Jingga cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah diketahui maksudnya yang ingin menunda pelatihan.
"Sudahlah, kalau kau tidak ingin berlatih, kau bisa pergi dari sini" ancam Zhen Lie.
Jingga mengerutkan bibirnya mendapat ancaman pengusiran dari gurunya.
"Aku masih semangat menjalani pelatihan, paman guru jangan sedikit sedikit marah, marah kok sedikit sedikit" kilah Jingga meledeknya.
"Ha ha ha, bener apa yang dikatakan Jingga, kau jangan sedikit sedikit marah" ucap Luo Xiang yang dari tadi hanya menjadi pendengar.
Mendapat pembelaan dari istrinya, Zhen Lie tersenyum kecut.
"Bantu aku membuatkan tanda berpola zig zag pada batang bambu" pinta Zhen Lie pada istrinya.
"Oke sayang, aku laksanakan" sahut istrinya.
"Cie cie, orangtua tidak ingat umur" sosor Jingga langsung kabur.
Kedua gurunya hanya geleng geleng kepala lalu keduanya tersenyum.
Di hutan bambu,
"Apa ini cukup?" Tanya Luo Xiang kepada suaminya.
"Sudah cukup" jawab Zhen Lie.
"Guru, untuk apa bibi guru membuat tanda?" Tanya Jingga ingin tahu.
"Nanti kau akan tahu, sekarang paman guru ingin tahu kecepatan larimu, berlarilah ke bambu yang ditandai" jawab Zhen Lie memintanya.
"Baik guru" sahut Jingga yang langsung berlari ke arah bambu yang sudah ditandai.
"Kecepatan larimu sangat lambat, cobalah dengan sekuat tenaga" pinta gurunya lagi.
Jingga lalu mengulanginya.
"Hem, lumayan lebih baik dari sebelumnya, sepertinya beban bambu yang kau pikul terlalu ringan, kau tambahkan lagi batang bambunya, semakin banyak akan menjadikanmu semakin cepat berlari" saran Zhen Lie.
"Baik guru" sahut Jingga lalu mengambil beberapa potong bambu.
"Seminggu ini kau ulangi pelatihan dasarmu, minggu depan kita lihat perkembangannya" ucap Zhen Lie lalu berbalik pergi meninggalkannya.
Jingga mengangguk lalu merakitnya dua kali lebih banyak dari semula.
Setiap harinya Jingga menjalani pelatihan dengan memanggul batang bambu mengelilingi hutan bambu merah.
Seminggu pun berlalu, Jingga kembali mencoba berlari ke arah tanda.
"Cukup meningkat, namun masih belum mencapai target" ucap Zhen Lie mengamatinya.
"Aku akan menambahkannya lagi" sahut Jingga merasa belum puas.
"Seperti biasa minggu depan aku akan melihat perkembanganmu lagi" timpal Zhen Lie kembali pergi meninggalkannya.
Kali ini Jingga tidak tangung tanggung merakit batang bambu yang akan dipikulnya, ia melipat gandakannya menjadi enam ratus batang bambu yang masing masing batang berukuran tiga meter.
Sekarang banyaknya bambu bahkan dua kali tinggi tubuhnya.
Dengan perlahan Jingga berjalan membawa bambu di pundaknya, lambat laun ia bisa berjalan dengan cepat.
Kedua gurunya terbelalak melihat muridnya begitu keras dalam berlatih, seminggu kemudian Jingga kembali mencobanya.
Kali ini kecepatannya meningkat lima kali lebih cepat, bahkan berhasil membentuk bayangan ketika berlari.
"Bagus bagus, kau berhasil membentuk bayangan hanya dalam beberapa minggu" puji Zhen Lie cukup puas.
Jingga sedikit merasa senang, ia merasa masih lambat berlari.
"Guru, kecepatan seperti apa yang bisa dikatakan sempurna?" Tanya Jingga.
"Sampai tidak ada yang menyadari kapan kau berlari" jawab Zhen Lie.
"Berarti kemampuanku masih jauh dari kata sempurna ya guru?" Tanya Jingga dengan wajah kecewa.
"Kesempurnaan membutuhkan proses yang intens dalam melakukannya, kau harus bisa sampai ke sana, guru akan menunggunya" jawab Zhen Lie.
"Baik guru, aku akan berusaha" ucap Jingga bertekad.
Tiap harinya Jingga menambahkan beban batang bambu pada pundaknya, dari matahari terbit sampai matahari tenggelam, Jingga memanggul batang bambu, malam harinya ia berlari dari satu tanda ke tanda lainnya.
Hampir tiga bulan lamanya ia berlatih sampai hutan bambu tidak lagi rimbun karena setiap harinya dipangkas untuk menambah bebannya.
"Jingga kau sudah cukup mendekati sempurna, jangan lagi menebang bambu, nanti habis" protes Luo Xiang yang sekarang selalu kepanasan karena berkurangnya pohon bambu.
