Setahun sudah Jingga menyelesaikan dua kesaktian yang diberikan oleh kedua gurunya.
Suatu hari ketiganya bercengkrama di bale bambu sambil menikmati teh dan rebusan ketela.
Kedua gurunya menceritakan tentang kisah perjalanan hidupnya sebagai seorang kultivator sampai pada pertemuan keduanya hingga menikah dan menetap di hutan bambu merah.
Setelah selesai bercerita, Zhen Lie dan Luo Xiang saling bertatap muka lalu keduanya mengangguk.
Jingga menatap keduanya dengan heran, namun ia penasaran akan apa yang akan disampaikan oleh kedua gurunya.
"Jingga, sudah tidak ada lagi yang bisa kami berikan kepadamu, kau boleh mencari guru lain dimana pun yang kau inginkan untuk meningkatkan kemampuanmu, akan tetapi selamanya tempat ini adalah rumahmu, kau boleh kemari kapan pun sesuka hatimu" ucap Zhen Lie menatapnya dengan serius.
"Betul kata paman gurumu, bukan berarti kami mengusirmu, sesungguhnya kami sudah menganggapmu sebagai anak kami sendiri, seperti yang sudah kami ceritakan kepadamu, dunia ini begitu luas, kau harus menjelajahinya, bukankah kau pernah bilang ingin menjadikan dunia damai tanpa perang, maka wujudkanlah itu" sambung Luo Xiang.
Jingga sudah menyadari akan datangnya hari ini, ia sudah siap menghadapinya dari jauh hari ketika ia menerima tawaran paman gurunya.
"Paman guru dan bibi guru, kalian terlalu berlebihan mengatakan itu, tapi aku mengerti karena kalian menyayangiku, aku sudah berniat mengatakannya dari hari kemarin, tapi malah kalian berdua yang mendahuluiku mengatakannya.
Aku berterima kasih kepada kalian berdua untuk semuanya, aku akan selalu kembali mengujungi kalian berdua ketika aku sempat" Ucap Jingga menimpali.
Esok harinya Jingga berpamitan kepada kedua gurunya.
"Ayah, ibu, Aku pamit, jaga diri kalian dengan baik" ucapnya berpamitan lalu menundukkan kepalanya.
Kedua gurunya terdiam mendengar kata kata pemuda yang telah tinggal setahun bersamanya menyebut keduanya sebagai ayah dan ibu.
Luo Xiang langsung berlari menghampiri Jingga lalu memeluk dan mencium keningnya.
"Ingatlah kami selalu anakku" ucapnya lalu melepaskan pelukannya.
Jingga mengangguk lalu pergi meninggalkan keduanya.
Berada di luar hutan bambu merah, Jingga melirik kiri kanan area hutan tersebut, ia merasa aneh dengan hutan yang tidak dikenalinya.
"Kenapa aku tidak tahu keberadaan hutan ini?" Tanya pikirnya yang selama setahun tidak pernah meninggalkan hutan bambu merah.
"Apa aku harus balik lagi bertanya kepada ayah ibuku?, Tapi kan aku sudah pamit, tak elok rasanya harus balik lagi hanya untuk menanyakan jalan, ya sudahlah biar kedua kakiku saja maunya kemana" imbuh pikirnya yang akhirnya terus melanjutkan perjalanannya.
Di hutan bambu,
"Suamiku, kenapa kau tidak memberitahunya jalan mana yang harus dia tempuh untuk bisa keluar dari hutan luar sana, nanti dia malah berputar putar di hutan" tanya Luo Xiang yang baru mengingatnya.
"Kau tadi terlalu dramatis menyikapi kepergian Jingga, tapi tenang saja, yang lebih sulit itu menemukan hutan bambu merah ini, dia pasti menemukan jalannya" jawabnya lalu mengajak istrinya kembali ke bilik rumahnya.
Jingga terus berkelebat dari satu pohon ke pohon lainnya seperti seorang ninja.
Dengan kemampuannya sekarang, ia tidak perlu lagi merasakan kebosanan menelusuri hutan yang luas seperti waktu kecilnya.
Setelah menempuh waktu sekitar satu jam, ia berhenti di salah satu pohon.
"Hutan apa ini?, Sudah berlari dengan cepat masih juga belum ketemu batasnya" tanya pikirnya sambil memperhatikan area di sekitarnya.
"Sepertinya ada yang datang" gumamnya lalu memanjat pohon dan bersembunyi di salah satu dahan.
