Begitu Aditya pergi, Nanda menghampiri Ranti yang masih bersimpuh di lantai membantunya berdiri.
"Ri, kenapa suamimu lebih mirip seorang mafia dari pada pemilik perusahaan besar." ucap Nanda membayangkan wajah Aditya yang babak belur seperti habis bertempur dengan musuh bebuyutannya.
Rianti yang mendengar perkataan Nanda hanya tersenyum.
"Dia bilang apa tadi?" tanya Nanda penasaran.
"Tes DNA."
"Haaaah, wah gila nih laki! waktu meniduri mu dia sadar Nggak siihh? aneh amat masa minta tes DNA segala."
"Dia sedang mabuk waktu itu." Rianti menjawab pelan sambil menunduk merasakan air matanya yang sudah memenuhi kelopak mata.
"Ehh, serius? tapi seenggaknya dia taulah yang di tidurinya itu kamu, istrinya sendiri."
"Iya, dia tau Nan hanya saja dia menuduhku telah tidur dengan laki-laki lain juga."
"Terus kamu turutin permintaan anehnya itu?"
"Terpaksa." jawab Rianti dramatis.
Nanda memutar bola matanya kesal pada suami Rianti.
"Kamu nggak minta cerai aja?! aku sih nggak akan kuat ya punya laki kayak suamimu itu, tampan sih tapi nyeremin." kata Nanda sambil bergidik ngeri.
"Aku sudah pernah meminta cerai, tapi dia tidak mau."
Mulut Nanda menganga tak percaya.
"Aneh nih laki, beneran deh, cinta nggak, anaknya sendiri juga nggak di akuin, tapi nggak mau nyerein,
otaknya setengah kayaknya Ri suamimu itu."
Rianti tersenyum kecut mendengar perkataan Nanda sambil membenarkan bahwa suaminya itu memang aneh, dulu memaksanya untuk menikah tapi ketika sudah menikah malah seperti ini sikapnya.
Di perjalanan Aditya terus memikirkan perkataan Rianti.
"Jika anak ini adalah anakmu, kamu pun boleh membunuhku."
ucapan Rianti masih terus terngiang.
"Han."
"Iya Pak."
"Apa aku terlalu keras padanya?!" Aditya malah melontarkan pertanyaan gila, sudah jelas dia sangat kasar pada Rianti tapi masih saja bertanya seperti itu.
Johan mengerti yang di maksud Aditya adalah Rianti.
"Pak anda bukan hanya keras, tapi jg kejam."
ingin rasanya Johan mengeluarkan kata-kata ini agar Aditya mendengar dan menyadari kesalahannya, tapi tidak dia lakukan karena dia tau tuan nya itu pernah merasakan kecewa yang mendalam terhadap wanita, namun salahnya dia adalah melampiaskan kemarahannya pada wanita lain yang tidak tau apa-apa tentang masa lalunya.
"Pak sebaiknya anda bersikap lebih baik pada Ibu mengingat Ibu yang sekarang tengah mengandung anak Bapak." ucap Johan sambil matanya terus memperhatikan jalan.
"Itu kan belum tentu anakku." Aditya masih ngotot tidak mau mengakui.
Johan menarik nafas.
"Kenapa anda jadi sangat keras kepala sekali."
batin Johan.
"Itu pasti anak Bapak, Ibu tidak mungkin berani melakukan hal aneh." Johan meyakinkan Aditya.
"Sudahlah, berbicara denganmu juga percuma kamu malah membela Rianti, Bos mu itu saya Han, bukan Rianti, kenapa kamu malah terus membelanya."
ucap Aditya sengit.
Entah kenapa saat seperti ini sifat kekanakannya malah muncul.
"Baik Pak." Johan tidak ingin menjelaskan lagi pada Aditya, terserah dia sajalah kalau benar itu anaknya, dia sendiri yg akan menyesal, begitu pikiran Johan.
Tak lama mobil berhenti ketika sudah sampai di depan gerbang rumah Aditya.
Aji dengan sigap membukakan gerbang dan mobil bergerak masuk.
Johan keluar dari kursi pengemudi dan dengan cepat membukakan pintu penumpang, Aditya turun dari mobil dengan wajah yg masih babak belur tidak mau diobati, sebenarnya semenjak dalam perjalanan tadi Johan sudah mengajaknya untuk pergi ke Dokter mengobati lukanya tapi Aditya menolak.
"Han." panggil Aditya.
"Iya Pak." Johan menghampiri Aditya yang sudah menghentikan langkahnya dan berdiri di depan pintu masuk.
"Kirim orang untuk mengawasi Ranti, jika ada laki-laki yg menemuinya segera beritahu saya."
"Baik Pak." Johan menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti.
