Beberapa hari kemudian Jingga mulai merasakan kejanggalan berada di hutan hantu, bukan karena binatang yang selalu lari ketika berada di dekatnya, kejanggalan yang ia rasakan adalah suasana hutan yang terlihat sama dimana pun ia berada, kecuali di danau dan di gua.
Ia sedang duduk di bawah pohon rindang, memikirkan cara agar bisa secepatnya keluar dari hutan hantu.
Saking banyaknya berpikir, Jingga malah terlelap tidur.
Sore hari ia terbangun, lalu terpikir olehnya menandai pohon, memastikan dirinya tidak kembali pada tempat yang sama.
Dengan idenya ia memberi tanda berbeda pada setiap pohon dalam beberapa langkah kakinya berjalan.
Sampai pada malam hari, ia mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat, setelah memilih beberapa tempat, akhirnya ia beristirahat di lubang akar pohon yang paling besar.
"Sepertinya enak tidur di sini tanpa harus dibangunkan oleh sinar matahari pagi" ucapnya sambil membersihkan rerumputan untuk dirinya bersandar.
Tepat di pagi buta, gemuruh suara keramaian terdengar jelas sampai membangunkan Jingga yang begitu lelap dalam tidurnya.
"Apakah aku bermimpi?" Gumamnya sambil mengucek kedua matanya.
"Wah!, Ada pasar" ucapnya begitu semringah.
Jingga langsung bangkit berdiri dengan sebelah tangannya masih setia memegangi teratai.
"Aku harus mencari pakaian, biar tanganku tidak pegal hehe" ucapnya begitu semangat.
Baru saja ia melangkah memasuki gerbang, semua orang di pasar berlarian luntang lantang.
Jingga kebingungan melihat orang orang berlarian sampai berjatuhan meninggalkan pasar, dalam kebingungannya ia memutar badannya khawatir ada sesuatu di belakangnya namun ia tidak menemukan sesuatu apapun dibelakangnya.
Setelah yakin tidak ada apa pun, Jingga memutar kembali badannya, alangkah terkejutnya ia tidak menemukan keberadaan pasar.
"Lah, kok hilang" herannya sambil menggaruk kepalanya.
Jingga kembali ke lubang akar pohon melanjutkan tidurnya.
Matahari tepat berada di atas kepala, sinarnya menembus celah dedaunan yang langsung menyinari wajah Jingga yang masih terlelap.
"Kenapa lagi ini matahari?, Aku sudah sembunyi di lubang akar pun masih saja ketahuan" keluhnya langsung beranjak duduk.
Ia menengadahkan kepalanya mencari matahari untuk dimarahinya, namun ia terkejut posisinya berada tepat di atas kepalanya.
"Hehe maaf maaf ya matahari, kirain masih pagi" celotehnya merasa malu sendiri.
Jingga melanjutkan perjalanannya, kali ini ia merasa suasananya berbeda, ia melihat pohon pohon tidak lagi mirip, hal ini membuat suasana hatinya begitu gembira.
Beberapa langkah kemudian, Jingga melihat area rerumputan yang luas di depan matanya. Ia langsung berlari karena bosan berada di dalam hutan.
"Eh eh eh sebentar!, Kenapa jaraknya masih sama?" Tanya batinnya kembali dibuat heran.
"Ya sudah, sebaiknya aku jalan kaki saja" sambungnya.
Kali ini berbeda, jaraknya semakin dekat ke arah rerumputan luas.
Setelah berada di pepohonan terakhir yang menjadi batas antara hutan dengan area rerumputan, Jingga melihat samar samar keberadaan energi di depannya.
Ia mencoba mengulurkan tangannya, kembali ia dibuat heran, tangan yang masuk ke energi bias itu tidak terlihat utuh.
Penasaran karenanya, Jingga memasukkan kepalanya ke dalam energi bias, ia lalu menoleh ke bawah.
"Hahaha, kakiku tidak terlihat" serunya.
Jingga kemudian mengeluarkan kaki kanannya, ia tertawa melihat hal ganjil itu lalu ia melompat ke depan.
"Hore! Akhirnya aku terbebas dari hutan sialan itu" ungkapnya penuh rasa bahagia.
Jingga melangkahkan kakinya lurus ke depan dengan perasaan senang, baru saja beberapa langkah ia berjalan, keinginan untuk mencoba kembali ulahnya seperti tadi datang.
Jingga lalu berbalik arah, lagi lagi ia dikejutkan oleh hal aneh, hutan yang selama ini ia cari jalan keluarnya menghilang, berganti dengan rerumputan luas di sekelilingnya.