"Kenapa susah sekali menemukan dua pendekar bayangan itu?" Tanya seorang pria yang terlihat masih muda.
"Entahlah, aku juga sudah lelah mencarinya, tapi kita tidak bisa pulang sebelum menemukan jejaknya" jawab seorang pria dengan rambut diikat.
"Sudahlah, tidak ada untungnya mengeluh, lebih baik kita terus menyusuri hutan ini" timpal seorang pria yang kedua matanya hanya menyisakan garis tipis.
"Kalian tahu, wanita pendekar bayangan itu walau pun sudah berumur tapi wajahnya masih sangat menawan, ah aku sungguh terpesona padanya" celoteh seorang pria pendek yang perutnya buncit membayangkan sesuatu yang jorok.
"Hus, jangan asal bicara, kalau keduanya tahu, kita bukan tandingannya, tapi darimana kau mengenalnya?" Timpal pria yang rambutnya diikat menanyakan.
"Waktu aku ikut mengepungnya di kota Lintang, aku sampai tidak tega memukulinya" jawab pria pendek yang buncit mengenangnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan ketika wanita itu berhasil ditangkap?" Lanjut pria yang diikat kembali bertanya.
"Tentunya aku akan membuatnya merasakan surga dan menghamilinya, seperti yang kita tahu, pasangan pendekar bayangan itu tidak memiliki keturunan, kalian tahu apa maksudku?" Tanya pria buncit sambil tertawa.
"Maksudmu suaminya mandul?" Tanya mereka bersamaan.
"Ha ha ha ya itu maksudku" sahut pria buncit yang membuat semuanya tertawa.
"Kalian berdua seperti tidak punya adab memiliki pemikiran kotor seperti itu, tapi kalau benar, aku juga mau" potong pria mata garis yang kembali membuat keempatnya tertawa.
Sementara pria yang paling muda hanya bisa tertawa mendengar celotehan ketiga seniornya.
Jingga yang mendengarkan mereka dari atas langsung melompat turun.
"Siapa kau?" Tanya pria buncit yang terkejut dengan kemunculan seorang pemuda yang terlihat aneh secara tiba tiba.
"Aku adalah Jingga putra dari pendekar bayangan, aku akan memastikan kau menutup mulut busukmu itu selamanya" jawabnya sambil menarik pedang dari sarungnya.
Keempat pria tadi sontak tertawa terbahak bahak, merasa lucu dengan ucapan seorang pemuda yang dilihat dari manapun tidak ada kemiripan dengan orang benua matahari apalagi dengan sepasang pendekar bayangan.
"Hei manusia aneh, apakah kepalamu terbentur sesuatu?, Saranku sebaiknya kau mencari tabib untuk mengobati kebodohanmu itu" ujar pria yang rambutnya diikat memberi saran. Teman teman yang lainnya kembali tertawa terbahak bahak.
"Aku akan membiarkan kalian semua tertawa sepuasnya, karena ini yang terakhir kalinya kalian bisa tertawa" sergah Jingga yang sudah dalam posisi kuda kuda.
Keempat pria tadi semakin menjadi jadi tertawa sampai keempatnya memegangi perut karena terus tertawa.
"Sudah teman teman, tahan dulu tertawanya" pinta pria pendek buncit yang dirinya sendiri sulit menghentikan tawanya.
"Hei manusia aneh, terima kasih kau sudah menghibur kami yang selama ini suntuk mencari pendekar bayangan, sebaiknya kau pergi saja, kami tak bisa melawan orang tanpa kultivasi, hanya mengotori tangan kami saja" imbuh pria pendek buncit yang kembali tertawa melihat pemuda di depannya.
Jingga langsung mengayunkan pedangnya menebas leher pria buncit yang seketika kepalanya terjatuh.
Tiga pemuda yang terus tertawa langsung diam melihat kepala temannya jatuh menggelinding.
"Kau, apakah kau yang memenggal kepala teman kami?" Tanya pria paling muda tidak percaya pemuda di depannya dengan cepat memotong leher temannya.
Srat set set
Tiga kepala dari ketiganya jatuh ke tanah tanpa memiliki waktu untuk bertindak.
"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang ha ha ha" kekeh Jingga lalu meninggalkan mayat keempatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
aa_kardi
it's showtime
2023-07-28
1
tirta arya
mantapppp..ayoi bantai semua jingga😝😝😝😝😝
2023-03-15
1
Mom La - La
CINTA 3 SERANGKAI mampir lgi ya...
2023-02-16
2