Jika memang tidak mencintainya kenapa tidak suka ada laki-laki yg mendekati istrinya, Johan merasa aneh dengan sikap Aditya.
Di kamarnya Aditya sedang duduk di tepi ranjang,
memperhatikan sekeliling kamar yg di rasanya sepi. dia mulai merasa aneh biasanya saat dia pulang Rianti baru selesai sholat. belum lama Ranti pergi dia sudah merasakan sepi.
"Bodoh, buat apa aku memikirkan wanita itu."
Aditya memukul kepalanya sendiri "Kamu tidak mungkin merindukanny Aditya."
dia berbicara pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, Melly masuk sambil berlari dan langsung memeluk Aditya.
Entah bagaimana caranya wanita itu bisa masuk.
"Adit, kenapa kamu harus berkelahi dengan Rama?!
lihatlah wajah mu sekarang."
ucap Melly sambil memegang wajah Aditya.
Aditya menghindari tangan Melly agar tidak menyentuh wajahnya.
"Apa kamu tidak punya sopan santun, masuk ke kamar orang tidak mengetuk pintu lebih dulu." kesal Aditya
"Dulu juga aku selalu seperti ini kan? dan kamu tidak pernah protes, apalagi marah."
"Itu dulu, jangan kamu samakan lagi!"
"Dit, sudahlah hentikan marahmu padaku aku minta maaf."
Aditya menyeringai.
"Semudah itukah kamu minta maaf?!"
Melly masih terus memeluk Aditya.
"Singkirkan tanganmu dariku." kata Aditya dingin, karena masih merasakan tangan Melly memeluknya.
Bukannya melepaskan tangan Melly malah berpindah merangkul leher Aditya.
"Aku mencintaimu Dit, akupun tau kamu masih mencintaiku." Melly di berbisik di telinga Aditya,
hembusan nafasnya membuat Aditya merinding.
Tangan Melly terus berjalan menyusuri leher Aditya,
bibirnya pun mulai berani mencium bibir Aditya,
walaupun Aditya tidak membalasnya dia terus mencium Aditya, lalu menindih tubuh Aditya di atas ranjang.
"Lakukanlah Dit, aku tau kamu menginginkannya.
Melly masih terus memaksa Aditya.
Aditya menyingkirkan tubuh Melly ke ranjang.
"Kamu tau aku tidak pernah menyentuh wanita yang tidak ada ikatan apapun denganku di atas ranjang."
ucap Aditya seraya kembali duduk.
"Kalau begitu jadikan aku istrimu agar kita bebas melakukan apapun."
"Aku punya istri." kata Aditya dingin menatap Melly.
"Kamu bisa menceraikannya." perkataan Melly membuat mata Aditya nyalang padanya.
"Kamu gila, kam tidak punya perasaan?! istriku hamil dan kamu memintaku menceraikannya hanya untuk wanita sepertimu!" serang Aditya tajam.
"Tapi kamu tidak mencintainya, kamu hanya mencintaiku." ucap Melly sambil berusaha merangkul Aditya.
"Jangan terlalu percaya diri." ucap Aditya seraya bangkit dari ranjang menyeret Melly keluar.
"Jangan pernah kembali ke rumah ku lagi aku sudah melupakanmu!"
Kata Aditya tegas sambil menghempaskan Melly ke luar kamarnya dengan kasar membuat wanita itu jatuh tersungkur.
Aditya menutup pintu kamar dengan sangat keras
sedangkan Melly hanya memperhatikannya.
"A apa yg dia ucapkan tadi?!" Melly bertanya pada dirinya sendiri.
"Dia tidak mencintaiku lagi?" sungguh Melly tidak percaya dengan yang baru saja ia dengar, lalu wanita itupun bangun berdiri dan berjalan meninggalkan kamar Aditya.
"Aku akan terus mengusik rumah tanggamu Dit, sampai kamu menceraikan wanita itu, dan kembali padaku." Melly tidak terima Aditya berkata sudah melupakannya.
"Wanita brengsek masih terus manggangguku apa dia tidak menyadari perbuatannya."
ucap Aditya mengepal tangannya.
"Aku tidak akan pernah menceraikan Rianti sampai kapanpun." janji lelaki itu dengan rahangnya yang mengeras.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 167 Episodes
Comments
Fiera
itu yang aku suka dari Aditya, walaupun sikapnya begitu tapi dia gak mau tidur dg wanita lain selain istri nya, karena dasarnya dia orang baik yang berubah karena tersakiti
2025-02-27
0
listiya
am mantan x GK bisa mukul am bini nya d pukul terus 😠,, GK ngotak
2022-02-18
1
Lisdayanti Londak
knp ga Melly aja yg kamu siksa orang dia 6g buat kamu sakit hati
2022-01-20
2