Rianti masih meringkuk menangis di ujung ranjang sampai terdengar dering HP.
Sisil yang menelepon terlihat dari namanya di layar
dengan malas wanita itu menjawab tlp dari Sisil.
"Hallo Ri, jadi kan yaah? aku udah izin kantor setengah hari. nanti tunggu aku, daaah." Sisil mematikan tlp nya tanpa menunggu jawaban Rianti.
Terrdengar tarikan nafas yang sangat berat dari Rianti, meskipun akhirnya ia lalu turun dari ranjang dan berdiri di depan cermin menatap wajahnya yg penuh luka seperti kata Adit tadi.
"Bagaimana aku bisa keluar dengan wajah seperti ini? Sisil pasti akan bertanya." batin Rianti, sambil melangkah ke kamar mandi.
Namun tiba- tiba dia merasa pusing dan terhuyung, hampir saja dia terjatuh kalau tidak berpegangan pada meja rias.
"Kenapa kepalaku pusing sekali." sambil memijit keningnya.
"Ini pasti karena tadi kepalaku membentur lantai." ucap Rianti menyentuh pelipisnya yg memar, dia meringis karena merasakan sakit saat menyentuhnya.
Sambil mengerjapkan matanya agar pandangannya kembali normal dia melangkah ke kamar mandi.
di kamar mandi dia membuka pakaiannya dan memperhatikan tangan dan kakinya yg memar.
memejamkan mata menarik nafas dalam.
"Menikah denganmu membuatku sakit Dit, bukan hanya hatiku, tapi seluruh tubuhku pun kau hancurkan. apa aku salah mencintaimu?" Rianti berkata lirih.
Air matanya pun kembali membasahi wajahnya.
"Aku harus kuat, aku pasti bisa menjalani ini semua." batin Rianti menguatkan dirinya sendiri.
Dia bergegas membersihkan dirinya, dan memakai baju lalu berdandan.
Menyapukan bedak di wajah nya, berusaha menyamarkan memar- memar yg menghiasi wajah cantiknya.
"Kenapa masih saja terlihat?" gumam Rianti, karena usahanya sia- sia, bedak yg dia sapukan di wajahnya tidak mampu menutupi memar dengan sempurna, malah makin terlihat aneh.
"Wajah ku terlihat sangat menyedihkan." Rianti tersenyum kecut.
Rianti meraih Tas nya dan berjalan keluar kamar menuruni tangga.
"Kamu sudah datang Ti?" kata Rianti saat melihat Siti tengah mencuci piring.
Siti memang tidak menginap karena dia punya anak yang masih kecil, untung nya rumah Siti pun tidak jauh dari komplek rumah Aditya jadi memungkinkan nya untuk datang pagi dan pulang sore.
"Iya Bu, Ibu mau kemana?" tanya Siti saat di lihatnya Rianti sudah rapi dan menenteng Tas.
Rianti mengerti dengan pertanyaan Siti, karena dia tau Aditya menugaskan Siti untuk melarang Rianti keluar dari rumah.
"Aku ada urusan sebentar."
"Ta tapi Bu."
"Aku akan kembali sebelum Bapak pulang." kata Rianti menjawab ke khawatiran yg terlihat di wajah asisten rumah tangganya itu.
"Bu."
"Aku tau Bapak melarang keluar tapi aku akan kembali dengan cepat." lanjut Rianti meyakinkan Siti.
"Baiklah Bu." Siti akhirnya membiarkan Rianti keluar, karena dia pun sebenarnya merasa kasihan melihat majikannya di kurung di rumah
tapi dia juga tidak bisa membantah Aditya, karena di rumah itu ia hanya bekerja dan di bayar.
"Ya sudah aku berangkat."
"Iya Bu hati- hati." jawab Siti.
Rianti menengok dan hanya tersenyum.
Rianti sedang menunggu taksi yg tadi di pesannya sambil melihat pesan dari Sisil.
"Lagi di mana?"
"Tunggu taksi." balas Rianti dan saat tak lama kemudian taksi yg di pesannya datang.
"Oke." balas Sisil.
Rianti menaiki taksi dan memberitahukan tujuannya pada supir.
"Baik Bu." jawaban dari supir taksi di depannya.
Rianti melayangkan pandangannya keluar kaca mobil menatap langit yg terlihat teduh sambil menarik nafas dia kembali merasakan kepalanya pusing dan sedikit mual.