"Baik bibi guru" sahutnya dengan wajah tak berdosa.
"Paman guru, aku berhasil" seru Jingga baru merasa senang dengan hasilnya.
"Bagus, tapi kecepatan tanpa kekuatan apalah artinya, ibarat kau hanya bisa berlari tapi tidak bisa memukul" ujar Zhen Lie mengibaratkan.
"Lalu langkah selanjutnya apa guru?" Tanya Jingga.
"Beban yang kau pikul sebelumnya hanya berfokus pada kekuatan kakimu, sekarang kekuatan tanganmu yang harus kau latih" Jawab Zhen Lie lalu mengambil batang bambu yang terikat dan meletakkannya di kedua lengan muridnya.
"Kau harus mengayunkan naik turun kedua tanganmu pada sampai matahari terbenam, malamnya kau pukul batu besar itu" imbuh Zhen Lie menunjuk batu besar yang biasa diduduki Jingga.
"Baik guru" sahut Jingga lalu pada posisi kuda kuda, ia mengayunkan kedua lengannya.
Selepas matahari terbenam, Jingga melakukan pukulan pada batu, dalam tiga minggu, batu besar telah hancur karena dipukulinya setiap malam.
"Guru, batunya telah hancur, apakah aku harus mencari batu lainnya?" Tanya Jingga merasa belum puas dengan pelatihannya.
"Tidak perlu, itu sudah cukup, besok kau sudah bisa mempraktekan buku yang kau baca, nanti bibi gurumu yang akan membimbingmu" jawab Zhen Lie.
Setelah sebulan penuh Jingga mempelajari jurus bayangan dibimbing langsung oleh Luo Xiang, hari hari selanjutnya Jingga mengulanginya sendiri.
Hampir setahun Jingga berlatih bersama kedua gurunya, kemampuannya terus mengalami peningkatan yang sangat baik.
"Suamiku, bagaimana pendapatmu dengan murid kita?" tanya Luo Xiang meminta pendapat.
"Hem, Jingga walau pun bukan pemuda jenius, dia pemuda yang pantang menyerah dalam menyempurnakan sesuatu, itu nilai lebih dari dia, tapi ada hal yang semakin hari membuatku khawatir" jawab Zhen Lie yang seiring waktu semakin mengenal sosok Jingga.
"Apa itu?" tanya Luo Xiang begitu penasaran.
"Kemampuannya dalam menguasai jurus bayangan melebihi perkiraan kita" jawab Zhen Lie terasa janggal.
"Bukannya itu bagus" timpal Luo Xiang merasa heran dengan jawaban suaminya.
"Sebenarnya bukan itu maksudku, tapi aku sulit menjelaskannya padamu" sambung Zhen Lie merasa buntu menjelaskan maksudnya.
"Sudahlah, mungkin itu perasaanmu saja, ada satu lagi yang akan aku wariskan kepadanya" ucap Luo Xiang yang sudah memikirkannya dari waktu membimbing Jingga mempelajari kitab bayangan.
"Apa itu?" potong Zhen Lie penasaran.
"Hem, kitab warisan keluargaku, sudah beberapa generasi, tidak ada satu pun dari keluargaku yang berhasil menguasainya, aku akan mewariskannya kepada Jingga" jawab Zhen Lie memberitahunya.
"Kenapa kau harus mewariskan padanya, bahkan dia bukanlah bagian dari keluargamu, lalu kitab apa yang kau maksud?" Zhen Lie melontarkan pertanyaan .
"Kau ingat waktu kita terakhir kali ke kota Lintang, aku dengan sendirinya ingin memberikan dia pedang dan sampai sekarang aku belum memberikannya, aku baru menyadarinya sekarang, mungkin ini terkait dengan kitab warisan keluargaku yaitu kitab tarian pedang Asura" jawab Luo Xiang menjelaskan.
"Bukankah itu hanya bisa dikuasai oleh seorang kultivator?" kembali Zhen Lie menanyakannya.
"Bukankah aku sudah menanyakan kepadamu dulu, kalau Jingga memiliki aura yang tersembunyi di tubuhnya, aku merasa itu berkaitan dengan kitab tarian pedang asura, karena dalam catatan di dalamnya disebutkan bahwa hanya bisa dikuasai oleh orang yang memiliki aura khusus, bukankah itu bisa menjadi alasan kenapa tidak ada dari keluargaku yang bisa menguasainya?" jawab Luo Xiang kembali mengemukakan pendapatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 316 Episodes
Comments
Abiyyu Sultan
kl mc nya terlalu OP.. sy tinggalin ni novel.. awas OP akan membuat cerita ini ga seru.. ngebosanin.. ingat ya thor.. hahahaha
2023-10-25
1
Whats Shapt
awas² saja klo mc nya gk op op saya tinggalin nih nopel' gk akan saya baca lgi klo mc nya gk op
2023-06-08
2
Mom La - La
tetap semangat latihannya jingga
2023-02-15
1