Tania sedang duduk di belakang meja kerjanya yg terletak di depan ruangan Aditya.
"Baik Pak." jawab Tania saat itu.
Tak lama pintu ruangan Aditya terbuka
Tania masuk di ikuti oleh Sisil di belakangnya.
"Kamu boleh pergi." kata Aditya pada Tania yg di jawab anggukan kepala sang sekretaris.
"A ada apa ya Pak, Bapak memanggil saya?"
tanya Sisil gugup, dengan matanya terus menunduk menatap lantai tidak berani melihat pada Aditya.
"Rasanya aku tdk melakukan kesalahan, tapi kenapa Pak Aditya memanggil aku ya??" tanya Sisil pada Tania saat sekertaris Aditya itu memberitahunya bahwa dia di panggil Aditya ke ruangannya, saat itu
Tania hanya mengangkat bahu tanda dia pun tak mengerti.
Dan disinilah sekarang Sisil berada, di ruangan Aditya yang rasanya sangat angker bagi dirinya.
Tiba- tiba terdengar Aditya menarik nafas dan berdehem sebelum memulai berbicara.
"Katakan dimana Rianti!" tanya Aditya kemudian
memecah keheningan di dalam ruangan yang terasa sangat dingin itu.
"Di rumah Bapak kan?!" Sisil malah balik bertanya.
Bola mata Aditya menatap tajam mendengar jawaban Sisil.
"Kalau dia ada di rumah saya, saya tidak akan bertanya padamu!" bentak Aditya sambil menggebrak meja yang membuat Sisil terlonjak kaget.
"Sa saya tidak tau Pak." jawab Sisil terbata, tidak menyangka dengan bentakan yang Aditya lontarkan.
"Tidak mungkin kamu tidakk tau!" sorot mata Aditya tajam menatap Sisil seolah Sisil layak untuk dia kuliti.
"Memangnya Tianti kemana Pak?!" Sisil malah bertanya lagi.
"Sudah saya katakan kalau saya tau dia di mana saya tidak akan bertanya!!" Aditya merasa kesal, dia bertanya Sisil malah balik bertanya.
"Sayaa sungguh tidak tau Pak." ucap Sisil yg kini mulai berani mengangkat wajahnya melihat Aditya.
Merasa tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya Aditya berdiri dari kursinya membuat Sisil tercekat dan kaget untuk sebentar dia mengira Aditya akan memarahinya lagi, tapi Aditya justru keluar ruangannya meninggalkan Sisil.
Sisil kembali menarik nafasnya yang tadi sempat ditahan karena takut.
"Memangnya Rianti kemana? kayaknya kemarin aku masih ketemu deh kok sekarang udah menghilang.
sampai suaminya mencarinya seperti ini." gumam Sisil sambil berjalan cepat menuju mejanya, sampai di sana dia langsung mengambil HP nya, mencari nomor Rianti dan meneleponnya.
"Kok nggak nyambung." ucap Sisil ketika terdengar suara operator selular yg menjawab panggilannya.
"Kemana sih kamu Ri?" Sisil merasa sangat cemas dengan temannya itu.
Aditya melangkah menuju ruangan Rama,alu masuk tanpa mengetuknya lebih dulu. Rama yg melihat ada org yang dengan tiba- tiba membuka pintu ruangannya tanpa permisi hendak marah, tapi begitu melihat Aditya yang masuk dia menahan amarahnya.
Aditya masuk dengan derap kaki yang tegap menghampiri Rama yg sedang duduk di kursinya mengerjakan pekerjaannya.
Aditya serta Merta menarik kerah baju arama dan memberi bogem mentah yang tidak sempat di hindarinya karena sangat tidak di sangkanya Aditya yang tiba-tiba saja memukulnya.
"Katakan dimana kamu sembunyikan Rianti?"
tanya Aditya tanpa melepaskan tangannya dari kerah baju Rama.
Rama mengernyitkan kening bingung, bukankah semalam dia sudah mengantarkan Rianti ke rumahnya. pikir Rama.
"Mana aku tau, kamu kan suaminya harusnya kamu lebih tau dimana istrimu."
Jawaban rmRama semakin membuat emosi Aditya tinggi. dia kembali meninju perut Rama yang membuat laki-laki itu tersungkur ke lantai.
"Aku melihatmu bersamanya semalam! kamu pasti membawanya pergi!" seru Aditya.
"Aku mengantarnya, bukan membawanya! jika dia pergi setelah aku antar pulang, aku tidak tau!" Rama balik memukul Aditya.
"Kamu ini suaminya, harusnya kamu menjaganya bukan malah asik menyiksanya!" lanjut Rama ketika dia mengingat memar yang dilihatnya di wajah Rianti kemarin.
"Istrimu hamil!! itu anakmu seharusnya kamu jadi laki-laki bertanggung jawab.
"Itu bukan anakku." Jawaban pelan Aditya sukses membuat Rama semakin marah dan terus meninju wajah Aditya tanpa henti.
Bugghh..
Bugghh...
Darah pun keluar dari bibir Aditya.
"Laki-laki macam apa kamu? kalau kamu tidak mencintainya lepaskan dia masih ada laki- laki lain yang bisa menjaganya." bentak Rama.
"Termasuk kamu kan?" ucap Aditya sambil menunjukkan senyuman sinisnya.
"Kamu mencintai istriku kan? tapi sayang dia lebih mencintaiku dan karena itu kamu menghamili istriku untuk mendapatkannya bukan?!"
Tuduhan Aditya semakin membuat Rama murka dan tak terkendali.
"Itu anak mu. anak mu bodoh! Rianti bukan wanita murahan yg bisa ditiduri dengan mudah oleh laki- laki yang bukan suaminya." bentak Rama sambil terus maninju wajah Aditya.
Sedangkan Aditya hanya diam tak membalas atau menangkisnya.
"Cari dia, jika kamu tidak mencarinya, aku yg akan mencarinya dan membuat dia menceraikanmu dan benar-benar pergi dari hidup mu!" ujar Rama sambil berdiri meninggalkan Aditya yang masih terduduk di lantai dengan darah yg mengalir dari bibir dan hidungnya.
Lihatlah wajah Aditya sekarang yang sudah babak belur di hajar oleh Rama tanpa ampun.
Rama menatap Aditya dari mejanya dengan tatapan tak percaya, kenapa Aditya bisa berubah kejam seperti ini.
Rama menarik nafas "semua ini karena Melly." gumam Rama yang tak mungkin di dengar Aditya.
Wajah tampan Aditya berubah menakutkan karena di penuhi memar dan darah.
Aditya menunduk tercekat dengan kata-kata yang diucapkan oleh Rama.
"Apa aku harus menceraikannya?!" tanya Aditya pada hatinya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Fiera
begini nih kalo dibutakan oleh rasa cemburu
2025-02-27
0
Duriah Riska
jangan sama Rama lah itu bakal menjadikan asumsi Aditya kalo rianti bnrn selingkuh ma Rama,,,lagian kenapa juga Rama GK ngmng kalo itu ulah Mely muter"kaya sinetron ikan terbang ketauanny di akhir🙄
2023-01-13
0
Lisdayanti Londak
kok adik sampai goblok begitu... kurang apa lgi ejelasan dari Rama
2022-01-20
1