Jingga sampai menepuk nepuk keningnya sendiri.
"Kenapa aku selalu menemukan tempat aneh?" Tanya batinnya yang sulit untuk dipahami olehnya.
Jingga menggelengkan kepalanya saking sulit memahami apa yang selama ini ia jalani.
Dengan berpikir untuk tidak peduli, Jingga kembali melanjutkan perjalanannya.
Dari kejauhan ia melihat keberadaan rumah rumah penduduk yang seluruhnya terbuat dari anyaman bambu dan dedaunan.
"Ha ha ha akhirnya aku menemukan kehidupan" ucapnya senang.
Berada di depan gerbang, Jingga melihat tulisan besar terpampang pada bambu yang melintang di atasnya, karena Jingga belum bisa membaca, ia langsung masuk ke dalam perkampungan.
Anak anak kecil seusianya yang sedang bermain langsung tertawa melihat sosok Jingga yang aneh terlihat oleh mereka.
"Orang aneh, orang aneh, orang aneh" cemoohan dari anak-anak seusianya.
Jingga tidak marah melihatnya, ia malah ikut tertawa bersama anak anak lainnya, menurutnya, bisa melihat orang lain tertawa berarti kondisinya dalam keadaan baik tanpa adanya perang.
Keramaian yang terjadi membuat para orang tua dan pemuda di kampung itu mengerumuni salah satu rumah warga yang biasa dijadikan tempat bermain anak anak.
Mereka semua sama seperti anak anak yang melihatnya sebagai orang aneh, terlihat dari raut wajah mereka yang hampir semuanya mengernyitkan kening.
Mereka baru pertama kali melihat ada orang yang berbeda dengan mereka, dimana ras mereka yang berkulit putih kekuningan, rambut lurus dan bermata sipit terbalik dengan Jingga yang memiliki kulit sawo matang, rambut ikal dan mata besar.
Seorang pria memberanikan diri mendekati Jingga yang daritadi hanya terdiam mematung.
Baru beberapa langkah pria itu berjalan, seorang wanita meneriakinya.
"Suamiku, hati hati, jangan terlalu dekat dengannya, aku takut dia bukanlah manusia".
mendengar teriakan istrinya, Pria tadi merasa sedikit takut lalu kembali ke kerumunan warga meminta diambilkan bambu.
seorang anak kecil memberikan bambu padanya.
Sambil membawa bambu, pria tadi kembali mendekati Jingga yang masih mematung.
Setelah dekat, pria itu menoel tubuh Jingga dengan bambu, memastikan kalau anak kecil di depannya adalah manusia seperti mereka.
"Apakah kau seorang manusia?" Tanya pria itu memastikan.
"Bukan, aku iblis, eh aku manusia" jawab Jingga yang kelepasan menyebut jati dirinya.
Pria tadi langsung begidik ngeri mendengarnya.
Melihat pria di depannya ketakutan setelah mendengar Jingga salah menyebut, lalu Jingga melanjutkan ucapannya.
"Betul, aku seorang manusia sama seperti kalian, aku berbeda karena bukan berasal dari benua ini, percayalah paman" imbuh Jingga meyakinkan pria tadi.
Pria tadi tidak langsung mempercayainya, ia lalu memukul kaki Jingga dengan keras.
"Aw, sakit paman" teriak Jingga yang tanpa sadar ia melepaskan pegangan pada teratai yang menutupi tombak kecilnya.
Semua warga tertawa terbahak bahak melihat Jingga yang polos, merasa malu, Jingga lalu melingkarkan kembali teratai di pinggangnya.
Pria tadi akhirnya meyakini bahwasanya Jingga benar benar seorang manusia.
"ya sudah, mari ikut paman, kau bisa memakai pakaian putra paman" ajak pria tadi lalu merangkul Jingga membawanya pergi ke rumahnya.
"sebelumnya siapa nama kamu nak?" tanya pria itu sambil berjalan beriringan.
"namaku Jingga paman" jawab Jingga.
"dari namamu, kau benar benar bukan orang benua ini" timpal pria itu mulai memahami perbedaan pada Jingga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
Mom La - La
di mulai dri klmat ini ada typonya ya...
huruf besar sesudah tnda petik.
2023-02-08
2
Mom La - La
maaf thor, ada Typo dikit ya..
jgn lpa huruf besar sesudah tanda petik cnth "Suami bla bla bla"
2023-02-08
1
Kangee
🥀🥀🥀lanjut
2022-12-01
1