"Mungkin aku masuk angin, karena tadi tidak sarapan." pikir Rianti.
Tak terasa taksi berhenti di depan cafe tempat Sisil menunggu, Rianti membayar taksi dan bergegas turun sambil mengucapkan terimakasih pada sang supir.
Wanita itu melangkah mendekati Sisil yg sudah melambaikan tangannya dari kejauhan.
"Apa kabar sayaang? aku kangen." seru Sisil sambil berdiri memeluk Rianti yg sudah di depannya.
"Baik, kamu gimana?" tanya Rianti sambil membalas pelukan Sisil dan tersenyum tipis.
"Aku selalu baik dong." Sisil sambil tertawa riang karena bisa bertemu dengan temannya.
"Ya udah ayo duduk, kamu mau pesan apa?"
tanya Sisil seraya menarik lengan Rianti untuk duduk di dekatnya.
"Apa aja deh Sil." sahut Rianti memasrahkan pesanannya pada sang teman.
"Vanilla Latte yaa? kesukaanmu." Rianti hanya tersenyum mengangguk.
"Vanilla Latte 1 sama Caramel Macchiato 1." ucap Sisil pada pelayan yg sedang mencatat pesanan mereka.
"Makanan nya apa Ri?" tanya Sisil seraya membolak balik buku menu di tangannya.
"Nanti aja deh Sil."
"Ya udah Mbak itu aja dulu." ucap Sisil pada pelayan.
"Baik." jawab pelayan lalu melangkah pergi menyiapkan pesanan mereka.
"Ri, wajahmu kenapa?" tanya Sisil, sebenarnya sejak Rianti duduk Sisil ingin menanyakan ada apa dengan wajahnya tapi keburu pelayan datang.
"Hah? ada apa memangnya?" jawab Rianti berusaha santai agar Sisil tidak curiga.
"Itu pelipis mu memar, pipi mu juga merah matamu juga sembab."
.
"Eh masa sih?" Rianti bersandiwara bingung.
"Iya, kenapa?" Sisil semakin curiga.
"Emm, apa mungkin karena tadi aku terpeleset di kamar mandi dan kepalaku kena bak mandi jadi memar." Rianti sambil meremas tangannya di bawah meja.
"Yakiiin?" sorot mata Sisil telihat tidak percaya.
"Iya, yakin Sil."
"Lalu kenapa matamu sembab? tidak mungkin kan terpeleset di kamar mandi membuat mu menangis sampai matamu sembab seperti itu?" tanya Sisil yang seperti masih curiga.
"Bukan juga karena Aditya kan?!" lanjut Sisil.
"Eeh kok jadi Adit siih? ya bukan lah."
obrolan mereka terhenti saat pelayan datang.
"Sil.. gimana tunanganmu? kapan mau nikah?"
Rianti mengubah topik pembicaraan mereka.
"Kayaknya masih lama Ri, sekarang aja Beni lagi di tugasin di luar kota." jawab Sisil sambil meraih cangkir Caramel Macchiato nya.
"Eh nge mall yuk?" ajak Sisil kemudian,
Rianti hanya mengangguk mengikuti Sisil yang dengan cepat menarik tangannya keluar cafe setelah membayar.
Di Mall mereka berkeliling sampai tak terasa wktu sudah sore membuat mereka harus menyudahi petualangan mereka di Mall.
"Sil.. pulang yuk." ajak Rianti
"Hmm, padahal aku masih kangen." ucap Sisil sambil memeluk Rianti.
"Kan nanti bisa ketemu lagi." jawab Rianti.
"Aku antar yaa?" tawar Sisil.
"Nggak usah Sil, aku tau jalan kok aku bukan anak kecil." Rianti tertawa melihat Sisil yang seketika cemberut.
"Ya udah hati-hati kalau gitu yaa." ucap Sisil kembali memeluk Rianti.
Kedua wanita itupun berpisah di depan Mall.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Fiera
baca lagi untuk kesekian kalinya, karena kangen Adit ma Rianti
2025-02-27
0
Mbr Tarigan
kalau rianti kan jelasaas sekali perempuan bodoh makanya mau saja jadi sansak tinju pokoknya nikah deh tak apa tahankan saja
2023-05-14
0
Wunisakka
ada dendam kah Aditya dengan Rianti 🤔? Kejam amat 🥺 amat aja tidak kejam😌🤭
2023-04-24
0