Jingga kembali menyandarkan kepalanya di dada kakek Zhang.
"Kakek harus janji padaku tidak akan pernah meninggalkan diriku" pinta Jingga penuh harap.
"Ya, kakek akan berusaha untuk itu" jawab kakek Zhang tanpa ekspresi.
"Kakek sudah mengantuk, ayo kita tidur" imbuh kakek Zhang mengajaknya, namun Jingga sudah terlelap duluan dalam dekapan kakek Zhang.
"Anak ini, cepat sekali tidurnya" gumam kakek Zhang pelan lalu membaringkan Jingga di samping nya.
Kakek Zhang sebenarnya belum mengantuk, dirinya masih merasakan dilema dalam pikirannya.
"Kenapa perasaan ini tidak menghilang? Apa yang akan terjadi padaku kelak?" Keluhnya dalam hati.
Kakek Zhang berbaring menatap langit-langit kamarnya, pikirannya terus memikirkan apa yang ia rasakan saat ini.
Hingga ia tak sadar, airmatanya menetes membasahi pipi.
Ia merasa malu di usianya yang sudah mendekati kematian, ia malah menangis pilu dalam lamunan lalu menutup kedua matanya.
"Bangunlah Zhang'er" suara seseorang memintanya, kakek Zhang terkejut dalam lamunannya, ia memindai keberadaan seseorang di dekatnya, namun usahanya selalu gagal.
"Siapa kau? Tunjukkan dirimu?" Tanya kakek Zhang yang baru kali ini ia merasakan ketakutan.
Tak berselang lama, muncul sosok seseorang berpakaian serba putih duduk di kursi membelakanginya.
"Sa- sang petapa, maafkan aku" ucap kakek Zhang dengan terbata lalu menghampirinya.
Betapa terkejutnya kakek Zhang ketika melihat wajah sang petapa, ia begitu mengenalinya.
"A Ayah" ucapnya dengan spontan kakek Zhang langsung bersujud di depan ayahnya.
"Bangunlah Zhang'er" pinta sang petapa.
"Apakah kegelisahanku berkaitan dengan kedatangan Ayah, kenapa harus gelisah?, Bukankah seharusnya perasaanku bahagia" tanya kakek Zhang mengaitkan perasaannya.
"Bukan itu anakku, aku datang karena terkait dengan anak yang berbaring di ranjang" jawab sang petapa.
"Maksud Ayah?" Tanya kakek Zhang bingung.
"Anak itu akan menjadi kunci kehancuran alam semesta, itu sudah menjadi takdirnya" ujar sang petapa mengabarinya.
"Tidak, aku tidak akan membunuhnya untuk mencegah kehancuran semesta" timpal Kakek Zhang menanggapi maksud sang petapa.
"Aku tidak memintamu membunuhnya, kau jangan cepat menyimpulkan, tenang saja" timpal sang petapa lalu berdiri menghampiri Jingga yang sedang tidur.
"Ayah, apa yang akan Ayah lakukan?" Tanya kakek Zhang merasa khawatir.
"Aku akan melindungi hatinya" jawab sang petapa lalu memasukkan sesuatu ke dalam tubuh Jingga, kemudian berbalik menatap kakek Zhang.
"Maafkan aku tidak bisa menolongmu" imbuh sang petapa lalu menghilang dari pandangan kakek Zhang.
Dengan memikirkan apa yang diucapkan oleh sang petapa yang tidak lain ayahnya sendiri, kakek Zhang meyakini kematiannya sudah dekat, ia tidak khawatir soal itu karena usianya memanglah sudah cukup, namun yang ia khawatirkan adalah cucunya Jingga.
Ia bingung dengan apa yang disampaikan oleh sang petapa tentang cucunya yang menjadi kunci kehancuran semesta.
"Aku berpikir kegelisahan ini tentang diriku, namun ternyata terkait dengan cucuku" gumamnya dengan ekspresi yang sedih.
Esok harinya, kakek Zhang dan cucunya Jingga sama-sama terbangun di siang hari, keduanya saling tatap dan tertawa.
"Sebagai seorang Jenderal, kakek menurunkan wibawa kakek dengan bangun siang, bukan contoh yang baik" ejek Jingga sambil mengelus dagu seolah memiliki janggut panjang seperti kakeknya.
"Kau ini, tapi kakek tidak peduli ha ha ha" timpalnya yang membuat keduanya kembali tertawa.
"Kek, berapa lama lagi kita akan sampai di Matahari?" Tanya Jingga salah menyebut.
"Kakek tidak pergi ke Matahari, panas Cu" jawab kakek Zhang.
"Nyebelin, huh!" Dengus Jingga sambil membuang muka.
"Ha ha ha" kakek Zhang terus tertawa melihat tingkah Jingga yang membuatnya gemas.
