"Kakek, aku kenyang" ucapnya dengan tak berdaya.
Semua orang tersenyum melihatnya, kakek Zhang lalu memangkunya dan membawanya kembali ke kamar.
Suasana malam begitu menenangkan, deru ombak lautan dan suara kapal bersahutan seperti nyanyian alam yang syahdu.
Kakek Zhang menatap lembut wajah Jingga yang terlelap tidur.
"Apakah keputusanku benar membawamu bersamaku?, namun aku berjanji akan membuatmu menjadi seorang yang hebat di masa depan, sisanya terserah takdir yang akan membawamu ke arah mana yang akan kau tuju cucuku" gumam hati kakek Zhang pada keputusannya membawa Jingga.
Tok tok tok!
"Jenderal Zhang" ucap seseorang dibalik pintu kamar.
Dengan heran kakek Zhang berjalan ke arah pintu.
"Sepertinya ada sesuatu yang penting" gumamnya lalu membukakan pintu.
"Kapten Yu Nan ada apa?" tegur kakek Zhang begitu melihat wajah panik salah seorang bawahannya.
"Maaf Jenderal, ada dua kapal perang dalam jarak 300 mil laut sebelah tenggara haluan dan 250 mil laut sebelah barat daya" ucap kapten Yu Nan melaporkan.
"Bentangkan bendera kekaisaran Xiao dan bendera Matahari" perintah Jenderal Zhang yang langsung dijawab cepat oleh kapten Yu Nan.
Jendral Zhang langsung memakai pakaian zirahnya dan memasukan pedang ke samping pakaiannya.
Berjalan dengan cepat ke arah kemudi mangambil alih kontrol nakhoda.
Para nakhoda dan para kapten telah bersiaga membuat ring satu mengantisipasi terjadinya pertempuran laut.
Kapten Lie Zhao menggunakan teropong dengan tiga batu kristal mengukur jarak dan kecepatan kapal arah tenggara haluan, sementara kapten Yu Nan ke arah barat daya.
Hampir satu jam lamanya, keberadaan kedua kapal perang semakin mendekat tanpa adanya corong senjata semacam rudal dikeluarkan.
"Kapten Yu Nan, tolong konfirmasi melalui transmisi suara pada kapal di barat daya" pinta Jendral Zhang memberi instruksi.
"Siap laksanakan, Jenderal" sahut Kapten Yu Nan lalu melakukan komunikasi via transmisi suara.
"Kami armada kekaisaran Xiao dari benua Matahari, mohon perkenalkan siapa kalian" pinta Kapten Yu Nan kepada kapal di barat daya.
Setelah menunggu beberapa waktu, tidak ada tanggapan apa pun dari kapal sebelah barat daya.
Kapten Yu Nan langsung memantau melalui teropong,
"Jenderal, mereka menyerang dengan panah api" ujar kapten Yu Nan seketika melihat ribuan panah dengan api di ujungnya melayang ke udara.
"Manuver ke barat daya, persempit jangkauan mereka" perintah Jenderal Zhang.
"Baik, laksanakan" sahut nakhoda menjalankan instruksi.
Dengan cekatan sang nakhoda memanuver posisi kapal memperpendek jangkauan panah api.
"Jenderal, panah api hanya pengalihan, mereka mengaliri lautan dengan minyak pembakar" ungkap Kapten Yu Nan.
Jenderal Zhang langsung melirik Kapten Li Zhao,
"Di mana posisi kapal arah tenggara sekarang?" tanya Jendral Zhang.
"Kapal mereka berbalik arah, posisinya diperkiran berada pada 400 mil laut" ujar Kapten Li Zhao.
Jenderal Zhang memanggil kuda poninya melalui teleportasi, lalu memintanya memantau di langit.
"Manuver ke arah benua Matahari" perintah Jendral Zhang.
Nakhoda langsung memutar kemudi ke arah semula.
"Jenderal, kapal barat daya membakar lautan" ucap Kapten Yu Nan.
"Biarkan saja, kita tunggu momentum" ucap Jenderal Zhang masih tenang.
Tak lama kuda poni mengabarkan ada dua puluh kapal perang dalam posisi berputar bersiap mengepung kapal Jenderal Zhang.
"Ternyata api yang dibuat hanya untuk memposisikan target dengan jelas" ungkap Jenderal Zhang.
Kondisi ini membuat jenderal Zhang merasa geli, ia yang sepanjang hidupnya berada di lautan merasa kecewa dengan musuh-musuhnya yang masih saja memakai strategi kuno.
"Aktifkan perisai cermin" perintahnya kepada para kapten dan nakhoda.
"Siap, Jenderal" sahut semuanya serentak.
Seketika kapal tidak lagi terlihat oleh kapal musuh.