"Sudahlah, aku mau membersihkan badan" ucap Jingga dengan mimik wajah yang masam pergi meninggalkan kakeknya yang terus tertawa.
"Sudah waktunya aku menyerahkan semua harta penyimpananku kepada cucuku" gumam kakek Zhang yang seketika terdiam menunggu cucunya selesai mandi.
"Kakek, kenapa melamun?" Tegur Jingga.
"Tidak apa-apa cu, kau cepat sekali mandinya?" Jawab kakek Zhang balik bertanya.
"Yang penting kan bersih dan segar he he" timpal Jingga.
"Sini duduk, kakek mau memberikan sesuatu padamu" ucap kakek Zhang sambil menepuk dipan kayu.
Jingga lalu duduk sambil memikirkan apa yang akan kakeknya berikan kepadanya.
Kakek Zhang melepaskan cincin spasialnya lalu meraih tangan mungil Jingga dan sedikit menggores jari cucunya dengan kukunya.
"Aw" respons Jingga kesakitan.
Darah menetes ke cincin spasial lalu dengan menambahkan sedikit energi kakek Zhang memasangkan cincin spasial di jari manis cucunya.
Jingga heran melihat cincin mengecil masuk ke dalam jarinya membuat satu garis tipis seperti sebuah tato.
"Setelah nanti kau berkultivasi, kau akan bisa menggunakannya, di dalamnya juga ada token kekaisaran xiao, kau bisa menemui pangeran Xiao Mai, ada satu hal yang harus kau ingat dengan baik, jika suatu saat nanti kau mengalami hari terburuk dalam hidupmu, pergilah ke puncak gunung Himalaya, temui sang petapa di sana, bilang kau adalah cucu kakek, mengerti?" ucap kakek Zhang mengingatkannya.
"Iya kakek, aku mengerti" sahut Jingga sambil mengangguk.
"Kau tunggu kakek membersihkan diri, nanti kita sama-sama keluar untuk makan" imbuhnya.
Jingga mengangguk lalu duduk di kursi dengan kedua tangannya menopang dagu.
"Ayo Cu, kita makan" ajak kakek Zhang.
"Kakek mandi atau cuci muka, cepat sekali" sindir Jingga.
Setelah makan, kakek Zhang mengumpulkan para komandan di ruang khusus.
"Terima kasih para komandan, sebelumnya aku ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang selalu setia menemaniku dalam pelayaran ke hampir seluruh benua di semesta ini, namun ada hal penting yang akan aku sampaikan kepada kalian semua.
Seperti apa yang aku cemaskan semalam, aku merasa ini akan menjadi pelayaran terakhir kita, namun aku tidak ingin mengorbankan siapapun di antara kalian, kalian bisa menaiki sekoci untuk pergi mencari keselamatan kalian" ujar Jenderal Zhang menyampaikan.
"Maaf menyela Jenderal, aku Kapten Yu Nan akan selalu setia mengabdi kepada Jenderal walaupun nyawa taruhannya, aku memutuskan ikut berjuang bersama Jenderal" tegas Kapten Yu Nan
"Aku juga, Jenderal" sambung Kapten Lin Fang
"Aku juga" sambung Kapten Lie Zhao.
Jenderal Zhang terharu dengan para kaptennya, sejenak menutup matanya lalu membuka matanya kembali.
"Terima kasih Kapten, dua hari lagi kita akan sampai di perairan benua Matahari, tapi dua hari ini juga kita akan sibuk dalam peperangan.
Sebelum itu terjadi aku ingin kalian menyiapkan semua kebutuhannya termasuk para beast yang akan menjadi pertahanan terakhir kita, untuk itu nanti malam aku ingin mendapatkan laporan kalian semua" ujar Jenderal Zhang lalu menutup pertemuan.
Malam hari selepas makan malam, Jenderal Zhang dan para kapten kembali berkumpul di ruangan khusus pertemuan.
Kapten Yu Nan menjabarkan perlengkapan perang dengan terperinci, dilanjutkan oleh Kapten Lie Zhao yang menjabarkan persiapan pasukan rahasia.
Belum selesai kapten Lie Zhao menjabarkan semuanya, suara denting peringatan dibunyikan oleh awak kapal.
Boom!
Boom!
Dua kali dentuman bola api mengenai badan kapal, menyebabkan guncangan hebat, namun kapal masih kokoh bertahan.
"Ini terlalu cepat, ayo bersiap sekarang" ujar Jenderal Zhang langsung berlari keluar meninggalkan ruang pertemuan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
Kangee
kasih 7 bunga buat jejak dari LT🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
semangat🤗
2022-11-29
1
XiaoYan
kenapa harus di lindungi hatinya mc
2022-10-13
1
Wak Jon
Ada hubungan apa Jingga sm kehancuran semesta ya...?
2022-08-22
2