"Matikan mesin, beralih ke mode selam" perintahnya lagi kepada anak buahnya.
Suasana menjadi hening, dengan perisai cermin, seolah kapal menghilang di lautan, tidak adanya deru mesin, kapal perlahan memasuki kedalaman lautan.
Walaupun kapal kekaisaran Xiao yang tercanggih di zamannya, akan tetapi kecanggihannya sangatlah terbatas waktunya.
Jenderal Zhang bukanlah amatiran dalam perang, ia dengan cerdik mendekati kapal barat daya yang terus berlayar ke titik terakhir kapal yang dikomandoi Jenderal Zhang.
"Bersiap menabrak kapal mereka" ucap Jenderal Zhang memberi aba-aba.
Kapal kekaisaran Xiao bagian ujung depannya memiliki mata bor besar yang bisa menghancurkan kapal perang yang terbuat dari baja sekalipun.
Terbuat dari logam berusia ribuan tahun, kekuatan mata bor kapal kekaisaran Xiao sudah teruji selama puluhan tahun. walau usia kapalnya masih muda, namun teknologi yang diusungnya sangatlah unggul dari semua kapal perang milik kerajaan dan kekaisaran mana pun di seluruh alam semesta.
"Sekarang" tegas perintah Jenderal Zhang kepada anak buahnya.
Suara mesin menderu dengan nyaring, ratusan orang di bagian bawah kapal yang menjalankan mesin yang ditenagai oleh batu kristal tingkat tinggi dengan semangat memutar tuas kendali bor.
Boom!
Benturan dua kapal beradu dengan sangat keras, mata bor kapal kekaisaran Xiao berhasil membelah badan kapal musuh hingga kapal musuh perlahan tenggelam ke dasar lautan.
Setelah berhasil menenggelamkan satu kapal musuh, Jenderal Zhang memerintahkan nakhodanya untuk berlayar ke arah barat daya dengan maksud menjaga jarak dengan kedua puluh kapal perang yang akan mengepungnya.
Arah barat daya adalah jarak terjauh yang bisa ditempuh oleh kapal musuh.
"Sebelum mereka menyerang, kita akan langsung melakukan serangan pada kapal musuh yang mendekati barat daya" ucap Jenderal Zhang menginformasikan strateginya.
"Jenderal, kita akan menemui titik temu pada tujuh tarikan penuh, mohon instruksi selanjutnya" ujar Kapten Yu Nan.
"Beberapa waktu lagi matahari akan terbit, dalam radius tiga tarikan penuh, keluarkan moncong api, pastikan mengenai target terdekat" timpal Jenderal Zhang memberikan perintah.
"Baik, laksanakan" sahut semuanya lalu bersiap dalam posisi tempur.
"Jenderal" ucap Kapten Yu Nan meminta persetujuan.
"Serang!" persetujuan diterima jenderal Zhang.
Bola api meluncur cepat dari moncongnya, tidak hanya satu bola api, kapal perang kekaisaran Xiao mampu menembakkan delapan bola api secara bersamaan.
Musuh tidak tinggal diam, serangan balasan diluncurkannya, namun satu bola api tidak akan bisa menghadapi serangan delapan bola api secara bersamaan.
Boom boom boom!
Suara ledakan keras terdengar sebanyak delapan kali dentuman, satu lagi kapal musuh hancur terbakar habis.
Tak ingin menunda waktu, Jenderal Zhang terbang dengan kuda poni ke langit.
Kedua tangannya menciptakan dua bola api, lalu dengan cepat melemparkan ke arah dua kapal perang musuh.
Seketika dua kapal musuh terbakar hebat, walau tidak hancur seperti dua kapal sebelumnya, namun hal ini mampu membuat banyak kapal lainnya memilih mundur dari arena perang samudera.
Namanya perang walaupun memenangkannya, akan selalu ada luka yang didapat.
Kapal perang kekaisaran Xiao terkena hantaman bola api dari musuh, beruntung hantaman itu tepat mengenai bagian ujung depan yang terdapat mata bor penghancur.
Walau tidak memiliki dampak kehancuran pada kapal, hal tersebut tetap saja memiliki dampak buruk terutama pada mata bor yang tidak bisa difungsikan sampai nanti tiba di pelabuhan kekaisaran.
Matahari bersinar terang di ufuk timur, para komandan kembali bernapas lega, walau lelah mereka bahagia bisa memenangkan kembali peperangan di lautan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
Rhyan Banderas
kena ombak air masuk sampai dapur tp kapal bisa menyelam 🤔🤔🤔
2024-04-27
0
Kang_Wah_Yoe
👍👍👍🐣🐰
2023-06-23
0
Mom La - La
hadir...
2023-02-05
2